
*sudut pandang zaki
"Pokoknya aku ga mau tau. Kamu harus bisa pisahin Rere dengan Rangga," teriak Raisa.
Panji hanya bisa tegak terpaku sambil mendengar nada-nada tinggi dari Raisa. Diri saya masih menyembunyikan diri di balik dinding. Dada saya semakin berdetak kencang saat percakapan mereka yang semakin dalam.
"Aku ga bisa. Rere itu cinta sama Rangga. Bukan aku. Dia udah cerita semuanya. Kamu yang udah ngerusak hubungan dia dengan Rangga semenjak kamu pacara sama Rangga." Panji membalas.
Saya tidak terkejut dengan pernyataan Panji tentang Rere menyukai Rangga, saya sudah tahu itu sejak lama. Hanya saja Rangga yang bodoh itu tidak pernah mau tahu tentang hal itu.
"Oke kalau kamu mau begitu. Aku bakalan tarik setengah dana pengobatan dia," balas Raisa kembali. "Aku bisa lakukan itu, itu sangat mudah."
"Yang ngebiayain itu papa kamu. Bukan kamu. Kamu ga ada hak untuk hal itu." Telunjuk Panji menunjuk tegas wajah Raisa.
Wanita itu tetap tenang dengan sikap egoisnya. Namun siapa yang sedang berobat? Apa hubungannya dengan mereka berdua? Punggung saya masih menempel di dinding labor untuk mendengar perkataan mereka.
"Iya memang, semua dana itu masuk dulu ke rekening aku. Trus baru aku gunain untuk pengobatan dia. Kalau kamu ga mau. Oke akan aku lakukan. Aku ga peduli!"
"Ga peduli? Kamu ga sayang sama Pram? Dia masih pacar kamu. Kalian belum putus. Pram sayang sama kamu, cuman kamu yang ga pernah sadar. Dia menderita di rumah sakit menunggu hadirnya kamu di samping tempat tidurnya."
Saya lihat air mata Panji sedikit demi sedikit mengalir dari hilirnya.
Panji masih menghapus air matanya disana. Saya harus pergi dari sini sebelum Raisa melihat saya.
"Ingat Rangga itu bukan Pram walaupu mereka itu......." Kalimat Panji terhenti oleh emosinya sendiri. Air matanya tidak terbendung lagi. Saya harus pergi dari tempat itu.
Suatu pertanyaan besar yang selalu menghantui saya. Siapa itu Pram? Pram itu pacar Raisa dan belum putus. Rangga adalah pacar kedua Raisa dalam waktu bersamaan. Sejak itu saya sadar bahwa Raisa adalah wanita yang licik. Namun saya tidak ingin memberitahukan tentang ini kepada Rangga. Saya tidak ingin hubungan mereka menjadi renggang.
Beberapa hari kemudian saya menuliskan tanda yang paling terakhir kepada Rere. Gadis berkacamata itu selalu menghabiska waktu istirahatnya di tempat duduk bermeja bundar itu. Ia selalu di temani laptop kesayangannya dan menuliskan segala imajinasinya dalam bentuk kata-kata.
"Sayalah sang pemberi tanda." itulah yang saya tulis di meja.
Saya ingin mengutarakan perasaan saya yang selama ini saya pendam. Saya ingin membuktikan bahwa saya benar-benar suka kepada Rere yang selama ini selalu di tutupi oleh kedekatan Rere dengan Rangga. Namun itu hanya niat belaka, Panji sudah lebih dulu menyalip saya disana. Ia lebih dulu datang mengatakan cintanya kepada Rere. Sempat saya melihat adegan mereka yang sedang berpeluk mesra walaupun saya tahu itu sakit rasanya.
Di dalam hati saya seketika terdapat retakan yang bisa membuat hati ini terbelah. Andai saja saya tahu apa yang akan saya dapat, saya tidak akan melakukan hal ini. Saya menyadari saya sudah kalah untuk kedua kalinya. Pertama kalah dengan Rangga, yang kedua kalah dengan Panji. Ada seseorang tersenyum licik di balik kemesraan mereka. Ia dari kejauhan menyaksikan Panji yang sedang memeluk Rere. Tidak perlu saya tebak lagi, ia pasti Raisa. Ini benar-benar terjadi. Sudah saya ketahui semenjak percakapan mereka di Labor beberapa hari yang lalu. Tampak dari jauh senyum lebarnya tertuju ke mereka. Semenjak hari itu saya semakin penasaran apa yang sebenarnya yang sedang terjadi. Saya menyembunyikan hal ini kepada Rangga.
Panji sudah tamat dari sekolah. Saya harap ini adalah kesempatan besar saya untuk merebut Rere dari pelukannya. Puncaknya pada malam itu, malam yang merusah semua hubunganku dengan mereka. Sikapnya yang benar-benar menolakku membuatku sadar bahwa Rere benar-benar sudah menutup hati dan hanya membuka hatinya untuk satu orang, yaitu Panji. Namun itu tidak semuanya benar, dalam hatinya masih tersimpan sebuah nama, nama itu ialah Rangga. Saya tahu itu. Ia tidak bisa melupakan Rangga begitu saja. Ia mencintai dua orang sekaligus.
Saya benar-benar ditolak dari keberadaan mereka. Terutama Rangga yang sudah membekaskan sebuah luka lebam di pipi saya ini. Saya sangat rindu dengan pondok belakang rumah Rere. Saya rindu bermain catur bersama Dede. Saya rindu dengan sikap dinginnya Vena yang menolak setiap rayuan Dede kepadanya. Saya rindu memberikan saran-saran cinta kepada Rangga. Saya sangat-sangat rindu dengan senyuman Rere. Saya rindu semua yang ada disana.
"Gua ga tau itu kapan, tapi gua bakal kesini suatu saat nanti." Kalimat itu menahan saya untuk kembali ke sana hingga semuanya terungkap sudah. Saya akan mengungkap semua tabir-tabir rahasia Raisa yang akan menebus semua kesalahan saya. Rangga tidak mengenal sepenuhnya Raisa sehingga ia tidak pernah menyadari hal tersebut. Hanya saja ia terlalu naïf menanggap dirinya telah mengenal Raisa luar dalam. Saya tahu kemana saya akan memulai penelusuran ini.