You Make My Heart Smile

You Make My Heart Smile
22



POV RERE


Aku menutup laptop yang hanya berisi beberapa kata saja. Tanganku mengambil ikat rambut di dalam saku. Ikat rambut itu mengikat rambutku yang dari tadi tergerai. Selain itu, Rangga menyukai jika rambutku diikat.


Langkahku melangkah di depan kelas Rangga. Ia kelihatan duduk dengan menulis sesuatu di bukunya. Bisa jadi dia membuat PR yang belum ia kerjakan. Langkahku terhenti sejenak melihat dirinya tengah sibuk menulis di bukunya. Matanya bergerak kepadaku. Sebuah senyum tertuju menghampiriku. Tahi lalatnya bagaikan secuil coklat yang menjadi pemanis di wajahnya. Lambaian tangannya seakan memanggilku untuk datang kesana.


Aku tidak bisa menahan tawa saat ia menyenggol sebuah botol air mineral. Air itu tumpah tepat di pahanya. Dengan sigap ia menaikkan kembali botol itu. Wajahnya begitu lucu saat menyadari bahwa pahanya sudah basah.


"Ah Rangga, kau begitu manis." Kakiku membentuk sebuah langkah menuju ke kelas.


***


Kelas riuh karena pembagian nilai ulangan fisika. Sebagai anak IPA, kami tidak bisa membiarkan nilai fisika kami menjadi anjlok. Jika anjlok, tidak naik kelas menjadi resikonya. Namun dalam sejarah hidupku, aku tidak pernah mendapat nilai merah pada pelajaran ini. Memerhatikan guru dengan baik adalah kuncinya jika kita malas belajar di rumah. Paling rendah sih, pas-pas kkm yang pernah aku dapatkan.


Murid perempuan membentuk beberapa kelompok rumpi di bagian depan kelas, sedangkan murid laki-laki sedang asyik bermain gitar di belakang. Alunan gitar mereka kadang menghiburku di kala waktu istirahat seperti ini. Duduk di belakang sambil membaca buku dari perpustakaan menjadi kebiasaanku yang paling mengasyikkan jika mereka mulai memainkan gitar. Aku bisa merasakan diriku hanyut dalah dalam cerita yang aku baca saat mereka mulai bernyanyi gembira.


Jempol dan telunjuk membuka bagian atas yang terlem. Aku merasakan jari-jariku gemetar ketika membuka amplop. Di dalam amplop ini masih ada secarik kertas lagi. Kertas ini pasti di ambil dari bagian tengah sebuah buku tulis. Dari kertas itu tercium sebuah wangi parfum yang begitu semerbak. Tulisannya tegak bersambung yang rapi dengan huruf besar yang di gayakan pada awal kalimatnya.


Kau pasti akan tau aku. Temukan saja tanda-tandaku. Akan aku buktikan bahwa cinta itu memiliki!


Tanganku kembali memasukkan kertas bertulisan tinta hitam itu ke dalam amplopnya. Aku membuang pandanganku ke luar kelas berharap pemberi surat itu masih di luar sana menunggunya. Namun tidak satupun orang yang ada di luar kelas. Hanya tiang-tiang penyangga bangunan ini setia menungguku disana.


Diriku semakin terkejut sebuah tulisan sudah terlukis di papan tulis. Tulisan itu tidak terlalu besar, namun masih terlihat di balik kacamatku ini. murid-murid lain tidak memperdulikan kalimat itu, seakan mereka tidak menyadari bahwa tulisan itu ada di permukaan papan tulis putih itu.


Wangi itu sebuah pertanda. Jangan pernah lupa!


Aku terdiam sesaat untuk memaknai hal yang telah terjadi.