You Make My Heart Smile

You Make My Heart Smile
30



Aku membuka kembali kelopak mataku. Sayup-sayup sepasang tangan memanjang ke pipiku. Sepasang cubitan mencubit lembut pipiku yang tengah berjerawat di bagian pipi kiri. Wangi parfum yang selalu aku tunggu-tunggu kini telah merasuki paru-paruku.


"Ranggaa. Kamu memang cepet banget kalau urusan tidur."


Kata-kata Raisa terdengar imut. Tangannya masih mencubit pipiku. Dua kancing yang terbuka dari baju seragamnya, hampir memperlihatkan sebuah kalung bermata huruf "P" melingkari lehernya. Entah kenapa kalung itu berhurufkan "P". Sebuah awalan sebuah nama atau apapun itu, aku tidak tahu.


"Raisa." Ia duduk di sampingku. Bahunya bersandar di bahuku. Helaian rambutnya menyentuh leherku. Wangi harum shampoo rambutnya masih tercium wangi.


"Ada yang nyariin kamu. Tuh..." Ia menunjuk ke sekelompok Senior kakak kelas yang sudah menghajar aku dan Rio.


Aku tegak dari tempat dudukku. Kepala mereka menunduk tidak berani menatap. Aku melihat Dede yang tertawa kecil di sana sambil menyilangkan tangan di dada.


"Maafin kami," kata senior yang memegangi kerah bajuku kemarin. Aku terheran-heran dengan tingkah mereka. Raisa di belakangku tertawa kecil, sama seperti Dede.


"Yaudah deh bang, besok jangan gitu lagi. udah balik ke kelas kalian sana." kataku. Mata mereka tertuju ke Dede sesaat. Dede memberi aba-aba kepada mereka untuk pergi.


"De?" Aku menatap aneh kepanya.


"Udah gua bilang kan. Ga ada yang berani ngelawan gua di sekolah." Ia tertawa.


Kami tertawa mendengar perkataan Dede. Raisa menyikut lenganku dan merangkulkan tangannya. Rangkulan tangannya terasa erat. Bagian dadanya hampir saja menyentuh tangaku yang ia rangkul. Gerakan tangannya seakan menariik tanganku untuk pergi.


"Yuk balik," katanya dengan lembut tepat di bawah telingaku.


"Ayuk." Aku mengikuti tarikan rangkulannya.


***


Dua bulan telah berlalu setelah pengakuan cintaku padanya. Berita tentang kami berdua lama-kelamaan sudah mulai hilang. Aku dan Raisa mulai percaya diri untuk bisa bersama di sekolah. Dua bulan ini terasa indah dengan perlakuan Raisa yang begitu manis kepadaku. Kami tidak merayakan hari jadian kami setiap bulannya. Raisa bilang itu hanyalah perayaan bodoh. Lagian aku juga tidak ingin itu dirayakan. Seharusnya itu dirayakan setiap tahun karena membuktikan keawetan sebuah hubungan karena sudah setahun berlangsungnya hubungan.


Dua bulan berlalu, dua bulan juga kedekatan aku dan Rere terambil oleh seseorang yang bernama Panji. Ia lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya daripada bersamaku. Aku memang sadar aku telah mempunyai Raisa, namun aku tetap saja butuh sosok Rere. Ia selalu memberikanku nafas baru ketika terjadi permasalahan. Ia pandai mencari solusi, ditambah lagi oleh senyumnya yang semanis madu dengan kebiasaan memperbaiki letak kacamatanya yang aku rindukan. Namun semua itu ..... ah sudahlah.


Jalanan aspal di penuhi oleh kendaraan yang lalu lalang. Kerikil-kerikil yang ada di tengah jalan bergetar saat di lalui oleh lajunya kendaraan. Mataku sedikit perih saat angin pembawa debu menerpa wajahku. Walaupun perih, aku masih bisa melihat jelas rona merah di pipi Raisa yang manis. Rok panjang Raisa tidak bergerak sedikitpun saat diterpa angin, mungkin saja karena rok itu sudah di kecilkan pas dengan liukan pinggul Raisa.


Banyak pasang mata yang memerhatikan pasangan yang sedang di mabuk asmara seperti kami. Mata mereka mengikuti gerakan ayunan genggaman tangan kami. Wajah Raisa yang ceria mengayun-ayunkan tangan kami yang saling menggenggam.


Tanganku melepas genggaman Raisa yang sedari tadi membuat dingin tanganku. Tidak biasanya aku memegang tangan wanita selama ini. Tanganya yang lembut menjadi penghalangku untuk melepaskan genggamanku. Senyumnya melebar saat aku melepasnya masuk ke dalam mobil. Aku melambaikan tangan sambil berjalan ke parkiran motor.


"Lu ajak aja Raisa ke sini." Zaki mengirim pesan singkat. Tanganku sudah memegang stang motor yang masih terkunci.


Aku memutar kunci motorku ke kanan dan memencet tombol starter. Bunyi khas motor butut terdengar. Suara knalpot terdengar keras karena hasil modif abangku sewaktu SMA dulu. biasalah, dia selalu main ke bengkel bersama teman-temannya.


Aku mengambil lagi handphone yang tadi aku masukkan ke saku.


"Emang Boleh?" Tanganku mengetik keyboard di layar handphone.


"Enggak, yaa boleh lah. Siapa yang ngelarang." Aku mematikan layar handphone setelah melihat balasan dari Zaki.