
Aku membalas sorot matanya. Mungkin ia memikirkan hal yang sama saat ini. Ia begitu mirip........ denganku. Jangan-jangan ia adalah..... ucapku dalam hati.
Kembali teringat olehku saat Felix dan Papanya Raisa mengatakan hal yang sama. Mengatakan sebuah nama yang bahkan aku tidak mengenalinya sama sekali. Mengatakan bahwa aku mirip dengan seseorang di luar sana. Mungkinkah dia? Aku berusaha mencerna setiap detail wajahnya yang benar-benar mirip denganku. Kulitnya yang pucat bersentuhan dengan gitar akustik yang sedang ia mainkan.
Gerakan tangan Zaki menjadi kebiasaannya saat ia berbicara dengan seseorang.
"Gua ga suka saja sama maksud Raisa yang misahin Rere dan Rangga. Rere sedih banget, dia tersiksa ngelihat Rangga-nya di rebut oleh Raisa. Rere mencintai Rangga sedari dulu. cuman si bodoh itu ga pernah peka terhadap Rere, malah pergi sama cewek lain. Curhatnya selalu tentang itu. Tangisnya tangisku juga. Gua ga bisa ngelihat dia bersedih."
Mataku bergerak ke Zaki yang sedang berbicara. Pria pucat itu masih menatap lurus kepadaku. Ia membiarka Zaki berbicara sendiri tanpa di lihat.
Rere suka sama gua?
Batinku terus mempertanyakan hal tersebut. Pikiranku kembali kacau memusatkan segala pikiranku ke wanita berkacamata itu. Ingatanku kembali menuju pertama kali aku bertemu dengannya, satu motor berdua, kulit halusnya menyentuh sela-sela jemariku, dan semua ingatan indah lainnya. Pikiranku kembali risau memilah antara Rere dan Raisa. Dua wanita yang sangat berpengaruh dan bergejolak hebat dalam hatiku.
"Benarkah?" tanyaku.
Ia masih menghadap pria pucat itu, meskipun pria itu tetap memerhatikanku.
"Rere suka sama gua?" tanyaku sekali lagi. Kini nadaku terdengar meninggi. Zaki perlahan menoleh ke belakang. Mungkin ia terkejut melihat kami bertiga di sini. Aku berjalan dengan cepat menghampiriku.
"Kenapa lo ga bilang dari dulu? Kenapa?" cengkraman tanganku di kerahnya begitu kuat.
Sudah lama aku ingin melakukan ini kembali. Wajahnya sama seperti pada saat malam itu.
"Kenapa lo ga bilang?" Aku menggoncang-goncang badannya. Postur tubuhnya memang lebih besar dariku, namun tidak menyurutkan emosiku kepadanya.
Ia tidak melawan sama sekali. Ia hanya memalingkan wajahnya sembari tersenyum. Aku menggoncang-goncangkan kembali badannya. Aku merasakan ada kekuatan yang ingin memberontak. Ia melepaskan tanganku di kerahnya. Kini berbali, tangannya ke kerahku dengan cepat. Tenaganya jelas lebih besar dari tenagaku. Sebuah pukulan telak melayang ke pipiku.
"Kenapa ha? Lo masih nanya kenapa? Dasar *******. Hati rere tersakiti gara-gara lo dan Raisa pacar ******** lo itu. Sudah berkali-kali ia menangis di depan mata gua gara-gara kalian berdua. Lo ga pernah peduli Rangga, sekalipun enggak pernah mikirin perasaan Rere." Ia melepaskan tangannya di kerahku.
Suaranya yang besar memenuhi seluruh ruangan di kamar. Panji dan Dede mendekat memisahkan kami berdua. Dede menahan badanku agar tidak menyerang balik Zaki. Air mataku tidak terbendung lagi. Tetes demi tetes jatuh menyebut sebuah nama, Rere.
"Dari dulu Rangga, dari dulu. Lo ngeluh sama gua karna ga ada cewek yang mau sama lo. Padahal di dekat lo ada seseorang yang selalu nungguin diri lo. Yang gua kesal, dia rela ngejatuhin air mata cuma buat mikirin hubungan lo sama pacar bodoh elu itu." Telunjuknya kokoh menunjuk diriku.
"Gua udah tau semua itu sejak lama. Sejak kita udah sama-sama. Kenapa gua diam? Karena itu bukan kisah gua, tetapi kisah lo dan Rere. Sikap manis Rere terhadap lo, itulah perasaannya. Gua memang suka sama Rere, tapi gua sadar, Rere ada buat lo, bukan gua." Ia mengusap air mata emosinya. Laki-laki memang bisa menangis, termasuk dirinya. Isak tangisnya begitu jelas, Aku salah menilainya. Air matanya bersamaan mengalir seperti air mataku.
Pria pucat di atas tempat tidur itu bergerak mendekati kami walaupun dengan segenap tenaganya.
"Akhirnya kita bertemu Rangga. Gua Pram," katanya.
Aku merasa berkaca pada cermin saat melihat wajahnya.
"Mungkin lo pernah denger nama gua dari Raisa, kalau dia masih ingat sama gua." Kedua sudut bibirnya melebar membentuk senyum.
"Pernah beberapa kali. cuman Raisa selalu nutupin tentang hal itu."
"Oh ya?" ia menaikkan alisnya.
"Beberapa kali abang dan papanya menyebutku dengan sebuah nama yang bahkan aku ga pernah denger sebelumnya." Isyarat tangannya meminta Panji mengambilkan gitarnya.
Tenaganya tidak cukup untuk mengambil gitar yang tidak terlalu jauh darinya.
"Oh si Felix itu, mereka sangat mirip. Gua alasan dari semua ini. Raisa ninggalin gua di saat gua lagi kaya gini." Telapak tangannya membuka. Tatapannya melemah ke bawah.
"Tapi gua senang, Raisa nemuin Pram yang lain. Itulah diri lo. Ga gua sangka kita sangat mirip."
"Raisa pernah bilang, ada orang yang pernah ngajarin dia manjat di pohon seri di rumahnya." kataku pelan.
"Oh ya? Pohon itu masih ada ya. Buahnya manis-manis bener. Kami berdua memang sering bertengger disana." Ia terlihat begitu riang mengatakannya.
"Bukan hanya itu." kalimatku membuatnya dia sejenak. "Lukisan itu, lukisan yang menggambarkan seseorang yang sungguh mirip dengan gua."
"Paling itu lukisan lo. Raisa memang hobi ngelukis," katanya sambil tertawa kecil.
"Tidak, ga mungkin dia bisa ngelukis wajah gua. Padahal waktu itu gua baru kenal sama dia," kataku.
Ia terdiam. Sorot matanya lurus menatap wajahku. Terlihat begitu fokus dan tajam. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Aku lihat bibirnya bergerak demi mengucapkan sepatah kata. Lambat namun pasti, bibirnya bergerak berucap. "Hanya kamu." ucapnya. "Itukah kata-kata di lukisan itu?" matanya memerah memendung air mata yang memberontak ingin mengalir. Sebelah matanya tidak bisa membendung air matanya.
"Ya benar. Ia masih nyimpan lukisan itu," ucapku. Masih segar teringat olehku sebuah kertas lukisan yang ia kerimukkan di taman. Sudah lama aku duga wajah itu bukanlah milikku, tetapi milik orang lain.
"Hadiah ulang tahunku pada saat itu." Air matanya jatuh menjadi titik-titik melalui pipinya. Ia masih sekuat tenaga menahan tangis tersebut. Tangannya mengusap kedua matanya sambil berhara air mata itu mengalir.
"Lo masih mencintainya?"
"Sangat, gua merindukan wajahnya. Gua harap dia mengerti. Perasaan ini begitu menyakiti." Mata berairnya lurus ke wajahku. Bibirnya bergetar menahan tangis. Kerut keningnya mengekspresika rasa rindunya.
Panji, Vena, dan Dede diam menyaksikan percakapan kami. Tampak air mata Vena menandakan terbawanya ia dalam suasana ini. Gorden-gorden itu bergoyang menutup jendela. Di luar sana terang benderang yang mungkin saja dirindukan oleh Pram. Terangnya hari serta sejuknya angin yang bertiup sudah lama ia tidak nikmati. Sejuknya udara kini hanya ia rasakan berasal dari pendingin udara yang tidak alami.
"Terima kasih udah jagain Raisa selama ini." katanya sambil menaikkan kedua alis. Matanya masih merah bekas sebuah tangis. Otot bibirnya memaksakan sebuah senyum. Aku memanjangkan tanganku meraih bahunya. Badannya halus tidak bertenaga, mungkin saja karena sakit yang ia derita.
"Gua bakal bawa Raisa buat lo, tenang aja." Aku tersenyum padanya. Tampak wajahnya mulai memerah bersemangat, namun tidak ia ekspresikan. Hanya senyum itu yang tampak padanya.
***