
Epilog
9 Tahun kemudian....
Aku memutar lagu Kunto Aji yang dipertunjukkan untuk para jomblo sejagat tanah air ini. Ya benar, tidak salah lagi lagu itu berjudul "Terlalu lama sendiri."
Aku hanya memandang langit-langit kamar menghabiskan pagi minggu dengan hal membosankan seperti ini. Lagu ini begitu mewakili seluruh perasaan sepi yang menghantuiku selama bertahun-tahun. Mewakili aksiku menunggu seseorang yang tidak pasti akan datang.
Tidak sengaja aku menemukan mie instan sisa bulan ini. Aku selalu menyetok sekotak mie instan yang akan kami santap selama sebulan. Tanganku lihai memotong bawang yang akan aku tumis sebelum memasukkan mie kuah instannya. Bau harum tumisan menyeruak seketika. Mungkin saja abangku akan menyusulku di dapur dan mendapati aku sedang memasak mie instan yang terakhir. Sendok ini berputar-putar di dalam lautan kuah mie instanku. Sebuah mangkuk akan menampungnya semua, hingga habis sampai ke perutku.
Duduk bersila di depan TV sambil menyantap mie instan ini menjadi kebiasaanku di pagi minggu. Abangku hanya lewat saja, tidak menoleh sedikitpun kepada mangkuk yang menggoda ini. Ia bersiap-siap untuk menjaga toko percetakannya. Ia lebih memilih berbisnis daripada melanjutkan pendidikannya dan parahnya lagi ia malah melamar pacarnya, Rani.
Padahal saat itu ia belum memiliki pekerjaan. Tapi dengan otaknya yang cerdik, berbisnislah cara ia membiayai kehidupan istri dan satu anak. Sebenarnya abangku sudah lama membangun rumah yang tidak jauh dari rumah orang tuaku , tapi di hari minggu ia sering mampir ke rumah bersama anaknya.
Aku bersendawa setelah menyantap sepiring mie instan yang sangat lezat tadi. Sebuah baju bercorat cat semprok terpajang di lemari pakaianku. Baju itu penuh kenangan, harapan, dan bahkan pilu yang tersembunyi di balik warna putihnya. Liukan coretan cat semprot itu tersirat semangat masa muda yang tampak dari warna-warni yang menghiasi. Aku menutupnya. Aku tidak ingin kenangan itu berlama-lama menggerogoti pikiranku. Tidak sampai segitu saja kenangan itu kembali teringat, dua buah foto tertempel di cermin panjang tempat biasa aku bersisir sebelum bekerja sebagai manager di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang media.
Dua foto itu mengingatkanku dengan orang yang pernah mengisi sebagian hidupku dengan canda tawa mereka. Senang, sedih, tawa, dan tangis menjadi satu dalam ikatan persahabatan mereka. Foto pertama di saat kami awal memasuki SMA dan foto kedua di saat paling akhir kami berada di SMA. Aku tidak tahu senyum mereka masih sama tau tidak, yang pasti aku sangat merindukan mereka.
Merekalah yang aku sebut dengan Anak Pondok Belakang. Dede berpose jenaka dengan gaya khasnya. Bajunya tidak ada bagian yang tercoret oleh cat semprot. Zaki seperti biasa, tetap cool walaupun sekujur tubuhnya aku beri cat semprot yang membentuk bagian dada wanita.
Vena memicingkan matanya saat di tangkap oleh kamera. Rere dengan kacamatanya memegang handphonenya tepat di hadapan wajahnya. Bajunya sama, tetap penuh dengan coretan. Sedangkan aku, di belakang kamera menangkap semua momen itu dalam sebuah jepretan foto.
Aku rindu pada mereka, terutama wanita itu. Wanita berkacamata berambut terikat seperti ekor kuda. Matanya bening menembus tebalnya kacamata yang ia kenakan. Lesung pipitnya yang dalam sangat mempermanis paras cantiknya. Wajahnya sipit lengkap dengan kulit putih seperti wanita jepang. Tawanya manis seperti senyumnya. Namun sayang, tidak ada satupun kalimat yang pernah aku dapatkan semenjak sembilan terakhir ini. Ia mungkin lupa denganku atau memilih pria yang di temuinya di luar sana. Sedangkan hatiku berdebu menunggu kehadirannya di sisiku.
Tak ada kabar atau tak sempat memberikan kabar? Ataukah mungkin tak ingin memberi kabar? Semua media sosialnya telah aku hubungi, namun tidak satupun ada yang disambut. Entah kemana ia sekarang. Bisa jadi ia terlalu sibuk dengan budaya barunya itu disana. Terlalu sibuk meraungi tanah Eropa, menyeberagi luasnya samudra, atau mungkin saja bermain cinta dengan pria di luar sana. Aku tidak tahu apa yang sedang di pikirannya. Ia tidak ingat pernah tersirat sebuah janji, kalau kami pernah saling mencintai.
Bunga tidak akan tumbuh dan beraroma tanpa sinar matahari, begitu juga seorang lelaki tidak akan hidup tanpa cinta. Bunga itu adalah aku. Aku rapuh. Aku hanya berusaha tegar tanpa kehadirannya. Aku juga berusaha berjiwa besar. Hati menangis pilu, sebagian lainnya berusaha bersabar untuk menunggu waktu.
"Inggris masih di bumi, kita masih bisa ketemu kok."
Kalimat itu meyakinkan diriku untuk selalu menunggunya. Namun ia hanyalah manusia, ia hanya Rere yang kadang bisa lupa. Lupa akan diriku yang selalu menunggunya. Aku hanya menghabisi hariku dengan merasakan dirinya dalam imajinasiku, di dalam angan yang kadang terlalu cepat untuk sirna. Aku mengambil cincin itu di dalam laci kayu tua. Sudah lama cincin itu tidak aku lihat semenjak aku membelinya untuk aku berikan kepadanya. Aku telah berangan akan memberikan cincin ini ketika ia sudah tiba di hadapanku. Membangun rumah tangga kecil seperti abangku rasakan saat ini. Cincin ini sudah lama tersimpan, namun warnanya tetap mengkilap seperti baru.
Aku ingin ia menyaksikan sendiri perubahan di antara kami. Ia banyak melewatkan sesuatu yang berubah di tengah menghilangnya dirinya di antara kami. Aku percaya ia akan terkejut melihat Dede, Vena, dan Zaki setelah sekian lama tidak pernah bersua. Namun di balik sisi, aku pasti akan terkejut juga melihat dirinya yang mengalami perubahan. Mungkin saja ia sudah memakai style eropa, sedangkan aku masih dengan gaya masyarakat urban pinggiran kota.
Bel rumahku berbunyi. Aku segera menyimpan cincin itu kembali dan segera melihat siapa gerangan yang membunyikan bel. Aku membuka pintu dan melihat sebuah mobil box parkir tepat di depan rumah. Seseorang berseragam kameja memegang sebuah kotak bersampul padi.
"Pak Rangga ya? Ini ada paket untuk anda. Tolong tanda tangan di sini." Ia memberikan selembar kertas dan pena untuk menandatanganinya.
"Thanks yah." Aku berterima kasih dan menunggu petugas pengantar barang itu pergi.
Di hadapanku terlihat sebuah kotak yang tidak tahu siapa pengirimnya. Bersampul padi dengan lipatan rapi di setiap sisinya. Kotak itu belum aku sentuh semenjak aku letak di atas meja tamu. Aku hanya mengira-ngira siapa di balik pengirim kotak ini. Rasa penasaranku membuat tanganku perlahan-lahan membuka lapisan sampul padi. Di dalamnya masih ada satu lapisan koran lagi. Aku membuka tutup kotak itu. Permukaannya halus hingga ke setiap sudut. Di dalamnya ada sebuah buku yang masih tersegel oleh plastiknya. Sepucuk surat terlampir di bawah buku tersebut. Aku mencoba membaca membaca judul besar yang terpampang jelas di buku itu.
"Senyuman hati?" Aku membacanya.
Sepertinya aku mengenali kata-kata itu, aku bergumam di dalam hati. Kata-kata itu seperti tidak asing lagi di ingatanku. Begitu familiar, namun tidak terdefenisi sebuah makna. Aku masih menyerapi arti dari dua kata itu.
Senyuman hati?
"senyuman tidak hanya sebatas di bibir, namun juga di hati. Kita tidak hanya memilih orang yang bibirnya tersenyum kepada kita, namun juga hati yang selalu tersenyum."
Tiba-tiba kalimat itu terngiang dalam ingatanku, menari-nari di dalam ruang hampa kenangan. Aku mengingat kata-kata ini. Aku merasa terbang jauh menuju sekitar sepuluh yang lalu sewaktu aku mengatakan hal ini kepada seseorang, yaitu Rere.
Ia masih mengingatnya? Hanya aku yang lupa akan kata-kata ini? Kenapa ia menggunakan kata-kata ini dalam judul bukunya?
Aku terus menerka-nerka pertanyaan yang hanya seorang saja yang bisa menjawabnya. Bukan aku, bukan orang lain, tetapi Rere.
Aku mengambil sepucuk surat yang terhimpit oleh badan buku.
"Temui aku siang ini di mall tempat biasa aku membeli buku." Surat ini tanpa nama pengirimnya. Hanya tanggal hari ini yang tertera di sana. Aku kembali mengambil buku tersebut dan menyeret sorot pandanganku ke bagian bawah buku.
"Refani Sucipto? Rere? kamu kah itu?" Aku terkejut melihat nama itu.
Nama yang selalu aku rindukan suaranya. Aku segera berlari ke kamar dan memakai pakaian terbaikku demi menemuinya.
Satu benda itu tidak terlupakan, cincin itu. Aku mengambil mobil di garasi dan langsung melaju ke tempat aku dan ia sering membeli buku.
Aku menginjakkan kaki ke toko buku itu. Tempat itu ramai tidak seperti biasanya. Bagian sudut toko buku itu tampak kerumunan orang mengantre menunggu sesuatu.
Aku mendekatinya. Seorang wanita cantik berparas manis duduk memegang pena melayani antrean orang yang meminta tanda tangannya. Parasnya manis dengan senyum kecil itu. Rambut terikatnya begitu anggun dengan ikat rambut berwarna ungu. Matanya terlihat bertambah sipit ketika senyum itu terpancar. Sebuah kacamata berbingkai hitam itu mengingatkanku dengan seseorang.
Rere? panggilku dalam hati. Orang demi orang ia layani untuk memberikan tanda tangan di buku itu.
"Launching buku Senyuman Hati." Aku membaca tulisan besar di atasnya.
Senyumnya masih sama seperti simpul bibirnya bertahun-tahun yang lalu. Matanya yang sipit semakin menyipit memasang wajah cerah kepada penikmat bukunya. Tangan kecilnya lincah mencoret buku-buku itu dengan tanda tangannya yang dulu tidak dianggap berharga. Aku di sini tegak mengaguminya dari kejauhan.
Aku tahu ia pasti akan kesini jika mendengar suaraku sekali lagi. Suara yang paling indah memang orang yang kita cintai, namun masihkah ia mencintaiku sejak sekian lama tidak bertemu. Bayang wajahku mungkin saja bisa hilang dari pikirannya.
Inikah yang dinamakan takdir? Dua insan yang terpisah jauh akhirnya aka di jumpakan kembali dalam suatu waktu.
"Rere?" panggilku.
Ia tidak mendengarkannya.
"Rere!" panggilku sekali lagi. Pliss, dengerin dong Re.
"Rere!!!!" panggilku dengan keras. Ia masih tidak mendengar. Aku maju sedikit ke kerumunan itu.
"Rere." panggilku sekali lagi.
"Dede, Vena, Zaki????" tanyaku.
Aku sungguh tidak percaya mereka ada disini. Mereka menunjukkan buku yang sama di tangan mereka. Mereka datang untuk ini.
"Kejar dia Rangga." Dede mendorongku.
Mereka kembali memanggil Rere bersamaan.
"RERE!!!!" Rere menoleh terdengar panggilan yang cukup keras itu. Sebuah garis lurus membentuk sorot mataku dan dia. Mata beningnya sungguh indah dari balik kacamatanya.
Ia berdiri dari kursinya dan berlari kepadaku.
"Ranggaaa," Panggilnya sambil berlari. Panggilan itu mengingatkanku saat ia memanggilku untuk terakhir kalinya. Aku membuka tanganku bersiap-siap memeluknya.
Ia menjatuhkan diri ke pelukanku. Pelukan ini begitu hangat, nyaman dan mengembalikan semua kepingan kenangan yang sempat aku lupakan sesaat. Tangisanku beriringan dengan tangisannya. Bibirku mencium keningnya, tanganku mengelus dan membelai rambut indahnya. Akhirnya momen ini terjadi juga dalam hidupku. Aku ingin meluapkan segala kerinduan ini. Terpisah bertahun-tahun sangat menyiksa batinku.
"Aku cinta kamu Re," kataku meskipun dalam tangis.
"Aku juga cinta kamu Rangga," jawabnya di dalam pelukku. Rasanya aku ingin mengatakan ribuan kata cinta pada saat ini.
Namun aku bingung untuk mengungkapkan rasa rindu yang tertalu besar. Aku tidak tahu kata apa yang dapat mewakili semua rasa ini.
Aku teringat benda itu, benda yang lama aku persiapkan untuknya. Sebuah benda yang akan mendapatkan tempat termanis di jarinya. Aku melepaskan pelukanku. Matanya digenangi oleh air mata.
"Menikahlah denganku. Aku akan membahagiankanmu Re. Jadilah pendamping hidupku hingga maut memisahkan kita. Aku sangat mencintaimu Re. Bertahun-tahun aku menunggumu untuk mendapatkan jawaban ini," kataku sambil membuka kotak cincin berwarna merah itu.
Matanya basah dengan air mata. Ia menatapku dengan fokus. Bibirnya bergetar menahan sesuatu yang ingin dikatakan. Aku mengusap air matanya yang terus mengalir. Sentuhan hangat ini memberi kekuatan baginya untuk menjawab pertanyaanku.
Ia mengangguk pelan. Aku memegang tangannya dan mencari jari manisnya. Sebuah cincin berpermata itu memperindah jari manisnya yang mungil. Ia berusaha untuk tersenyum walaupun perasaan haru masih menyelimutinya. Ia mememelukku kembali.
"Aku akan mendampingi hidupmu sampai mati. Hanya aku Rangga. Aku sangat mencintaimu." Bibirnya bergerak perlahan di bidang dadaku mengatakan kalimat itu.
Aku menghela nafas melepas semuanya. Ia memberikanku jawaban yang begitu berarti bagi masa depanku.
Senyuman hati, aku membaca bacaan yang terpampang jelas di sana. Entah dari mana aku mendapati kata-kata itu. Aku bisa merasakan hati Rere yang tersenyum lebar menerimaku. Dada kami saling bersentuhan dalam pelukan. Masing-masing hati saling bersentuhan berusaha meluapkan rasa rindunya yang dalam.
"Khmmmm." Dede mendehem melihat pelukanku dan Rere. "Kami kok di lupain yah."
"Dede, Zaki, Vena????" Rere berlari menuju mereka dan memeluknya. Tidak seperti bertahun-tahun sewaktu Rere menolak memeluk Dede dan Zaki, kini ia memeluk semuanya. Mungkin saja rasa rindu mengalahka semuanya. Vena menangis haru melihat sahabatnya yang terpisah bertahun-tahun dengan dirinya. Rere memeluk Dede dan Zaki. Ia begitu rindu dengan mereka.
Vena masih sama dengan rambut pendeknya, hanya saja ia sedikit gemuk sekarang. Dede yang berkulit gelap masih sama seperti dulu. Pembawaannya yang lucu selalu memberikan suasana lebih. Ia selalu yang memulai percakapan kami. Zaki memasukkan satu tangannya ke sakunya. Kepalanya dari tadi melirik kiri ke kanan mencari seseorang. Gayanya yang keren ditambah dengan wajah maskulinnya. Aku memberikan salam persahabatanku kepada mereka berdua.
"Cie ada yang nyusul kita kayanya Ven," kata Dede sambil tertawa. Vena dengan senang hati menggandeng tangan kekar Dede. Aku lihat Rere mulai memegangi cincin di jari manisnya. Matanya menatap Vena dengan cepat.
"Kalian udah menikah? Kok ga undang-undang sih?"
"Gimana mau ngundang kamu. Kamu aja di luar negeri," jawab Vena.
"Anak dari seorang perwira polisi sedang tidur dalam perutku Re." Vena mengelus perutnya.
"Bentar lagi aku bakalan di panggil tante Rere dong." Rere tertawa memeluk Vena karena mendengar Vena sudah "berisi" sekarang.
"Polisi? Wah kamu cocok banget dengan postur kamu yang beginian." puji Rere kepada Dede. Dede tampak menggaruk-garuk kepalanya. Kebiasaan salah tingkahnya tidak berubah hingga saat ini.
"Re, kenalin ini pacar aku? Ceritanya panjang banget. Kamu bakalan terkejut. Amanat seseorang memintaku untuk menjaganya," kata Zaki tiba-tiba.
"Amanat siapa?" tanya Rere.
"Pram, siapa lagi," jawab Zaki.
Aku melihat seorang wanita datang menggandeng tangan Zaki. Jalannya memang seanggun itu sewaktu aku mengenalnya untuk pertama kali. Wanita berambut tergerai dengan postur tubuh tinggi semapai, cocok dengan Zaki. Sebuah tas bertengger di tangan mulusnya. Kulitnya putih dengan kemerah-merahan di bagian wajahnya. Ia kelihatan tersenyum kepadaku, atau mungkin kepada Rere. Yang penting senyuman itu kembali aku lihat.
Zaki menyambut lembut gandengan tangannya. Dua buah gigi manis terlihat ketika ia berusaha untuk tersenyum. Matanya yang besar serta bulu mata yang lentik dinaungi oleh dua alis tebal yang rapi. Sepasang mata itu kembali tertuju kepadaku. Aku tidak salah lihat?
"Raisa??" Rere memeluknya dengan erat. Raisa tersenyum padaku dalam peluknya. Sama Cantiknya seperti dulu. Bibirnya merah alami tanpa selapispun polesan gincu berwarna merah itu. Rasanya itu adalah senyum sapaan setelah lama kami tidak bertemu.
"Kok bisa sama Zaki sih?" tanya Rere penasaran.
"Ceritanya panjang deh. Aku nemuin dia sewaktu kuliah. Kamu banyak tertinggal banyak hal disini. Termasuk Rangga tuh yang kerja di perusahaan papamu."
Zaki menunjukku. Aku tersenyum malu sambil mendekati mereka.
"Apa aku ketinggalan sesuatu?" tanya Raisa. Tangannya bergandeng manis dengan tangan Zaki. Rere mengangkat tangannya sedada dan menunjukkan sebuah cincin berpermata indah di jari manisnya.
"Ini, seseorang memberiku ini," kata Rere. Raisa tersenyum lebar melihat Rere sudah memakai cincin yang penuh makna itu.
Aku mengacak-acak rambut Rere dan memanjangkan tanganku hingga ke bahu kirinya.
"Dijaga baik-baik yah," kataku.
Matanya menoleh ke arahku. Senyuman itu tertuju tepat kepadaku. Lesung piptnya menampakkan diri ketika senyum itu terpancar. Aku melihat senyumnya yang lain. Senyum yang berbeda yang terdefenisikan oleh kata-kata yang pernah aku buat sepuluh tahun yang lalu. Ini bukan senyum biasa. Inilah yang aku sebut dengan senyuma hati.
***
TAMAT
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa comment dan masuk ke group chat yaa.