You Make My Heart Smile

You Make My Heart Smile
33



Tawa Raisa terdengar saat wajah kami tenggelam oleh air kolam. Ia mengusap wajahnya yang basah oleh air. Bibirnya begitu manis seakan aku ingin ******* setiap garis-garis di bibirnya. Kelopak matanya yang dilengkapi oleh bulu mata tebal alami mempercantik mata bulatnya. Kami berenang dan bersenggayut di tepi kolam.


Mataku tertuju ke Rere yang sedang asyik mencipratkan air ke Panji, hal yang sering aku lakukan dengannya dahulu. Kadang ia sering bersenggayut di punggungku dan meminta dibawa ke tengah kolam.


"Jangan Rangga," katanya dahulu saat aku merendahkan tubuhku hingga wajahnya ikut terendam ke dalam kolam. Cubitan lembut tapi sangat sakit akhirnya melesat ke perutku. Helaian rambutnya mengenai punggungku saat aku gendong ia ke tengah. Geli rasanya, namun wajahnya yang ia sandarkan ke pungungku membuatku melupakan rasa geli itu.


"Bengong aja kamu." Raisa mengalirkan air ke wajahku.


"Apaan sih kamu Raisa." Aku membalasnya dan lari ke tengah kolam. Ia ikut mengejarku hingga ke seberang. Tubuhnya begitu serasi membentuk gerakan berenang.


"kamu pandai juga yah berenang." kataku. ia mengusap rambutnya ke belakang. Gerakan tangannya terlihat menggoda.


"Aku dulu sering berenang sama mama. Tapi sekarang mama sama papa sering bisnis ke luar kota. Jadi jarang berenang lagi," kata Raisa.


Kedua tangannya menarik tanganku ke tengah kolam. Kaki kananya ia lipatkan ke pinggangku. Kakiku masih terayun untuk tetap mengapung di air. Dadaku semakin berdetak kencang saat ia mulai melingkarkan kedua tangannya di leherku. Wajahnya yang berseri menatap lurus mataku. Garis-garis di bibirnya begitu jelas terlihat oleh mataku, begitu menggoda. Belahan dadanya menampak diri sedikit. Wajahnya mulai mendekat ke bibirku. Ia memerengkan kepala dan memejamkan mata. Lipatan kakinya di pinggangku semakin kuat.


"Rangga," katanya dengan lembut di depan wajahku.


'Iya?" tanyaku. Nafasku masih tidak beraturan, antara takut di lihat oleh orang banyak atau ditangkap penjaga kolam karena disangka berbuat yang tidak-tidak.


Ia mulai membuka bibirnya sedikit.


"Celana kamu robek."


APA?


Aku memegangi bagian belakang celanaku yang benar-benar robek. Wajahku merah padam karena malu kepada orang banyak.


"Tapi ga apa-apa, biar cowok kamu di liatin cewek-cewek karena bokongnya robek," tawaku sambil menyubit kedua pipi kemerahannya. Semakin kuat, semakin lucu wajahnya yang imut karena cubitanku.


"Ayo kita ke atas." Ia menarik tanganku lagi. Di punggungnya terlihat jelas bayang-bayang tali bra yang terikat. Aku semakin berpikiran kotor di dekat Raisa.


Ia mengulurkan tangannya membantuku untuk keluar dari kolam. Zaki sudah melangkah menghampiri kolam renang. Ia kembali meregangkan otor-ototnya yang berbentuk. Lompatannya ke dalam kolam seperti atlit-atlit renang dalam kejuaraan renang, tampak mulus meluncur ke dalam air. Tubuh atletisnya tampak menguat ketika berusaha mengayun diri di kolam. Ia sekarang sering menyendiri semenjak putus, entah apa yang sedang ia pikirkan. Aku rasa ia butuh waktu untuk memikirkan semuanya.


"Aku buatin ini untuk kamu." Ia menyodorkan kotak nasi kepadaku. Dari luar kotak tercium bau harum nasi goreng yang begitu memikat.


"Pasti enak nih." Aku menarik lembaran-lembaran telur dadar yang di susun rapi. Potongan sosis menambah rasa dari nasi goreng. Taburan bawang goreng di atas nasi goreng memperlengkap bekal yang di siapkan oleh Raisa.


"Aku suapin yah." Tangan Raisa merebut sendok di jariku.


Aku masih terpaku menikmati senyum Rere walaupun ia tujukan kepada Panji. Lesung pipit yang dalam mempermanis senyum bibir menawannya. Bola matanya tertutup oleh mata sipitnya yang memicing senang. Kulit putih mulusnya basah dan berkilau oleh cahaya matahari yang menerpa.


Dalam hatiku berkata, aku masih ingin terus memerhatikanmu. Teringat olehku saat ia masih memberika senyuman itu kepadaku. Ia kelihatan menjauh semenjak aku bersama Raisa. Mungkin ia sadar bahwa aku butuh waktu yang lebih untuk Raisa.


"Sayang, aku suapin yah?" tanya Raisa sekali lagi.


Aku mengangguk membuka mulut untuk menerima suapan Raisa. Tangannya begitu hati-hati memasukkan sesendok nasi goreng ke mulutku. Mulutnya mengikuti mulutku yang sedang mengunyah penuh nasi goreng. Ia begitu lucu saat menggembungkan pipinya.


"Enak punya sahabat kaya gini yah." katanya dengan pelan. Ia meletakkan sendoknya sesaat.


"Walaupun aku terlihat seperti anak eksis di sekola, anak yang paling tenar di sekolah, namun aku ga pernah punya sahabat seperti kalian ini. Semuanya palsu, mereka dekat karena aku dari golongan orang kaya," ujar Raisa.


Matanya menatap lurus ke air kolam renang yang bergelombang.


"oh ya?" Aku mengambil secuil lembaran telur dadar.


"Dan aku beruntung punya kamu. Aku bisa belajar menerima apa adanya. Kamu ga kaya yang lain, mereka itu palsu."


Kepalanya menoleh ke Panji yang sedang menuju kesini. Tampak di kolam Dede sedang mengulurkan tangannya membantu Vena untuk naik. Mereka pasti tidak sabar mencicipi makanan yang dibawa dari rumah Rere, terutama kerupuk.


"Re, kamu ga naik? Ayok," panggil Raisa. Rere tampak asyik berlajar berenang walaupun dari tempat yang dangkal.


"Ga, nanti aja, lagi asyik nih." Ia menjulurkan jempolnya. "Rangga, kerupuk jangan kamu habisin yah." 


"Oke, ntar aku sisain secuil buat kamu," balasku.


Zaki duduk sambil mengambil seplastik kerupuk. Kepalanya tetap menoleh ke Rere yang sedang berenang. Matanya terlihat fokus memerhatikan gerak Rere di kolam. Nafasnya masih tidak beraturan karena sehabis bolak-balik berenang menelusuri kolam. Bulir-bulir air menciprat di udara saat Zaki mengusap rambutnya yang basah. Dadanya tampak bidang saat mengangkat lengannya.


"Sedekat apa sih Panji dengan Rere?" tanya Vena dengan pelan. Matanya melihat Panji yang sedang di kantin kolam.


"Ya sedekat Rangga dan Raisa paling. Kamu ga liat mereka dekat banget tadi."


Dede mengunyah kerupuknya. Aku sempat tersipu malu mendengar kalimat Dede. Raisa tersenyum mendengarnya.


"Mereka kelihatannya cocok deh," sambung Raisa.


Zaki mengalihkan matanya dengan cepat kepada Raisa. "Masa'?"


"Raisa, jangan terlalu cepat memutuskan." Aku mengacak rambut Raisa.


Tangannya yang lembut berusaha menahan. Ekspresi lucu dari Raisa membuat tanganku semakin mengacak rambutnya yang sedikit basah.


"Vena, mau aku acak kaya gitu ga?" tanya Dede dengan polosnya.


Vena menatap keheranan kepadanya. Dede memang terlalu gagap untuk mendekati wanita. Harusnya ia banyak belajar dari Zaki yang sudah berpengalaman.


"Enggak." Kedua jarinya menunjuk mata Dede. Majahnya manis menatap Dede. Rambut pendek setelinganya tidak menghalangi aura canti dari sosok Vena. Sikap dingin Vena membuat para lelaki semakin tertantang untuk mendekatinya. Kami tertawa melihat tingkah Dede yang lucu saat menangkap kedua jari Vena yang tertuju kepada Dede.


"RERE!!!" Zaki berteriak dengan kerasnya. Kakinya berlari seperti ia berlari di lapangan futsal. Sempat terjungkal waktu di langkah pertama, namun ia tetap berlari. Otot-otot kakinya menegang untuk mencapai ke kolam.


Aku sontak melepaskan genggaman Raisa dan berlari ke kolam renang. Tangan Rere tampak melambai dari dalam air. Ia mengusahakan tubuhnya agar tetap terapung, namun ia masih saja tidak bisa. Kepalanya hilang timbul berusaha untuk mengambil nafas. Ingatan ku kembali ke waktu kami pergi berenang dahulu.


"RANGGA!" kata itu keluar seketika saat Rere berusaha menjulur tangannya ke atas.


***