You Make My Heart Smile

You Make My Heart Smile
42



*sudut pandang Rere


Sepi tanpa semilir angin hanya sebuah lampu jalan di tempat pemberhentian kami ini. Serangga-serangga saling berebut secercah cahaya yang terpancar di lampu jalanan itu, berebut siapa yang paling banyak menikmati hangatnya cahaya. Suara mobil kak Panji masih saja bergetar sampai akhirnya ia memutar kunci mobil untuk mematikannya. Sentuhan tangannya ke pipiku memberikan sentruman yang mendirikan semua bulu romaku. Desaha nafasnya terdengar di balik kesunyian dalam mobil. Lampu dalam mobil sengaja ia setel redup guna tidak menyilaukan pandangannya ke depan.


"Sayang, kalau kamu ga mau, kamu bisa ikut kok." Tangannya mengelus pipi kecilku.


Tangannya menarik garis lurus hingga sampai ke helaian rambutku yang terikat. Kak Panji mendekatkan kepalanya. Sebuah kecupan di bibirku membuat diriku berusaha untuk menikmatinya. Permainan bibir miliknya terasa begitu nyaman. Aku bisa merasakan setiap detail garis-garis bibirnya.


"Ga usah deh. Aku malu, di sana semuanya laki-laki. Aku ga apa-apa kok. Zaki bisa ngantarin aku kok."


Aku menyentuh tanganya yang sedang asyik menikmati kelembutan di pipi. Kedua sudut bibirnya melebar membentuk senyum. Mata sipitnya tidak tampak karena memicing senyum kepadaku.


Kepalanya mendekat kepadaku. Hidungku memang tidak semancung hidungnya, namun hidung mancungnya kini bersentuhan dengan punyaku.


Aku menutup mata menikmati momen ini. lekukan bibirnya seperti gundukan bukit di sebuah gurun. Indah dan terasa mengasyikkan. Bibirnya terasa lembut namun begitu liar terasa.


"Aku pergi dulu ya Re." Ia bergeser sedikit ke atas dan mencium lembut keningku.


"Iya. Take care yah." ucapku. Aku beranjak pergi dari mobil. Di luar telah terlihat Zaki yang sudah membukakan pintu mobil kepadaku. Senyumnya tetap terpancar walaupun tidak selebar biasanya. Matanya memang sipit, namun rasaku lebih sipit mata kak Panji. Badannya terlihat atletis di balik kaos tipisnya.


"Thanks." Aku masuk ke dalam mobilnya. Ia dengan segera menutup pintu mobil.


Tidak terlalu banyak kata yang keluar dari mulut Zaki, entah terlalu fokus dengan stirnya, atau terlalu canggung untuk mengucapkan kata. Tidak mungkin ia merasa canggung. Kami sudah sangat akrab. Namun memang seperti biasanya, ia termasuk cowok yang dingin, tidak terlalu banyak cakap namun lebih banyak berbuat. Pantas saja ia banyak di sukai oleh banyak wanita di sekolah.


"Kok Panji ga mau ngantar kamu?" Tiba-tiba ia memecah keheningan


Mobil berhenti dari kecepatannya. Terdengar sepasang pengamen memainkan musik khasnya. Lampu merah di depan menunjukkan durasi satu menit untuk bisa kembali hijau. Sepasang pengamen itu tidak kunjung pergi sampai menghabiskan satu lirik lagunya. Zaki tidak mempedulikan mereka. Ia tetap keras menutup kacanya rapat-rapat membiarkan mereka menjadi hiburan sesaat. Beberapa pedagang koran juga mondar-mandir menjajakan korannya. Beberapa penjaja koran sudah menawarkan korannya beberapa kali, akibatnya sudah beberapa kali juga Zaki menolak tawaran mereka.


"Dia mau ngejenguk temannya yang sakit. Pram namanya. Temennya udah ngumpul semua, Cuma dia yang belum. Jadi aku di oper kesini deh. hahahah." Aku tertawa singkat.


Hanya senyum kecil itu membalas tawaku tadi. Kakinya menginjak pedal gas perlahan setelah melihat lampu sudah kembali menjadi hijau. Saut-sautan klakson kendaraan saling berbunyi memperingatkan kendaraan di depannya untuk bergerak.


Aku melihat ke belakang mobil, di sana hanya di penuhi oleh pernah-pernik kucing. Mulai dari bantal, pengganjal leher di kursi, mainan kucing yang bisa ia lekatkan di kaca mobilnya. Sebuah stiker telapak kaki kucing tertempel di kaca belakang mobilnya. Ia memang penyuka kucing. Cimoy kucing besarku selalu menjadi mainannya di pondok belakang.


Rumahku tinggal beberapa gang lagi untuk di lewati. Warung sayuran tempat biasanya aku membeli sayur sudah tutup. Biasanya disana ada banyak anak muda nongkrong sambil memainkan gitar mereka. Kulit kacang dan beberapa puntung rokok telihat berserakan disana. Sepertinya mereka baru saja meninggalkan tempat ini.


Aku menarik nafas dalam-dalam. Aku menggeliat menarik semua ototku yang tegang karena terlalu lama duduk di dalam mobil.


Sebentar aku tau ini...... aku kembali menarik nafasku dalam-dalam dan melepaskannya kembali secara perlahan.


Parfum itu..... aku tau.. tidak salah lagi.. tapi kenapa?


Aku menyadari telah mencium wangi yang sangat familiar dan selalu lekat dalam ingatan.


Surat itu... tidak salah lagi.


Aku menatap mata Zaki yang sedang sibuk berhati-hati dengan gelapnya malam. Ia tampak begitu tenang.


Kenapa wangi parfum ini ada di dalam mobil ini? kucing, yaa benar kucing. Terlalu banyak barang berbentuk kucing. Stiker telapak kaki kucing itu sama dengan gambar telapak kucing di ruang olahraga yang jadi tanda kedua dari surat itu. Zaki adalah penyuka kucing.


"Re," panggilnya. Aku masih saja panik sendiri menyadari semua tanda itu ada di dalam mobil Zaki.


"Iya?" tanyaku. Ternyata kami sudah sampai di depan rumahku.


"Pasti denger dari Rangga." aku mencoba tersenyum menutupi semua kegugupanku. Ia tertawa kecil sebentar.


"Hatiku telah tersenyum re." katanya. Nadanya terdengar rendah dari biasanya.


"Oh ya? Baguslah. Kamu bisa cari pasangan lagi."


"Akulah sang pemberi tanda. Semua tanda itu."


Kalimatnya tidak terduga selama sekali. Aku masih pusing untuk mencerna kalimatnya.


"Semuanya Re. Kamu cium, itulah parfum dari surat itu. kamu liat, ada banyak kucing. Aku menyukai apa yang kamu suka. Seperti tanda kedua yang aku berikan."


Tangannya perlahan menyentuh tanganku. Getaran-getara di tangannya terasa dingin. Matanya terlalu fokus menatapku.


"Kenapa Zak? Aku ga ngerti." Aku semakin bingung dengan semua maksudnya. Sikapnya tidak seperti biasanya.


"Karena aku suka sama kamu Re. Cuman kehadiranku selalu tertutupi dengan kedekatanmu dengan Rangga, hingga akhirnya Panji hadir di hadapanmu."


"Kamu tau kan aku udah punya kak Panji."


Tangannya makin menggenggam kuat tanganku. Badannya sedikit condong ke arahku. Kepalanya mulai mendekat denganku. Aliran nafasnya mulai terasa di wajah.


"Zak apa yang kamu lakukan?" Aku sedikit mencoba melawan. "Zaki, jangan.... Zaki....Zak."


Tangannya terlalu kuat untukku lawan. Bibirnya hampir saja menyentuh bibirku. Telapak tanganku menampar keras wajahnya. Ia tidak memperdulikan. Ia terus mencoba untuk menciumku. Hanya satu yang aku ingat.


Ranggaaaaaa ...Tolong aku....


Suara terbukanya bunyi pintu mobil Zaki terdengar.


Ia menarik Zaki hingga tercampak keluar. Rambut lurusnya bergerak seiring pergerakkannya mencampakkan Zaki keluar. Postur tubuhnya kecil namun begitu melayangkan sebuah kepalan tangan tepat ke pipi Zaki. Wajahnya tampak begitu manis dengan sebuah tahi lalat di pipinya. Beberapa layangan tangan sepertinya tepat mengenai wajah Zaki. Zaki mencoba menahan serangan itu walaupun ia sedang tersungkur ke tanah. Namun tangan lawannya begitu semangat bergerak menghajarnya. Aku segera keluar dari mobil.


"Rangga. Sudah cukup." Aku menahan tangannya.


Namun ia tetap menghajar Zaki. Tidak ada kata ampun yang tersirat di wajahnya. Amarahnya begitu meluap-luap hingga ke ubun-ubun.


"Sudah Rangga." Sebuah pelukan akhirnya menahan amarahanya. Tangannya membalas pelukku.


Nafasnnya terasa kuat dan kencang. Keringatnya bercucuran di bagian dahi. Matanya melotot menatap Zaki yang sedang memegangi wajahnya yang habis terkena tinjuan Rangga.


"JANGAN PERNAH LO SENTUH RERE!!!!" teriak Rangga memekakkan telingaku.


Tangannya menarik tanganku hingga masuk kerumah. Genggamannya begitu kuat. Langkannya terlalu cepat. Ia membuka pintu dengan cepat. Pelukannya menenangkan diriku. Masih terasa hangat walaupun sudah lama aku tidak merasakannya.


"Aku akan selalu melindungimu Re."


Kata-kata itu mengingatkan Rere dengan seseorang yang juga menyebutkan hal yang sama. Seseorang yang baru saja ia lihat tersungkur di tanah. Seseorang itu meninggalkannya tanpa perkataan maaf sedikit pun.


***