
SUDUT PANDANG RERE
Di punggungnya tersandang sebuah tas gitar yang memanjang sepanjang tulang belakangnya. Ia mulai kelihatan pegal karena menyandang gitar di belakangnya. Keringat-keringat itu menjadi bulir-bulir yang meluncur sepanjang keningnya. Ia meletakkan tas yang berisikan gitar di meja. Ia meletakkan dengan hati-hati hingga tidak mengeluarkan sura sedikitpun.
"Kamu kok ga mulai-mulai nulisnya?" kata kak Panji yang melihat jemariku sudah mulai meraba-raba keyboard.
Aku menggaruk-garus kepala sesaat.
"Ga tau nih, kurang inspirasi," kataku dengan mata masih menatap laptop.
Sebenarnya inspirasi itu selalu datang seperti angin yang berhembus, namun kehadiran kak Panji memang membuat diriku gugup untuk kembali berimajinasi. Pesonanya memang membuat pikiranku kacau. Orang yang paling tenar sekarang berada disamping diriku.
"Sini laptop kamu." Ia menarik laptop dan mengetik beberapa kata.
Aku mendekatkan badanku ke kak Panji untuk melihat apa yang telah ia ketik. Jemari-jemarinya kelihatan kekar karena sering bermain gitar. Terdapat bagian kasar di ujung jarinya karena terlalu sering memencet senar gitar.
"Pada suatu hari di pagi yang cerah?" Aku membaca tulisan yang ia ketik.
Ia mengangguk dengan alis yang di naikkan.
"Inspirasi bisa saja datang dari kata-kata yang kita tulis sebelumnya." Ia menunjuk kata-kata yang ia ketik. "Cara aku kalau kehabisan ide dalam menulis lagu."
"Kakak juga nulis lagu?" Aku terkejut dengan pernyataanya tadi. Ternyata ia sangat piawai dalam menulis lagu.
"Iya untuk keperluan band. Kadang juga buat ngisi waktu luang. Menyendiri di sudut sekolah sambil menulis lagu itu adalah yang kakak suka." Kedua matanya menatap cahaya yang menembus di sela-sela daun ketapang yang mulai kelihatan menguning.
"Wahh, ga salah deh kalau seluruh cewek di sekolah mengidolakan kakak." Aku mendorong badannya yang tegap itu. Badannya hanya bergoncang sedikit. Ia tersenyum dan mengambil gitarnya untuk di mainkan.
Melodi gitarnya begitu merasuk ke jiwa. Sama indahnya seperti senandung burung yang berkicau di kala pagi cerah. Jari tangan kirinya terlihat lihai berpindah dari satu nada ke nada lainnya, sedangkan jari di tangan kanannya sibuk memetik senar gitar.
"Termasuk kamu dong?" tanya kak Panji dengan singkat.
Ia kembali memainkan melodi gitarnya. Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya yang baru saja ia ajukan. Nafasku berhenti sejenak menanti jawaban apa yang akan aku berikan. Kedua mataku terfokus ke wajah tampannya. Bibirku mulai terangkat perlahan untuk menjawab pertanyaannya. Namun aku masih tidak tahu apa yang ingin aku jawab sekarang.
"Eh-hmm ga gitu juga kali kak," jawabku dengan terbata-bata.
"Aku suka cerpenmu di Majalah." Tatapannya segaris lurus dengan tatapanku. Kedua sudut bibirnya melebar membentuk garis senyuman. Kata pujiannya membuat diriku terasa terbang ke langit.
Aku merasakan pipiku memerah karena pujiannya. Ditambah kak Panji terus menatapku tanpa henti, pikiranku kacau harus berkata apa.
"Re." Ia melihatku dengan heran karena aku masih tidak berkata apa-apa.
"I-iya kak?"
"Di puji malah bengong." Aku menahan tangannya yang mengacak-acak rambutku.
Lagi-lagi hal itu mengingatkan aku akan seseorang. Seseorang yang tidak pernah peka akan perasaanku. Setiap aku mengingatnya, semakin membuka luka yang menganga semenjak malam itu.
"Kakak suka cerpen aku?" tanyaku dengan cepat. Aku tidak tahu harus berkata apa-apa selain pertanyaan itu.
"Iya beneran. Apa tuh lupa aku judul cerpennya. Senyuman-senyuman apa yah kemarin? Pokoknya ada kata senyumannya." Ia menggaruk-garus kepala.
"Senyuman hati kak," kataku dengan nada yang rendah. Sebuah judul yang lagi-lagi mengingatkan aku akan seseorang. Teori senyuman hati yang dulu pernah ia katakan.
"senyuman tidak hanya sebatas di bibir, namun juga di hati." Matanya bergerak keatas mengingat sepenggal kalimat yang ada di dalam cerpen.
"Aku suka di bagian itu. kamu cocok jadi penulis." Ia meletakkan telunjuknya di ujung hidungku. Mataku menjuling saat berusaha melihat telunjuknya.
"Ah kakak bisa aja. kakak juga cocok jadi musisi. Suaranya bagus." Aku balik memujinya.
Ia tersenyum kecil dengan mata menatap ke bawah. Ia mengusap-usap kepalanya karena mendengar pujianku. Wajahnya yang putih seperti pria-pria jepang memperlihatkan rona merah di pipinya saat ia tersipu malu. Angin yang berhembus menerbangkan rambutnya yang terlihat panjang. Seharusnya ia tidak memakai rambut sepanjang itu di sekolah, bisa-bisa tim disiplin sekolah memotong gratis rambutnya.
Ia beranjak pergi dengan mengacak-acak rambutku kembali. Aku hanya bisa mengeluarkan senyum kecilku di bibir dan menyembunyikan senyum lebarku di hati. Punggungnya menyandang gitarnya berat. Jalannya yang tegap memberikan pesona tersendiri kepada kak Panji. Wangi parfumnya belum beranjak dari sini walaupun ia sudah di jarak empat meter dari sini. Mataku menatapnya hingga ia belok ke kanan menuju koridor majelis guru.
Aku menatap ke kelas yang berada di kananku. Jendela-jendela kelas penuh oleh belasan pasang mata murid cewek yang menatap sinis kepadaku. Aku terkejut melihat mereka yang menatap ke arahku di sepanjang jejeran jendela. Tatapan kesal itu mungkin saja karena melihat aku dan kak Panji duduk berdua disini.
Siapa yang tidak kesal kalau cowok paling populer di sekolah duduk dengan cewek lain di sekolah. Kepopulernya di sekolah bisa di sandingkan dengan Raisa.
***