
"Kenapa kalian ga bilang kalau Rere bakal kuliah ke luar negeri?" kataku di dalam mobil Zaki. Vena di sampingku berkali-kali mengirim sms ke Rere.
"Kalau kami bilang, lo bakal nyerah duluan. Kami udah tau lo itu gimana Ngga. Bahkan lo bisa ngelarang Raisa buat ngambil beasiswanya." Dede menoleh ke belakang. Ia mencoba menjelaskan kenapa mereka merahasaikan hal ini dariku.
"Pesawat Rere bakal berangkat siang ini. Lo masih bisa ngucapin selamat tinggal kepadanya," kata Zaki yang sedang menyetir mobil. Benar kata Zaki, aku masih bisa bertemu dengannya walaupun untuk terakhir kalinya.
Aku menginjakkan kaki di bandara. Mataku mencari wanita berkacamata itu. Kami berlari mencari Rere.
"Itu dia. Cepat." Vena melihat Rere yang sedang membawa tas kopernya.
"Rere," panggilku dari kejauhan. Di sampingnya ada Papanya yang akan melepas anaknya pergi jauh untuk menuntut ilmu. Rere menoleh ke belakang. Garis lurus membentuk tatapan kami. Gadis sipit berkacamata itu berlari menuju ke kami. Terlihat tangannya mengusap airmata yang mengalir. Ia semakin dekat ke kami. Senyumnya memancar ketika melihat kami datang untuk menemuinya untuk terakhir kalinya. Ia memelukku.
"Rangga. Aku bakal rindu banget sama kamu." Perutku masih sakit ketika ia menghantam perutku, namun hangatnya pelukannya membuatku seakan tidak merasakan rasa sakit itu.
"Tenang aja, Inggris itu masih di bumi. Kita masih bisa ketemu." Aku mengelus rambut indahnya. Papa Rere hanya melihat dari jauh saat anaknya memeluk diriku. Ia sangat mirip dengan Rere.
"Itu ga cukup Rangga." Menatap wajahku. Tangannya masih melingkar di pinggangku.
"Kamu cuma butuh waktu disana. Lama-lama kamu bakal biasa," kataku.
"Jangan coba-coba," cubit Vena kepada Dede. Kami tertawa melihat tingkah Dede saat dicubit Vena.
"Ga apa-apa kok, Semuanya dapat." Rere tertawa dan kami sama-sama memeluk Rere yang sebentar lagi akan pergi. Semua perasaan menyatu dalam hangatnya pelukan ini. Rasanya aku ingin menangis, namun aku berusaha tegar dengan pegangan. Papa Rere memanggilnya. Rere memegang kembali gagang kopernya.
"Aku akan kembali kawan," kata Rere. Ia tersenyum sesaat dan berbalik arah berjalan lurus menuju Papanya. Langkahnya tampak rapuh meninggalkan kami semuanya, sama rapuhnya dengan hatiku yang akan ditinggal olehnya dalam waktu yang cukup lama.
"Rere." Aku mengejarnya. Aku memeluk dirinya untuk terakhir kalinya.
"Love you," kataku di telinganya. Air mata yang sedari tadi aku tahan, kini tidak terbendung lagi. Aku membiarkannya tumpah begitu saja.
"Aku ga tau bakal apa jika ga ada kamu Re." Aku menunjukkan bertapa rapuhnya aku.
"Love you too. Banyak hal di dunia ini yang akan melupakan aku untuk sesaat. Kamu sendiri yang bilang, Inggris itu masih di bumi, kita masih bisa bertemu." Ia mengusap air mataku.
Ingin sekali aku menciumnya, namun itu belum pantas aku dapatkan. Aku akan bersedia menunggunya hingga ia sangat pantas untukku. Aku mengikhlaskan dirinya untuk pergi. Aku yakin ia pasti kembali untukku, dan ia akan percaya bahwa aku selalu menunggunya di sini. Senyuman hatinya tidak akan kemana-mana. Senyuman hatinya akan selalu berbalas dengan senyuman hatiku.
***