You Make My Heart Smile

You Make My Heart Smile
28



Suasana khas pondok belakang rumah Rere menghangatkan kami semua. Cahaya matahari itu masuk dari sela-sela loteng yang bolong membentuk bulatan-bulatan cahaya di lantai kayu ini. Wangi udara sore memenuhi paru-paru kami yang bernafas.


Aku menoleh ke lantai kayu ini. Baris-barisan semut saling membantu untuk mengambil makanan ringan yang terjatuh ke lantai. Tidak ada dari mereka yang ingin menang sendiri untuk mendapatkan makanan yang banyak, semuanya saling membantu.


Kakiku terasa geli saat cimoy, kucing kesayangan Rere menggesek-gesekkan badannya ke kakiku. Bulu-bulu pirang yang lembut beradu dengan bulu kaki ku yang tidak terlalu lebat. Tanganku berusaha mengambil Cimoy yang beranjak menuju Zaki. Jemari Zaki menggaruk-garuk leher Cimoy yang penuh dengan bulu.


"Lo memang suka kucing yah." Aku melihat pergerakan tangannya di leher Cimoy.


"Iya, suka banget malahan. Apalagi Cimoy. Ya kan cimoy?"


Rere menoleh dengan cepat. Ia menghadap ke Zaki yang sedang mengelus punggung lembut Cimoy.


"Apa? Kamu suka kucing?" Nadanya meninggi. Aku sedikit terkejut dengan suara cemprengnya.


"Emangnya aneh yah kalau Zaki suka sama kucing?" kataku sambil ketawa. Zaki hanya tersenyum setengah bibirnya.


Senyum kecil namun manis di mata semuawa wanita. Rere membalik badan dan kembali berbincang dengan Vena. Dari kejauhan Dede menampakkan diri. Ia baru saja datang dari kesibukan yang melanda dirinya tadi. Jalannya tampak tangguh dengan kaki-kaki berototnya. Di kepalanya masih terpasang helm fullface miliknya. Seragamnya tampak di keluarkan seperti anak berandal sekolahan.


"Rangga!" panggilnya dari kejauhan. Ia berlari sambil meloncati bunga-bunga yang tertanam di tanah.


Oh shitt! Ia pasti akan melakukannya.


Tanganya menggoncang-goncang badanku. Tangannya bisa menggenggam penuh bahuku.


"Elo beneran pacaran sama Raisa?" tangannya masih menggoncang tubuhku.


"Oh iya kita lupa ngebahas ini." kata Vena sambil mendekat. Semuanya mengikuti mengerumuni tubuhku.


"Iya-iya beneran. Kemarin baru jadian." jawabku. Dede berhenti menggoncang tubuhku. Sendi-sendi di bahuku tampak minta diurut.


Semuanya tampak lega seraya mengucapkan "Alhamdulillah."


Semuanya tertawa melihatku mengeluh kesakitan di bagian bahu. Zaki membantuku untuk mengurutnya. Vena tertawa saat urutnya Zaki begitu kuat terasa oleh bahuku. Rere hanya menampakkan gigi manisnya seraya tersenyum. Sekarang Dede malah memencet pipiku. Ia memencet tepa di area yang terkena tinju dari senior kelas tiga tadi.


"Aduh," kataku. Aku menggosok-gosok area yang sakit tadi.


"Weleh, kok bengkak Ngga?" ia merasakan area yang bengkak di pipiku. Kepalanya mendekat untuk melihat dengan jelas.


"Rio?" tanya Rere. Matanya tampak tidak percaya dengan pernyataanku tadi.


Aku mengangguk sambil menatapnya.


"Mau aku ambilin air panas buat kompresin bengkak kamu itu?" tanya Rere.


Tangan Zaki terasa kuat mengurut bahuku saat mendengar perkataan Rere.


"Ga usah Re, ini doang kok." Aku tersenyum kepadanya. Ia menggangguk pertanda mengerti.


Tangan Dede memegang bahuku.


"Tenang aja, besok gua samperin mereka. Lu taukan ga ada yang berani ngelawan gua di sekolah kecuali guru di ruangan majelis." katanya sambil tertawa. Aku membalas menepuk bahunya. Ia sungguh teman yang setia dan penuh dengan solidaritas.


Hari sudah semakin sore. langit-langit kemerahan sudah terlihat di bagian barat. Samar-samar bulan tampak menampakkan diri menggantikan sang surya yang telah lelah bersinar seharian. Iring-iringan motor kami sudah bergantian beranjak meninggalkan rumah Rere. Aku merogoh kantong jaket untuk mengambil kunci motorku.


"Oh iya ketinggalan di sana," kataku sambil tersenyum kepada Rere yang ada di depan pintu.


Tangannya menunjukkan sebuah kunci yang ia sembunyikan.


"Untung aku ketemu di sana tadi." Ia mengangkat kunci motorku dengan jempol dan telunjuknya.


Aku melangkah ke arahnya. Kakinya tampak menyilang ke belakang dengan tangan yang di sembunyikan ke belakang. Wajahnya tampak riang dengan kacamata yang menjadi pelurus penglihatannya. Bingkai kacamatanya cocok dengan mata bulat Rere.


"Selamat yah, kamu udah nemuin senyuman hati milikmu." Ia menyerahkan kunci motor milikku. Matanya tampak bening di balik kacamatanya. Rambutnya yang terikat terjuntai ke bawah.


"Iya, semoga kamu juga nemuinnya juga ya." balasku.


Aku berpamitan pulang kepadanya. Badanku sudah minta untuk dimandikan ditambah rasa penat yang memenuhi tubuhku. Ia berbalik badan dan masuk kerumah. Pintu rumahnya tampak ditutup saat aku mulai beranjak pergi.


*Namun di balik pintu Rere terduduk. Kepalanya menyentuh lututnya yang ditekuk. Segaris air mata terjun dari matanya yang sedari tadi ingin keluar saat Rangga menjawab pertanyaan Dede. Ia masih bersikeras bahwa dirinyalah senyuman hati yang dicari oleh Rangga. Rambut panjangnya menutupi kepalanya yang sedang tertunduk.


"Rangga kamu jahat...."


***