
Aku duduk sendiri menunggu yang lain di kursi empuk ini. Setelan jas hitam dan sepatu pantofel hitam mengkilap mengangkat percaya diriku walaupun itu sedikit. Senandung lagu keroncong hasil request wali murid menggema ke seluruh ruangan. Lampu sorot lurus ke penyanyi yang sedang mengeluarkan suara terbaiknya. Hiasan bunga memanjang di bawah panggung. Air mancur mini sengaja diletak di tengah-tengahnya. Kakiku menghentakkan telapaknya ke karpet merah mengikuti irama senandung keroncong.
Tanganku terangkat untuk menunjukkan jam tangannya kepadaku. Mereka lama sekali datangnya. Mereka sempat datang ke sini sewaktu acara resmi digelar, namun pergi lagi saat istirahat siang. Acara non-resmi kini tengah digelar. Ruanga ini sangat luas dan dapat menampung seluruh murid di SMA, belum lagi Wali Murid kelas XII yang sedang berbahagia melihat anaknya sudah menamati masa putih abu-abunya. Di panggung itu terpampang jelas tulisan "Perpisahan Kelas XII."
Aku tegak memancangkan leher mencari batang hidung mereka. Mereka sedang berkumpul di sana sedang asyik berfoto ria mengabadikan momen bahagia ini. Aku segera berlari menghampiri mereka, aku tidak rela mereka melakukan itu tanpa diriku. Aku langsung masuk berfoto tidak memperdulikan Dede yang tertutupi oleh diriku. Kami memang asyik berfoto ria, namun masih ada yang kurang. Ya benar, kacamata itu. Ia tidak ikut bersama kami.
"Rere dimana?" tanyaku pada mereka.
"Ga tau sih, katanya dia mau nyendiri di tepi kolam itu. Galau mungkin karena mau pisah sama kita," jawab Zaki. Orang yang sempat aku anggap sebagai musuh.
Aku telah tahu maksud baiknya. Inilah yang memang benar-benar sahabat sejati. Ia masih berusaha memperbaiki persahabatan kami walaupun saat itu aku masih saja bersikeras untuk membencinya.
"Oh gitu ya? Aku susul dia yah sebelum terlambat," kataku sambil tertawa.
"Good luck ya, kejar senyuman hati lo." Zaki menepuk pundakku.
"Lo ga lupa bawa kertasnya kan?" tanya Zaki kepadaku.
"Ni di dalam." Aku menepuk saku kecilku. Kertas ini aku buat dengan segenap ingatan yang dibekali oleh perasaan yang begitu dalam. Baru saja tadi malam aku tersenyum sendiri menuangkan segala yang ingin aku katakan melalui kertas ini. Pena dan tinta berbicara menurut perasaanku.
Kolam ini terlihat luas dari atas sini. Aku masih menuruni anak tangga yang akan menuntunku ke tepiannya. Di tepian itu terdapat banyak tempat-tempat duduk yang biasa digunakan muda-mudi untuk memadu kasih pada sore hari. Bunga-bunga yang di tanam mendekorasi sekeliling tepian kolam ini. Sekelompok burung asyik bermain di tengah kolam, melihat bayangan dirinya yang dipantulkan oleh air. Aku melihat dia di sana. Tegak bermenung sambil melemparkan kerikil yang ia ambil sebanyak segenggam tangannya.
Aku mendekat. Kakiku berusaha untuk tidak menimbulkan bunyi sedikitpun. Aku lihat ia sedang asyik menatap luasnya kolam berair jernih itu. Kebaya ia yang ia kenakan sangat cocok dengan postur tubuhnya. Rambutnya ia ikat dengan ikatan khas, aku baru kali ini melihat gaya rambutnya yang baru. Make up tipisnya memberi rona merah di kedua pipinya. Tidak menor, dan tidak berlebihan. Sesuatu yang aku suka darinya.
Ia menyadari langkahku yang mulai mendekatinya. Tatapan lurus tanpa ekspresi menghiasi wajah manisnya. Matanya bening di balik kacamata itu. Ia membuat senyum mengikuti garis bibirku yang sama-sama melebar. Aku dan dia kini sejajar melihat hamparan air kolam yang luas. Ia memberiku beberapa kerikil itu dan memintanya untuk melemparkannya.
"Ikuti kata hatimu, coba lempar." katanya padanya. Aku mencoba melempar sejauh yang aku bisa. Tentu saja lemparanku lebih jauh darinya. Ia hanya bisa menjangkau setengah dari jarakku.
"Gimana dengan Raisa? aku udah dengar cerita tentang kalian dari Vena." Tiba-tiba Rere menanyai tentang hal itu.
"Ya dia udah balik sama orang yang benar-benar ia cinta." aku melempar kerikil di tanganku.
"Kamu....." telunjukku di bibirnya memotong kata yang ingin ia sampaikan.
"Aku pingin bilang sesuatu, tunggu..." Aku mengambil kertas dan mengambil jarak darinya. Tampak matanya melebar melihat aksiku ini.
"Re,maafin aku yang selama ini ga pernah ngertiin kamu. Aku udah denger dari semuanya. Maafin aku yang pernah nyakitiin kamu, aku tidak bermaksud seperti itu, aku ini bodoh terlalu terbuai oleh cinta. Kamu tau teori bodohku tentang senyuman hati itu kan? Aku rasa itu benar-benar ada. Ia dekat dariku dan selalu di dekatku selama ini. Hanya saja aku tidak menyadarinya karena aku terlalu bodoh untuk hal ini. Hatiku pernah berpaling ke orang lain, namun senyumnya selalu tertuju ke satu orang. Taukah kamu hatiku tersenyum kepada siapa? ia yang selalu ada buatku, yang suka nyubitin aku, yang dulu sering nebeng sama aku kalau pergi beli buku."
"Aku cinta dia Re, dia anak pak Sucipto, ga pande berenang. Tepatnya ia sedang berada di depanku menangis dengan tawanya, dan lebih tepatnya lagi ia bernama Rere. Aku suka sama kamu Re, aku baru sadar kalau rasa suka itu sudah tumbuh semenjak kita bertemu."
Air mataku mengalir seiring dengan jariku yang melipat kertas ini. Ia mendekatiku, memelukku dengan erat. Air matanya terus mengalir mendengar pernyataanku tadi.
"Aku suka sama kamu jauh sebelum kita saling mengenal satu sama lain." aku mengelus rambut panjangnya. Begitu lembut saat bersentuhan dengan kulitku. Wangi harum shampo menyerbak masuk ke hidungku. Aku bisa merasakan isak tangisnya di dadaku. Tanganku terus membelai rambut indahnya.
Ia melepaskan pelukannya. Aku tersenyum sesak dengan harapan. Aku tidak sabar mendengar jawabannya. Ia membalas senyumku. "Tapi...."
"Tapi apa Re?" Seketika aku menciut mendengar suaranya.
"Aku ga bisa nerima kamu Rangga." ia menggeleng kepalanya.
"Kita ga bisa bersama lagi Rangga. Aku juga ga yakin kalau kita bisa ngejalanin hubungan ini."
"Kenapa Re? Bilang sama aku." tanganku memegangi kedua tangannya. Tangannya dingin sedingin tanganku yang tidak bisa menerima jawabannya.
"Aku akan pergi Rangga. Pergi jauh. Aku udah nerima tawaran beasiswa itu. Aku kira memang ga ada harapan lagi untuk bisa bersamamu Rangga" Air matanya mengaris seiring dengan setiap kata yang ia katakan.
"Seminggu itu aku pergi untuk seleksi beasiswanya. Aku ada di sepuluh orang yang diterima."
"Aku bisa nunggu kamu, sampai kamu balik lagi." Aku menguatkan genggaman tanganku untuk meyakinkannya.
"Aku ga mau nyiksa hati kamu yang akan nungguin aku. Banyak yang lebih baik dari aku."
Ia menatap ke atas, tepat di ujung anak tangga itu. Pria tua tegak menunggunya. Kumis tebalnya bisa terlihat dari kejauhan. Papa Rere memanggilnya.
"Re, cepat. Pesawatnya bentar lagi," teriak papanya dari kejauhan. Masih bisa terdengar jelas oleh telingaku. Rere berusaha melepaskan tanganku. Aku meraihkannya kembali, namun ia masih berusaha melepaskannya. Aku tidak bisa menahannya. Ia berlari menuju ke atas.
"HAAAAAA," teriakku kepada luasnya kolam.
Burung-burung itu terkejut mendengar gema suaraku. Handphoneku bergetar. Rasanya aku ingin melempar handphone itu, namun aku mengurungkan niatku.
"Ayo susul dia." pesan singkat itu sampai ketanganku.
***