
* Sudut pandang Rere
Kepalaku masih terasa pusing akibat berhujaan sepulang sekolah beberapa hari yang lalu. Berdua bersama Rangga menunggu di halte sungguh seperti pengalaman yang terulang. Ditambah lagi dengan hujan yang mengguyur dengan lebatnya, sungguh mengingatkan aku dengan pertama kali aku bertemu dengannya. Wajahnya yang lugu dan polos duduk disampingku sambil melirik ke arahku sesekali. Barangkali dia baru pertama kali bertemu bidadari sepertiku, oh sungguh percaya dirinya aku.
Aku hanya merasa begitu nyaman bila di sampingnya. Diriku sangat menikmati setiap momen dimana ia berada di sampingku. Canda tawanya bagaikan penawar bagi rasa jenuh yang aku dapati dari seharian di sekolah. Pencetus kata-kata senyuman hati ini tidak begitu ahli dalam soal wanita. Ia tidak pernah membaca tanda-tanda yang telah aku berikan kepadanya. Ia selalu menganggap itu sebagai angin lewat. Hanya senyum manisnya yang keluar ketika godaan kecil aku tujukan padanya.
Rangga. Itulah namanya. Makhluk paling bodoh terlalu terlena dengan yang namanya cinta. Memilih dirinya daripada seseorang yang selalu ada disampingnya. Menunggu dirinya walaupun aku tahu ia tidak pasti akan datang. Namun sebuah sikap lembut nan manis dirinya kepadaku adalah sebuah jawaban yang membuatku untuk kembali bertahan. Bertahan dari sikap dinginnya mempekai semua perasaanku.
Salahkah aku bertahan dari sikap diamku atas perasaanku? Atau salahkah ia yang terlalu naïf untuk memilihnya daripada aku. Aku rasa sikap diam diriku yang menjadi penghalang. Aku sama dengan dirinya yang tak bisa untuk mengatakan yang sebenarnya. Diriku sudah mencobanya, namun bibirku terlalu kaku untuk mengucapkan kata, hingga pada akhirnya Raisa datang dengan kata cintanya. Aku yang bodoh, bukan dia.
Sekolah kembali ribut dengan hentakan sepatu murid-murid yang kelaparan. Hanya satu tujuan mereka, kemana lagi kalau bukan kantin. Menghabiskan uang untuk makanan yang tidak menyehatkan itu, itu bukanlah tipeku. Sepotong roti isi coklat menjadi teman baikku untuk mengganjal perut hingga istirahat di siang hari nanti. Aku selalu membawa bekal ke sekolah, jadi tidak perlu lagi membeli makanan di kantin.
Di saat sekolah ribut dengan murid-murid yang berkerumunan ke kantin, ada satu makhluk yang dengan santainya memandangi kami dari atas sana. Seorang diri, tanpa di temani siapa pun. Kadang ia akan keluar dari sarangnya ketika ia merasa sangat lapar, kadang aku yang membawakannya makanan ke atas sana. Makanan faforitnya mie goreng di kantin Mpok Romlah, cemilan kesukaannya seplastik kripik sanjai di rumahku. Rangga begitu tenang memandangi kerumunan murid-murid dari atas sana. Semenjak ia menemukan tempat itu, ia selalu ada disana. Makan disana, tidur disana, buat PR disana, cabut juga ke sana.
Aku berjalan menelusuri sekolah sambil menenteng tas laptop. Aku mencari meja yang menjadi tempat faforitku untuk menulis. Aku terlalu sibuk akhir-akhir ini, akibatnya setoran cerpen ke majalah Warna belum aku berikan. Harusnya dua hari yang lalu cerpennya sudah jadi. Untung saja pihak majalah memberikan kelonggaran waktu untuk menyiapkan cerpen edisi bulan ini. Bisa-bisa aku dipecat menjadi penulis tetap di majalah itu kalau aku tidak memberikan cerpen permintaanya.
Aku membuka laptop dan mulai mengetik beberapa patah kata. Pikiranku mulai tenggelam dengan lautan imajinasiku yang cukup luas. Menggali semua ide-ide cemerlang di lautan itu. Aku mencoba mengkondisikan diriku agar tetap di lautan imajinasiku. Bunyi ombak beradu dengan karang di tepi daratan, burung-burung sibuk mencari ikan kecil yang tampak di permukaan, semilir semilir angin mengiringi terbangnya layang-layang indah di langit nan biru.
Fokusku mulai memudar. Mataku tertuju ke permukaan meja. Bau parfum yang familiar di hidungku kembali tercium. Wangi parfum itu bertambah jelas saat seiring semilir angin yang bertiup ke arahku. Sebuah kalimat tertulis di meja batu itu.
"Akulah sang pemberi tanda." Diriku menoleh ke kiri dan ke kanan. Tidak seorangpun yang berada disini.
Apa maksud dari semua ini? diriku mulai risau dengan semua tanda yang ia tinggalkan. Rasa penasaran tentang pemberi tanda ini sungguh menggebu-gebu. Sudah beberapa bulan ia meninggalkan tanda terakhirnya, sekarang ia meninggalkan tanda yang baru.
Tanda pertama adalah wangi parfum ini, tanda kedua adalah gambar kucing, tanda ketiga yaitu sepatah kalimat yang ia tulis di meja batu ini. Apa yang ia inginkan dari diriku? hatiku tidak pernah berhenti dihantui semua pertanyaan itu.
Seseorang menghampiriku dari belakang. Aku mendengar gesekan sepatunya dengan butiran pasir di tanah.
***