
Bunyi ban mobil yang bergesekan dengan genangan air di jalanan terdengar jelas di telingaku. Cucuran air dari atap halte saling berpacu untuk sampai ke bawah.
Hujan nan lebat mengurung kami untuk berdua di halte ini. Mataku terpaku menatap foto yang ada di layar handphone. Rere di foto itu tampak begitu bahagia, berpose aneh di tengah kami yang sudah berjejer bersiap untuk di foto. Aku, Rere, Dede, Zaki dan Vena tersenyum saat mendengar aba-aba Panji saat ingin di foto.
Dinginnya udara sangat terasa ketika menunggu bus di halte. Motorku menderita sakit sehingga harus menginap di bengkel selama sehari. Abangku pasti membawanya untuk balap di jalanan sehingga harus di bawa ke bengkel. Dinginnya udara menusuk hingga ke dalam jaketku. Suara hujan begitu indah walaupun berisik. Mengingatkanku beberapa tahun yang lalu. Mataku tertuju ke sebuah titik dimana aku menemukan kotak kacamata Rere yang terjatuh dari tasnya.
"Jangan mainin HP waktu hari hujan. Matiin jaringannya. Ntar di sambar petir mau? Aku juga kena juga nanti," kata Rere yang berada di sampingku. Wangi parfumnya tercium oleh hidungku. Rambutnya bergoyang diterpa oleh angin yang lewat. Auranya tetap bersinar walaupun di tengah gelapnya hujan yang kelabu.
"Re, kalau hujan begini aku keinget waktu kita pertama kali bertemu. Tempatnya sama lagi," kataku.
Rere masih menatap air yang turun dari atap halte.
"Iya. Aku juga kepikiran begitu tadi. kalau ga karena itu kita ga mungkin bisa sama-sama kaya gini." Rere menoleh kepadaku.
Tangannya melipat menghangatkan dirinya. "Tumben ga ngabarin Raisa." lanjutnya.
"Kata kamu jangan mainin HP waktu hari hujan," kataku memprotes.
Ia tersenyum sejenak.
" kalau untuk itu, ga apa-apa. Buat pacar apa yang enggak kan," kata Rere. Tadi ia yang melarangku untuk memainkan handphone, kini ia malah menyuruhku untuk mengabari Raisa.
"Yaudah," kataku sambil menghidupkan jaringan handphone kembali. Aku mengetik nama Raisa perlahan di kontak handphone. Bunyi nada sambung dari dalam handphone terdengar.
"Rangga, kamu kok ga aktif HP nya? Sms juga ga dibalas. Kamu dimana sih? aku khawatir loh. Dicariin di sekolah ga ada, dirumah Rere ga ada. Dimana sih?"
"Kata Rere tadi ga boleh mainin HP waktu hujan, jadi aku matiin jaringannya. Aku sedang nunggu bus kota di halte sama Rere nih. Maaf yah baru ngabarin sekarang. Aku sengaja tadi naik bus," jawabku dengan lembut berharap bisa mengendalikan emosinya. Rere berhenti menatapku sesaat kusebut namanya.
"Sengaja apa? Aku kan ada. Kamu bisa bareng sama aku. Aku kan pacar kamu. Kamu sengaja biar bisa sama Rere kan? Pacar kamu aku atau Rere sih?" cerocosnya kembali. Aku menoleh ke Rere sekilas saaat Raisa menyebut-nyebut nama Rere dalam percakapan.
"Ya ga gitu juga kali.......... Raisa.....Raisaa.... Sa..." Ia mematikan sambungan teleponku. Aku menatap Rere seakan tidak percaya,
Raisa bisa cemburu dengan Rere.
"Kenapa Ranga?" tanya Rere pelan. " Ga ada kok.
"Aku mengeluarkan senyum termanisku walaupun itu palsu.
Di balik itu Raisa mencari nama Panji di kontak handphonenya. Tangannya terasa bergetar menyentuh layar handphone yang terasa hangat. Hatinya terasa sakit ketika Rangga bersama dengan Rere. Rere selalu merenggut Rangga dari dirinya.
"Panji, aku ga mau tau. Kamu harus jadian sama Rere. Aku udah ga tahan ngelihat Rere yang dekat sama Rangga. Pokoknya jauhin Rere dari Rangga," kata Raisa di balik hanphone dengan nada yang tinggi.
"Bukannya itu terlalu cepat? Aku ga mau Rere nolak aku karena dia belum siap." jawab Panji.
"Pokoknya aku ga mau tau. Titik...." Raisa mematikan sambungannya.
Panji memegang sebuah foto usang yang telah berdebu karena telah bertahun-tahun disimpan di atas lemari. Wajahnya sangat cerah di foto itu dengan memegang gitar di kedua tanganya. Disampingnya dirinya ada sosok yang sangat ia sayangi. Sahabat yang telah menemani dirinya selama ia hidup. Orang yang pertama kali mengajarinya bagaimana memegang gitar yang benar. Sosok disampingnya itu sangat mirip dengan orang yang dikenalinya saat ini. "Pram, aku akan ngelakuin apa saja buat Raisa. Yang penting elu bahagia disana."
***