
*Sudut pandang Rere
"Re, jadilah kekasihku." pintanya.
Aku belum sempat menoleh ke belakang, namun ia sudah menarik tanganku. Tangannya terasa lembut dan dingin. Rambut gondrong setelinganya tersibak oleh angin yang lewat. Mata sipitnya sungguh penuh serius dengan apa yang ia katakan. Mataku terpaku melihat dadanya yang lebar. Daguku tak sanggup naik demi melihat aura wajahnya.
"A-appa?" Jantungku berdebar dengan kencang.
Aku bisa merasakan darahku begitu cepat mengalir di balik kulit ini. Tanganku begitu lemah untuk membalas sentuhan tangannya di tanganku. Aku memberanikan diri untuk menatapnya.
"Apa?" mulutku tak bisa mengatakan hal lain selain kata tersebut.
"Jadilah kekasihku. Aku suka sama kamu Re. Dari awal kita ketemu." Mata sipitnya memicing berharap sesuatu kepadaku.
Aku bingung untuk menjawab apa. Mulutku terasa terkunci oleh pernyataan yang baru saja katakan. Kerasukan apa sih kak Panji?
Angin yang lewat terasa berhenti ketika kedua tangan kami saling berpegangan dengan eratnya. Aku tidak bisa melawan pegangan tangan kak Panji. Semakin lama, semakin erat menunggu jawaban dariku. Namun aku tidak kunjung berkata apapun. Mulutku masih terkunci.
Rangga apa yang harus aku lakukan? diriku mengingat namanya disaat seperti ini. Aku berharap ia datang menarikku dan menjauhkanku dari suasasa yang seperti ini.
"Re? kamu dengerkan?" Ia mengelus telungkup tanganku dengan jempolnya. Terasa lembut dan nyaman.
"Tapi kak?" Aku mencoba berkata sesuatu.
"Tapi apa? Karena Rangga? Apa yang kamu harapkan sama dia?" protesnya.
Keningnya mengkerut berharap sepatah jawaban dariku. Mata sipit seperti menggugahku untuk berkata iya.
"Aku suka dia kak. Aku ga bisa." Aku melepaskan genggamannya. Namun ia tidak menyerah begitu saja. Ia kembali meraih tanganku yang berusaha menghindari genggamannya. Kini lebih erat dan lebih dingin. Dinginnya seakan merasuki pori-pori yang langsung tertuju ke derasnya aliran darahku saat ini.
"Rangga udah jadi milik Raisa. Untuk apa kamu menunggunya?" kata kak Panji.
Aku menoleh ke belakang dan terus berjalan. Dari kejauhan tampak Zaki tegak dengan tatapan yang lurus kepadaku. Aku mencoba memilah perkataan yang baru saja terucap dari kak Panji.
Untuk apa aku menunggu orang yang tidak ingin aku menggunya? Untuk apa aku mengejar sesuatu yang tak sanggup aku kejar? Rangga.....
Hatiku sungguh bimbang luar biasa. Bujuk Rayu dari kak Panji terus saja aku dengar. Kak Panji menarikku dan dekapannya terasa hangat.
"Izinkan aku menjadi Ranggamu. Aku akan berusaha menjadi orang yang kamu inginkan, walaupun aku tidak sesempurna pria lain di luar sana." Perkataanya begitu lembut di telingaku.
Tangannya melingkar hingga ke belakangku. Pelukannya terasa erat.
Tidak kak, kamu Pria yang sempurna.
Air mataku tidak terbendung lagi. Tetes demi tetes air mata keluar dari hilirnya.
Kedatangannya tepat di saat aku menemukan tanda yang terbaru, sebuah kalimat di meja batu.
"Jadi kak Panji yang mengirim semua tanda-tanda itu?" ucapnya.
"Tanda ...." Ia menatapku. "Oh tanda itu aku yang mengirimnya."
pelukannya bertambah erat.
"Karena aku suka sama kamu Re. aku pengen kita bersama." jawabnya.
"Aku selalu meluangkan waktu buat kamu, aku yang nyelamatin kamu waktu kamu tenggelam waktu itu, kamu ga tau seberapa khawatirnya aku waktu itu Re."
Pernyataannya sungguh mengejutkan. Aku tidak menyangka ia lah yang menyelamatkanku. Jadi penyataan Zaki bahwa ia yang telah menyelamatkanku adalah sebuah kebohongan.
Kelembutan bibir yang aku rasakan ketika bibir itu menyentuh bibirku, saat ia berusaha memberikan nafas buatan itu bukanlah dari Zaki, namun dari kak Panji. Kenapa ia harus berbohong kepadaku?
"Jadi bukan Zaki?" tanyaku untuk memastikan.
"Bukan, namun aku. Kumohon plis....." Ia melepaskan pelukannya, namun tanganku masih lekat dengan genggamannya.
"Kakak bisa janji kan?" kataku.
Aku rasa aku akan memberikan nafas kelegaan kepadanya. Sifatnya begitu lembut dan manis di depanku. Itu masih terasa walaupun disaat yang seperti ini.
"Aku janji," katanya singkat. Sebelah bibir mengeluarkan senyum termanisnya. Senyumnya merasuki setiap gerak-gerikku. Sungguh menghipnotis segala sesuatu yang ingin aku lakukan.
"Baiklah, aku bersedia." Aku menggagguk kecil mengiyakan permohonannya.
Terdapat kelegaan yang keluar dari gerak-geriknya. Tangannya mengepal berusaha melepaskan segala beban yang menimpuknya saat berusaha menaklukkan diriku.
Kak Panji memelukku sesaat. Aku berusaha menoleh ke belakang untuk melihat Zaki yang sempat tegak ingin memanggilku dari kejauhan. Namun disana hanyalah taman kosong tanpa dirinya. Aku harap ia sempat pergi sebelum melihatku di peluk oleh Kak Panji.
Tidak aku sangka aku punya hubungan spesial dengan lelaki paling populer di sekolah. Orang-orang belum mengentahui tentang hal ini, kalau mereka bisa tau bisa-bisa aku di serang sama kakak-kakak kelas yang juga mengagumi kak Panji.
Dua hari setelah itu aku berusaha jujur dengan Rangga, Dede, Zaki, dan Vena . Jujur tentang hubunganku dengan kak Panji. Mereka menganggap itu adalah hal yang baik untuk aku terima, mereka menilai kak Panji adalah orang yang baik dan santun, menghormati derajat wanita.Ya semuanya memang terbukti dari sikap lembutnya dengan wanita, walaupun dengan wanita yang ia tidak sukai.
"Aku pacaran dengan kak Panji," kataku memecah keheningan di antara kami.
Mereka langsung menatapku. Vena mendekati perlahan. Dede mungkin akan menggoncang-goncang tubuhku dengan tangan besarnya.
"Kok bisa?" kata Zaki.
"Iya kok bisa?" lanjut Rangga.
"Jadi yang kemarin itu yah?" tanya Zaki.
"Iya, kamu pasti lihat." jawabku.
"Weh, selamat yah. Moga langgeng." Zaki mengacak rambutku.
Senyumnya tampak lebar. Aku rasa ada perasaan senang dari dirinya akan berita ini. Rangga juga tampak senang, terlihat dari raut wajahnya yang ceria. Di tangannya selalu sedia handphone miliknya. Sewaktu-waktu Raisa bisa menelponnya kapan saja.
Akhirnya aku menemukan Senyuman Hatiku, sama sepertimu yang menemukan Senyuman Hatimu dalam bentuk seorang Raisa. Semoga kita bahagia dengan milik kita masing-masing.
Hatiku berusaha berkata-kata kepada Rangga yang diam bersimpulkan senyum di bibirnya.
Perlakuan manis dari kak Panji semakin manis saja semenjak hari itu. Pelukannya, genggamannya, godaannya terasa sangat dan sangat nyamanku. Senyumnya bahkan lebih indah dari milik Rangga. Perlahan aku bisa melupakan sosok Rangga dari benaku. Selama ini ia selalu menggerogoti pikiranku. Wajahnya sempat terukir di dalam hati, namun kak Panji akan memperbaiki ukiran itu.
***