
*kembali ke Sudut Pandang Rangga
Aku, Dede, Vena saling diam tanpa suara di pondok belakang rumah Rere. Tangan dede terpaku di dagu berusaha untuk berpikir. Mungkin ia berusaha untuk mencari keputusan yang terbaik tentang apa yang terjadi beberapa tiga hari yang lalu. Vena dan Rere saling bersandar untuk duduk. Rambut Rere habis di modif oleh otak kreatif Vena. Rambut bak putrid di kartun-kartun Disney menjadi tema mereka hari ini. Tanganku duduk memainkan bidak catur yang aku susun seperti formasi sepak bola. Aku meletakkan bidak Raja di bagian kiper sebagai pertahanan paling belakang. Sebuah bola dari kertas kecil yang di bulat-bulat membuatku berimajinasi bermain bola kaki dalam sebuah papan catur.
Tanganku mengambil sebuah bidak catur yang menjadi bidak yang terkuat dalam permainannya. Bidak yang menjadi nyawa kedua dalam sebuah pertandingan catur. Tanpa dia mungkin pemain catur akan sulit menemukan pola permainannya. Orang biasa menyebutnya dengan sebutan "Ratu" ataupun "Ster", namun aku lebih menyukai kalau bidak ini disebut "Ratu". Ini adalah bidak ratu yang selalu di bawa oleh Zaki kemana-mana, bahkan ke kantin benda kecil ini tidak ia tinggalkan. Mungkin saja baginya ratu ini ada filosofi tersendiri.
Sudah tiga hari ini ia tidak menginjakkan kaki ke pondok ini. Biasanya ia yang selalu menguasai catur putih melawan catur hitam Dede. Mereka memilihnya sesuai warna kulit mereka. Sekarang, aku yang menggantinya. Dede dengan mudah mengalahkanku hanya dengan beberapa langkah saja. Emang dasarnya aku tidak terlalu pandai bermain catur.
Kepalan tanganku masih merasakan semangat ingin memukul wajahnya. Hatiku tidak terima dengan perlakuannya ke Rere. Sungguh tidak bermoral dan merendahkan wanita. Aku tau ia bisa meluluhkan semua wanita di sekolah, namun tidak dengan Rere. Aku akan selalu ada di barisan terdepan untuk ia taklukkan, baru ia bisa mengambil Rere.
"Seharusnya kamu kemarin ga mukulin dia kaya gitu." Rere memulai percakapan.
Matanya tak memandangku, namun ke taman bunga rumahnya. Tanpaku sadari Ratu catur di tanganku sudah di rebut olehnya. Jarinya memutar ratu kecil itu.
"Ya mau gimana lagi, aku ga bisa ngeliat kamu digituin. Kamu juga, ngapain mau ditinggal sama Panji. Harusnya kamu ngotot diantar ke rumah," balasku.
Rasanya aku ingin mengulang menghajar Zaki lagi.
"Udah aku bilang sama kamu kan. Dia ngejenguk temennya, Pram. Di sana cowok semua. Malu aku ikutan." Kini mata Rere berarah kepadaku.
"Pram?" Vena bertanya. Ada sesuatu yang ia ketahui. "Kamu kenal" Rere balik bertanya.
"Ga kenal sih. Cuman dia salah satu personil band dari kak Panji. Coba kamu liat ini." ia menunjukkan blog band Panji. "Cuman dia ga ada fotonya. yang lainnya ada."
"Pram? ah bukan. Siapa lo ha?" "Sungguh dia begitu mirip sa."
ingatanku kembali ke saat pertama kali aku bertemu dengan abang Raisa, Felix. Pada saat itu ia mengatakan kalimat itu. kalimat yang tidak aku mengerti sama sekali. Aku mirip dengan siapa?Pram? Pram itu siapa? baru kali ini aku berpikiran seperti itu.
Aku kembali teringat pada saat kami memanjat pohon ceri di taman rumahnya. Pohon itu begitu rindang dengan daun-daun kecilnya. Bagian kiri pohon itu merunduk karena di bagian itu di penuhi oleh buah ceri yang masak. Pada saat itu bertanya siapa yang mengajarinya memanjat, ia menjawab "Kamu ga perlu tau, dia mirip denganmu."
Ada apa di balik dengan seseorang yang mirip denganku?
"Yang aku tau personilnya Cuma empat orang loh." kata Rere.
"Ngapain dibahas juga. Ga penting tau." Dede selalu sensitive jika mendengar band yang selalu di kerumuni dengan para wanita di sekolah. Bukan hanya dia, terkadang aku juga.
Aku melihatnya datang dengan baju sekolahnya. Berjalan dengan gaya khasnya, tas tersandang satu tangan. Ia memperbaiki letak jam tangannya. Jam tangan itu adalah pemberian kami ketika ia berulang tahun ke tujuh belas. Kakinya terlihat hati-hati untuk sebuah langkah. Matanya tampak terlalu fokus ke kami. Wajahnya cerah diterangi oleh secercah cahaya matahari. Matanya bening di balik mata sipitnya. Alisnya yang tebal naik sebelah memerhatikan diriku. Ada bulatan luka kecil di bagian itu. sudut bibirnya kelihatan menghitam setelah kepalanku melayang pada hari itu.
Masih berani dia kesini! Aku mengepal tangan dengan kuat.
Sinyalku selalu menganggap bahaya ketika ia datang. Mungkin semenjak hari itu. Sebuah tangan berusaha meredam amarahku. Sentuhan tangan Rere begitu lembut, namun tidak mampu melembutkan emosiku saat ini.
"Sudahlah." Jemarinya memasuki celah-celah antara jemariku.
aku tak tahan lagi!
"Rangga!!!" teriak Rere ketika aku melaju berlari ke arah Zaki. Aku sudah separuh jalan untuk bisa menggapai orang yang ada di depanku.
Ia mempersiapkan kuda-kudanya. "Haaa!!!!" aku melesatkan kepalanku seperti kemarin. Ini dua kali lebih kuat terasa.
....
Astaga ia menghindar. Kira-kira dua meter jaraknya. Ia tetap berjalan dengan tenangnya. Kakiku berbalik dengan cepat untuk menggapai kepala busuknya itu.
"Beraninyaa LO!"
....
"Dede kenapa?" tanyaku dengan Dede.
Tangannya masih menahan dadaku. Nafasku masih terasa tidak teratur melihat wajahnya yang gelap. Zaki masih berjalan menuju pondok dengan tenang. Letak tas di lengan kanannya tidak berubah walaupun ia menghindari seranganku tadi dengan cepat. Kakinya begitu sigap, mungkin hasil berlatih di tim futsalnya.
"Dia datang dengan tenang. Ayo bicara dengan tenang." Tangan Dede pindah ke leherku. Ia menuntunku untuk mendekati Zaki. Tanganku masih gatal untuk menyerangnya.
"Masih berani lo datang kesini ya!" teriakku. Ia berhenti sejenak. Masih dengan tas di lengan kanannya.
"Gua kesini bukan untuk melawan Lo. Tapi gua mau ngambil ratu gua."
Ia menjulurkan tangannya ke Rere. Perlahan namun pasti, kini tangannya hampir menyentuh jemari Rere.
"Maafin aku Re." Jarinya merebut Ratu catur itu dari tangan Rere. Mata Rere lurus menatap jemari Zaki yang merebut ratu catur di tangannya. Ia berbalik arah. Tatapannya terasa begitu kuat menusuk mataku, tajam dan fokus.
"Jangan kembali lagi kesini." kataku.
"Gua ga tau itu kapan, tapi gua bakal ke sini suatu saat nanti." ia menarik tali tasnya dan melangkah untuk pergi.
Rere tegak dari duduknya. Melangkah dengan cepat ke sampingku. Suaranya memanggil nama Zaki dengan keras, namun Zaki sudah jauh untuk berbalik kembali. Langkahnya yang jauh selaras dengan akal sehatnya yang juga terlalu jauh dari dirinya, mungkin semenjak hari itu. Ia pantas menerima semua ini.
Plak!!!!
Tangan kecil berjari lima menempel tepat ke pipiku.
"Kamu itu berlebihan," protes Rere. Jarinya memperbaiki letak kacamatanya. Keningnya tampak berkerut.
Dede sampai-sampai melepaskan tangannya dari aku agar tidak ikut campur. Ia selalu tidak ingin ikut kalau Rere marah seperti ini. Aku meraba daerah pipiku yang terkena tamparannya. Perih dan sakit namun tidak lama. Perlahan-lahan rasa pedih itu hilang, hanya saja aku merasakan pipiku memerah karena tamparannya itu.
"Harusnya kamu ga kaya gitu sama Zaki. Dia itu masih temen kita." Segaris air mata mengalir dari ujung matanya.
Ia kelihatan begitu menahan air mata yang ingin meledak dari matanya.
"Udah Re." Vena memegang lengan Rere dan mengusap rambutnya perlahan. Usapan itu meredakan emosi Rere. Rere memeluk Vena. Air matanya tampak membasahi seragam SMA Vena.
"Udah jangan nangis, everything is gonna be okay." Vena masih mengusap rambut Rere yang terikat.
Rasanya air mata ini ingin keluar ketika melihat Rere seperti itu. Aku sungguh tidak bisa melihat tangisan wanita. Sebuah pantangan untuk menumpahkan air mata wanita. Apalagi yang menangis ini adalah Rere. Semenjak kami berteman, baru kali ini aku melihat Rere mengeluarkan air mata.
"Ya aku maaf." Aku menunduk menyesal. "Aku terlalu terbawa emosi tadi."
Dede menepuk pundakku sebagai pemberi semangat. Rere belum menjawabku. Ia masih dalam pelukan Vena sambil menangis.
"Re, aku minta maaf. Kamu jangan nangis dong. Ntar cantiknya hilang." Aku mencoba mencairkan suasana. Namun Rere masih saja tidak terpancing dengan candaanku.
"Rere, dengerin Rangga tuh. Dia minta maaf. Udah dong jangan nangis lagi," kata Vena.
Rere perlahan melepaskan pelukannya pada Vena. Matanya merah di balik letak kacamatanya yang tidak beres. Ia kembali memperbaiki letak kacamatanya. Matanya menatapku. Aku masih takut untuk membalas tatapannya.
Aku mengarahkan mataku ke kanan tidak berani mengarahkannya ke hadapanku. Capitnya yang kecil itu melesat tepat ke perutku. Pada detik pertama belum terasa apa-apa, namun pada detik kedua cubitannya mulai merangsang kulitku untuk menyampaikan sinyal sakit kepada otak. Inikah yang disebut dengan tenaga dari dalam, tenaga yang kecil bisa menghasilkan kekuatan yang besar. Mungkin itu yang bisa mendiskripsikan cubitan dari jari Rere.
"Kamu itu memang bandel dibilangin yah?" Binar-binar matanya sangat serius ketika mengatakan kalimat itu. Aku hanya sibuk merengek kesakitan akibat cubitan monster miliknya. Vena dan Dede hanya tertawa melihat tingkahku yang sedang melihat perutku yang memerah.
"Mau kena juga?" Vena memperlihatkan cubitannya ke Dede saat ia merasa Dede semakin dekat dengannya.
***