You Make My Heart Smile

You Make My Heart Smile
32



*Aku melihat kerumunan yang mulai bertambah banyak. Wajahnya pucat terbujur kaku di sebelah kolam renang. Aku dengan berusaha keras menyadarkannya dengan menepuk pipinya berkali-kali. Nafasnya masih terasa oleh telunjukku. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan melihat Rere tak sadarkan di tepi kolam renang. Zaki menerobos kerumunan dan memberikan nafas buatan atas perintah Tania, pacar Zaki yang memiliki pengentahuan tentang ini di eskul PMR.


"Gua bilang jagain Rere. dia ga bisa berenang!" Zaki mendorongku.


Dede menahan tangan Zaki yang sudah mengepal dengan keras. Vena memeluk Rere yang sedang terbatuk-batuk mengeluarkan air yang masih ada di saluran pernafasannya. Aku hanya bisa terdiam melihat Zaki memaki atas keteledoranku menjaga Rere di kolam renang*.


"Kenapa" tanya dirinya sekali lagi. Suaranya mengembalika pikiranku yang pergi jauh ke masa lalu.


"Re, kamu mau kaya dulu lagi?" Aku menerobos perdebatan kami tentang rencana berenang. Wajahnya masih memaksaku untuk menyetujui rencana kami. Wajah murungnya tetapi imut itu menodorongku untuk menyetujuinya.


"Sahabat-sahabat aku ini ga bakalan biarkan aku tenggelamkan?" katanya dengan lambat. Hening sejenak untuk beberapa detik. Aku dan Zaki bertatapan mencari jalan untuk membatalkan rencana. Kami tidak ingin itu terjadi lagi.


"Ayok Rangga, aku juga suka banget berenang. Lagian Kak Panji pasti ngejagain Rere kok." Raisa memegangi tanganku.


Ekspresinya memainkan pikiranku, lembut kata-katanya menggerakkan setiap otot di bibir untuk berkata sesuatu. Matanya yang besar tampak indah saat menatapku.


"e-e-eh, yaudah deh," kataku.


Sebenarnya aku tidak sampai hati untuk mengatakan itu. Jika Raisa sendiri yang meminta, aku tidak ingin menolak.


"Yesss, besok minggu kita pergi berenang. Yeee thanks Raisa." Mereka berdua berpelukan.


Hari minggu yang ditunggu akhirnya tiba. Aku menjemput Rere ke rumahnya. Abang Raisa tampak bergelut dengan nikotin di rokoknya. Asap-asap mengepul di atas kepalanya. Kadang bibirnya membentuk asap-asap yang berbentuk lingkaran yang berputar-putar di udara. Entah bagaimana caranya ia menciptakan lingkaran dari asap nikotin itu.


"Hai, udah lama ga jumpa Ngga." Ia mengisap rokok di jarinya. Ia baru saja menyadari kedatanganku. "Iya bang udah lama. Raisanya mana yah?" aku menahan nafas saat asap-asap itu mulai menerpaku.


"Di dalam bentar. Mau kemana kalian?"


"Pergi berenang." Aku memerhatikan wajahnya yang benar-benar mirip dengan Raisa.


Hanya wajahnya yang tidak sebening Raisa dan rambutnya yang tidak sepanjang rambut raisa. Rambutnya gondrong dengan ikatan di bagian belakang. Badannya yang tegap berisi tampak begitu gagah. Tulang rahangnya tampak tegas dan kokoh memanjang ke bawah telinganya. Pipinya menciut ke dalam saat mengisap dalam rokok di celah bibirnya.


Raisa berjalan pelan sambil merapikan rambut panjangnya. Gerakan kakinya berkesan seperti para model yang sedang memperagakan berbagai baju fashion terkini. Tubuhnya yang berisi terlihat indah dengan pakaian yang ia pakai. Tangannya melambai kepadaku.


"Ini nih, jadian ga bilang-bilang," ujar abang Raisa. Ia menarik kembali rokok di bibirnya. Jarinya lincah memetik abu yang ada di ujung rokok.


"Biarin." Raisa menjulurkan lidahnya. Jemarinya memasuki celah-celah jariku. Tangan Raisa terasa halus di tanganku, seakan-akan aku ingin memegangnya untuk lebih lama lagi.


"Yaudah. Hati-hati yah di sana. Jangan tenggelam." Abangnya tersenyum kepada kami. Tatapan matanya mengisyaratkanku untuk menjaga Raisa di sana.


Raisa naik di belakangku. Badannya yang menempel ke punggungku membuat sensasi tersendiri. Wangi parfum khas Raisa menyerbak ke dalam hidung. Desahan nafasnya terasa di leherku.


"Sa, kamu ga pakai baju renang yang sexy kan? Aku ga mau kamu di liatin sama cowok-cowok ntar," kataku sambil tertawa.


"Pakai kok, aku pakai cuma untuk kamu nanti." Ia melingkarkan tangannya ke perutku. Aku menarik gas dan melaju ke kolam renang yang telah disetujui sebelumnya.


Aku menginjakkan kaki ke lokasi kolam renang itu. Tangan Raisa masih berpegang erat di tanganku. Tiga kolam renang besar memanjang menyuguhkan kecerian yang terpancar sesaat menyemplungkan diri ke dalamnya. Tawa-tawa anak kecil begitu ceria saat meluncur di seluncuran. Aku, Dede, Zaki saling berebutan melirik para wanita yang sedang bercanda ria di kolam renang. Yang sedang duduk di kursi pun tidak lepas dari lirikan kami. maklum. Kami juga laki-laki. Namun lirikan kami bertiga hanya berbalas ke Zaki. Zaki selalu menarik di mata wanita.


Kami pergi mengganti baju di kamar ganti. Seperti biasanya, anak cewek selalu berlama-lama dalam mengganti pakaian, entah berbagai macam lotion yang harus dioles untuk menghindari kulit gelap. Aku, Dede, dan Zaki duduk menunggu mereka bertiga yang sedang di kamar ganti.


"Gua ngerokok dulu yah," kata Dede sambil mengeluarkan kotak rokoknya. Sebuah mancis sudah siap untuk menyulut rokok faforitnya.


"Gila, ntar ketahuan anak cewek kalau lu ngerokok," kataku sambil menahan jarinya menarik sebatang rokok.


Ia menatap balik diriku. "Iya juga yah. Ga jadi deh. Ntar Vena ngamuk ke aku. Serem ah." Ia mengulurkan niatnya untuk mengisap batangan rokok itu.


Zaki yang tampak sedang melakukan pemanasan. Ia dilirik banyak wanita yang sedang berendam di kolam. Badannya yang atletis dan wajahnya yang rupawan membuat banyak wanita tergiur dengannya. Bahkan sekelompok cewek yang sedang duduk di hadapan kami sedang memerhatikan Zaki mengencangkan otot-ototnya. Otot-otot hasil latihan futsalnya selama ini.


"Sory gua baru datang. Rere mana yah?" Seorang lelaki menyapa kami dari belakang. Tingginya sekitar setinggi Dede. Wajahnya yang putih dan matanya yang sipit sangat khas akan wajah-wajah oriental. Rambutnya panjang setelinga, seharusnya itu sudah pelanggaran di sekolah.


"Eh lo panji. Mereka lagi ganti baju tuh. Duduk dulu dah." Dede menarik satu kursi untuknya.


Mata Panji terlihat mencari batang hidung Rere. Sebenarnya untuk apa dia ke sini? Ini adalah acara kami, bukan acara untuknya. Zaki menyadari bahwa Panji sudah datang.


Ia melemparkan senyum ke Panji. "Nah itu mereka," kataku melihat mereka keluar dari kamar ganti.


"Muantap bro." Dede terperongoh melihat mereka.


"Astagfirullah." saat aku melihat Raisa yang sangat menggoda. Kaos tipis yang ia kenakan begitu mengundang hasratku. Lekukan tubuhnya tidak bisa mengalihkan perhatian mata. Bukan pakaiannya yang salah, namun tubuh Raisa memang indah. Mereka juga sama-sama menggunakan kaos tipis.


"Kak Panji." Rere melambaikan tangannya. Panji membalas lambaian itu dengan senyumannya. Bola matanya tenggelam oleh kelopak matanya yang sipit. Panji dan Rere kelihatan cocok karena mata mereka yang sama-sama sipit.


"Yuk, kolam yang di tepi aja Agak sepi di sana," kata Zaki menyudahi pemanasannya. Cewek-cewek di kolam masih saja melirik tubuh atletis Zaki. Aku dan Dede mulai membuka baju yang dari tadi belum kami buka. Badan Dede padat akan otot, sedangkan aku penuh dengan tulang yang menonjol keluar.


"Hot banget kamu." Tawa kecilku di telinga Raisa.


"Jangan diliatin terus."


Tangan kami saling berpegangan. Tampak Rere menoleh ke belakang, matanya kelihatan lucu saat tidak memakai kacamatanya. Aku menarik sudut bibirku kepadanya. Ia membalas senyumku dan kembali menoleh ke depan saat Panji yang di sampingnya mengajaknya berbicara.


"Kita di bagian rendahnya aja yah," kataku mengingatkan Rere yang tidak bisa berenang.


Rere merendamkan kaki ke bagian kolam yang rendah. Dede dan Vena langsung meloncat ke bagian yang dalam. Mereka berdua sudah handal dalam berenang. Panji tampak sedang berbincang dengan Rere di bagian kolam yang rendah. Jarak antara mereka begitu dekat. Zaki duduk mengawasi Rere dari jauh.


"Zaki ayok." Raisa memanggilnya.


Zaki duduk mengawasi gerak-gerik panji di kolam. Sepertinya ia masih tidak percaya dengan Panji. Tidak hanya dia yang seperti itu, aku juga.


"Ntar aja deh. Kalian aja dulu."


"Ayo Raisa!" Aku menarik tangan Raisa dan mengajaknya untuk melompat.


***