
Aku segera mencari nama Raisa di kontak handphone dan segera menghubunginya.
"Raisa, mereka ngajak kamu ke basecamp. Kamu langsung ke sana yah." tanyaku.
"Enggak ah, aku mau sama kamu. Kamu masuk aja ke mobil." jawab Raisa. aku memajukan motor ke depan untuk memberi jalan motor ingin lewat di belakangku.
"hmm, ga usah deh. Kamu letak aja mobilnya di rumah. Ntar kamu sama aku aja naik motor legend ini yah." kataku sambil tertawa. Telingaku mendengar desahan tawa Raisa dari balik handphone. Bunyi musik di dalam mobil juga terdengar di sela-sela percakapan kami.
"Oke sayang. Sampai jumpa di rumah." Raisa menutup percakapan. Baru kali ini ia memanggilku dengan kata "sayang." selama ini aku terlalu canggung memanggilnya dengan kata tersebut. Mungkin saja karena aku tidak terbiasa dengan gaya pacaran yang seperti itu.
Aku menjemput Raisa ke rumahnya. Security rumah Raisa membukakan pagar untukku. Aku masih teringat jelas ia berjoget mendengarkan acara dangdutan di TV waktu itu. Postur tubuhnya yang tinggi besar cukup untuk menghajar dua orang maling yang berusaha masuk ke rumah Raisa. Warna kulitnya yang hitam terlihat sangar dengan kumis yang sedikit tebal di bawah hidung. Namun, ia masih sempat tersenyum dan menyapa.
"Eh, elu Ngga. Udah lama ga liat," katanya dengan logat betawi yang kental.
"Iya bang. Mana Raisa?" Aku memanjang leher menyari Raisa di sekitar rumahnya.
"Tadi masuk bentar. Paling bentar lagi keluar." Ia membuka segel plastik di kotak rokoknya.
Ia mengambil sebatang rokok dan langsung menyulut rokok di depan bibirnya. Hisapannya begitu dalam, mungkin bagi perokok hisapan pertama adalah yang paling nikmat. Entah bagaimana defenisi nikmat rokok bagi mereka.
Raisa tampat berlari dari kejauhan. Mataku mengikuti lambaian tangannya.
"Ayuk" Telapak tangannya memegangi tangan kananku.
"Bang Supri, kami pergi dulu yah." kataku ke security rumah Raisa. ia masih sibuk dengan mengisap setiap senti dari rokok di bibirnya.
"Iya, lo jagain non Raisa." Ia berjalan ke posnya.
Aku dan Raisa menaiki motor bututku. Sepertinya Raisa tidak gengsi dengan motor butut yang aku punya. Ia melingkarkan tangannya ke perutku. Tas yang aku sandang menghalang Raisa untuk mendempet ke punggungku. Hanya tasku yang merasakan lembutnya dada Raisa.
"Kok di lepas sih," tanya Raisa sambil meraih kembali tanganku.
"Jangan ah, malu sama mereka." Aku melepas kembali peganganku.
Aku dan Raisa melepas sepatu dan menaiki empat buah anak tangga kecil.
"Nah ini pasangan of the week kita," kata Vena tertawa.
Aku dan Raisa duduk berdampingan. Aku wanita berkacamata yang duduk di hadapanku. Wajahnya mungil terlihat cantik dengan hidung mancungnya. Kulitnya yang putih terlihat manis dengan gigi kelincinya. Lagi-lagi kacamatanya selalu berganti setiap suasana. Rambutnya di ikat, tidak seperti dahulu yang dibiarkan tergerai.
Rere dan Raisa saling melempar senyum. Raisa duduk dengan ayunya di sampingku. Zaki seperti biasa tegak menatap air yang tenang di kolam renang. Semenjak putus, dia lebih sering seperti itu. Dede sesekali melirik Raisa yang sedang duduk dengan dua kaki dilipat berdempat di sebelah kanan. Aku tahu apa yang dia lihat, ya matanya juga mata para lelaki. Kami kadang sering melirik kakak kelas seperti itu.
"Ayuk kita berenang," kata Rere dengan lantang.
"JANGAN!." jawab aku dan Zaki bersamaan.
"Aku akan ajak Kak Panji," lanjut Rere dengan senang hati.
"JANGAN!" Jawaban aku dan Zaki kini mengejutkan Rere. Alisnya naik sambil bertanya.
"Emang kenapa?" sorot matanya kembali memasukkanku ke dalam ingatan masa lalu yang sempat membekas di ingatanku.
Bagaikan tersedot dalam lingakaran ruang dan waktu, ingatan itu kembali berputar seperti piringan hitam yang menampilkan film-film klasik.
***