You Make My Heart Smile

You Make My Heart Smile
25



Esok harinya di kantin yang begitu penuh dengan hiruk pikuk para murid yang lapar. Berbagai macam makanan mereka teriakkan untuk memesan makanan di kantin. Pegawai kantin Mpok Romlah begitu kewalahan untuk menedengarkan segala permintaan mereka. Begitu banyak makanan yang akan di siapkan untuk para murid sehingga tidak sering mereka mengeluh dengan rasa penat yang mereka rasakan.


Para murid kadang mencaci pegawai Mpok Romlah dengan kata-kata yang menyinggung mereka.


"Lama banget sih?"


"Bisa masak ga?"


"Duh mending kantin sebelah deh."


Kata-kata itu sering mereka dengan dari mulut para murid.


"Nih Ngga, pesananan mu. Makanan Zaki bentar lagi siap," kata Mpok Romlah.


Kening Mpok Romlah dipenuhi keringat karena di dapur begitu panas. Celemek masaknya tampak kumuh karena melindunginya dari kotornya dapur setiap hari. Di balik Peluhnya masih tersimpan semangat yang begitu besar untuk melayani para murid yang lapar.


"Rame Mpok yang mesan," kataku sambil menyendok mie instan ke mulutku.


Ia mengelap peluh di keningnya "Pantang pulang sebelum murid kenyang." Ia mengepal tangannya pertanda semangat. Aku mengacung jempolku untuk menambah semangat Mpok Romlah. Zaki yang ada di hadapanku tertawa mendengar pernyataan yang baru saja Mpok Romlah katakan tadi.


"Bro, gua putus sama Tania," kata Zaki. "Seminggu yang lalu."


Aku menganga mendengarnya. Ternyata pasangan serasih seperti mereka bisa berpisah juga.


"Yaaa akhirnya lu jadi jomblo kaya gua. Pantesan aja lu sering diam akhir-akhir ini. udah, ntar gua ajarin tips bahagia bagi jomblo. Gua ahlinya nih." Aku menepuk dadaku.


Zaki yang biasanya menjadi dokter cinta, sekarang malah terperangkap dalam masalah cinta. Jadi alasan ia selalu diam menatap kolam renang adalah karena ia bersedih dengan perpisahannya dengan Tania, Ketua PMR sekolah.


Mie instan pesanan Zaki sudah datang. Mpok Romlah kembali bergelut dengan panci-panci di dapurnya. Kami berdua menyuap mie instan yang kami pesan. Sungguh enak dan sungguh nikmat. Mungkin mie instan memang makanan faforit bagi jomblo berkantong tipis seperti kami.


Handphoneku bergetar di balik saku. Tanganku menekan layar handphone yang berisikan sebuah pesan.


Aku mematikan layar handphone tanpa membalas pesan singkat yang dikirim oleh Raisa.


Sebuah suapan terakhir menghabisi semua Mie instan yang tersisa. Mie instal dobel yang kami pesan dihabiskan hanya dengan waktu yang singkat. Di piring hanya tertinggal sisa saus yang tidak ikut termakan olehku. Lain dengan Zaki, piringnya bersih tanpa sisa sedikitpun. Biasalah, jomblo memang seperti itu. Apalagi seseorang yang baru putus seperti Zaki.


Kami berjalan meninggalkan kantin yang sesak dengan murid-murid lapar. Kami sedikit sulit berjalan karena perut yang kekenyangan. Bayangkan saja, biasanya orang memesan satu mie instan, kami malah memesan mie instan dobel. Apalagi segunung mie di piring dengan sebentar untuk dihabiskan.


Langkah kami berdua terhenti oleh dua orang yang duduk bersantai di kursi panjang di sudut sekolah. Di bawah naungan pohon ketapang mereka duduk berdua bak sepesasang kekasih. Pohon ketapang memang banyak di sekolah kami, hampir di semua daerah sekolah tanaman itu di tanam.


Jarak mereka bergitu dekat. Perempuan itu duduk dengan rambut yang tergerai. Kilauan rambutnya begitu terpancar hingga ke mataku. helaian rambutnya terbang karena terpaan angin. Bando berwarna ungu yang terpasang dirambutnya mengingatkan aku akan seseorang. Kepalanya diayunkan ke kiri dan ke kanan mengikuti iringan musik gitar yang merdu.


Lelaki di sampingnya memetikkan melodi gitar yang begitu indah. Tangannya tampak sanggam menekan senar demi senar hingga membentuk kunci gitar yang padu. Lelaki itu terlihat keren dengan seragam lengan panjang dan dilengkapi dengan celana sekolah yang sudah di kecilkan di bagian bawah.


Senyumnya menyembunyikan bola mata karena matanya yang sipit. Postur tubuhnya yang proposional di tambah dengan kulit putih yang menjadi dambaan para wanita di sekolah. Gitar yang selalu menemaninyabegitu identik dengan sosok Panji. Melodi-melodi gitarnya selalu kami dengar dari sudut tempat ia biasa duduk.


"Rere!" kata kami berdua serentak.


Mataku dan mata Zaki saling menatap satu sama lain. Kami berdua merasa tidak percaya Rere sedang berduaan dengan cowok paling populer di sekolah, Panji.


"Itukan Panji. Sialan," kata Zaki dengan sedikit emosi.


"Iya, gila bener Rere bisa berdua sama dia tuh. Menang ganteng aja tuh si Panji."


Sejak kapan mereka begitu dekat?


Pantas saja mereka begitu akrab di festival minggu lalu. Kehangatan mereka begitu terlihat saat Rere ikut bernyanyi dengan diiringi oleh gitar Panji. Kadang bahu Rere bersentuhan dengan bahu Panji saat Rere mengayunkan badannya menikmati alunan gitar Panji. Sentuhan itu baru saja aku rasaakan kemarin.


***