You Make My Heart Smile

You Make My Heart Smile
45



*Sudut pandang Zaki


Sudah beberapa bulan ini saya tidak berbicara dengan dia. Hanya memerhatikan dari jauh sudah menenangkan dan melampiaskan segala rasa rindu yang menggebu. Matanya begitu bening di balik kacamatanya. Rambutnya yang terikat tampak cantik walaupun bentuk ikatan itu adalah sebuah permintaan dari seseorang. Seseorang yang pernah membuat sebuah lebam di tulang pipiku. Badannya memang kecil, namun emosinya meletup-letup pada malam itu sehingga membuat lebam ini. Butuh dua minggu untuk memastikan lebam itu sembuh dengan sempurna.


Saya tidak membencinya dan saya tidak berharap ia bisa memaafkanku. Saya pikir saya pantas mendapat semua hukuman ini. Diri saya memang kehilangan akal sehat pada malam itu. Berharap ia membalas mencium, ternyata ia malah menolak. Saya merasa hina semenjak hari itu. Butuh berminggu-minggu untuk saya bisa melupakannya.


Rangga masih tidak bisa menerima kehadiran saya di sana. Kalau yang lain, saya tidak tahu. Sepertinya Rere masih bisa memaafkan dan menerim saya di sana. Terlihat dari beberapa kali ia memintsaya untuk berkumpul kembali. Rasa ingin berkumpul lagi memang ada, namun saya terlalu malu untuk berkumpul lagi semenjak hari itu.


Cukuplah pada hari itu saya terakhir kesana, pada saat terakhir kali saya berbicara dengan Rangga dan mengambil bidak catur Ratu yang memang milik saya.


Saya selalu membawa bidak ratu milikku untuk memenangkan sebuah permainan catur. Dengan bidak ratu itu saya selalu bersemangat untuk menumbangkan semua bidak catur lawan. Begitu pula dengan Rere. Rere adalah bidak ratu saya di dalam kehidupan. Ia yang selalu membuatku bersemangat hingga saat ini, walaupun saya hanya bisa melihatnya dari jauh. Namun Ratu saya itu sudah diambil oleh orang, yaitu Panji dan Rangga.


Pada awalnya saya senang dengan hubungan Raisa dan Rangga yang akan menjauhkan Rere dari Rangga, namun Rangga dan Rere tetap saja tidak bisa dipisahkan. Ditambah lagi dengan kehadiran Panji yang membuat Rere semakin jauh dengan saya. Puncaknya pada saat hari itu. Pada saat itu Rere memeluk Panji dengan erat yang akan menjadi awal dari hubungan spesial mereka. Harapan saya akan Rere semakin menjadi hampa.


"Gua ga tau itu kapan, tapi gua bakal kesini suatu saat nanti," kata saya kepada Rangga pada saat terakhir kalinya saya ke rumah Rere.


Saya memang sudah curiga dengan dia dari dahulu. "dia" yang saya maksud bukanlah Rangga. Namun wanita yang menjadi pujaan hati pria satu sekolah dan kebetulan saja sekarang menjadi kekasih Rangga. Ingat, itu hanya kebetulan. Kemolekannya, kecantikanya, kesexyannya, menjadi perhatian semua laki-laki disekolah, namun ada sesuatu yang Rangga tidak tahu.


Kenapa saya curiga? Itu dimulai semenjak Rangga kenal dengannya. Bukannya saya menghinanya, namun itu memang fakta, Rangga payah dengan soal percintaan. Berbagai wanita yang ia dekati selalu nihil hasl, tidak ada satupun yang berhasil. Tapi dengan yang satu ini beda. Ia selalu membuka dirinya dengan Rangga. Tidak ada hambatan yang berarti. Kemulusan jalan cinta Rangga ini yang membuatku curiga dengan orang yang didekatinya.


Ia dengan mudahnya dekat dengan Raisa. Kalau dengan wanita biasa saya maklumi, namun ini wanita primadona sekolah dengan mudah ia dekati. Ada sesuatu yang ganjil dalam hal ini. Raisa bisa dekat dengan Rangga akan suatu hal.


Pada saat itu saya sedang berjalan berkeliling sekolah untuk mencari teman futsal saya yang lainnya. Keringat menetes hebat di keningku. Otot-ototku belum siap untuk di lemaskan karena baru saja saya menjalani latihan futsal di sekolah. Kakiku membelok ke koridor labor fisika.


..........


Langkah saya berhenti sejenak. Pintu labor tidak biasanya terbuka jam segini. Jangan-jangan cerita itu benar. Bulu kuduk saya seketika merasakan akibatnya. Suara siapa itu? aku mendengar suara wanita dengan nada tinggi dari dalam sana. Mata saya sedikit mengintip di bagian jendela. Di dalam sana tidak hanya satu orang, namun dua orang, Raisa dan Panji. Sedang apa mereka sore-sore begini?


***