
Wangi itu sebuah pertanda. Jangan pernah lupa!
Ini sebuah pertanda? Pikiranku terus berpikir seakan menjadi seorang detektif yang sedang menyelesaikan kasusnya.
Pasti ada sebuah petunjuk dari sebuah kalimat itu. Sebuah insting tertuju ke wangi parfum yang keluar dari secarik kertas tadi. Semerbak wewangian itu kembali menusuk hidungku saat menarik ujung kertas di dalam amplop. Aku menarik nafas dalam –dalam mencoba menghafal bentuk sebuah wangi parfum itu.
Kembali dalam ingatanku bahwa tulisan di papan tulis itu ada sewaktu istirahat ini. aku masih mengingat tulisan itu tidak ada di saat kami belajar biologi pada jam pertama. Tidak mungkin tulisan itu ada secara tiba-tiba, pasti ada yang sengaja membuatnya.
"Gus, sejak kapan itu ada di papan tulis?" Aku menunjuk papan tulis itu saat bertanya kepada agus yang asyik bernyanyi bersama.
Ia berhenti sejenak bernyanyi. "Aku ndak tau, soalnya kita tadi kan keluar semua waktu ganti baju."
Ia mengangkat bahu dan kembali bernyanyi.
Ada benar juga apa yang di bilang Agus tadi. kami sekelas tidak berada di kelas sewaktu berganti baju. Kami semua pergi ke ruang ganti untuk menggati baju olahraga yang basah akan keringat sewaktu bermain basket di jam olahraga tadi. Pasti si penulis surat ini meletakkan amplop ketika kami tidak berada di kelas. Ia juga yang menghampus semua catatan biologi di papan tulis dan menggantikan dengan sebuah kalimat yang ia tuliskan sendiri. Aku menyimpan amplop itu di dalam tas agar tidak hilang.
Bel pulang telah berbunyi. Kelas di penuhi oleh suara murid yang sibuk memasukkan bukunya ke dalam tas. Pak Burhan, guru mata palajaran agama islam telah menutup al-qur'annya saat mendengar bel pulang berbunyi. Bunyi gitar bergitu keras berdentang saat salah satu teman-temanku tidak sengaja menyenggol gitar hingga tumbang ke lantai. Pikiranku kembali di hantui oleh surat misterius itu.
Semua murid sudah keluar dari kelas. Aku masih saja duduk terpaku di atas kursi empuk ini. Jariku kembali membuka surat misterius itu dengan perlahan. Aku meletakkan handphone di atas meja dan mulai membaca kembali isi surat itu. Kembali aku membolak-balikkan pikirank untuk menganalisa isi surat ini.
Otakku menjadi buntu karena memikirkan ini terlalu dalam.
Kakiku melangkah ke kantin untuk melihat Vena yang biasanya mampir dulu ke kantin sebelum pulang. Aku melihat seseorang dengan laptop terpaku di hadapanya. Rambut pendeknya ia selipkan di balik telinganya. Bawaannya yang dingin terlihat dari auranya yang tajam. Wajahnya manis dengan senyum tipis dari bibirnya. Badannya memang sedikit berisi dari diriku, membuat sedikit lekukan di badannya. Tidak salah jika banyak cowok yang kepincut dengan dirinya.
Tangannya sibuk dengan keyboard laptop di hadapannya. Tangannya begitu lincah menekan setiap huruf yang ada di keyboard. Ia begitu terpaku menatap layar laptop yang hidup.
"Hai Ven," sahutku.
Ia begitu sibuk dengan laptonya. Matanya begitu fokus dengan layar laptop. Ia meminum minumannya lalu ia menyadari kedatanganku.
Ia sangat kelihatan dingin dengan siapa saja. Terkecuali denganku, ia menjadi sahabat yang ceria di kala kami bersama. Di dalam sikap yang dinginnya itu, banyak juga lelaki yang menaruh hati kepadanya. mungkin saja para lelaki penasaran dengan sikap dingin dari sosok Vena.
"Ven, aku dapat ini loh tadi." Aku melempar amplop itu dan melemparkan di hadapannya.
Sebelah alisnya naik saat melihat amplop itu. Sesaat matanya bergerak ke arahku. Jari telunjuknya menarik amplop itu ke arahnya. Jari-jarinya membuka ampol dengan pelas. Tampak olehku ia menarik nafas seperti mencium semerbak dari kertas yang ia baca. Matanya kembali mengarah ke arahku.
"Ini?" Ia mengangkat kertas itu dengan dua jarinya.
"Iya." Aku mengangguk.
"Trusss?" Ia memerengkan kepalanya.
"Maksud dari pesan itu apa?"
"Kamu kok polos banget sih. Ini dari seseorang yang suka sama kamu. Dia kepingin kamu ngikutin tanda-tanda yang ia buat untuk kamu," ujarnya dengan nada sedikit menaik.
"Oh gitu ya?" Aku kembali memastikan.
"Iya Rere. Aku aja yang ga peduli sama yang namanya cinta, tau maksud dari surat ini." Ia tertawa kecil. Bibirnya tersimpul membentuk senyuman khasnya.
"Udah deh. Kamu pulang aja dulu. aku masih banyak kerjaan nih."
Binar-binar matanya begitu semangat untuk mengerjakan tugasnya. Aku meminum minumannya dan beranjak pulang.
"Itu kan parfum milik ...," gumam Vena dalam hati saat melihat Rere berlari hingga menghilang dari penglihatannya.
***