You Make My Heart Smile

You Make My Heart Smile
35



*flashback


Ingatanku kembali ke kurang lebih lima tahun yang lalu. Aku merengek menolak pindah sekolah. Ayahku pindah tugas ke kota lain karena keputusan dari perusahaan tempat ia bekerja. Diriku mengurung diri di sudut kamar berharap ibu dan aku tetap tinggal disini, biarlah ayah saja yang bekerja di sana. Abangku tidak menolak sama sekali, baginya pindah sekolah sebagai wadahnya untuk memperluas pergaulannya.


"Kawan aku bakalan nambah banyak." Waktu itu ia masih menggunakan kata "aku" untuk menyebut dirinya.


"Bu, aku tak mau pergi kesana." Logat melayu yang kental masih terasa oleh lidahku.


"Ndak bisa, ayahmu kerja disana. Kita terpaksa ikut." Ibuku mengelus rambutku dengan lembut.


"Ayo bu. Aku tak sabar mau kesana." Abangku langsung menerobos percakapan diantara kami. ia memang selalu merusah suasana.


Ibuku beranjak dari tempat tidurku. Daster merahnya basah karena keringatku tadi."Kau bujuklah adik kau tu." 


Seragam SMA-nya masih melekat di badannya. Bau keringatnya seharian menyengat hidungku. Tangannya masih tersisa bekas oli motor, pasti ia baru saja pulang dari bengkel. Kebiasaan, berteman dengan anak bengkel membuat motornya tidak jelas bentuknya. Mulutnya tercium jelas bau rokok.


"Udah lah, di sana banyak cewek cantik." Ia menyisir rambutnya di cermin. Pikirannya malah kepada wanita-wanita cantik di sana. Aku belum bisa berpikir sampai ke sana.


Seminggu kemudian ayahku membeli rumah baru disana, sedangkan rumah yang kutempati ini di jual untuk menambah modal membeli peralatan rumah baru disana. Rasa kantukku masih menahan mataku untuk terbuka. Dua jam di pesawat terasa melelahkan olehku. Mungkin saja karena baru pertama kali aku menaikinya.


Aku termenung melihat mereka bermain bola. Kepulan debu menutupi lapangan tanah yang mereka jadikan tempat bermain bola. Kiper meloncat dari kuda-kudanya untuk menangkap bola dari tendangan keras dari lawan. Semuanya bersorak mendengar suara bola mengenai jarring gawang.


Aku duduk di tempat duduk papan yang permukaannya penuh dengan debu dari lapangan. Seseorang dari mereka melihatku yang sedang duduk termenung disini.


"Boleh?" tanyaku kembali. Ia mengangguk dan memberika bola kepadaku.


"Tapi lo kiper, ntar kita gantian." Aku mengangguk. Tanganku siap untuk menangkap tendangan mereka.


Pengalaman mendapat teman –teman di lingkungan begitu menyenangkan. Perbedaan budaya, bahasa, watak, membuat diriku semangat untuk mengentahui setiap detai dari lingkungan baruku ini. Aku duduk di atas rerumputan hijau. Bau rumput tercium jelas oleh hidungku yang berkeringat sehabis bermain bola. Di seberang lapangan tukang potong rumput masih sibuk dengan alat potong rumputnya.


"Dari mana lo?" tanya Amri, kiper lawan yang bertubuh gemuk. Sekitar perutnya terdapat tiga tingkatan lemak. Wajahnya bulat dengan hidung pesek ditutupi oleh daging wajahnya.


"Pekanbaru bang. Oh ya, nama aku Rangga." Aku menyodorkan tanganku untuk berkenalan.


"Hahah, gua dipanggil abang sama ni anak. Lo kelas berapa?" tanya Amri lagi. tangannya asyik memutar-mutar bola di atas telunjuknya.


"Baru masuk SMP," jawabku.


"Kita seumuran disini nih. Kecuali dia, mukanya ketuaan banget. Hahahha...," tawanya meledak diiringi oleh tawa teman yang lainnya. Harfan tetap tertawa walaupun dirinya yang sedang di tertawai. Adzan maghrib memanggilku untuk pulang.


Mataku masih sayup sesaat membuka mataku dari bunga tidur yang sempat hinggap pada tidurku. Suara cempreng dari ibuku begitu nyaring di telinga. Cerocosnya dari dapur membuat perekat dimana lama-kelaman menghilangkan daya rekatnya.


"Rangga, bangun, sholat, baru mandi."


Seminggu sudah aku mencari teman di lingkungan baru. Sudah banyak yang aku kenali, bahkan petugas keamanan RT sekalipun. Aku mengenalnya dari mengikuti ronda malam bersama teman-teman baruku yang sedikit gila. Anak seperti kami mengikuti ronda malam mengelilingi gelapnya jalanan RT.3. luka-luka di lutut hasil bermain bola juga sudah banyak yang aku dapat. Obat dari pucuk ubi yang di kunyah menjadi pertolongan pertama jika mendapati luka dari kesenanganku bermain sepak bola di lapangan berpasir kuning.