You Make My Heart Smile

You Make My Heart Smile
19



Aku merasakan serangga itu terperangkap di dalam kaosku. Aku membukanya perlahan. Raisa memerhatikan kaos yang ku buka dengan seksama. Ia berharap tangkapanku membuahkan hasil. Jari Raisa memutar tutup botol dan membukanya. Tanganya begitu gemetaran membuka tutup kecil itu.


"Kayanya dapat nih. Deketin lobang botolnya ke sini." Aku memasukkan serangga itu ke dalam botol.


Wajah Raisa kelihatan cemas melihatku memasukkan kunang-kunangnya. Satu serangga sudah di masukkan. Namun aku merasakan lagi seekor kunang-kunang yang terperangkap di dalam kaos. Kembali aku memasukkan perlahan kunang-kunang yang masih ada di dalam kaos.


"Yeeee!" Raisa bertepuk tangan.


Jariku menutup botol itu agar kunang-kunang tidak keluar.


"Dapet duaaa. Makasih Rangga." Ia menganggkat botol itu dan menerawangnya ke langit gelap.


Kunang-kunang itu terbang berdua di dalam ruang yang terbatas. Walaupun terbatas, ia masih berusaha menembus plastik bening itu. kunang-kunang itu kembali menyinari dirinya. Cahayanya sama terang dengan lampu di ujung lapangan.


Sebelah mata bulat Raisa menatap ke dalam botol. Memerhatikan kedua pasangan kunang-kunang yang tengah bersinar. Kedua bibirnya melebar tersenyum melihat aku di balik botol plastik itu. Kunang-kunang itu menerangi kegelapan diantara kami, sedangkan bunyi khas jangkris mengisi keheningan yang sempat terjadi.


Aku kembali duduk bersila melihat kunang-kunang di tengah lapangan. Mereka kembali berkumpul membentuk sebuah gugusan bintang seperti yang ada di langit malam. Bedanya gugusan itu berpindah setiap saat karena mereka terbang ke sana kemari dengan riangnya. Raisa masih antusias melihat peliharaan barunya di botol.


"Gimana? Bisakan?"


"Iya makasih banget. Baru kali ini ngelihat kunang-kunang." Jarak duduk kami semakin dekat. Bahu kami hampir saling bersentuhan.


"Aku sering. Dulu seseorang pernah bilang sama aku. Bahwa kunang-kunang itu simbol keberanian. Dia bakalan tetap bersinar walaupun dia sudah pasrah tertangkap." Pikiranku sedang tertuju ke Rere.


Sekilas kata-kata itu teringat olehku. Kata-kata yang aku copy dari perkataan Rere waktu dulu. Waktu itu kami sedang menangkap kunang-kunang di malam ulang tahunnya, setahun yang lalu dengan cara yang sama.


"Betul juga ya." Ia memutar botol ditangannya.


"Raisa." Aku memanggil namanya dengan pelan. Ia menoleh dengan cepat. Alisnya terangkat menjawab panggilanku tadi. "Rambut kamu cantik kalau di ikat."


Mataku tidak henti menatapnya.


"Oh ya? Aku bakal terus kaya gini kalau kamu suka." Mataku tidak henti-hentinya menatap senyumnya.


Bunyi jangkrik mengisi di tengah kesunyian yang melintas. Suaranya saling menyaut satu sama lai.


"Kamu kenapa suka cewek yang rambutnya di ikat?" tanya Raisa.


"Ga tau. Aku suka aja." Aku memandang ikat rambutnya yang berwarna merah.


Kenapa?


Seketika aku teringat dengan Rere, seakan-akan wajah Raisa berganti dengan bayang-bayang Rere yang begitu cantik dengan rambut ekor kudanya.


Mata kami saling menatap seperti ada sesuatu yang menarik di pandangan mata kami. Raisa mendekatkan kepalanya, kepalaku seperti ada magnet yang menarik kepala Raisa mendekat kepadaku.


Hidungnya terlihat seperti garis lurus karena mancung. Bibirmya yang merah agak terbuka sedikit. Pesonanya memaksaku untuk mendekatkan bibirku. Gigi depannya terlihat sedikit ketika kedua bibirnya terbuka. Garis-garis di bawah matanya kelihatan hitam dan begitu jelas terlihat saat ia mulai memejamkan matanya.


Mataku terpejam dan membiarkan semuanya mengalir seperti air sungai di sore hari. Aku melihat samar-samar di celah kelopak mataku yang terbuka. Aku memerengkan kepala saat bibirnya mulai benar-benar mendekat. Aku merasakan darah bergejolak di balik kulit. Debaran jantung terdengar hingga ke telinga. Mungkin Raisa merasakan hal yang sama. Desahan nafas Raisa terdengar begitu cepat saat bibir kami mulai mendekat.


Entah apa yang ia bawa disana. Kacamatanya bergagang coklat cocok dengan raut wajahnya yang manis. Alis tebalnya begitu meneduhkan pandangannya kearah kami. Rambut terikatnya bergerak saat ia berusaha berbalik arah dan berlari dengan cepat. Sebuah hiasan kembang mercun yang ditembakkan ke langir mengiringi wanita itu berlari. Suaranya begitu kuat sebanding dengan keindahan yang diukirnya di langit.


Aku dan Raisa saling menarik diri saat bibir kami belum sempat untuk bersentuhan. Rasa canggung merasuki kami berdua. Jari Raisa menggaruk rambutnya. Wajahnya kelihatan menunduk. Aku hanya bisa terpaku menatap ke kerumunan kunang-kunang yang belum pergi di tengah lapangan.


"Raisa, kita balik yuk. Acaranya udah selesai tuh." Kecanggungan diantara kami perlahan menghilang. Raisa berdiri lebih dulu dan membersihkan celananya yang menempel rerumputan kering.


"Yuk." Ia mengulurkan tangannya membantuku untuk tegak. Kami bergegas untuk pulang.


Lampu pos security masih bersinar menerangi bangunan itu. angin-angin bertiup kenang. Langit bagian barat mulai bersinar karena cahaya petir yang menyambar. Bunyi gemuruh berasal dari langit tidak begitu kuat terdengar.


Aku mulai cemas takut hujan mengguyur sebelum aku sampai di rumah.


Raisa mulai turun dari motorku. Ia menyerahkan helm yang ia pakai dan merapikan rambutnya yang rusak karena memakai helm. Aku mengantarnya hingga ke gerbang rumahnya. Rumahnya kelihatan begitu sunyi. Raisa kelihatan letih, itu terlihat dari raut wajahnya. Raisa mengusap-ngusapkan tangannya saat dingin angin menerpa. Angin yang kencang menggoyangkan pohon besar yang di belakang pos security.


"Aku pulang dulu ya Sa. Udah mau hujan nih." Aku berhenti tepat di gerbang pagar rumahnya.


"Thanks yah buat malam ini." Ia menjinjit.


Bibirnya menempel di pipiku. Kecupan lembut itu seakan membekas ke hati. Aku merasakan getaran-getaran yang ada di dada. Pipiku kelihatan memerah. Mataku masih saja memandangnya berlari menuju kerumah.


Ia melambaikan tangannya kepadaku walaupun tanpa melihatku. Aku berbalik arah. Seperti ada yang ingin meledak di dalam diri. Jariku meraba-raba area yang merasakan lembutnya kecupan dari raisa tadi.


Mataku tertuju kepada mobil jazz di seberang jalan. Lampu depannya masih bersinar. Mesin mobil kelihatannya masih hidup. Kaca film yang melapis kaca mobil membuatku tidak bisa melihat siapa yang ada di dalam mobil. Aku terdiam sejenak. Mobil itu perlahan bergerak dan pergi. Aku melihat plat nomornya.


"Zaki?" aku terkejut keheranan.


***


"Rangga!" Ia menyebut nama itu di dalam hati.


Di dalam mobil Rere hanya bisa terdiam terduduk di samping Zaki yang sedang mengemudikan mobilnya. Rere melihat ke kiri, pandangannya kelihatan kosong menatap jalanan sepi. Zaki tidak mampu berkata apapun, ia hanya fokus untuk mengemudikan mobilnya.


Pipi Rere kelihatan basah karena air mata yang terus mengalir. Berkali-kali ia menarik ingus yang hampir keluar dari hidungnya. Bedak tipis di pipinya luntur tersapu air mata. Pikirannya hanya tertuju kepada kecupan mesra Raisa di pipi Rangga tadi. Hatinya terasa telah terbuka luka baru. Luka baru yang menggantikan luka lama yang sudah mongering.


"Sudahlah Re. kamukan udah tau semuanya. Rangga itu suka sama Raisa." Zaki mulai prihatin dengan air mata yang terus mengalir dari mata Rere. Namun perkataannya menambah lajur tangisan Rere.


"Dia memang ga pernah nyadar kalau aku selalu sayang sama dia" Rere mengusap air matanya.


"Dia juga ga pernah tau kalau aku yang selalu ia sakiti," tambah Rere. Telunjuk Zaki mengusap air mata Rere.


Mobil Zaki berhenti di depan rumah Rere. Rere keluar dari mobil dengan air mata yang masih bergelinang. Ia berjalan ke arah pagar, namun ia berbalik arah memeluk Zaki.


"Makasih," ujar Rere pelan. Ada senyum kecil muncul di bibir Zaki.


***