
Sesampainya di rumah, Deviana mempersilahkan bik diah untuk masuk kerumahnya. Setelah masuk ke dalam rumahnya, Deviana pun bertanya tinggal di mana, nama dan apa yang di lakukan di jalan. Ada raut takut, kesedihan dan bingung di wajah bik diah. Tapi Deviana meyakinkan bik diah tidak papa kalau mau cerita tidak usah takut atau sungkan, siapa tau saya bisa membantu. Bik diah pun hanya bisa diam dan tertunduk.
Lama terdiam seperti takut dan kebingungan akhirnya dik diah memberanikan diri untuk bercerita banyak tentang dirinya. Dan di situ juga bik diah bercerita semua tentang kehidupan-nya serta menjawab semua pertanyaan yang di ajukan Deviana. Sambil bercucuran air mata Bik Diah bercerita, bahwa kenapa dirinya ada di jalan berhari-hari, karna sangat membutuhkan uang untuk pengobatan Ibunya yang lagi sakit, saudara dan keluarga yang cuek, masa bodoh serta lebih mementingkan keluarganya sendiri, takut akan istrinya marah ketimbang membantu Ibu yang melahirkanya, mereka tidak peduli terhadap ibunya.
Deviana ikut merasakan betapa sulit, berat dan hancurnya hati bik diah dan Ibunya. Yang paling mengugah hati seorang Deviana adalah, Kadang bik Diah rela tidak pulang ke rumahnya berhari-hari sebelum dapat pinjaman uang tersebut.
Deviana memberikan tisu, minum dan makan untuk bik Diah. Menyuruh bik diah untuk makan dan minum terlebih dahulu. Deviana pun pamit ke ruang keluarga untuk menemui Tama suaminya.
Di dalam Deviana bercerita tentang bik diah yang membantunya dan semua tentang kehidupan-nya yang mem-perihatinkan. Tama pun tergugah setelah mendengarkan-nya.
Tama dan Deviana pun keluar menemui bik diah, Tama menyapa dan langsung menawarkan bik diah untuk bekerja di rumahnya. Senang dan haru yang di rasakan hingga bik diah pun menangis, ucap syukur bik diah dan ucapan terima kasih yang tiada henti, selalu di ucapkan bik diah ke-keluarga Adafsi hingga saat ini.
-Pagi hari..
"Bik, apakah Rysa dan Fano sudah bangun?," tanya deviana
Dari tadi bibik belum melihatnya, mungkin masih di kamarnya nyah, "maaf nyonya Apa perlu bibik pangilkan?".
"Tidak usah bik terima kasih, biar saya saja yang naik melihat mereka, bibik bisa lanjut". ucap deviana
"Baik nyah, bibik kebelakang dulu," sambil berjalan meninggalkan ruang makan
Di keluarga adafsi sekecil apapun bentuk bantuan yang orang lain berikan, harus tetap mengucapkan terima kasi, dan selalu mengucapkan kata tolong terhadap orang lain, jika meminta bantuanya. Walaupun terhadap anak kecil, besar, tua maupun muda, apapun jabatan dan kedudukanya, ucapan tolong dan terima kasih tidak pernah luput.
Deviana pun berjalan menaiki anak tangga, menuju kamar Fano.
Tok.. Tok.. Tok..
Tidak ada sautan dari dalam kamar putranya, Deviana pun sekali lagi mengetuk pintu kamarnya sedikit keras, dan memangil namanya.
Tok.. Tok.. Tok..
"Fano buka pintunya?, bangun nak sudah pagi, Papa Mama mau siap-siap" ucap Deviana
"Iya ma, bentar" saut Fano dari dalam kamar, yang terburu-buru membuka pintu kamarnya, karna dia tau pasti ibunya sedang menunggu di luar. "Mama papa mau kemana?" tanya Fano yang sudah membuka pintu kamarnya.
"Kamu tidak masuk kerja hari ini nak?, jam segini baru bangun" ucap Deviana sambil memasuki kamar putranya terlihat poto mereka berempat yang menempel di-dinding kamar putranya.
"Ini kan hari libur Ma?," (Fano pun mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal)
"Kamu tau hari libur nak? biasanya hari libur kamu tetap bekerja", ucap Deviana lagi.
"Tidak Ma, hari ini Fano pull time di rumah, kalaupun ada beberapa laporan masuk, Fano kerjakan di rumah".
"Jangan terlalu pokus bekerja nak, hingga lupa istirahat, kamu juga butuh berlibur, hm.. bahkan mama belum pernah mendengarmu bercerita tetang seorang gadis sekalipun".(Fano sama seperti Papanya, sekali kerja hanya kerja pokus pokus kerja tanpa memikirkan hal lain) batin Deviana.
"Hal itu belum minat dan belum terpikir olehku, oh ya Ma Fano mandi dulu ya?" ucap Fano mengalihkan pembicaraan mamanya agar tak lebih jauh lagi.
"Maaf Nyah, di pangil tuan di bawah?" ucap bik Diah
"Iya bik, makasih ya bik" saya sampai lupa akan pergi anak itu ada-ada saja, batin Deviana
"Fano, Mama Papa akan pergi bilang ke adik mu nanti?, sepertinya adik mu masih tidur. Nampaknya Papamu juga buru-buru mau berangkat mama sudah kelamaan di atas, yaudah Mama turun dulu?" ucap Deviana berjalan meninggalkan kamar putranya.
"Ma.. kenapa lama sekali di atas?, teman-teman kantor papa sudah kumpul" ucap pak Tama.
"Iya Pa, Mama sudah siap, tadi lagi berbincang dengan Fano Pa. Anak lelakimu itu sama seperti Papa dulu, kerja kerja dan kerja.. bahkan waktu libur, bukan libur hanya pindah tempatnya bekerja. Hampir setiap hari Fano seperti itu Pa." Keluh deviana ke tama suaminya
"Biarkan saja Ma, nanti juga kalau sudah waktunya dia sendiri yang menentukan jalanya, Do'ankan saja anakmu, yaudah yuk Ma?" ucap Pak Tama sambil berjalan memegang tangan istrinya.
Fano yang sudah selesai mandi pun bergegas kekamar adiknya, memangil dan mengetuk berkali-kali, namun tak ada jawaban dari Rysa.
Sekali lagi abang pangil nggak yaut abang dobrak nih pintu bantin Fano yang takut adiknya kenapa-napa.
Tok.. tok.. tok..
"Rysa, buka pintunya dek ada di dalam kan?, nggak buka juga abang dobrak nih" ucap Fano kesal
Rysa yang baru selesai mandi dan berganti pun heran, mendengar suara abangnya ribut di depan pintunya kamarnya. Rysa pun Berjalan dan langsung membuka pintu kamarnya.
"Abang apaan sih bang?, ribut banget deh pagi-pagi", celetus Rysa
"Adek tu dari mana saja?, abang dah garing dari tadi berdiri di sini, di pangil dak denger tok-tok apa lagi, untung saja abang nggak dobrak tu pintu".
"Abang kurang kerjaan ya bang?, Sya habis mandi abang nggak liat Sya dah cantik gini. Lagian ngapain abang ke kamar Rysa?, tumben-tumbenan banget, biasanya juga boro-boro".
"Eh bocil adek abang.. dengerin baik-baik abang nih, ini juga karna mama yang merintah abang buat cek ade dah bangun apa belum, kalau bukan mama yang merintah abang dah lanjut ngerjain tugas abang", ucap Fano sambil mencubit pipi adiknya.
"Aduh bang sakit tau, sekarang sudah kan? Sya dah bangun dan mandi dah cantik, dah mau nugas juga bantuin bibik masak, sana dah abang balik saja bang," (ribet kali abang sya satu ini, susah emang jomlo ngenes batin rysa)
"Yaudah abang keruangan kerja dulu, kalau ada apa-apa sya kabari abang". ucap Fano berbalik meninggalkan Rysa
"Iya bang. Iya..," pantasan jomlo kerja mulu, kapan punya pacarnya, celetus Rysa saat berbalik memasuki kamarnya.
(Astaga Rysa kamu ngomong apaan sih di dengar abang mampus nggak bisa dapat tambahan jajan lagi).
Rysa pun berjalan menuruni anak tangga, menuju kedapur untuk membantu bik diah memasak.
☘︎☘︎☘︎☘︎☘︎☘︎☘︎☘︎☘︎☘︎
🖤 Tak perlu menjerit hanya karna kau sakit. dan tak perlu cemburu hanya karna kau tak mampu. Kebahagian tak pernah tertukar .. meski hidup di hadapkan dengan pilihan sulit. Tapi, percayalah Allah selalu punya cara sendiri untuk membuatmu bahagia 🖤
ᴥ︎︎︎ 𝗨𝗺𝗮𝗿 𝗕𝗶𝗻 𝗞𝗵𝗮𝘁𝘁𝗮𝗯 ᴥ︎︎︎