YOU ARE NOT MY DESTINY

YOU ARE NOT MY DESTINY
Kekesalan Deviana




Di rumah ...



Setelah sampai di rumah Rysa pun memasang muka cemberut nya, dan ber lalu ke kamarnya. bahkan sampai sekarang Rysa pun belum terlihat keluar sama sekali, mungkin karena dia mendapat tugas dari wali kelasnya hingga dia harus mengerjakan tugas secepatnya.


Fano yang baru datang pun langsung bertanya pada orang-orang rumah di mana Adiknya, apakah sudah pulang dan siapa yang menjemputnya. Karna ia lupa mengabari adiknya di karnakan ada rapat dadakan.


"Bik, apakah Rysa sudah pulang?"ucap Fano bertanya pada bik Diah.


"Iya Den sudah, tadi di antar teman-nya Aden", ucap bik Diah menjawab pertanyaan Fano.


"Haa.., teman ku yang mana Bik?"ucap fano lagi karna dirinya banyak mempunyai teman hanya saja tak seakrab dulu, di karnakan kesibukan masing-masing.


"Bibik nggak liat jelas teman Aden yang mana, karna orang yang nganterin Non Rysa nggak ikut turun Den". Ucap bik Diah tak tau teman Fano yang mana yang mengantarkan adiknya. karna Rysa sampai tadi hanya mengetuk, memberi salam dan memberitahu bik Diah dianterin teman Bang Fano.


"Ya sudah, makasih Bik!, biar nanti Fano tanya Rysa langsung. Oh iya bik!. Papa sama Mama apa sudah pulang?", ucap Fano bertanya lagi apakah orang tuanya sudah pulang, karna rumah terlihat sepi biasanya jam segini ortunya sudah berkumpul di ruang tamu.


"Tuan sama Nyonya belum datang Den" ucap Bik Diah lagi.


"Hm.., ya sudah makasih ya Bik!, Fano naik dulu". Ucap fano kepada bik diah dan langsung berjalan menuju kekamarnya.


Saat berjalan menaiki tangga, Fano ingin menghampiri Rysa, untuk menyapa dan meminta maaf kepada Adiknya itu karna lupa menjemputnya.Tapi karna dirinya baru sampai, belum mandi dan berganti jadi Fano memutuskan pergi kekamarnya terlebih dahulu.


Dikamarnya, Rysa yang sudah selesai mengerjakan tugas sekolahnya pun hendak turun. Tapi, karna dirinya kesal terhadap Abang nya dia pun membatalkan niatnya untuk turun ke bawah.


"Mama dan Papa udah pulang belom ya" batin Rysa.


- Mama yang kesal...


Tak lama terdengar suara ketukan pintu otomatis yang menandakan ada orang yang datang. Bik Diah yang mendengar suara tersebut langsung berjalan kedepan untuk membukakan pintu tersebut.


"Assalamu’alaikum Bik?" ucap Tama dan Deviana yang baru datang.


"wa'alaikumussalam Tuan, Nyah" ucap bik Diah sambil mengambil barang bawaan yang ada di tangan Deviana.


"Terimakasih Bik. Oh iya Bik!. Rysa dan Fano apa sudah pulang?" ucap Deviana menanyakan kedua anaknya.


"Sudah Nyah. Non Sya sudah pulang dari tadi dianterin teman-nya Den Fano. kalau Den Fano nya baru saja nyampe Nyah." ucap Bik Diah menjawab pertanyaan Deviana.


"Loh Rysa nggak pulang ma Fano bik? padahal tadi sudah bilang ke Fano buat jemput Adiknya pulang sekolah, terus Fano nya di mana bik? kenapa nggak jemput Rysa tadi?." Ucap Deviana agak sedikit kesal karna Fano tidak menjemput adiknya itu.


"Bibik nggak tau Nyah, Non Sya tadi nggak bilang apa-apa Nyah, habis beri salam bilang ke Bik Diah dianterin teman Den Fano, langsung pergi kekamarnya. Kalau Den Fano mungkin di kamarnya masih mandi Nyah." Ucap bik Diah menjawab pertanyaan Deviana, karna terlihat Deviana terkejut dan sedikit kesal karna Fano tak menjemput adiknya.


"Ya sudah terimakasih ya bik. Bibik lanjutin aja kerjaanya, aku mau kekamar dulu. Nanti biar aku yang nanya ke Fano kenapa nggak jemput adiknya tadi!". Ucap Deviana langsung berlalu meninggalkan bibik menuju kekamarnya.


Bibik pun berjalan menuju dapur untuk mempersiapkan makan malam keluarga Adafsi. Karna bibik sudah terbiasa dan hafal kesukaan makanan dari masing-masing orang rumah, jadi tidak begitu sulit untuk bibik mengerjakan-nya.


Tama yang mendengar cerita dan masukan dari istrinya itu pun tidak keberatan sama sekali. Hanya saja dia tau putrinya itu tidak pernah mau kalau di carikan sopir kusus. Kalaupun mau sudah dari dulu Rysa tidak menolaknya, apa lagi di rumah ada Pak Uda kan!, Rysa bisa meminta tolong ke Pak Uda untuk mengantarkan-nya kesekolah, atau sekedar menjemputnya pulang, tapi itu tidak. Rysa lebih memilih bersama teman-teman-nya, sama Fano atau sama Papa kalau lagi ada waktu senggang. "Lebih baik Mama tanyakan dulu apa maunya anak itu, jangan ambil keputusan terlebih dahulu tanpa melibatkan Rysa yang bersangkutan Ma..!". Ucap tama suaminya yang tak mau istrinya memutuskan sesuatu tampa bertanya keputrinya lebih dulu.


Deviana pun mendengarkan apa yang di ucapkan oleh suaminya itu. "Baiklah Pa..!, nanti Mama akan bertanya kepada Rysa lebih dulu." Ucap Deviana, dirinya pun langsung bergegas mandi dan bersiap untuk makan bersama.


- Makan bersama ...


Setelah selesai mandi dan bersiap Deviana dan Tama suaminya sudah lebih dulu duduk di ruang makan. Tak lama terlihatlah Rysa menuruni anak tangga, dengan berjalan pelan mendekati ruang makan keluarga.


"Malam Ma.., Pa..?", ucap Rysa kepada orang tuanya.


"Malam juga nak" ucap Tama dan isterinya.


"Mana Abang mu Sya?" ucap Deviana bertanya lagi kepada putrinya.


"Nggak tau Ma..!, mungkin ada di kamarnya." Ucap Rysa menjawab pertanyaan Mama-nya.


"Mama mau nanya sama Rysa nak!, Apa boleh?" ucap Deviana lagi.


"Sejak kapan Sya larang Mama buat nanya ke Rysa?, kalau mama mau nanya nggak papa Ma.., tanya aja, dengan senang hati Rysa bakal jawab." Ucap Rysa menjawab pertanyaan Deviana mama-nya.


"Tadi pulang sekolah Rysa di anterin siapa nak?" ucap Deviana bertanya ke putrinya karna mendengar Fano tak menjemput adiknya.


"Sya ikut Kakak Mike Ma.." Bang Fano nggak jemput Sya, untung ada kak Mike. Ucap Rysa kepada mama-nya.


Tak lama nampaklah Fano yang baru keluar dari dalam kamarnya menuruni anak tangga.


Rysa pun masih memasang muka cemberutnya karna masih kesal ke Fano yang tidak menepati janjinya.


"Malam Ma.., Pa.., malam dek?" ucap Fano yang sudah menebak pasti nanti dapat siraman dari Mama karna tidak menjemput adik cerewetnya itu.


"Hemm...iya nak. Fano Rysa kita makan dulu, habis itu kalian ikut Papa Mama ke ruang keluarga." Ucap Tama kepada kedua anaknya.


"Iya Pa.." ucap mereka berdua.


Saat keluarga Adafsi lagi makan, terdengar suara telpon rumah yang berdering karna sudah menjadi kebiasaan keluarga Adafsi di saat jam makan berlangsung tidak boleh membicarakan apapun dan tidak boleh mengangkat hp atau apapun selain fokus menyelesaikan makan-nya terlebih dahulu.


Bibik Diah yang sudah hafal aturan rumah keluarga Adafsi pun berlari mendekati telpon rumah yang berdering, saat mau mengangkat telpon tersebut suara deringannya sudah berhenti. Pasti orang iseng batin bik Diah.


--------------------🦋🦋🦋🦋🦋🦋----------------------


SEHAT-SEHAT SELALU ORANG-ORANG BAIK


Betapa kalimat-kalimat sederhana mereka membuat saya merasa sangat punya kekuatan, semoga Tuhan membalas segala kebaikan kalian ya.😢


Mereka menguatkan, memberi dukungan, dan menjadi perantara dari Tuhan untuk segala kasih dan cinta. Terima kasih sekali lagi ya.! 🖤