
Malam hari...
Rysa yang sedang berada di dalam kamarnya, belajar dan mengerjakan tugas dari sekolah. Tiba-tiba terdengar suara pangilan dari luar.
...****...
"Bibi tolong panggilin Rysa ya bi?" ucap Deviana
"Baik, nyah" ucap bibi lalu pergi ke kamarnya Rysa.
Tok...Tok...Tok....
"Non ini Bibik" ucap Bibik Diah sambil mengetuk pintu kamar Rysa.
"Iya bik, jawab Rysa dari dalam kamarnya".
"Non di panggil nyonya di bawah"
"Iya bik, sebentar lagi Rysa turun ya bik!."
*Setelah lama ia berpikir akhirnya Rysa pun berniat untuk berbicara kepada Pak Tama, Papanya. Semoga Papa bisa bantuin (batin Rysa). Rysa pun hendak turun menemui orang Tua nya yang sudah berada di ruang makan tersebut.
Tak lama kemudian turunlah Rysa, "malam ma.., pa..", di ruang makan. Telah berkumpul keluarga Adafsi.
"Rysa ada apa dengan-mu nak!, kenapa kamu melamun?" tanya Deviana yang sejak tadi memperhatikan putri cantiknya terus saja melamun tanpa memakan makanan-nya.
"Enggak apa-apa kok ma.., Pa.., nanti ada yang ingin Rysa bicarakan sama papa ya?" jawab Rysa.
"Baiklah, kita bicarakan nanti sekarang makan dulu makanan-mu keburu dingin nanti", ucap pak Tama.
"Ada apa sih dek?" tanya Fano yang penasaran ada apa dengan adiknya itu.
"Kepo saja Abang nih" jawab Rysa.
"Dih-dih cuma nanya doang kok, lagian sejak kapan adek rasia-rasian sama Abang?", ucap Fano kesel dengan jawaban adiknya.
"Eh kalian ya, makan dulu?", ucap Deviana.
"Iya ma" ucap Rysa dan Fano.
"Rysa kalau kamu udah selesai makan, datang aja ke ruang kerja papa nak, kita bicarakan disana, Papa duluan ya?" ucap pak Tama.
"Iya pa" ucap Rysa kemudian lanjut melahap cepat makanan-nya.
-Di ruang kerja Papanya ..
"Apa yang mau kamu bicarakan nak?" tanya pak Tama menatap intens putri kesayangan-nya.
"Emm...Pa maafkan Rysa ya pa?, Sya engak sengaja" ucap Rysa menunduk takut, tak berani menatap papanya.
"Ceritakan sama Papa dulu"
"Tapi papa jangan marah ya Pa?"
"Ceritalah dulu dan jangan berbohong" ucap Pak Tama lagi.
Hmm.. "Sebenarnya...(menceritakan kejadian)"
"Huftt....Sya Rysa kamu ini ada-ada saja"
"Maaf pa?, ini benaran Rysa Nggak sengaja"
"Untuk kali ini berusahalah sendiri"
"Hahh Pa jangan gitu dong, Rysa mana ada uang buat gantinya"
"Pakai uang tabunganmu"
(Aduhh... Gawat nih uang tabungan gue sisa 50 juta, dan juga mana cukup) batin Rysa.
"Udahkan sana keluar dulu Papa mau kerja".
Rysa pun berjalan keluar tampa membantah apa yang di ucapkan oleh Pak Tama.
(Hmm...coba gue minta ke Abang deh) batin Rysa kemudian pergi mencari Abang-nya.
"Ma, Abang mana?" tanya Rysa.
"Dikamar nya nak" jawab Ibu Devina.
"Ok Ma, makasih ya Ma" Rysa temui Abang dulu.
-Dikamar Fano ....
"Eh Dek kamu ngagetin Abang saja ngapain Adek disini ?"
"Kalau masuk kamar orang itu ketuk pintunya dulu, salam lah dulu, jangan main nyelonong masuk saja" ucap Fano yang kesal karna adiknya masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Halah Abang nih!, diem dulu deh, Adek mau ngomongin sesuatu nih" ucap Rysa terlihat terlihat gawat mendatangi Abangnya.
"Apaan tuh dek? Penting gak? Kalau gak penting mending adek keluar aja deh, Abang mau santai nih" ucap Fano lagi kepada adiknya.
"Ini penting Abang ku sayang ini menyangkut hidup dan mati Rysa Bang, muka cemberut"
"Hmm.. iya deh apaan, buruan cerita Abang dengerin"
"Tapi, Abang bantu Rysa ya?"
"Ceritakanlah dulu"
Rysa pun menceritakan kejadian tersebut kepada Abang nya.
Hmm ...(Menceritakan kejadian).
"Jadi gitu ceritanya!, Abang help me?" sambil memuja.
"Pecicilan sih kakinya, jalan tuh yang bener."
"Lah, Rysa mana tau bakal kejadian kek gitu".
"Abang mau bantu enggak nih?, hmp.., Bang Adek mohon tolonglah kali ini saja ya?"
"Kakak Fano-ku yang ganteng, baik hati dan nggak sombong, tolonglah ya?" Rysa memasang muka melasnya,
"Hm tunggu sini bentar".
"Baiklah..", ucap Rysa.
"Ini Dek, Abang cuma bisa bantu segitu,"
"Haa.., Abang nggak salah?, Rysa kan bilang butuhnya lagi 50juta, kok malah 10juta doang?"
"Mau nggak?, kalo nggak mau abang ambil lagi nih" ucap Fano.
"Dih Abang nih, udah ngasihnya segini doang mana cukup, dah gitu mau di ambil lagi".
"Yaudah deh, dah cape-cape juga cerita panjang lebar kali lebar, ehh dapatnya segini doang", celetus Rysa.
"Belajar bersyukur Dek", ucap fano lagi.
"Hm.. iya, Bang! nggak ada lagi yah? tambahin dong ini kurang." jawabnya sambil memainkan mata nya tanda memohon kepada abang nya tersebut.
"Udah di kasih nawar lagi"
"Sya nanya loh bang"
"Nanya lagi abang batalin ngasih nya" sambil mendengarkan kembali music nya.
"Ihh abang ngeselin" langsung melangkah keluar meninggalkan kamar Fano.
Ada-ada saja anak itu, entah besok laporan apa lagi yang akan dia bawa *batin Fano sambil geleng-geleng memperhatikan adiknya yang melangkah keluar tersebut.
- Di kamar Rysa....
Tak henti-hentinya, membolak-balikan kartu nama milik pria tersebut. Berharap semoga saja orang yang mempunyai mobil bisa memberikannya keringanan.
Bagaimana ini, "apa gue cicil aja kali ya, Hem..yaudah besok gue coba ngomong deh." ucap Rysa langsung merebahkan tubuhnya.
- Lucu bukan ....
Entah kenapa jatuh cinta itu lucu. Selucu ketika dengan mudahnya aku jatuh cinta kepadamu. Dan aku pun tidak tahu pasti kenapa aku bisa merasakan ini semua. Mungkin karena aku tersihir oleh kharismamu? Atau sikap cuekmu yang membuat rinduku didalam hati ini jadi tak mau pergi? Lalu diam-diam dalam hati kusimpan tanya, apakah aku jatuh cinta kepada orang yang salah?
Apa perlu juga aku tanyakan pada dirimu kenapa kamu mau menjalin komitmen denganku? Aku tahu banyak wanita diluar sana yang jauh lebih baik dariku, diam-diam menaruh hati padamu atau mencoba merebut perhatianmu.
Namun aku pun tahu, kamu tidak mudah menambatkan hatimu begitu saja. Hingga saat ini kau memberikan kepercayaan ini padaku. Karena itulah aku mau bertahan, meskipun perbedaan demi perbedaan diantara kita, kita temukan seiring berjalannya waktu.
Kata mereka...
Semakin jauh aku mengenalmu, dan secarik cerita dari sahabat-sahabatmu. Kau adalah manusia langka, kata mereka. Memangnya kamu ini apa sih, alien(batin Rysa)
...-------🦋🦋🦋🦋🦋🦋-------...
^ Maaf kan aku 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻. Masa lalu tetaplah masa lalu, sekeras apapun tidak akan mengembalikanya seperti sediakala. Biarkan aku mengenangnya untuk terakhir kali sebelum aku benar-benar membersihkan hati atas namanya dan mungkin atas nama cinta nya yang berbeda. Jika engkau mengizinkan. Hidup tanpa cinta itu lelah.
_Namun mencintai tanpa tersakiti itu rasanya lebih pedih. Haruskah aku mengedepankan fitrahku sebagai manusia untuk mencintai?, terpesona bisa tapi jatuh cinta? jujur aku takut di hadapkan pada situasi terkutuk. Jalani yang sekarang dan jalani apa yang seharus-nya, tidak ada penyesalan dan tidak ada penebusan
𝖳𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗌𝗂𝗁 𝖽𝗎𝗄𝗎𝗇𝗀𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀-𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝖻𝖺𝗂𝗄 𝗌𝖾𝗁𝖺𝗍 𝗌𝖾𝗅𝖺𝗅𝗎 🤗
𝖩𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗅𝗎𝗉𝖺 𝗆𝖺𝗆𝗉𝗂𝗋 𝖻𝖾𝗋𝗂𝗄𝖺𝗇 𝗅𝗂𝗄𝖾, 𝖼𝗈𝗆𝖾𝗇 𝗋𝗂𝗍𝖾 𝖽𝖺𝗇 𝗉𝖺𝗏 𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖾𝗆𝗈𝗀𝖺 𝖻𝖾𝗋𝗄𝖾𝗇𝖺𝗇 🙏