YOU ARE NOT MY DESTINY

YOU ARE NOT MY DESTINY
Keinginan Tak Terduga



Makasih, "lu mau nggak Sya?", ucap Tiara


"Nggak Ra, terima kasih gw minum aja. Hm.., Ra! balik yuk?, kita belum beli perlengkapan punya lu nih, nanti keburu telat balik nya." ucap Rysa sedikit salting.


"Tiara belanjanya bareng sama teman aku aja!" timpal Made.


"Hah, nggak usah biar bareng Rysa aja Kak" ucap Tiara.


"Iya.., biar sama Sya aja." ucap Rysa lagi.


"Aku ada perlu sama Rysa sebentar. Jadi Tiara bisa pergi dengan temanku, nggak perlu nunggu ya kan?"


"Perlu apa lagi? bukan nya sudah selesai di bahas kemarin dan sudah di sepakati juga. Jangan bilang itu denda berbungga Kak, haa yang benar saja, itu pemerasan namanya." ucap Rysa tanpa henti


Dan tanpa merespon ucapan Rysa, Made pun langsung menghubungi temannya, yang bernama serly buat nemanin Tiara belanja.


- Menghubungi Serly ...


Singkat cerita Serly pun datang.


"Hay?." ucap serly yang baru tiba dan langsung memberikan senyuman ramah kepada Rysa dan Tiara.


Rysa dan Tiara pun berkenalan dengan gadis yang ada di depan nya tersebut. Setelah berkenalan Made menjelaskan kepada Serly tujuan nya meminta datang ke kafe tersebut.


"Seperti yang aku bilang Ser!. Temani Tiara belanja, gunakan kartu ini. Aku ada perlu sama Rysa." ucap Made menjelaskan kembali ke teman nya.


Apa-apaan ini belum nanya sudah main memerintah saja, harusnya nanya dulu! mau apa nggak? *batin Rysa.


Wih di traktir dong. (batin Tiara)


"Nggak papa ya Sya?" gw tinggal bentar, nanti gw cepat baliknya. Titip temanku ya Kak Made, jangan di gadekan nanti ribet urusanya.


Nggak ngahlak lo Ra! "emang gw barang?" main titip segala. ketus Rysa.


Tiara dan Serly pun pergi menuju tempat perlengkapan yang akan di beli.


Rysa pun berasa sangat tidak nyaman berhadapan dengan Made, (beruang kutub sebutan nya), suasanapun terasa canggung di antara mereka. Belum ada yang membuka obrolan Rysa pun hanya diam. Terlihat made yang memainkan ponselnya, sedang menghubungi seseorang.


(Katanya ada sesuatu yang mau di bahas kenapa hanya diam saja) *batin Rysa


Lama terdiam, akhirnya Made pun memulai obrolan.


Oh ya, "bisa kah aku ikut ke rumah mu?".


"Haa.. buat apa?"


Biasa aja lagi ekspresinya, jangan kaget seperti itu. "Memangnya nggak boleh apa?", aku hanya mau kenalan saja.


"Orang di rumah Rysa garang semua Kak, suka ngamuk dan marah-marah nggak jelas. belum lagi pasti nanti bakal rame di tanyain aneh-aneh. Rysa pasti bakal bingung mau jawab apaan. Lebih baik jangan deh," ucap Rysa


"Biar aku yang jawab, tugas kamu hanya kenalin aku ke-keluargamu." ucap Made meyakinkan Rysa.


"Memangnya mau apa? ketemu keluargaku. harusnya kan nggak perlu Kak. Itu tuh terlalu berlebihan!." ucap Rysa masih dengan penolakan nya.


Bukan berlebihan. Itu perlu dan harus, "masak iya aku bawa anak orang tampa izin orang tuanya. Jadi sebelum itu! saya mau main ke rumah mu dulu." ucap Made masih dengan keinginan nya.


Rysa pun kanget serta bingung mendengar apa yang di sampaikan Made. Bukan kah ini akan jadi panjang urusanya. Kalau melibatkan keluarga. Ini kan hanya masalah di antara gw aja. Terus kenapa harusi seserius itu. Sya belum pernah membawa teman lelaki ke rumah, apa kata orang rumah kalau tahu. membayangkannhya pun Rysa depresi, apa lagi kalau sampai Abang tahu, haduh bagai mana ini. *batin Rysa.


"Bagaimana?"ucap Made.


"Nanti Rysa pikirkan lagi ya Kak!". ucap Rysa.


Benar-benar ini di tidak terpikirkan oleh ku.! *batin Rysa


Entah itu masuk atau tidak semuanya di luar dugaan Rysa. tidak menyangka akan serumit ini. Lama mereka berbicara akhirnya Tiara dan serly pun datang..,


"Hay Sya!, hay kak Made!, aku sudah selesai. Nggak lama kan cepat kan" ucap Tiara kepada mereka berdua.


Hmm.. "yuk balik?" ucap Rysa sambil menarik tanggan Tiara.


"Astaga Sya..! biarkan gw minum dulu bentar, cape nih." ucap Tiara


"Yaudah buruan, dah kelamaan nih, di intro abang bentar." balas Rysa


"Yuk..!" ucap Tiara setelah meminum habis minumannya.


"Kak Serly!, makasih juga ya kak. sudah di anterin belanja hari ini. Jangan bosan-bosan ya Kak." ucap Tiara.


Mereka berdua pun pamit meninggalkan kafe tersebut.


Selepas kepergian Rysa dan Tiara. Serly pun bertanya kepada Made.


"Apakah kamu suka ke gadis itu?", ucap Serly


"Entahlah, belum aku pikirkan. Aku hanya butuh teman untuk ke acara reoni sekolah kita." ucap Made


"Kamu yadar nggak sih made?" ucap Serly.


"Apa?"


"Sepertinya kamu mulai menyukai gadis itu!"


Made hanya tersenyum sinis, terus bangun berjalan meninggalkan kafe. Sebelum melangkah keluar! Made bertanya kepada Serly.


"kamu mau ikut nggak Ser?" ucap Made menawarkan temannya itu tumpangan karna sudah membantu dirinya.


"Gw bawa mobil sendiri." Aku nanya bukan di jawab main pergi saja, (batin Serly)


Made pun langsung berlajan keluar meninggalkan roksi flaza.


Di tempat Rysa yang sudah lebih dulu sampai pun masih binggung memikirkan ucapan Made. Bagaimana caranya, astaga aku bisa gila lama-lama memikirkan nya. Hanya karna kejadian hari itu kenapa serumit ini.


- Menelpon ...


πŸ“ž "Hallo Ra?, lu lagi apa?"


πŸ“ž "Ya Sya.., lagi santai nih, ada apa?"


πŸ“ž "Ra, lu sibuk nggak?, gw ada perlu, tapi gw nggak bisa cerita lewat telpon. Kalo lu ada waktu main kerumah gw, apa gw saja yang kerumah lu, gimana?".


πŸ“ž "Hm ada apaan sih Sya?" keknya serius banget deh.


πŸ“ž "Kan dah gw bilang, nggak bisa cerita masalahnya lewat telpon."


πŸ“ž Yaudah besok kan hari libur sekolah tuh, "biar gw ke rumah lu bareng teman-teman kita yang lain, gimana?"


πŸ“ž "Baiklah, gw tunggu besok lu di rumah gw, kabari si andrean sama eby juga Ra. Biar mereka bisa ikut juga. Sepertinya besok yokap dan bokap gw pergi ke rumah temennya. Jadi di rumah tinggal gw sama abang gw."


πŸ“ž "Ok Sya, siap.."


πŸ“ž "Yaudah Ra, gw matikan dulu telponnya sampai ketemu besok. Bye .."


Pangilan pun diakhiri oleh Rysa...


Terlihat Rysa menuruni anak tangga membawa botol berukuran besar langsung memasuki dapur.


"Lah non ko nggak minta tolong Bibi?" ucap bik Diah.


"Nggak apa-apa bi, Rysa bisa kok, ambil minum doang ko bik. Ya sudah bibi istirahat aja."


Saat mau melangkah Rysa baru teringat. Besok Tiara dan yang lain bakal datang, "Oh iya bik!"


"Iya non.."


Besok teman-teman Rysa bakal main kerumah, "tolong Bik Diah bantuin Rysa buatin makanannya ya bik?".


"Iya non, biar bibi saja yang siapin" non tau beres, nggak usah bantuin, biar bi Diah sama bi Inem yang buat non." ucap bi Diah semangat.


"Nggak apa-apa bi! nanti kalau Rysa luang biar bisa bantuin bibi juga. Itung-itung Sya bisa sekalian belajar dari bibik. hehe.." ucap Rysa


Rysa sangat dekat dengan karyawan yang bekerja di rumah nya. Bik Diah yang sudah lama mengabdi di rumah keluarga adafsi pun sangat menyayangi Rysa. Sejak pak Tama masih mengawali karirnya dan sejak Rysa masih kecil bibi Diah sudah bekerja di keluarga Adafsi.


Waktu itu Bik diah lagi butuh uang untuk pengobatan anaknya yang sakit. Bik Diah sudah kesana kemari mencari pinjaman. Tapi, hasilnya nihil. Tanpa sengaja bik Diah bertemu dengan Ibu Deviana mama dari Rysa. Saat Deviana membawa barang bawaan, barang yang di bawanya jatuh berserakan, bi Diah yang melihatpun bergegas membantu mengumpul kan barang-barang belanjaan nya. Sebagai tanda terima kasih!. Deviana memberikan bi Diah uang. Tapi bik Diah menolaknya. Melihat kondisi bik Diah waktu itu sangat memperihatinkan. Deviana yang kasihan pun membawa bi Diah kerumahnya.


------------------πŸ¦‹πŸ¦‹πŸ¦‹πŸ¦‹πŸ¦‹πŸ¦‹---------------


πŸ–€ 𝖲𝖺𝖺𝗍 𝗄𝗂𝗍𝖺 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 π–»π—‚π—Œπ–Ί 𝗅𝖺𝗀𝗂 π—†π–Ύπ—‡π—€π—Žπ–»π–Ίπ— π—Œπ—‚π—π—Žπ–Ίπ—Œπ—‚, π–Όπ—ˆπ–»π–Ί π—Žπ–»π–Ίπ— 𝗅𝖺𝗁 𝖼𝖺𝗋𝖺 𝗉𝖺𝗇𝖽𝖺𝗇𝗀 𝗄𝗂𝗍𝖺, π—†π—Žπ—‡π—€π—„π—‚π—‡ 𝗆𝖾𝗇𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺 𝖺𝗉𝖺 𝗒𝖺𝗇𝗀 π—Œπ—Žπ–½π–Ίπ— 𝖽𝗂 𝗍𝖺𝗄𝖽𝗂𝗋𝗄𝖺𝗇 π—Žπ—‡π—π—Žπ—„ 𝗄𝗂𝗍𝖺. π–ͺ𝖺𝗋𝗇𝖺 𝗁𝖺𝗇𝗒𝖺 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 π—‚π—π—Ž 𝗂𝗇 π—Œπ—π–Ί 𝖠𝗅𝗅𝖺𝗁 𝗁𝖺𝗍𝗂 𝗄𝗂𝗍𝖺 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝖺𝗆𝖺𝗂 πŸ–€