YOU ARE NOT MY DESTINY

YOU ARE NOT MY DESTINY
It's wrong to miss



Setelah menghabiskan waktu bersama dan mengantarkan Rysa pulang kerumahnya, Made pun tidak langsung pulang kerumah, melainkan pergi ke cafe Aksia di mana teman-temannya berkumpul untuk mengerjakan tugas dari kampus. Sebenarnya Made bisa saja meminta teman-temannya untuk duluan mengerjakan tugas tersebut, karena Made cukup disiplin, loyalitas dan kooperatif dalam kuliahnya, terutama mengenai tugas-tugas kampus. membuat Made yang tidak pulang seharian, harus memutar balik mobilnya untuk pergi ke cafe Aksia tersebut. Sepanjang perjalanan menuju kafe Made tidak henti-hentinya melihat atau pun sekedar mengecek kembali hpnya, berharap Rysa membalas pesan yang ia kirim ataupun sekedar bertanya tentang dirinya.


Hal itu membuat Made sedikit kesal dengan sikap Rysa, yang mana Rysa sudah menjadi kekasih dan pujaan hatinya. "Kemana gadis kecil itu, kenapa ia tidak membalas pesanku!" ucap batin Made kesal.


Tidak berselang lama!, akhirnya Made pun sampai di kafe Aksia dan langsung memarkirkan mobilnya tersebut. Sebelum turun dari mobilnya Made kembali melihat hpnya yang sampai saat ini belum juga ada notif pesan dari Rysa. Dengan rasa kesal dan rindu Made memutuskan untuk menghubungi Rysa.


📱Tut... Tut... Tut...


suara hp pun berbunyi (orang yang anda hubungi tidak dapat menjawab telpon, silahkan tinggalkan pesan suara setelah nada berikut).


Made pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, nampak wajahnya yang semakin kesal, melempar hpnya dan langsung berjalan meninggalkan mobil menuju kedalam cafe.


Di dalam cafe Made berkumpul bersama Pian dan dengan teman-teman lainnya. Masih dengan ekspresi yang dingin, membuat Pian yang mengerti ada sesuatu yang terjadi dengan sahabatnya itu.


Tidak lama, pelayan pun datang membawakan minunam yang sudah lebih dulu di pesan Pian.


"Ini pesanannya!" ucap pelayan cafe sambil menyuguhkan minuman tersebut di atas meja di mana Pian, Made dan temannya berada.


"Terimakasih" jawab Pian.


Pelayan pun pergi meninggalkan tempat perkumpulan Made dan teman-temannya.


"Kenapa lu bro? Nampaknya beban hidup lu berat banget yah!, lihat muka luh.! ngalahin bapak-bapak punya istri dua, anak selusin." ucapnya pada Made disertai canda dan tawa yang mengundang gelak tawa teman-teman lainnya.


"Aku nggak papa santai aja lagi" jawab Made pada Pian.


Tidak mau membuat pikirannya bertambah kacau Made pun mengalihkan pembahasan serta memberikan pertanyaan lain kepada mereka, Pian yang hapal betul dengan ke anehan sikap Made pun ikut mengalihkan suasana.


"Gimana tugasnya?" tanya Made.


"Sebenarnya punya gua sudah sih rekapannya, coba deh lu lihat bro!" jawab Arkan sambil memperlihatkan tugas yang sudah ia kerjakan di labtopnya.


- Di kediaman Adafsi.


Rysa yang baru bangun hendak kekamar mandi, menyempatkan untuk melihat hpnya yang tersimpan di atas meja terlebih dahulu. Sehabis pulang bersama Made, ia tertidur karna ke lelahan.


Rysa yang kaget melihat banyak sekali pesan dan panggilan masuk dari beruang kutubnya itu. Ia pun mencoba menghubungi Made kembali. Tidak ada jawaban dari Made, Rysa mencoba menghubungi lagi hingga beberapa kali tapi masih sama tidak ada jawaban dari Made.


Setelah tidak ada jawaban, Rysa mengirim pesan balasan untuk Made. Meminta maaf dan memberi tahu ia yang ketiduran sehingga tidak membalas dan mengangkat telponnya. Setelah itu Rysa langsung bersiap untuk mandi.


- Kedatangan Fano ...


Di tempat lain Fano, Abang Rysa baru saja sampai di rumahnya, setelah beberapa hari keluar kota untuk urusan proyeknya yang sudah rampung.


"Hai Bik..! gimana kabarnya? setelah beberapa hari Fano nggak ada di rumah!." tanya Fano pada Bik Diah.


"Alhamdulillah baik Den, hanya saja rumah jadi sepi nggak ada Aden, kami semua sampai rindu sama Den Fano" jawab Bik Diah pada Fano.


Fano pun hanya tersenyum ringan menanggapi ucapan Bik Diah.


"Rysa mana bik, kok ngak kelihatan?. Ada di rumah kan Bik, Rysa nya." tanya Fano kembali pada Bik Diah.


Fano yang duduk di bangku santai dekat dengan ruang keluarga sambil meluruskan kakinya, Bik Diah berjalan mendekat ke arah Fano sambil membawakan minum, Bik Diah yang sudah ada di dekat Fano pun menjawab kembali pertanyaan anak majikannya itu.


"Non Sya ada di kamarnya kok Den! apa perlu bibi ke atas ngasih tau Non Sya, kalo Aden sudah datang?".


"Nggak usah Bik, biar Fano saja yang ke atas kasih kejutan buat Rysa".


Merasa lapar ia hendak turun ke bawah sendiri untuk membuat roti bakar. Rysa pun merapikan kembali buku yang ia baca.


Saat menuruni anak tangga, Rysa melihat sosok yang tidak asing baginya. Seketika pun Rysa berlari memanggil dan langsung memeluk Fano.


Karena sudah beberapa hari Fano pergi keluar kota, ia merindukan adik kecilnya yang bawel, merindukan suasana kala Fano menjahili Rysa.


"Abang kok nggak bilang Sya sih, kalau mau dateng, kan Rysa bisa jemput abang di bandara" ucapnya sambil memeluk Fano.


"Kalau Abang bilang, bukan suprise namanya" jawab Fano sambil mengusuk kepala adiknya itu.


"Mana oleh-oleh buat Sya" sambil menjulurkan tangan ke Fano.


"Baru nyampe udah duluan nanya oleh-oleh"


"Hehehe, Kan Abang udah janji duluan"


Fano pun menyentil kepala Adiknya pelan.


"celetuk...."


"Aduh..., Abang kok sentil Sya sih.! Kan sakit" ucap Rysa sambil mengusap kepalanya yang merasa kesakitan.


"Itu oleh-olehnya sentilan buat Adik Abang" jawabnya,


"Dih.., Abang curang (memasang muka cemberut dan kesal)".


Fano kembali tertawa pelan melihat tingkah Adikya, yang memasang muka cemberut.


"Ya sudah nanti minta tolong Pak Uda buat nurunin barang di bagasi mobil."


"Yes dapet oleh-oleh" Rysa pun memeluk kembali Abangnya sambil mengucapkan terimaksih kepada Fano.


"Oh iya Bang, kok nggak barengan sama Papa dan Mama. Bukannya Abang mau nyusul Papa"


"Sebenarnya Abang mau menyusul, emm..kasian Ade sendiri di rumah"


"Sya kan udah biasa di rumah sendiri" sambil memasang muka sad nya.


Fano kebali tertawa keras haha.., "bukan gitu Dek, sebenarnya Papa yang nggak izinin Abang nyusul buat bantuin. Papa suruh Abang duluan balik, tuh mukanya melas banget, ulululu..kasian adik Abang".


"Dih(memasang muka sinis)"


"Abang mau ke atas dulu, jangan lupa minta tolong Pak Uda"


Setelah itu Fano pun melangkah menuju ke kamarnya untuk beristirahat.


- Berencana ...


Setelah selesai mengerjakan tugas kelompok, Made langsung balik ke rumahnya. Sesampainya di dalam rumah, Made baru ingat hp ya tertinggal di dalam mobil, Made kembali keluar untuk mengambil hp yang ia lempar saat ia kesal.


Setelah hpnya di temukan Made lagsung membuka layar otomatis yang ia pasang, Ada beberapa pangilan tidak terjawab dan pesan dari Rysa. Made membaca pesan dari Rysa ada rasa bersalah karena meninggalkan hpnya di dalam mobil terlalu lama.


Sebagai permintaan maafnya, besok Made akan menjemput dan mengantarkan Rysa ke sekolah, tapi Made tidak memberi tahu Rysa terlebih dahulu. sebagai tanda maafnya.