
Bersalah...
Setelah makan malam bersama. Pak Tama, Deviana dan Rysa pun sudah berkumpul di ruang keluarga. Tinggallah mereka yang sedang menunggu Fano. Selesai makan tadi, Fano izin ke atas untuk mengambil hp nya yang tertinggal di kamarnya.
Dan di saat Rysa lagi duduk memainkan hp nya sambil menunggu Fano yang tak kunjung turun-turun juga, Pak Tama memecah keheningan dengan memanggil dan bertannya-tanya pada Rysa.
"Sya, sini nak..?" ucap pak Tama kepada putrinya.
"Iya Pa..!, ada apa Papa panggil Rysa?" ucap Rysa setelah duduk di samping Papanya.
"Bagaimana sekolahnya Nak?" ucap Pak Tama bertanya tentang sekolah putrinya, karna memang kalau ada waktu luang atau di saat berkumpul. Pak Tama selalu bertanya tentang sekolah putrinya.
"Sekolah Sya baik-baik aja Pa..!, tadi sepulang dari sekolah Rysa langsung mengerjakan tugas dari sekolah Pa." ucap Rysa kepada Papa-nya.
Tak lama nampaklah Fano yang turun dari tangga berjalan mendekati ruang keluarga.
"Abang lama banget sih kebiasaan, nggak tau apa Papa dan Mama udah nungguin." ucap Rysa dengan muka badmoodnya.
"Nggak apa-apa Nak." ucap Pak Tama yang mencairkan suasana.
"Iya maaf, barusan pas mau turun orang kantor nelpon Abang, maka-nya selesai dia nelpon baru Abang turun." ucap Fano menjelaskan agar adik kecilnya itu sedikit membaik.
"Ya sudah kalian berdua diem dulu!, jangan bedebat dan bercanda mulu. Dengerin, biarin Papa dan Mama bicara dulu." ucap Deviana mengingatkan kepada kedua anaknya.
"Kalian tau kenapa Papa dan Mama panggil kesini?" ucap Deviana pada kedua anaknya.
"Nggak Ma..!." ucap mereka berdua.
Dan Deviana pun langsung membuka percakapan dengan langsung bertanya kepada Fano alasannya tidak menjemput adiknya itu.
Hm... Tadi, saat Mama pulang kerumah, Mama dengar Fano tidak menjemput Rysa pulang sekolah. "Terus kenapa tidak menjemput Adikmu Nak? bukan kah Mama sudah pesan ke Fano." ucap Ibu Deviana kepada Fano putranya.
"Maaf Ma..!. Fano nggak tau kalau tiba-tiba ada rapat dadakan dari kantor. Karna Fano buru-buru siapin berkas dan Materi sendiri, Fano sampai lupa kabari Rysa." ucap Fano kepada Mamanya.
"Tuh kan, Abang kebiasaan nih Ma... Kalau nggak bisa jemput nggak ngasih kabar dulu ke Rysa. Sya kan jadi harus nunggu lama di parkiran... Harus jalan Kaki juga ke toko buku dekat halte, kan cape Ma..!. Untung ada Kakak Mike!." Ucap Rysa dengan sangat kesal.
"Fano!. Lain kali jangan seperti itu ya Nak! sebelum-sebelumnya kabari terlebih dahulu kalau pun tidak bisa atau ada halangan yang urgent. Kamu kabari Papa atau bisa minta tolong Pak Uda buat menjemput Adik mu." ucap Tama kepada putranya agar tidak Teledor.
"Mama juga tidak mau mendengar dan tidak mau tahu, hal seperti itu tidak boleh terjadi lagi. Lain kali Fano kabari Mama juga, keselamatan lebih utama. Adikmu seorang gadis, bagaimana kalau sampai terjadi hal-hal yang tidak di ingin kan." Ucap Deviana kepada Fano, yang semenjak kemarin sudah kesal karna Fano tidak menjemput adiknya.
"Iya Mah..! Fano minta maaf lain kali hal seperti itu nggak akan terjadi lagi kalaupun ada yang urgent Fano utamakan langsung mengabari kalian" ucap Fano dengan rasa bersalahnya karna sudah membuat adiknya menunggu begitu lama.
- Menolak ...
Setelah selesai membahas tentang Fano yang biasa melupakan janjinya untuk menjemput Adiknya. Sekarang MAma nya yang bertanya kepada Rysa apa keinginannya! apakah dia mau sopir khusus untuk menjemputnya sekolah atau ada keinginan lain. Tama yang hafal dengan putrinya itu pasti tak akan mau jika di carikan sopir khusus, Tama pun hanya pokus membaca koran yang terkumpul di atas mejanya. Membiarkan Deviana bertanya langsung kepada Rysa.
"Sekarang Mama mau tanya ke Rysa nak!, apa Sya mau kalau Mama carikan sopir pribadi?, dan Mama sudah bertanya ke Papa, kata papa di serahin ke Rysa maunya seperti apa, kalau mau nanti biar Mama yang carikan sopir untukmu nak." ucap Deviana menjelaskan ke putrinya.
"Pak uda kan ada Ma..!. Kenapa harus mencari sopir lain, terlebih kita pasti harus seleksi lagi". ucap Fano ikut menjawab pertanyaan Mama-nya.
"Pak Uda kan biasanya harus stay di rumah nak, kalau Pak uda pindah tugas sopir, nanti nggak ada yang bantuin Bik Diah dan Bik Imah mengurus taman belakang." Ucap Ibu Deviana tidak menerima Pak Uda di pindahkan tugasnya.
"Udah Ma… Fano!." Biar Rysa yang jawab dia maunya apa dan bagaimana. Kalian kan belum dengar jawaban nya seperti apa. ucap Tama yang menyelah pembicaraan Ibu Deviana dan Fano.
"Sya gimana?" ucap Fano bertanya ke adiknya itu.
"Maaf ya Ma.., Pa.., bukan nya Sya nolak buat di carikan sopir." Rysa kan bisa bawa sendiri ketimbang harus cari sopir lagi. Selama ini kan Sya hanya malas aja nyetir sendiri karna ada Abang, sebelum Abang sibuk seperti sekarang ini, dan ada Papa yang sering anter jemput. Kadang kalau ada waktu luang. Malah Sya kan biasa pulang bareng teman-teman Rysa. Ucap Rysa tak mau membuat Mama-nya kecewa.
"Jadi, Sya nggak mau nih sama ide Mama!. Padahal Mama ingin memudahkan Rysa buat berangkat dan pulang sekolah, dan itu lebih aman langsung pulang kerumah dan nggak buat Mama khawatir, mikirin Rysa yang setiap mau berangkat atau pulang harus nunggu lama dulu. Dengan adanya sopir dia bakal nungguin Rysa, Tanpa Rysa harus nunggu Abangmu lagi Nak." Ucap Ibu Deviana mengeluarkan semua keinginannya berharap anaknya itu mau tanpa harus membuatnya khawatir lagi.
"Udah dong Ma... Biarkan Rysa memilih apa keinginannya, yang jelas Mama sudah menawarkan sama Rysa buat cari sopir khusus. Mana tau nanti Rysa berubah pikiran kabari Mama dan Papa ya Nak?". Ucap Pak Tama kepada Istri dan anaknya, agar Deviana isterinya tak begitu kecewa dan bisa menerima keputusan putrinya itu.
"Iya Ma.., Pa.., Maaf. Nanti kalau Sya beneran butuh sopir Rysa kabari. Untuk sekarang Rysa rasa emang nggak perlu. Untuk hari-hari lain Sya bawa mobil sendiri aja. Jadi, nggak repotin dan buat khawatir Papa, Mama dan Abang." Ucap Rysa tegas dengan jawabannya karna memang dirinya merasa tak butuh sopir untuk sekarang.
Fano yang Mendengar jawaban Adiknya tak mau di carikan sopir khusus pun hanya bisa diam. Sesekali dirinya bertanya yang di sertai dengan candaan-candaan kecil.
"Nggak mau beneran kamu dek? padahal enak loh.., kalau punya sopir pribadi tuh. Atau kamu takut ya Dek!. Kalau di Laporin ke Papa dan Mama karna sering mejeng." Ucap Fano sambil ketawa ringan melihat ekspresi adiknya yang kesal.
"Abang Tuh bisa nggak sih, nggak usah ngarang cerita gitu" ucap Rysa yang kesal melihat Fano yang sengaja meledeknya.
--------------🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋----------------