
Berkumpul di kantin ....
Andrean, Eby dan Tiara yang baru saja tiba di kantin ikut tertawa melihat muka Seno yang sudah penuh dengan saus tomat tersebut.
"Wkwk..., lu lapar Sen? tapi ya nggak harus makan saus tomat juga kalih" ucap Andrean sambil tertawa.
"Letoy lu diem deh, jangan sampe ini saus pindah di mulut lo." sambil membersihkan dengan tisu basah yang di bawa oleh Rysa.
Andrean pun hanya tertawa dan tidak berani membalas ucapan Seno lagi.
"Kenapa kok saus bisa ada di muka lu?" tanya tiara pada Seno.
"Noh tanyain sahabat lu tuh...!, tega banget deh" sambil membersihkan muka nya lagi.
"Gw tadi cuma buka tutup nya aja. Ehh...udah lansung muncrat aja ke muka si Seno!, lagian Seno sih siapa suruh ketawain gw mulu kualat kan" ucapnya pada temannya itu.
"Kalian berdua sama-sama salah. Jadi, harus sama-sama minta maaf" ucap Tiara pada Rysa dan Seno.
Saat Seno kembali dari mencuci muka nya, Rysa mendekati nya untuk meminta maaf.
"Sen, maaf ya?, habisnya lu ngeselin sih" ucap Rysa pada seno.
"Tapi nggak pake saus juga kali Sya!" keluhnya pada Rysa.
"Iya...iya.., gw salah. Maaf ya Sen.."
"Iya udah nggak apa-apa. Tapi ada syaratnya?" ucapnya pada Rysa.
Teman-teman mereka yang lain pun hanya melihat dan mendengarkan percakapan antara Seno dan Rysa.
"Lu maafin doang pake syarat Sen, nggak ihklas banget deh" balas Rysa sambil mengambil minumannya.
"Mau di maafin nggak? kalau mau, ya...udah, terima syarat dari gw" ucapnya lagi pada Rysa.
Tiara yang ikut mendengarkan Seno memberikan syarat kepada temannya itu, membuat Tiara pun ikut bertanya.
"Ehh Sen, lu sama temen sendiri etdah" timpal Tiara.
"Ya sudah, emang apa syaratnya" tanya Rysa dengan kesal.
"Syaratnya mudah aja ko Sya, lu teraktir kita-kita nonton di bioskop. Gimana? pas tuh gw liat lagi louncing film-film terbaru di bioskop" ucapnya sambil tersenyum berharap Rysa mengiyakan syarat yang di berikan oleh Seno.
"Wih Seno, syarat dari lu lumayan tuh nggak kira-kira" timpal Andrean
"Wuah itu sih namanya lu mau cari gratisan aja Sen" timpal Sari yang ikut membela Rysa.
"Iya Sen, lu kan cowo masak ia mau minta gratisan" timpal Tiara lagi.
"Ya udah...ya udah. Karna gw yang salah. Sebagai permohonan maaf, gw mau teraktir buat nonton di bioskop" balas Rysa pada Seno dan teman-temannya.
Tak lama loceng pun terdengar, menandakan jam istirahat mereka telah berakhir, dan mereka semua harus masuk ke kelas masing-masing.
"Nah!! lonceng dah bunyi tuh, nanti lagi di bahas. sekarang kita masuk kelas dulu." Rysa, Tiara dan Sari pun duluan berjalan memasuki kelasnya, yang tak lama di susul oleh tiga teman lelakinya itu.
- Di dalam kelas ....
Setelah selesai mengerjakan 15 soal biologi. Kini mereka semua di suruh mencatan rumus, dan 35 soal lagi di luar buku materi. Yang sudah di tuliskan di depan oleh wali kelasnya.
"Anak-anak keluarkan buku kalian, di depan π sudah ada rumus, silahkan catat rumusnya terlebih dahulu. Setelah itu kalian bisa langsung jawab! atau mencatat dulu soal yang sudah ada di depan" ucap Ibu Tiwi kepada murid-muridnya.
"Iya Bu...." jawabnya kompak.
Andrean yang paling malas mencatat di antara mereka. Melihat begitu banyak catatan yang harus di tulis, membuatnya menguap seketika.
Ia pun meminta bantuan Eby untuk menulis terlebih dahulu, karna catatan yang begitu banyak Eby pun menjawab tidak bisa membantunya. Karna catatan yang begitu banyak dan belum juga selesai, ia yakin kalau membantu Andrean ia takan bisa pulang sampai besok.
"Lu tolongin gw ya?" ucapnya pada Eby yang masih mencatan rumus tersebut.
Nita teman sekelas yang duduk dekat mereka merasa terganggu dengan Andrean yang masih berbicara kepada Eby.
"Ndre lu bisa diam nggak kerjain noh tugasnya, berisik tau nggak!" ucapnya pada Andrean.
"Iya...iya, gitu doang sensi banget dah." sambil membolak balikan bukunya tersebut.
"Kalau lu masih banyak ngomong lagi gw bilangin ke Buk Tiwi nih" ancamnya pada Andrean.
"Iya...iya, bawel..." sambil melirik ke arah Eby.
Karna iya sudah mendapat kan teguran dari teman sekelasnya, mau berbicara ke pada Eby pun, iya hanya melemparnya mengunakan buku yang di gulung. Nampak Eby hanya mengkode dengan menyuruhnya untuk mencatat yang ada di depan tersebut.
Andrean pun berpikir, Bagaimana! kalau hanya dirinya sendiri yang belum mencatat rumus dan soal yang di berikan. Maka hanya ia yang akan tinggal di dalam kelasnya seharin. Akhirnya walaupun dengan rasa malasnya ia tetap memutuskan untuk buru-buru menyelesaikan catatanya. Karna tidak mau tinggal sendirian.
- Lega ....
Nampak Rysa dan teman-teman lainya, sudah ada yang langsung mengerjakan soal yang di berikan.
Nampak Seno yang masih mencatat soal yang di berikan oleh gurunya tersebut.
Lama mereka mekerjakan rumus dan soal yang di berikan. Tiba-tiba terdengar suara lonceng berbunyi, menandakan jam pelajaran mereka pun telah berakhir. Karna di antara mereka belum ada yang selesai mencatat rumus dan soal tersebut. Buk Tiwi memutuskan untuk menjadikan soal tersebut sebagai tugas di rumah (PR).
Murid-murid yang mendengar guru nya menjadikan soal tersebut sebagai tugas rumah, sepontan mereka pun bersorak.
"Anak-anak karna kalian semua belum selesai mengerjakan soalnya, maka Ibu putuskan untuk menjadikan soal kalian tersebut sebagai PR.
"Iya Buk...." jawab murid-murid nya kompak.
Mereka pun bersorak senang mendengarkan apa yang di ucapkan oleh Wali kelasnya tersebut.
"Kalian jangan senang dulu. Ibu tidak mau tahu...! nanti, kembali masuk dengan pelajaran ini, jawaban kalian harus sudah di kumpul. Dan Ibu harap jawaban kalian benar semua." ucanya memberikan warning kepada murid-muridnya tersebut.
"Iya Ibu...." jawabnya kompak.
Setelah memberikan salam kepada wali kelasnya, mereka semua pun keluar satu persatu meninggalkan kelasnya tersebut.
Nampak Andrean dan Seno yang duduk di dekat lapang basket. Menunggu Eby yang sedang meminjam buku di perpustakaan.
Tiara yang terlihat oleh seno, berjalan sendiri pun langsung memangilnya.
"Ra.., sini" ucap Seno pada Tiara.
"Rysa mana? kok lu tumben jalan sendiri" tanya Seno.
"Ada tuh di belakang bareng Sari, di pangil guru BK barusan. Karna gw harus ke perpus pulangin buku yang gw pinjem. Jadi kita janjian ketemunya di parkiran." jelasnya pada Seno dan Andrean.
"Ya sudah kita nunggu sini aja" ucap Andrean.
"Jangan di sini, di sana aja(sambil menunjuk ke arah bangku yang ada di dekat pohon tersebut)"
"Ya sudah kita kesana,"
Mereka pun kompak menuju bangku yang ada di dekat pohon tersebut, sambil menunggu Rysa dan teman-teman lainnya.
...---------π¦π¦π¦π¦π¦π¦--------...
...π©πΊπππΊπ π πππΊ π½ππππππΊππππΊ...
...π«πππΎ...
...π±πππΎ...
...πͺπππΎπ...
...π₯πΊπ...
...π¦πππΎ ...