YOU AND ME

YOU AND ME
Ini



Keesokan hari setelah pemakaman Peter Pattinson, semua sanak saudara, dan kerabat berkumpul di mansion Peter melakukan segala aktivitas. Sebagian sedang membaca Al-Quran di ruang keluarga, sebagian sedang mengobrol di ruang tamu dan sebagian sedang menyiapkan makan malam di dapur.


"Shadaqallahul - 'adzim." ucap Irene setelah membaca Al-Quran.


"Ekhem... Irene, can we talk for a moment?" tanya Andre yang sedang duduk melantai di belakang Irene.


" Yes. We're talking in Peter's office." jawab Irene, lalu mereka bangkit berdiri, berbalik badan dan berjalan menuju ruang kerjanya Peter.


Ceklek


Pintu ruang kerja Peter terbuka perlahan. Irene melihat sendu isi dari ruang kerja Peter yang penuh dengan kenangan indah dia bersama Peter. Sampai kapan pun ruangan itu tak akan pernah diubah sama Irene agar kenangan dia bersama sang suami di dalam ruangan itu tersimpan apik.


Mereka melangkah memasuki ruangan itu. Irene duduk di sofa panjang dan sedangkan Andre duduk duduk di sofa tinggal yang berhadapan dengan Irene.


"What do you want to talk to me about?" tanya Irene sambil menatap serius ke Andre.


"The day after tomorrow, you are told to come to the police station to provide information about the deaths of Peter and Jessica."


" OK. In front of the house, there were lots of journalists asking for clarification regarding Peter's relationship with Jessica. They have been waiting since this morning. Do you want to meet them?" tanya Peter yang membalas tatapan serius ke Irene.


" All right, I'll meet them, but not now. Tell them to come back tomorrow at 10 : 00 a. m. Please set up a press conference at ten in the morning and invite them all."


"Ok."


"Andre, have you read the news in the paper about the deaths of Peter and Jessica?"


"Yeah, why?


"Do you believe in the contents and pictures in the news?"


" Umm ... when it comes to photos I believe, but regarding the content in the news, I don't believe it. The police or every journalist has the right to speculate about the death or murder of Peter and Jessica, but I don't believe their speculation."


" Why don't you believe it?" tanya Irene.


"Because I have my own opinion based on my intuition and feeling. If you will allow me to investigate Peter and Jessica's deaths, I will definitely do it."


"If you are police or state detective, I will definitely allow it."


"But I have a private detective acquaintance who is able to expose several major cases in this country. If you will allow me, I will definitely order him to solve the Peter and Jessica deaths."


"In my opinion, enough police and state detectives are investigating this case."


"Irene, do you believe the photos and news speculation?"


"Are you sure about the love Peter has for you? Do you feel Peter's love and affection for you? Do you feel how Peter treats you? I'm sure, you must feel it. And I'm sure Peter was framed in this case.


" Why are you sure Peter was framed?" tanya Irene.


" Before Peter went to the hotel, he told me that he asked Jessica to clarify the news about the photos of those who were holding hands so that you were sure of him. At that time, I was the one who told Jessica to bring Peter who was drunk because he was worried about your situation, who was being kidnapped by Julius to his hotel room. The next morning, I heard directly from Jessica myself that she wants to take Peter from you in various ways. And Peter told me that Jessica asked Peter to come to the hotel. So in my opinion, when Peter asked Jessica to clarify about the photos to you and the public, Jessica didn't want to do that in the end until a fight and a murder took place. Peter was killed by Jessica, then he made a scene as if they were finished making out after that Jessica committed suicide."


"But why would Jessica help Peter to take me away from Julius's house?" tanya Irene yang membuat pikiran jernihnya hilang karena rasa sedih dan kecewa berkecamuk di dirinya.


"Because to attract sympathetic from Peter so that Peter likes it again."


"Assalamu'alaikum." salam Rifky yang berada di ambang pintu ruang kerjanya Peter.


"Wa'alaikumsalam." balas Irene ke Rifky sambil menoleh ke posisinya Rifky.


"Boleh gw masuk Ren? "


"Silahkan masuk."


Tak lama kemudian, Rifky masuk kedalam ruangan untuk menghampiri mereka. Duduk di atas sofa yang berada di samping kiri Andre.


"Ren, elo baik - baik aja kan?" tanya Rifky yang mengkhawatirkan keadaan temannya.


"InsyaAllah, gw baik - baik aja. "


"Apakah nanti elo akan balik ke Indonesia? "


"Gw nggak tahu Ky."


"Ren, elo jangan percya sama isi berita yang menuliskan tentang kasus kematian suami elo dan Jessica."


Deg


"Kenapa Rifky tahu bahwa aku percaya dengan isi berita itu. Sedangkan aku belum mengungkapkan curahan hatiku kepada Rifki mengenai kasus pembunuhan Peter dan Jessica. Inikah yang dimaksud dengan tali persaudaraan yang sangat berempati kepada kondisi orang lain?" Irene membatin sambil menatap tajam bagaikan mata elang ke Rifky.


" Elo jangan bersu'udzon sama almarhum Peter. Gw yakin, Peter tidak akan membuat sehina itu. Elo harus yakin dengan rasa cinta Peter pada elo karena elo istri sahnya Peter. Gw yakin, orang yang sangat konsisten sama janji dia kepada Allah untuk selalu menjaga elo selamanya dan selalu konsisten untuk menjaga hatinya hanya untuk elo. Apa pun nanti hasil dari penyelidikan polisi, elo harus yakin sama Allah bahwa ini ujian dari Allah untuk menegur elo dan menaikan derajat iman elo, Allah tidak akan memberikan ujian kepada hambanya diluar batas hambanya. Dan elo harus percaya dengan almarhum suami elo. Sebaiknya elo lebih rajin lagi sholat sunnah untuk memantapkan hati elo dalam menjalankan takdir ini. " lanjut Rifky yang tahu akan tatapan Irene yang meminta penjelasan darinya dengan nada suara yang lembut namun tegas.


"Terima kasih atas wejangan elo Ky. InsyaAllah gw lebih rajin untuk sholat sunnah untuk memantapkan hati gw dalam menghadapi hidup ini."


"Ini adalah ujian terberat untuk diriku yang sangat menyayatkan hati merasakan rasa amat perih yang tak kasat mata sehingga aku tidak percaya dengan almarhum suamiku. Ya Allah kuatkanlah dan mantapkanlah diriku dalam menjalankan hidup ini untuk seterusnya." Irene membatin di dalam hatinya.