
Peter memandang kedua sahabatnya yang sedang menunggunya di depan pintu apartementnya. Dia berjalan cepat menghampiri kedua sahabatnya itu di lorong apartement Roni dan Nick sedang duduk bersila, menundukkan kepalanya dan menyadarkan badannya ke tembok.
"Assalamu'alaikum." salam Peter, sontak mereka berdua mendongakkan kepalanya.
"Wa'alaikumsalam." balas mereka berdua heran, tumben banget Peter memberi salam seperti itu ke mereka.
Peter memencet beberapa tombol untuk memasukkan passcode pada kunci pengamanan pintu apartementnya, lalu menekan handle pintu ke bawah untuk membuka pintu apartementnya.
Ceklek
Pintu terbuka lebar, Peter masuk ke dalam sambil memecat sakelar di tembok untuk menyalakan lampu ruang tamu apartementnya. Disusul Nick dan Roni yang berjalan masuk ke dalam apartementnya.
"Bro, muka elo kenapa? tanya Peter bingung sambil menduduki badannya di salah satu sofa yang kosong.
"Habis ditonjok ya?" tanya Nick sambil menduduki tubuhnya di samping kiri Roni.
"Iya." jawab Peter sambil duduk di sofa yang berhadapan dengan Nick dan Roni.
"Berani juga Irene nonjok elo sampai kayak gitu. " komen Roni sambil melihat fokus ke wajahnya Peter.
"Yang nonjok bukan Irene, tapi kakaknya." ucap Peter sambil menyentuh luka di pinggir bibirnya.
"Gila aja kalau Irene nonjok Peter sampai kayak gitu." samber Nick sambil menatap tajam ke lukanya Peter. "Udah elo obati belum?"
"Belum, biarin aja, anggap aja ini ganjaran buat gw karena udah melukai hatinya Irene. Eh Ron, ceritain soal yang Claudia yang datang ke rumah Irene sama orang suruhan bokap gw. "
"Dari bulan kemarin, bokap elo menyuruh Ale untuk memantau gerak - gerik elo dan mengawal elo dari jarak jauh. Bokap elo juga minta Ale memantau dan menjaga Irene dari jarak jauh dan bokap elo meminta Ale menjaga keamanan di sekitar apartement elo, kantor elo, rumah orang tuanya Irene dan kantornya Irene.
"Ale mantan kekasihnya Irene? "
"Iya bro. Dari hasil hasil penyelidikan mereka, Claudia datang ke sini dan kemarin datang ke rumah orang tuanya Irene. Boby tangan kanannya Ale, semalam nanya ke gw soal Claudia. Dan gw yakin, Claudia datang ke rumah orang tuanya Irene untuk membicarakan soal kehamilannya. Karena itu, tadi rencananya gw kasih tahu ke elo soal itu dan membahas cari solusi untuk menyelesaikan masalah elo dengan Claudia."
"Tapi rencana elo gagal karena elo kasih tahunnya telat. "
"Yah, gw pikir elo datang ke sananya malam. Elonya aja yang udah kegatelan pengen cepat - cepat ketemu sama Irene."
"Sekarang caranya untuk menyelesaikan masalah gw sama Claudia adalah mencari bukti bahwa anak yang ada di dalam perutnya Claudia bukan anak gw dan mencari bukti kalau gw dijebak sama Claudia. "
"Kenapa elo punya pikiran kalau elo dijebak oleh Claudia? "
"Karena waktu gw putusin hubungan asmara gw sama dia, dia nggak menerima itu dan dia terlalu obsesi sama gw. "
"Elo sadap aja nomor handphonenya dan elo sadap aja semua pembicaraan dia dibstudio apartementnya serta hasil penyadapan direkam." saran Nick.
"Boleh juga ide elo Nick, tapi alat penyadapnya beli dimana. "
"Hah, gw ada ide soal penyadapan. Ale punya alat penyadapan yang paling canggih. Elo minta tolong aja sama dia untuk menyadap nomor handphonenya dan semua pembicaraan di studio apartementnya Claudia."
"Bagus juga ide elo. Ron, gw minta nomor handphonenya Ale. Gw mau telepon dia. "
"Ale tidak mau sembarangan orang lain tahu nomor handphonenya. Biar gw dulu aja yang menyambungkan hubungan telepon ke handphonenya Boby. " kata Roni, lalu dia mengambil handphonenya di dalam saku sebelah kanan celananya dan menyentuh ikon hijau di layar handphonenya.
"Hallo bro, apa kabar? " sapa Roni.
"Baik, ada apa telepon gw? " tanya Boby.
"Elo sama bos Ale nggak? "
"Iya, kenapa? "
"Peter mau ngomong sama tuan muda Ale."
"Nanti gw telepon balik ke elo, gw ngomong dulu sama tuan muda Ale. "
"Baiklah bro. " kata Roni, lalu hubungan telepon itu mati seketika.
Roni menaruh handphonenya di atas meja ruang tamu apartementnya Peter. Dia menyadarkan badannya di penyangga sofa.
"Kok di matiin Ron? Gw kan mau ngomong ama dia. "
"Nanti mereka telepon balik." jawab Roni santai.
"Kapan Ron? Gw nggak bisa tenang kalau masalah ini belum bisa diselesaikan, gw takut hubungan gw ama Irene putus ditengah jalan dan tidak bisa melanjutkan ke jenjang pernikahan. "
"Nanti, sabar Peter. " ujar Roni yang masih santai.
"Bokap elo pengusaha sukses dan terkenal di Inggris? " tanya Nick
"Iya." ujar Peter.
"Tapi bokap elo kenal Ale ya? Atau... bokap elo ketua mafia juga?" tanya penasaran Roni.
"Ehmmm... iya, ketua mafia yang terkenal di benua Eropa. " perkataan Peter yang membuat Nick sedikit kaget.
"Gw nggak nyangka bokap elo jadi ketua mafia, setahu gw dia hanya pengusaha sukses dan terkenal dan dari tampangnya bokap elo, tidak memperlihatkan bahwa dia ketua mafia."
"Daddy selalu menutupi jati dirinya sebagai ketua mafia biar bisa ngelabuin musuhnya. Dia juga punya nama samaran di dunia gelapnya." penjelasan Peter
"Wah, gw boleh dong menjadi anggota mafia bokap elo."
"Boleh asalkan elo memenuhi kualifikasi persyaratan supaya bisa menjadi anggotan organisasi mafianya." ujar Peter.
"Kualifikasinya apa? " tanya Roni.
"Yang gw tahu, kualifikasi fisik seperti menguasai minimal dua macam ilmu bela diri, dan menguasai adu fisik sama manusia maupun sama binatang buas. Kualifikasi mental, harus berani mengambil resiko apapun termasuk harus kehilangan orang - orang yang kita cintai dan harus berpisah dari mereka. Kualifikasi intelektual harus mampu memecahkan semua masalah, mampu menguasai baca situasi, dan menguasai semua teknik yang dirancang. Kemampuan lainnya harus menguasai semua jenis senjata api, senjata tajam dan segala macam bom. Tak hanya itu, juga harus jago berenang, menyelam, berkuda dan berburu."
"Iya benar Nick." ucap Roni.
"Tapi bayarannya sangat mahal bro. " kata Peter.
"Berapa? "
"Setiap mampu menyelesaikan masalah dan menjaga keamanan bisa buat beli rumah di kawasan Kenningston London."
"Wow gede banget bayarannya." ujar Roni.
"Kenapa elo nggak ikutin jejak bokap elo? " tanya Nick.
"Elo berdua pasti juga tahu. " jawab Peter ambigu.
"Maksud elo apa? " tanya Roni.
"Elo nggak mau ikutan jejak bokap elo karena elo lebih tertarik untuk mencari nyokap elo yang pergi dari sisinya bokap elo yang hilang kerja dan kurang perhatian sama keluarga. " samber Nick.
"Nah itu alasan gw tidak mau menerusin jejak bokap gw. Tapi... mau nggak mau gw harus meneruskan jejak Daddy dengan meneruskan usahanya di perusahaan. "
"Apa elo juga mau meneruskan organisasi mafianya? " tanya Roni.
"Tidak, gw menolak keras untuk hal itu. "
"Terus siapa Meneruskannya? " tanya Roni.
"Mungkin Andre, adik angkat gw. "
Drrrtttt
Drrrtttt
Drrrtttt
Handphonenya Peter bergetar, kemudian dia mengambil handphonenya dari kantong sebelah kiri celana jinsnya.
"Nomor handphonenya siapa ini?" tanya bingung di dalam hatinya Peter, kemudian dia menyentuh ikon hijau di layar handphonenya.
"Selamat siang, hallo tuan Peter? How are you? "
"I am ok. Who are you?"
"Rogen."
"Ale, gw minta tolong bantuan elo untuk menyadap nomor handphone seseorang dan menyadap semua pembicaraan di dalam sebuah studio apartement seseorang. "
"Siapa target kamu? "
"Claudia. Gw yakin elo tahu dia, tapi elo belum kenal banget siapa dia yang sebenarnya. "
"Kenapa elo mau menyadap nomor handphonenya dan menyadap semua pembicaraan di dalam sebuah studio apartementnya dia? "
"Gw yakin, dia mau ngejebak gw supaya gw tidak jadi menikah dengan Irene. Karena itu gw mau mencari bukti bahwa dia sedang menjalankan rencana jebakan dia untuk gw. Salah satu untuk mencari bukti itu, dengan cara penyadapan nomor handphonenya dan penyadapan semua pembicaraan di dalam studio apartementnya."
"Baiklah. Berapa nomor handphonenya? "
"081712345678."
"Alamat apartementnya? "
"Apartement Alam Indah. Gedung J lantai 10 no. 6."
"Ok. Nanti gw kabari lagi selanjutnya. "
"Kalau bisa secepatnya elo mendapatkan bukti itu. "
"Wani piro. "
"Dua miliyar rupiah. "
"Hahaha, elo itu serius banget. "
"Hah!? Gw lagi nggak bercanda! " bentak Peter.
"Ok, tenang aja bro."
"Tolong kirimin nomor rekening elo? "
"Santai saja bro, tugas yang ini bayarannya gratis, demi kebahagiaan Irene." ucap Ale serius yang membuat Peter kesal.
"Demi kebahagiaan Irene, gw berani membayar elo segitu! umpat Peter.
"Ok, nanti gw kabari lagi." kata Ale, lalu panggilan itu terputus dan Peter menaruh handphonenya di atas meja tamunya.
"Gimana? " ucap Roni kepo.
"Dia mau membantu gw." jawab Peter.
"Baguslah." komen Nick.
"Maksud dia gratis demi kebahagiaan Irene itu apa? " tanya Peter dalam hati yang penasaran