
"Selamat sore tuan, nyonya dan tuan muda." sapa salah satu penjaga di depan pintu masuk salah satu apartement yang disewa oleh William.
"Sore Pak." balas Peter, Irene, dan Zayn dengan suara cadelnya.
"Kami mau bertemu dengan Daddy." balas Peter, lalu orang itu memecat beberapa tombol passcode pintu apartement tersebut.
Ceklek
Pintu terbuka lebar. Sekilas ruangan di dalam apartement hanya ada beberapa bodyguard, penjaga keamanan dan maid.
"Silahkan masuk." kata orang itu ramah sambil memegang handle pintu.
Kemudian Peter, Irene, dan Zayn masuk ke dalam apartement itu. Zayn melihat takjub ke sekeliling ruang tamu apartement itu.
"Silahkan duduk tuan, nyonya dan tuan muda. Saya panggilkan tuan besar dulu. " kata salah satu maid yang ada di ruang tamu.
"Iya terima kasih ya Mbak. " kata Irene ramah.
Mereka duduk berdampingan di sofa panjang. Sedangkan maid itu pergi ke suatu ruangan untuk memanggil tuan besar William.
"Ibu apartementnya Grandpa Supeman bagus banget." ujar Zayn yang masih melihat kanan kiri seisi apartement.
"Grandpa Superman? Siapa itu? " tanya Peter yang penasaran.
"Gyandpa yang ada si acaya nikahan Ummi ama Daddy. Kata Aunty Ia namanya Gyandpa Supeman soalnya miyip Supeman." jawab polos Zayn.
"Kan tadi pagi Ummi udah kasih tahu namanya bukan Grandpa Superman Zayn, tapi Grandpa William sayang. " ralat Irene.
"Biarin aja sayang." ucap Peter lembut.
"Aku nggak enak sama Daddy kalau Zayn panggil beliau dengan sebutan Grandpa Superman." ucap Irene tegas.
"Nggak apa - apa sayang, Daddy pasti ngertiin kok. "
"Tapi tetap aja aku nggak enak. " kata Irene kesal sambil cemberut lucu.
"Kamu kalau begitu lucu pengen aku cium. " goda Peter sambil menatap usil ke Irene.
"Inget ada Zayn dan ada orang - orang di sini, jangan macam - macam." gerutu Irene.
"Ok nyonya besar." kata Peter yang masih usil.
"Ummi di sini oyang - oyang man in black nya sedikit ya nggak sebanyak kayak kemayin waktu acaya nikahan Ummi sama Daddy." kata Zayn sambil melihat beberapa bodyguard yang memakai setelan jas hitam dengan kacamata hitam dan penjaga keamanan yang memakai baju safari berwarna hitam.
"Hah? Orang - orang man in black? " tanya Peter heran.
"Iya Daddy, mereka sepertinya oyang - oyang man in black yang suka menangkap monstey jahat. " jawab Zayn polos.
"Sepertinya Zayn kamu kebanyakan nonton film nich." komentar Peter.
"Iya, dia sering diajak nonton film - film sama Ira. Jadi imajinasinya kemana - mana." samber Irene berkomentar.
"Hahaha, nggak apa - apa sayang. Kalau anak punya imajinasinya tinggi berarti orangnya kreatif." ucap Peter. "Kalau di acara nikahan Ummi dan Daddy orang - orang man in black nya ada berapa?"
"Ehmmm.... ada seyibu lima yatus oyang. " jawab Zayn sambil mengingat - ingat.
"Wihhh... hebat banget Zayn menghitungnya. " puji Peter. "Siapa yang ngajarin Zayn berhitung?" lanjut Peter.
"Ummi ama guyu Zayn di sekolah. "
"Pasti kalau hitungan bilangan besar kamu yang ajarin ya Sayang? " tanya Peter sambil menatap lembut ke Irene.
"Iya. Bahkan dia sekarang udah bisa penjumlahan dasar. Tadinya pengen aku masukin ke kumon, tapi udah keburu diajak tinggal di Inggris sama kamu."
"Ooo... yah udah nanti Zayn les privat aja mata pelajaran matematikanya." ucap Peter. "Kalau sekarang ada berapa orang - orang man in blacknya?"
"Ada sepuluh termasuk dia oyang yang ada di depan pintu tadi." jawab Zayn semangat.
"Good job boy. I like it. Nanti kamar Zayn yang ada di rumah London seperti ada di luar angkasa." ujar Peter.
"Wah asyik dong, nanti Zayn beasa di luay angkasa." ucap Zayn senang. "Nanti kalau kita udah sampai di umah London, Zayn tiduynya sama Ummi dan Daddy? "
"Tidak sayang, Zayn tidurnya sendiri. Kan Zayn anak pintar yang punya cita - cita jadi astronot dan supaya Zayn bisa punya adik - adik yang lucu seperti adik Zia. Zayn mau punya adik kan? " kata Peter.
"Mau banget Daddy, biay Zayn ada temannya." jawab Zayn senang.
"Berarti mulai hari ini aja Zayn tidurnya sendiri supaya Zayn punya adik yang lucu dan karena Zayn anak pintar. Ok anak Daddy yang pintar?" ujar Peter menyakinkan.
Ok Daddy. " kata Zayn antusias.
"Ekhem." deheman Andre yang membuyarkan percakapan di antara Irene, Zayn dan Peter sambil berjalan menghampiri mereka.
"Good night my boy. " kata Andre ramah.
"Hah? Uncle Tom Cus? Am I misheard?" tanya Peter ke Andre.
"No, you did not misheard." jawab Andre.
"Good night Gyandpa Supeyman." sapa Zayn ceria sambil beranjak dari sofa, lalu berlari kecil menghampiri Pak William.
"Good night my grandson." balas William ramah kemudian Zayn menyalim tangan kanannya Pak William. "Good boy. " ujar Pak William ramah sambil mengusap lembut puncak Zayn.
Kemudian Peter dan Irene beranjak berdiri dari sofa dan berjalan pelan ke Pak William. Lalu mereka menyalim Pak William secara bergantian.
"You please sit down." kata Pak William ramah.
Lalu Irene, Zayn, dan Peter duduk di sofa panjang sedangkan Pak William duduk di sofa tunggal di hadapan Peter dan Andre duduk di sofa tunggal di hadapan Zayn.
"Ternyata Daddy tidak mempermasalahkan mengenai nama panggilan dari Zayn. " kata hati Irene sambil mendudukkan badannya.
"Good night everybody. " sapa Pak William ramah setelah duduk di atas sofa.
"Good night Dad. " balas Irene dan Peter kompak.
"How are you today?" tanya basa basi Pak William.
"Alhamdulillah, we are all good Dad." jawab Peter sebagai perwakilannya.
"Have you finished packing all the things you want to carry?" tanya Pak William.
"Already Dad." jawab Irene.
"Are you ready to go to England tomorrow with me and others?" tanya Pak William ramah ke Zayn.
"Ehm.... " Kata Zayn sambil menengok ke Irene.
"Yes, I ready." jawab Irene sebagai perwakilan jawabannya Zayn. "Sorry, He doesn't speak English yet." lanjut Irene.
"It's ok. Later he will have to study English diligently." ujar Pak William.
"Andre, have you finished completing your citizenship papers for Zayn and Irene?" tanya Peter ke Andre.
"Already completed. The day after tomorrow Zayn and Irene have become British citizens." jawab Andre.
"Have you also finished taking care of Zayn's school and our house in Kenningston, London and taking care of my marriage certificate with Irene in England? " tanya Peter.
"All your affairs, Irene and Zayn in the UK are finished." jawab Andre.
"Excuse me. Sir, Mr. Rogen wants to meet you. Is he allowed to enter?" tanya salah satu penjaga keamanan secara tiba - tiba sambil membungkukkan badannya.
"Yes, tell me to come in." titah Pak William.
"Ok Sir." kata salah satu satpam pribadi, lalu dia pergi meninggalkan mereka.
"Daddy, do you still have business with Rogen?" tanya Peter ke Pak William.
"Not. I invited him to have dinner with us here." jawab Pak William. "You don't like him having dinner with us here?"
"Yes." jawab Peter datar.
"Good night Mister William, Mister Andre, Mister Peter, Miss Irene and Zayn." sapa Rogen setelah menghampiri mereka.
"Good night too." balas mereka kompak.
"Hallo Zayn. " sapa Rogen ramah sambil memandang Zayn.
"Hallo juga Om Juen Kuk." balas Zayn polos sambil beranjak berdiri, lalu dia berjalan ke Rogen untuk menyalim tangan kanannya Rogen.
"Good boy. " puji Rogen sambil mengusap pelan puncak kepalanya Zayn.
"Panggilan yang kocak." komentar Peter.
"Biarkan saja Zayn memanggil gw dengan begitu." ujar Rogen santai.
"Let's have dinner now!" ajak Pak William.
Irene dan Peter beranjak berdiri dari sofa panjang. Kemudian mereka berjalan santai ke meja makan yang tidak jauh dari ruang tamu.
"Kenapa Daddy tidak kaget ketika Zayn sudah kenal dekat sama Ale? Apakah Daddy tahu tentang hubungan aku sama Ale? " rentetan pertanyaan Irene yang bersarang di pikirannya sambil duduk di kursi makan.