YOU AND ME

YOU AND ME
Malam ini



Suasana di restauran Al - Indonesia milik Reza di malam ini tidak terlalu ramai hanya ada dua puluhan pengunjung untuk mencicipin aneka menu dari restauran ini termasuk Irene. Irene sengaja datang ke restauran ini untuk memakan aneka rujak khas dari Indonesia karena tadi setelah minum susu buatan mertuanya, dia ngidam rujak.


"Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillahilladzi atho - amanaa wa saqoonaa wa ja'alnaa minal muslimiin." ucap doa Irene setelah menghabiskan lima porsi rujak buah, namun sambelnya tidak pedas sesuai keinginan Irene.


"Assalamu'alaikum Irene." salam Reza ramah yang mengagetkan Irene, sontak Irene menoleh ke Reza.


Wa'alaikumsalam Reza. " balas Irene sambil menatap ke Reza yang berada di samping kirinya.


"Boleh aku duduk." Reza meminta izin.


"Ya elah Za, ini kan restauran elo, ngapain juga elo minta izin ke gw. Udah duduk aja. "


"Nanti ada yang marah nggak? "


"Ehmmm... kayaknya nggak ada dech. "


"Yakin? "


"Gw yakin. Laki gw sekarang orangnya nggak cemburuan asalkan ada batasannya. Kalau duduk si dekat gw, gw yakin dia nggak marah kok."


"Ok." Reza menarik kursi yang berada di depan Irene, lalu duduk dan memandang teduh ke Irene.


"Reza, rujak di restauran elo sumpah enak banget, gw aja sampai nambah empat porsi, ditambah lagi ada buah - buahan yang ingin gw makan sekarang seperti mangga muda dan buah kedondong.


"Ren, cerewet kamu belum berubah." ujar Reza yang membuat Irene mengernyitkan keningnya. "Aku kangen sama kamu yang bawel. "


"Udahlah Za, gw udah nikah, nggak usah elo kangenin, lagipula kalau kangen ama bini orang hukumnya dosa tau. Mendingan elo buka hati elo buat wanita lain. " celetuk Irene.


"Gw udah mencobanya, tapi tidak berhasil. "


" Coba aja lagi, jangan pantang menyerah Za. Elo kan ganteng, pasti banyak cewek yang suka sama elo. "


"Iya memang banyak cewek yang suka sama gw, tapi gw nggak bisa membalasnya walaupun gw udah berusaha sekeras mungkin."


"Usaha lagi Za! "


"Iya, gw akan lakukan itu lagi. By the way, ngapain kamu makan rujak malam - malam begini? Terus suami kamu ke mana?"


"Gw lagi ngidam rujak Za, laki gw pergi ke Amerika Serikat ngurusin bisnisnya."


"Kamu hamil?" tanya Reza kaget.


"Iya gw hamil."


"Selamat ya Ren. "


"Terima kasih Za. "


"Suami kamu tahu kalau kamu hamil? "


"Ya tahulah, masa kagak sich, malah dia orang pertama yang gw kasih tahu tentang kehamilan gw ini."


"Sebagai hadiah pernikahan dan hadiah atas kehamilan elo mulai sekarang sampai tiga puluh hari lagi semua makanan yang elo makan di sini semuanya gratis."


"Wah! Elo serius Za?" tanya Irene senang yang menggemaskan membuat hati Reza tambah bergemetar.


"Iya aku serius, bahkan tiga rius hehehe."


"Ahhh... yang benar dong Za! "


"Iya aku serius, sumpah. "


"Thank you Za."


"Sama - sama Ren. "


"Yes, madam." kata bodyguardnya itu, lalu dia berjalan ke depan restauran untuk memberi tahu supir pribadinya Irene.


"Za, gw pamit pulang dulu ya. Thank you so much atas traktirannya." kata Irene sambil beranjak berdiri dari kursinya.


"You're welcome Ren. Hati - hati di jalan ya. " balas Reza sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Iya Za. "


Kemudian Irene berjalan ke wastafel untuk cuci tangannya. Dia membuka kran air lalu mencuci tangannya dan mematikan kran airnya setelah dia selesai mencuci tangannya. Kemudian dia berjalan keluar dari restauran itu.


Di luar pintu restauran itu, berjejer ada delapan bodyguard yang melindungi Irene saat itu. Terlihat salah satu bodyguardnya Irene membuka pintu penumpang mobil sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya untuk mempersilahkan Irene masuk ke dalam mobil.


Irene masuk ke dalam mobil itu yang diikuti oleh bodyguard Irene yang berkelamin perempuan. Bodyguardnya itu bernama Alice, dia mahir dalam lima bahasa asing, termasuk bahasa Indonesia.


"Nona setelah ini kita langsung pulang, tidak baik bermain terlalu lama di luar mansion." ujar Alice kaku sambil menatap tajam ke Irene setelah mereka sudah duduk di dalam mobil.


"Si Alice selalu membuatku tegang, padahal kan aku keluar rumah untuk merealisasikan ngidamku, daripada nanti aku ileran." Irene membatin sambil tersenyum paksa ke Alice.


Kemudian mobil bergerak jalan menuju mansion milik Irene. Malam ini Irene dikawal penuh sampai ada satu mobil yang mengawal mobilnya Irene. Sebenarnya Irene tidak setuju dengan adanya pengawal yang seperti ini, karena menurut Irene, ini terlalu berlebihan.


Irene melihat pemandangan yang terlukis indah dari balik jendela. Malam ini langit masih dengan gagahnya. menampakkan bintang - bintang bertaburan dengan formasi cantiknya dan rembulan dengan bentuk bulat sempurna mengeluarkan sinarnya.


Keindahan alam itu mengiringi waktu yang terus bergerak cepat. Begitu pun dengan delapan roda dari dua mobil milik Peter yang masih berputar melintasi jalanan yang cukup ramai. Ketika melewati jalanan yang sedikit sunyi, tiba - tiba


Braakkk...!


Ckiiittt... Pak Rocky mengerem mendadak. Lalu dia meminggirkan mobil itu ke tepi jalanan.


"Shit!" umpat Rocky kesal sambil memukul setir mobil sambil melihat ada sebuah mobil Jeep yang menabrak dari belakang mobil itu.


"Looks like they are not from street thugs or petty criminals." kata hati Rocky yang masih melihat mobil belakang melalui kaca spion.


"The front car also stopped Roc." ujar Alice sambil melihat salah satu mobil milik Peter yang ikut berhenti juga.


"What is wrong? " tanya Irene sedikit panik dan bingung.


"Calm madam, I'll contact Mr. Andre. We have to stay calm and have to be in the car." ucap Alice yang melihat gelagat aneh dan mencurigakan datang dari mobil Jeep hitam yang tadi menabrak mobil Peter dari belakang.


Alice mengeluarkan ponselnya dari dalam salah satu jas hitamnya. Kemudian dia menyentuh beberapa ikon di layar handphonenya untuk menghubungi Andre. Sesaat Alice menggelengkan kepalanya karena panggilan telepon ke nomor handphonenya Andre tidak bisa terhubung setelah memutuskan panggilan ke ponselnya Andre. Lalu Alice manyimpan ponselnya itu ke dalam salah satu saku jasnya.


"I tried to call Andre." kata salah satu bodyguardnya Irene yang sedang duduk di depan samping kanan Pak Rocky yang bernama Devan.


Orang itu langsung mengambil handphonenya dari salah satu kantung dalam jasnya dan dengan sigap memecat tombol angkat di keyboard ponselnya untuk menghubungi Andre.


"Still can't be contacted." kata Devan data sambil memutuskan panggilannya dan menyimpan ponselnya ke tempat semula.


"I tried to contact Steve to ask about the situation in the car." ucap Alice sambil menyentuh beberapa ikon di layar handphonenya untuk menghubungi Steve yang berada di dalam mobil depan mereka.


"Still can't be contacted. " kata Alice kecewa.


Braakkk...


Mobil Jeep di belakang mobil mereka berulah lagi dan menabrakan diri untuk yang kedua kali dengan kekuatan yang lebih besar. Tubuh Alice dan Irene sampai terpelanting ke depan.


"Why don't we come down Mr. Rocky? We have the right to reprimand them. This is too much." ucap Irene kesal.


"Isn't it wrong, Madam? Do you want to kill yourself?" batin Rocky.


Rocky hanya diam, dia tidak menanggapi ucapan nyonya mudanya. Jari - jarinya masih cekatan menyentuh beberapa ikon di layar handphonenya untuk menghubungi seseorang.


"Who are you calling Rocky" tanya Alice sambil melihat Rocky yang sedang menempelkan benda pipih miliknya si telinga kanannya.