YOU AND ME

YOU AND ME
Merajut Kembali



Tok... tok... tok...


Assalamu'alaikum." salam pak Ryan yang berada di balik pintu kamar.


"Wa'alaikumsalam. Masuk aja Pak. " kata Irene sambil menoleh ke arah pintu.


Ceklek... pintu kamar terbuka memperlihatkan sosok pak Ryan. Kemudian pak Ryan bersama empat bodyguardnya berjalan pelan memasuki kamarnya Irene.


"Alhamdulillah, dia bawa keempat bodyguardnya." kata Irene di dalam hati.


"Bagaimana keadaan kamu?" tanya pak Ryan sambil berdiri di samping kanan Irene.


"Alhamdulillah baik." jawab Irene.


"Ini ada buah - buahan untuk kamu." sambil mengangkat satu plastik besar.


"Maaf Pak, tolong taruh di atas nakas ini." kata Irene sambil melirik ke sebuah nakas yang berada di sebelah kanan ranjangnya, lalu pak Ryan menaruh satu plastik itu ke atas nakas yang berada di samping kanan ranjangnya Irene.


"Kapan kamu pulang dari sini?" tanya pak Ryan sambil menduduki badannya di atas kursi samping kanan ranjangnya Irene.


"InsyaAllah besok pulang. " kata Irene lembut.


"Kamu sakit apa Irene?" tanya pak Peter sambil duduk.


"Saya sakit tipes Pak."


"Maaf ya soal shella yang telah melabrak kamu karena salah paham tentang hubungan kita sekarang."


"Iya ga apa - apa Pak."


"Waktu hari senin aku sudah mengklarifikasi soal masalah foto kita yang berada di lokasi syuting itu. Saya merasa tidak enak sama kamu Irene."


"Terima kasih atas klarifikasi itu. Saya tidak mau ada lagi fitnah tentang diriku dan tentang Bapak. Semoga tidak ada lagi gosip - gosip miring tentang diriku dan Bapak. Apakah setelah klarifikasi itu masih ada gosip miring tentang kita? "


"Sudah tidak ada. Kamu tenang aja ya, tidak akan ada gosip miring lagi tentang kita berdua."


"Iya Pak. "


"Kamu bersama teman - teman kamu sedang merintis perusahaan konstruksi residential?"


"Iya Pak. Bapak tahu dari siapa?"


"Dari Oxy. "


"Bapak kenal Oxy dari siapa?"


"Dari adik saya yang bernama Rena. Oxy lagi pendekatan sama adik saya. Kamu udah lama kenal Oxy?"


"Udah sangat lama Pak. Kami sahabatan sejak sekolah menengah pertama."


"Apakah Oxy orangnya baik? "


"Sangat baik Pak, dia orangnya nggak neko - neko."


"Apakah ayahnya Oxy punya rumah sakit?"


"Iya Pak."


"Apakah ayahnya seorang dokter?"


"Iya ayahnya Oxy seorang dokter, ibu, kakak dan adiknya seorang dokter kecuali dia."


"Sudah lama kalian membangun perusahaan itu?"


"Lumayan lama, hampir dua tahun kami merintis."


"Kamu di perusahaan itu sebagai pemegang saham? "


"Iya Pak, modal perusahaan itu pakai sistem patungan. Saya juga ikut membantu menghitung keuangan perusahaan itu. "


"Perusahaan kalian pernah bekerja sama sama siapa saja?"


"Sama perusahaan Wijaya Corp dan ayahnya Oxy untuk membangun rumah sakitnya itu."


"Perusahaan kalian bekerja sama dengan Wijaya Corp dalam pembangunan proyek apa? "


"Proyek pembangunan perumahan. "


"Apa nama perumahannya? "


"Garden Paradise."


"Perusahaan propertiku ingin memiliki proyek pembangunan apartement dan mall di daerah Bekasi dan aku tertarik dengan proposal dari perusahaan kalian untuk menangani proyek besar itu. Apakah perusahaan kalian sanggup menangani proyek besar itu?"


"Alhamdulillah jika Bapak tertarik dengan proposal perusahaan kami yang kami ajukan ke perusahaan Bapak. InsyaAllah kami sanggup menangani proyek besar itu."


"Ok, besok saya akan acc proposal kalian dan membahas kelanjutan proyek ini sama Oxy."


"Baiklah. Terima kasih atas kerja samanya Pak. "


"Irene bolehkah saya menanyakan sesuatu tentang hal pribadi?"


"Boleh. Bapak mau nanya apa? "


"Benarkah kamu mau menikah? "


"Iya Pak. " kata Irene sambil menundukkan kepalanya.


"Berarti saya telat melamar kamu. "


"Ehmmm... namanya juga nggak jodoh Pak. "


"Kapan kamu menikah? "


"Rencananya dua bulan lagi."


"Kamu menikah sama orang Inggris? "


"Iya Pak. "


"Nanti kamu resign dari perusahaanku?"


"Iya Pak."


"Kamu akan pindah ke Inggris?"


"Iya Pak. "


"Peter Pattinson."


"Apakah calon mertua kamu William Pattinson? "


"Iya Pak. "


"Kamu beruntung sekali akan menikah dengan Peter. " ujar pak Ryan.


"Assalamu'alaikum." salam Peter dan Ira kompak sambil berdiri di ambang pintu.


"Wa'alaikumsalam." jawab pak Ryan dan Irene serempak sambil menoleh ke Peter dan Ira.


"Siapa itu Teh? Meni ganteng pisan, ini mah jiplakan Leonardo Di Caprio." kata Ira kagum ketika melihat Pak Ryan sambil berjalan menuju Irene.


"Mereka siapa Ren? tanya Peter sambil berjalan menghampiri Irene.


" Perkenalkan saya Ryan Jayadi." kata Ryan sambil berdiri dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Peter yang berada di samping kanannya.


"Saya Peter Pattinson. " kata Peter sambil menerima uluran tangannya Pak Ryan.


"Kalau saya Ira." samber Ire sambil menyikut pelan lengannya Peter supaya menggeserkan tubuhnya.


Kemudian mereka melepaskan tangannya dan Peter menggeserkan badannya ke samping kanan. Sedangkan Ira langsung nyelip di antara Pak Ryan dan Peter. Sontak Pak Ryan dan Ira langsung berjabat tangan.


"Saya Ryan Jayadi." kata Pak Ryan sambil berjabat tangan dengan Ira, kemudian mereka melepaskan tangan mereka masing - masing.


"Teh ini siapa kamu? "


"Dia presiden direktur perusahaan tempat Teteh kerja. "


"Wow, anda presiden direktur ya, yang sempat digosipin sebagai kekasihnya Teteh gara - gara foto yang memperlihatkan Bapak sedang menggendong Teteh saya waktu di lokasi syuting iklan." ujar Ira keceplosan yang membuat Irene geram.


"Ya ampun Ira, kenapa ngomong seperti itu? kata hati Irene sambil menatap ke Ira dengan membulatkan sempurna matanya.


"Ya ampun aku keceplosan, maaf ya teh." ujar Ira yang merasa dipelototi oleh Irene sambil mengagumkan kedua telapak tangan.


"Digendong? Apa maksudnya? " tanya Peter bingung sambil menatap tajam ke Pak Ryan.


"Waktu itu Irene mau jatuh karena pusing, lalu saya tolong dan membopong dia sampai ke ruang ganti yang ada sifatnya biar dia istirahat dulu." penjelasan Pak Ryan.


"Ooo... begitu ceritanya. Saya calon suaminya Irene." kata Peter lembut.


"Saya sudah tahu."


"Oh baguslah kalau begitu. Pasti Irene telah memberi tahu anda tentang saya." ujar Peter.


"Saya pamit pulang." kata Pak Ryan sambil menoleh ke Irene.


"Iya Pak. " kata Irene lembut, kemudian dia menggeserkan kursi ke kiri dan berjalan keluar kamar yang diikuti oleh ke empat bodyguardnya.


"Teteh ke mana Mang Ujang? " kata Ira sambil menaruh satu kantong plastik besar di atas nakas di sebelah kanan ranjang.


"Lagi ambil hasil lab pemeriksaan darah Teteh."


"Presiden direktur perusahaan tempat Teteh kerja masih muda. boleh dong pendekatan. " kata Ira bercanda.


"Ngaco kamu, jarak usia kamu sama dia terpaut empat belas tahun."


" Lah biarin, syirik aja. Syirik tanda tak mampu. " ledek Ira.


"Cemilan dari rumah sakit udah habis kamu makan?" tanya Peter.


"Udah."


"Teteh besok jadi pulang dari sini?"


"Tergantung hasil labnya. "


"Teteh Ira izin ke kamar mandi dulu ya. "


"Tunggu Mang Ujang dulu. "


"Ah Teteh, udah kebelet nich, udah di ujung tanduk. " kata Ira sambil merapatkan pahanya.


"Ya udah, jangan lama - lama ya. "


"Iya." kata sambil berlari kecil ke kamar mandi yang berada di dalam kamar.


"Irene... . " kata Peter lembut sambil menatap serius ke Irene.


"Kenapa? "


"Boleh aku bilang sekarang? "


"Bilang apa? "


"Irene... I love you. "


"Kamu kayak anak abg yang sok tahu tentang cinta. "


"Ehmmm... salah lagi dech. "


"Seharusnya kamu ngucapin kalau kita udah nikah. "


"Habis udah nggak tahan untuk mengungkapkan perasaan aku. " kata Peter lembut dengan tatapan mata yang berbinar.


"Ehemm... ciyeee ... lagi ayang - ayangan nich... mentang - mentang yang sudah merajut kembali hubungan asmara ciyee ciyee. " ledek Ira setelah kembali dari kamar mandi.


"Tuch gara - gara kamu ngomong gitu, kita jadi bahan ledekan Ira, aku jadi malu. " kata Irene sambil menundukkan kepalanya.


"Iya - iya, aku minta maaf dech. "


"Oh merajut kembali kisah cinta kita berdua... " ledek Ira.


Dukkk


"Awww! Kakiku kesandung meja." teriak Ira sambil memegang ujung jari jempolnya.


"Kualat tuch sama Teteh. " ujar Irene sedikit kesal.