YOU AND ME

YOU AND ME
Bab 23 ~ Beach



Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, akhirnya Aby dan Daren tiba di salah satu pantai tercantik di Florida. Aby membuka pintu, lalu menghidup udara di pantai itu dengan dalam. Ketenangan langsung menyeruak kedalam dirinya. Sangat menenangkan.


Tanpa menghiraukan Daren yang sudah berbaik hati mengajaknya ke sini, Aby langsung berjalan begitu saja menyusuri pantai, meninggalkan Daren yang baru saja membuka pintu mobilnya. Daren yang melihat kelakuan Aby hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia juga ikut menyusuri pantai, berjalan di belakang Aby.


Tak lupa ia mengabadikan pemandangan pantai dengan kamera yang sengaja ia bawa. Sejak dulu Dare  memang suka memotret banyak hal. Entah pemandangan alam, benda ataupun makhluk hidup. Kini kameranya menangkap sosok Aby. Lalu--


Cekrek


Ia pandangi hasil jepretan fotonya. Tak ayal, mengembanglah senyum Daren. Entah sudah berapa lama ia tak melihat senyum Aby yang begitu bahagia. Aby yang dulu telah berubah. Kini Aby yang ia kenal tak seceria dan seterbuka dulu. Dulu, entah penting atau tidak Aby pasti akan bercerita banyak hal kepadanya. Tapi sepertinya waktu telah mengubah segalanya. Dan jarak mengikis hubungan mereka yang dahulu dekat.


"Aby!" Teriak Daren seraya mengejar Aby.


Aby tak menghiraukan panggilan Daren, ia tengah asyik melihat panorama laut yang sempurna dengan langit cerah yang tak berawan. Ketika tengah berjalan, tiba-tiba tubuh Aby terasa melayang. Dan benar saja, badannya di angkat oleh Daren lalu dibawa lari.


"Turunkan aku!" Pinta Aby menolak untuk di gendong. Aby terus berontak. Tapi Daren tak mengindahkan permintaan Aby. Daren justru membawanya masuk ke air laut.


"Nikmati saja dulu! Lupakan semua luka yang kau punya, meski hanya sehari kau harus bahagia!" Ujar Daren yang membuat Aby berpikir bahwa itu benar. Dirinya juga berhak bahagia. Baiklah untuk sesaat Aby akan melupakan hal-hal yang membuat hatinya menangis.


"Aaaa..." Teriak Aby kala Daren melemparkan tubuhnya ke dalam air laut. Kini seluruh pakaiannya basah kuyup karena terendam air. Aby tak akan diam saja! Tak mau membiarkan Daren yang bajunya masih kering.


Aby akhirnya mengejar Daren yang sudah duluan keluar dari air laut. Ia berlari menjauh, karena tahu akal licik seorang Aby yang akan balas dendam untuk membasahi tubuhnya. Daren tak akan membiarkan itu terjadi.


Keduanya saling kejar-mengejar. Beruntunglah suasana pantai tak terlalu padat dan ramai. Mungkin karena bukan weekend jadi jarang yang pergi ke pantai. Aby harus mengakui bahwa dirinya sulit untuk mengejar Daren karena ya..


Daren adalah pemenang lomba lari waktu duduk di bangku sekolah menengah atas. Jadi tak heran larinya sulit untuk di imbangi oleh Aby yang hanya bisa lari ala kadarnya. Sekarang saja Aby sudah sangat kelelahan, ia membaringkan badannya di atas pasir. Tak peduli pasir-pasir itu akan menempel ke seluruh tubuhnya yang basah. Ia pandangi langit yang terbentang cerah. Aby pun tersenyum.


"Apa kau sudah menyerah Abygail?" Tiba-tiba saja Daren sudah ikut merebahkan badannya di samping Aby dengan menutup kedua matanya.


"Sudahlah Daren, aku lelah me gejarmu! Kau sebagai laki-laki tak mau mengalah!" Ucap Aby yang sudah tak peduli lagi tentang balas dendam untuk menyebutkan Daren ke laut.


"Kau masih tak berubah, ya? Masih lemah seperti dulu!" Daren menerawang masa lalu. Memang sejak dulu Aby selalu lemah dalam banyak hal. Entah olahraga maupun hubungan. Tapi harus diakui Aby selalu menang dalam hal akademik. Aby selalu mendapatkan nilai terbaik di sekolahnya.


"Aku kira kau sudah tak mau peduli kepadaku lagi seperti dulu. Ternyata sekarang kau jauh lebih bawel daripada kau waktu kecil," ucap Aby kepada Daren tanpa melirik ke arah lawan bicaranya.


Daren tersenyum, "awalnya aku kira bisa untuk bersikap dingin kepadamu, ternyata semua gagal ketika bertemu langsung denganmu. Terlebih saat melihatmu menangis, aku tidak bisa melihat wajah jelekmu setelah menangis."


Aby yang mendengar ejekan dari Daren langsung memukul lengannya, "dulu kau bilang aku tetap cantik di kondisi apapun."


"Sekarang berbeda, kau jelek! Apalagi sehabis menangis, tambah jelek! Matamu merah dan kantong matamu hitam seperti hantu. Belum lagi hidungmu juga merah seperti badut! Sangat menakutkan." Ledek Daren.


Aby langsung mengubah posisinya menjadi duduk, "bukankah seharusnya kau menghiburku?"


"Aku sedang menghiburmu," jawab Daren yang tidak membuat Aby puas. Ternyata Daren tidak pernah berubah. Masih sering membuatnya kesal.


Aby membuang mukanya. Alih-alih marah, ia tersenyum mendengar pujian Daren. Meski Aby tahu ucapan seperti itu sering ia dengar dari para laki-laki yang berusaha mendekatinya, tapi berbeda dengan Daren. Entahlah, meski sepele, pujian dari Daren sering membuatnya tersenyum kala mendengarnya. Mungkin karena Daren adalah cinta monyetnya.


"Kau ingin makan sesuatu?" Tanya Daren yang tiba-tiba merasa lapar karena melihat orang di sekitarnya memakan makanan.


Daren memang tidak makan sejak pagi tadi. Ia sudah ditawari oleh Shopie untuk makan bersama di rumahnya, tapi Daren menolak dengan alasan sedang diet. Padahal badannya sudah bagus, itu hanya alasan saja agar Shopie tidak memaksanya untuk makan. Padahal dia kelaparan. Ia terlalu bersemangat untuk mengajak Aby jalan-jalan jadi tidak ingin berlama-lama untuk makan. Sudah lama mereka tidak jalan-jalan berdua seperti sekarang, jadi ia tidak ingin membuang waktu.


"Aku tidak lapar, tapi sedikit haus," jawab Aby yang meneguk ludahnya kala melihat gadis yang duduk tak jauh darinya tengah menyeruput kelapa mudanya.


"Baiklah, ayo kita ke restoran itu!" Daren menunjuk restoran yang tak jauh dari tempat mereka rebahan.


Aby pun menyetujui ajakan Daren karena ia sepertinya kehausan. Mungkin efek kejar-kejaran dengan Daren. Dan karena langit sedang cerah, matahari pun bersinar dengan terik jadi tidak heran jika Aby kehausan. Akhirnya mereka menuju ke restoran itu.


"Kau ingin pesan apa?" Tanya Daren ketika mereka sudah duduk di salah satu kursi di dalam restoran.


"Eumm..." Aby mengetukkan telunjuknya di dagu seraya berpikir.


Akhirnya Aby memutuskan untuk memesan, "aku mau kerang goreng dan satu s*ex on the beach."


"Hey ini masih siang dan kau mau minum alkohol?" Daren benar-benar tak habis pikir. Dan pesanan Aby memang tidak serasi sekali.


Aby memutar bola matanya malas, bosan dengan Daren yang mengomel sedari pagi, "kau bilang aku harus melupakan semua luka yang aku punya? Lalu kenapa kau melarangku untuk minum alkohol?"


"Aku tak melarangmu, hanya mengingatkan ini masih siang, dan sangat tidak seru untuk mabuk-mabukan." Sangkal Daren. Padahal memang Daren ingin melarang Aby. Tapi ia tidak ingin terlalu terlihat.


"Terserah aku. Kau pesanlah pesananmu. Lagi pula jika aku mabuk kan ada kau yang bisa membawaku pulang ke rumah Gramma." Ujar Aby enteng. Sangat percaya diri sekali bahwa Daren mau bersusah payah membawa Aby pulang dengan keadaan mabuk. Meski pada kenyataannya memang tidak akan tega Daren meninggalkan Aby sendiri terlebih ketika mabuk.


"Terserah kau saja lah," ucap Daren menyerah. Percuma saja ia melarang Aby, karena pasti tidak akan bisa. Aby tipikal orang yang keras kepala, jadi Daren hanya bisa mengalah.


Pelayan yang sedari tadi menunggu untuk menulis pesanan mereka hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal dengan canggung. Ingin bertanya takut di bilang tidak sabaran. Tapi jika hanya diam saja sepertinya Aby dan Daren tidak akan sadar-sadar jika ada orang lain yang tengah menunggu keputusan mereka akan memesan apa.


"Baiklah, kerang goreng satu, kepiting biru kukus satu, s*ex on the beach satu dan lime juice satu." Akhirnya Daren menyebutkan pesanannya.


Pelayan itu menghela napas lega, akhirnya ia bisa pergi dari hadapan dua insan yang tengah bertengkar itu.


"Baik, tunggu sebentar," ujar pelayan itu setelah menulis lalu beranjak pergi dari hadapan Daren dan Aby.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Next.