
Tiba di rumah Shopie, Daren menidurkan Aby di tempat tidurnya. Dan kebetulan sekali Shopie dan Ronie tengah pergi entah kemana. Daren hanya di beri pesan bahwa kunci rumah berada bawah pot bunga yang ada di depan rumah. Tapi yasudahlah. Lagi pula Daren sudah sering menginap di rumah Shopie, jadi ia sudah mengenal setiap sudut rumah ini. Jadi ia tak perlu risau jika membutuhkan sesuatu. Ia hanya cukup menjaga Aby sampai Shopie dan Ronie pulang.
Baru saja Daren akan beranjak dari kamar Aby, tiba-tiba Aby mengigau.
"Kenapa kau bawa aku terbang jika akhirnya menjatuhkanku ke jurang? Kenapa kau bilang cinta jika akhirnya membuat aku terluka? Ternyata benar laki-laki hanya bisa menyakiti!"
"Chris bre*ngsek!"
"Chris bre*ngsek!"
"Chris bre*ngsek!"
Aby terus mengulangi kata-kata itu dengan air mata yang mengalir, tapi matanya tetap tertutup rapat. Daren yang khawatir mendekati Aby. Ia berniat untuk membangunkan Aby. Tapi saat tangannya menyentuh kulit Aby, ternyata panas sekali.
"What the f*uck! Kau panas sekali!" Ujar Daren panik. Ia sempat kebingungan harus melakukan apa. Selama ini ia tak pernah merawat orang demam. Akhirnya ia terpikirkan untuk mencari tahu di internet. Setelah menemukan tata cara untuk merawat orang yang demam, Daren langsung mempraktekannya.
Daren turun ke bawah untuk memanaskan air. Setelah dirasa cukup hangat, ia bawa air itu naik ke kamar Aby. Ia membuka lemari Aby untuk mencari handuk kecil yang akan digunakan untuk mengomprek Aby. Ia obrak-abrik seluruh isi lemari Aby, tapi yang ia temukan baju. Kemudian ia berpindah ke pintu lemari sebelahnya. Ia kembali melihat satu persatu. Dan ternyata Daren menemukan banyak harta karun.
"Ew... underwear black! So spooky!" Daren menjimpit ****** ***** milik Aby, lalu melemparkannya asal. Ia kembali fokus untuk mencari handuk kecil.
"Wow! Bikini red! So sexy!" Daren tertawa lalu kembali membuangnya asal. Ia terus mengobok-obok isi lemari.
"Oh my god! Lingerie! Aby Aby! Ternyata kau wanita tulen, ya?"
Daren sempat ingin menyerah. Tapi matanya tiba-tiba menangkap lemari susun di sebelah lemari baju milik Aby. Dengan inisiatif tinggi, Aby membuka lemari itu. Dan.. tara! Ternyata di sana terdapat banyak jenis handuk. Dari handuk mandi, handuk keramas, handuk wajah dan handuk kecil. Daren menepuk jidatnya, kenapa tidak dari tadi ia membuka lemari itu. Akhirnya ia segera mengambil dua handuk kecil. Saat berbalik badan Daren terkejut melihat betapa berantakannya kamar Aby akibat kelakuannya.
Tapi Daren tidak menghiraukan itu, ia harus segera merawat Aby agar sakitnya tidak semakin parah. Daren segera menghampiri Aby yang sudah bercucuran keringat. Daren mencelupkan handuk itu ke dalam air hangat, lalu memerasnya agar tidak membasahi wajah Aby. Lalu ia kompres dahi Aby. Kemudian ia mencelupkan lagi handuk yang satunya ke air hangat tadi. Lalu memerasnya. Daren menyeka bagian leher, kemudian tangan Aby, lalu ketiaknya dan terakhir kakinya. Beruntunglah tadi Aby hanya memakai tanktop yang dilapisi dengan outer dengan bawahan hot pants. Jadi Daren tidak perlu repot membuka-buka pakaian Aby, ia hanya perlu mencopot outernya saja.
Selesai menyeka bagian tubuh Aby, Daren menutu sebagian tubuh Aby dengan selimut yang tidak tebal. Daren terus memastikan air kompresan Aby tetap hangat. Jika sudah dingin maka Daren akan turun ke bawah dan menggantinya dengan yang baru. Daren akan menunggu hingga Aby sehat. Shopie telah mengabarinya bahwa tidak akan pulang karena harus menemani temannya yang akan menggelar acara pernikahan. Daren tidak mau Shopie khawatir dan tidak menikmati acara, jadi Daren memutuskan untuk tidak memberitahu Shopie mengenai Aby yang sakit.
***
Aby terbangun dari tidurnya karena merasa sangat haus. Saat membuka mata, kepalanya terasa sangat pening. Ketika ia menyentuh kepalanya, ternyata ada handuk di dahinya. Aby kebingungan dari mana datangnya handuk itu. Namun ia mengesampingkan rasa penasarannya itu karena haus yang ia rasakan sudah tidak tertahan.
Aby mengernyit ketika melihat Daren yang tidur dengan posisi duduk di kursi dekat dengan kasurnya. Tapi lagi-lagi ia mengesampingkan itu. Aby mengambil air minum yang sudah tersedia di atas nakas. Ia meminumnya hingga tandas tak tersisa. Setelah meminum air itu, Aby berniat untuk membangunkan Daren tapi niatnya tertunda saat matanya menangkap pemandangan yang sangat tidak mengenakkan. Bagaimana bisa bajunya berserakan di lantai. Apakah ada maling? Aby langsung panik. Ia mencari benda keras di sekelilingnya untuk memukul jika saja pencuri itu masuk ke kamarnya. Ia dengan hati-hati menghampiri Daren, berniat ingin membangunkan Daren.
"Daren!" Panggil Aby berbisik.
Aby kembali berpikir ketika matanya melihat barang yang berada di atas meja. Jika memang ada pencuri, kenapa ponsel dan dompetnya yang tergeletak di atas meja bergitu saja, jelas-jelas sangat terlihat tidak hilang sama sekali? Kenapa pencuri itu malah menggeledah lemarinya?
'Mungkinkah pencuri itu berpikir di dalam lemariku banyak emas batangan?' ucap Aby di dalam hati.
Aby kembali memanggil Daren dengan berbisik. Ia mengguncangkan tubuh Daren secara perlahan agar Daren tidak kaget dan membuat pencuri itu mendengar mereka. Gagal sudah nanti rencana Aby untuk menangkap pencuri itu.
"Daren!" Panggil Aby sedikit menaikkan intonasinya. Ia mulai kesal karena Daren yang tidak kunjung bangun.
"Kau kenapa? Apakah kau masih mabuk?" Tanya Daren was-was. Ia takut Aby masih di bawah pengaruh alkohol dan akan berbuat yang aneh-aneh.
"Ssttt, jangan berisik! Nanti pencuri itu kabur jika mendengar kita sudah sadar!" Ujar Aby memarahi Daren yang berbicara dengan suara kencang.
"Pencuri? Dimana? Aku tidak mendengar apapun dari tadi," ucap Daren kebingungan.
"Itu lemariku di geledah. Pasti pencuri itu mengira ada brankas rahasia berisi uang miliaran dan emas batangan. Bodoh sekali pencuri itu tidak mau mengambil dompet dan ponselku saja yang jelas-jelas tergeletak di atas meja!" Ujar Aby mengejek betapa bodohnya sang pencuri mencari barang yang belum tentu ada dan menyepelekan barang yang jelas terlihat. Mentang-mentang hanya dua barang, dia memandang remeh dompet dan ponselnya. Padahal seluruh hartanya ada di dalam dompet dan ponsel itu.
Daren melarikan matanya menatap lemari Aby. Tiba-tiba perasaan gugup menghampirinya. Daren meneguk ludahnya yang tiba-tiba kering. Ia berpikir keras mencari alasan untuk kabur bisa dari kamar Aby. Tidak lucu bukan tengah malam seperti ini ia di pukul oleh Aby dengan tongkat golf?
"Sekarang jam berapa?" Tanya Daren mulai mengalihkan pembicaraan.
"Baru pukul dua dini hari. Kenapa? Kau mau lapor polisi?" Tanya Aby mulai tertarik.
"Tidak, sepertinya aku harus pulang sekarang. Kau berani bukan sendirian di rumah?" Daren harap Aby mau merelakannya untuk pulang.
"Lalu aku harus melawan pencuri itu sendirian? Tega sekali kau!" Ucap Aby.
Daren menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "aku akan periksa dulu ke setiap penjuru ruanganmu, nanti jika aman aku pulang, ya?"
Aby berpikir sejenak, tapi akhirnya ia menyetujui permintaan Daren, "baiklah."
Daren berjalan ke bawah, ia berpura-pura memeriksa seluruh ruangan. Padahal dirinyalah yang sudah memporakporandakan lemari milik Aby. Hanya saja ia belum siap untuk mendapat pukulan dari tongkat golf milik Aby.
"Tidak ada siapa-siapa. Sepertinya pencuri itu sudah pergi karena tidak ada banyak uang dan emas batangan disini," ucap Daren agar tidak memperpanjang masalah.
"Sungguh?" Tanya Aby memastikan. Ia takut jika pencuri itu masih ada di dalam rumah, dan Daren sudah pulang. Bisa-bisa dirinya juga menjadi korban.
"Iya, sekarang apa aku boleh pulang?" Pinta Daren penuh harap.
"Baiklah." Jawab Aby.
Setelah mendapat persetujuan, Daren langsung bergegas pergi dari kamar Aby. Ia tidak mau Aby berubah pikiran.
"Oh iya! Bukankah Gramma memasang cctv di rumah ini? Sepertinya kamarku juga di pasang cctv," ujar Aby. Akhirnya ia memutuskan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi lewat cctv.
Ketika telah menonton videonya, Aby menganga terkejut. Ia tak habis pikir! Ternyata tersangka yang mengobrak-abrik lemarinya adalah Daren!
"Awas kau Daren!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Next.