YOU AND ME

YOU AND ME
Aku dijebak



Sabtu siang yang begitu panas. Matahari berada di tengah cakrawala yang cerah memayungi bumi beserta penghuninya. Para penghuni bumi melakukan aktivasi seperti biasa.


Setelah sholat zhuhur di masjid komplek rumah orang tuanya Irene, Peter melanjutkan perjalanan ke rumah orang tuanya Irene untuk menemui Irene yang Peter rindukan.


"Assalamu'alaikum." salam Peter ke Irene dan Zayn ketika berada di ambang pintu ruang tamu rumah orang tuanya Irene sambil melihat Irene dan Zayn yang sedang asyik mewarnai gambar.


"Wa'alaikumsalam." balas Irene dan Zayn serempak sambil menoleh ke Peter.


"Masuk Peter. " kata Irene yang sedang duduk di atas karpet, lalu Peter melangkahkan kakinya ke dalam ruang tamu.


"Hallo Daddy Pete. Daddy Pete bawa apa? " tanya Zayn ketika Peter jongkok di depan Zayn.


"Daddy Peter bawa mainan lego untuk Zayn. " kata Peter sambil memberikan lego itu ke Zayn.


"Terima kasih Daddy Pete." kata Zayn sambil menerima mainan lego itu, kemudian Zayn menyalim puncak tangannya Peter.


"Silahkan duduk. " kata Irene.


Kemudian Peter menoleh ke belakang, lalu mundur kebelakang dan duduk di sofa depan Zayn.


"Zayn anak yang pintar tolong dirapihkan ya. " kata Irene lembut sembari mengambil beberapa pensil warna yang berserakan di atas meja tamu dan memasukkan semuanya di dalam tempat pensil.


"Iya Ummi. " kata Zayn, lalu Zayn merapihkan beberapa kertas gambar.


"Zayn lagi mewarnai gambar apa?" tanya Peter lembut.


"Gambar pegunungan Daddy Pete. " kata Zayn sambil menyimpan semuanya di dalam tasnya.


"Zayn kita ke kamar yuk! Sudah siang, waktunya tidur siang." kata Irene sambil beranjak berdiri.


"Peter tunggu sebentar ya, aku mau kelonin Zayn dulu. " ucap Irene.


"Iya."


"Ayo Zayn! " ajak Irene sambil berjalan menuju ke dalam kamarnya.


"Daddy Peter, aku bobo dulu ya. " kata Zayn riang, lalu ia berjalan mengikuti umminya ke dalam kamar.


Drrrtttt


Drrrtttt


Drrrtttt


Ponselnya Peter bergetar, lalu dia mengambil handphonenya di dalam saku kiri celananya. Ada panggilan masuk dari Roni. Kemudian Peter menggeser layar hijau untuk menerima panggilan dari Roni.


"Bro, elo lagi di mana? Gw ama Nick sekarang lagi di depan pintu apartement elo." ucap Roni.


"Lagi di rumah orang tuanya Irene." balas chat


Peter


"Tumben elo ke sananya siang, biasanya malam? "


"Ruang rindu gw udah membuncah, jadi gw pengen cepat - cepat ketemu ama dia." ucap Peter senang.


"Pretttt... sok puitis elo."


"Emang ada apa datang ke apartement gw?" tanya Peter penasaran.


"Mau bahas soal Claudia bro." ucap Roni


"Emang kenapa Claudia? " tanya Peter penasaran.


"Waktu elo sepekan tugas ke luar negeri, Claudia nyariin elo, nah kemarin dia datang ke rumah orang tuanya Irene. " penjelasan Roni.


"Hah? Elo dapat info dari siapa?"


"Dari seseorang yang disewa oleh bokap elo."


"Hah? Berita apa lagi nich?"tanya Peter bingung.


"Berita akurat tertajam terpercaya. Suruhan bokap elo, teman lama gw bro."


"Siapa sich Ron?? Gw jadi bingung begini. "


"Udah cepatan elo pulang, nanti gw jelasin, sebelum elo disemprot ama Irene dan keluarganya. "


"Sekarang Irene masih ada di depan elo? "


"Gw sich baru datang, terus dia izin kelonin anaknya tidur siang dulu dan sampai sekarang belum keluar dari kamarnya. "


"Udah elo langsung cabut aja, nggak usah pamit pulang. Kita selesaikan dulu soal Claudia sebelum elo ada masalah baru lagi sama Irene dan keluarganya. Urgent!!! "


Kemudian Peter menggeser layar merah untuk mengakhiri panggilan dari Roni, dengan sigap dia langsung menyimpan handphonenya di dalam saku sebelah kanan celananya.


"Assalamu'alaikum." salam Irgi dan Rifky barengan.


Kemudian Irgi berjalan cepat menuju sosoknya Peter sambil menatap tajam dan memasang muka marah ke Peter. Peter menyadari ekspresi Irgi yang sedang marah kepadanya.


Bukkk...


Satu tonjokan melayang ke arah pipi sebelah kanan Peter sampai pinggir sebelah kanan bibirnya Peter keluar darah sedikit. Peter langsung jatuh duduk ke sofa yang tadi dia dudukin. Spontan Rifky langsung menarik dan memeluk tubuhnya Irgi.


"Lepasin gw Ky, gw mau kasih pelajaran ke tuch cowok! Dasar cowok bejat!! " teriak Irgi sambil meronta - ronta supaya bisa lepas dari pelukan Rifky.


"Tenang a'a, Istighfar a'a. Bukan begini solusinya. Kita bisa bahas secara baik - baik." bisik Rifky lembut ke Irgi sambil memeluk erat Irgi.


"Elo nggak usah baik sama dia! Dia pantas untuk diberi pelajaran yang kasar karena dirinya udah ********! Eh, elo Peter, masih berani aja elo ke sini! Elo tuch harusnya sadar kalau elo itu tidak pantas untuk mendapatkan Irene! Pergi elo dari sini, gw benci sama elo! Dasar cowok bejat nggak mau tanggung jawab karene kelakuannya! " ucap Peter sambil teriak.


"A'a istighfar! " kata Irene yang tiba - tiba muncul sambil menghampiri Irgi dan Rifky, disusul dengan mang Ujang dan mang Asep.


Irene menatap lembut ke mata Irgi, kakak laki - lakinya yang amat dia sayangi. Mang Ujang dan mang Asep membantu Rifky untuk menahan Irgi.


"A'a biar Irene aja menyelesaikan masalah ini. Kakak tidak usah khawatir sama Irene. Irene insyaallah baik - baik aja. Tolong A'a bersikaplah yang santun. " ucap Irene lembut.


"Baiklah. Lepaskan aku. " kata Irgi yang emosinya mereda.


Akhirnya Rifky, mang Ujang dan mang Asep melepaskan pelukannya. Irgi langsung melengos cepat ke dalam dengan wajah yang masih merah. Mang Ujang, mang Asep dan Rifky langsung menyusul Irgi ke dalam.


"Maafkan A'a Irgi. Dia memang suka begitu kalau sedang marah." kata Irene sambil berjalan santai ke sofa yang berada di depan Peter.


"Irene, maafkan aku soal Claudia. Sebenarnya anak yang dikandungnya bukan anakku."


"Hmmm ... kamu nggak usah mengelak Peter. Kamu harus bertanggung jawab atas kelakuan kamu terhadap Claudia dan mengakui bahwa anak itu adalah anak kandungmu. Kamu jangan jadi laki - laki bejat. " kata Irene tegas.


"Irene, percayalah padaku, itu bukan anakku. " kata Peter memelas.


"Yakin itu bukan anak kamu? Kamu sering kan melakukan hubungan ***** sama Claudia? Kamu harus jujur untuk menjawabnya."


"Aku yakin itu bukan anakku. Iya dulu waktu aku belum muallaf, aku sering melakukan kepada kekasihku, termasuk Claudia. Tapi aku pakai pengaman sebelum melakukan itu."


Tiba -tiba rasa kecewa, marah dan benci menjadi satu di hatinya Irene. Sontak air matanya Irene membendung di pelupuk kedua matanya.


"Astaghfirullah'alazim." ucap Irene dalam hati.


"Irene percayalah padaku, itu bukan anakku. Aku dijebak Irene, soalnya waktu aku putusin Claudia, dia nggak nerima itu, dia ingin selalu menjadi kekasihku, dia itu terlalu obsesi kepadaku. Percayalah. " kata Peter memelas sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya.


"Hmmm... kalau kamu memang dijebak, buktikan. Yang aku butuhkan supaya aku percaya sama kamu adalah bukti bukan omongan." kata Irene tegas.


"Ok, aku buktikan kalau aku dijebak sama Claudia."


"Dan ini cincin lamarannya. Selama kamu belum bisa membuktikan itu, aku tidak mau memakainya." kata Irene sambik menaruh cincin itu di atas meja tamu.


"Pakailah Irene. Jangan kamu lepas cincin itu." kata Peter memelas.


"Maaf, aku tidak mau memakainya dan jangan memaksaku untuk memakainya selama kamu belum membuktikan omongan kamu supaya aku percaya sama kamu."


"Apakah kamu tidak mau melanjutkan hubungan kita ke jenjang pernikahan? " tanya Peter.


"Tergantung kamu. Jika kamu bisa membuktikan bahwa anak itu bukan anak kamu dan kamu dijebak, aku mau melanjutkan hubungan kita ke jenjang pernikahan. Jika kamu tidak bisa membuktikannya, jangan harap aku mau melanjutkan hubungan kita ke jenjang pernikahan. " ucap Irene tegas. "Sebaiknya kamu pulang sekarang dan jangan lupa bawa itu cincin." lanjut Irene.


"Maafkan aku Irene. Jangan menangis Irene. " kata Peter lembut.


"Sudah kumaafkan." kata Irene sambil menahan air matanya biar tidak jatuh.


Kemudian tanpa bicara lagi. Peter berdiri, berjalan pelan untuk mangambil cincin itu.


"Assalamu'alaikum." salam Peter sambil menatap sendu ke Irene.


"Wa'alaikumsalam." balas Irene.


Lalu Peter membalikkan badannya, berjalan lunglai keluar dari rumah orang tuannya Irene. Sedangkan Irene menangis pelan agar tidak ketahuan oleh orang lain.