
Di dalam restoran Al - Indonesia yang cozy, membuat para konsumen berlama - lama. Restoran itu terletak di lantai satu gedung Pattinson Tower A. Satu gedung dengan kantornya Peter. Design interior yang bernuansa kental dengan keindahan alam Indonesia.
Restoran itu sebagai tempat pilihan yang sangat direkomendasikan untuk melepaskan kerinduan akan masakan khas Indonesia maupun yang menyukai masakan Indonesia di kota London. Salah satu konsumennya yang hari ini adalah keluarganya Irene.
"I ordered two baskets of rice, Soto Betawi five servings, Soto Kudus three servings, chicken pepes with four-seeded breasts, five-onion chili sauce, three-portion chili sauce, fresh vegetables, and seven pitchers of water. " ujar Irene sambil menutup buku menu dan setelah bertanya ke semua anggota keluarganya.
"Ummi Zayn mau tempe mendoannya. " pinta Zayn.
"Oh ya and tempe mendoan, ten portions." ucap Irene sambil menaruh buku menu di atas meja.
"Anything else, madam?" tanya salah satu pelayan restoran itu yang masih memegang tab dan pulpen elektronik.
"Nothing."
"Ok, I will repeat your order. Soto Betawi five servings, Soto Kudus three servings, chicken pepes with four-seeded breasts, five-onion chili sauce, three-portion chili sauce, fresh vegetables, seven pitchers of water, and tempe mendoan ten portions."
"Yes."
"Wait a minute please madam, your food order is being processed, excuse me." ujar pelayan itu, lalu dia mengambil buku menu yang berada di atas meja dan kemudian dia berjalan ke meja pengunjung yang lainnya.
"Assalamu'alaikum." sapa seseorang sambil berdiri di ujung meja sebelah kanan Irene yang membuat semua menoleh ke suara itu.
"Hah? Reza kenal sama keluarganya Irene. Apakah mereka masih ada hubungan keluarga sama Reza? Apakah orang yang bernama Reza ini mantannya Irene dan yang pernah melamar Irene?" kata Peter di dalam hati.
"Wa'alaikumsalam." balas mereka kompak.
"Eh Nak Reza, apa kabar Nak? Sini duduk, makan bareng sama kita Nak." ujar mamanya Irene.
"Alhamdulillah baik Tante. Terima kasih Tante atas tawarannya." kata Reza ramah.
"Makan aja dulu Om Alul Khan, pasti Om lapar. " ucap Zayn ramah.
"Terima kasih Zayn anak pintar, Om harus bekerja dulu. "
"Emangnya kakak Sahrul Khan kerja di sini? Sebagai apa? " pertanyaan Ira yang membuat Reza merasa risih.
"Dia itu owner restoran ini." samber Peter yang membuat Irene kaget.
"Wah hebat dong Kak punya restoran sebagian ini di negeri orang." kata Ira takjub yang membuat Reza tersenyum paksa.
"Alhamdulillah ini semua karena Allah dan usaha saya sendiri. Terima kasih atas pujiannya." kata Reza.
"Udah Nak Reza, gabung aja sama kita, udah lama kan kita tidak mengobrol. Kan masih ada anak buah kamu yang kerja. Tidak usah sungkan sama kami." samber ayahnya Irene.
"Baiklah." kata Reza sambil mengambil kursi dari meja yang lain, dan duduk di atas kursi itu.
"Sekarang kamu tinggal di London?" tanya mamanya Irene.
"Iya Tante. Sudah hampir lima tahun tinggal di London."
"Oh ya Za, kenalin ini suami gw. " kata Irene sambil melirik ke Peter dan menepuk pelan bahu kirinya Peter.
"Gw udah kenal suami elo."
"Kak Sahrul Khan kenapa kemarin nggak datang ke acara pernikahan Teh Irene?" tanya Ira basa basi.
"Maaf, kakak sibuk. "
"Kamu Reza mantannya Irene?" tanya Irgi polos.
"Iya."
"Yang tujuh bulan kemarin ditolak lamarannya sama Teh Irene. " samber Ira keceplosan.
"Ira! " bentak ayahnya Irene yang merasa tidak enak sama Reza dan Peter.
"Oh... jadi Reza ini memang mantan pacarnya Irene dan sempat ditolak sama Irene. " kata Peter di dalam hati sambil melirik Reza yang sedang memandang teduh ke Irene. "Ngapain dia melihat Irene seperti itu? " tanya Peter dalam hati yang geram dengan perasaan cemburu.
"Ekhem." deheman Peter yang mengalihkan pandangan Reza dari wajahnya Irene, lalu dia menundukkan kepalanya karena merasa malu ketahuan sedang menatap ke wajahnya Irene. "Dosa memandang wajah istri orang lain terlalu lama." ujar Peter yang membuat mereka menoleh ke dirinya.
"Sialan, gw ketahuan melihat Irene, wajah yang selama ini gw rindukan. " gumam Reza di lubuk hatinya sambil melihat wajah Peter yang sedang berusaha menutupi rasa cemburunya.
"Kamu sudah menikah? " tanya ayahnya Irene basa - basi sambil melihat Reza.
"Belom Om. " jawab Reza sambil membalas pandangan ayahnya Irene.
"Kalau gitu sama aku aja nikahnya, hehehe." samber Ira.
"Kalau kita jodoh ya Ra." jawab Reza sedikit terpaksa.
"Jangan didengarin omongan Ira yang tadi Zayn. " samber Irgi.
"Kemarin elo nggak datang ke acara nikahan kita, sebagai gantinya elo nanti hari sabtu harus datang ke acara pesta nikahan gw ama Peter. " ujar Irene.
"Iya gw pasti datang asal ada kartu undangannya. "
"Sayang, nanti kasih kartu undangan ke Reza ya. " pinta Irene lembut sambil memandang teduh ke matanya Peter.
"Iya honey nanti aku kasih kartu undangannya." kata Peter sambil menatap lembut ke matanya Irene.
"Aku ke toilet dulu ya sayang." pamit Irene.
"Iya honey. " ucap Peter.
Irene beranjak berdiri, tapi tiba - tiba Irene kesenggol seorang pelayan yang sedang membawa nampan yang di atasnya ada lima mangkok soto betawi.
Pranggg...
Sebuah mangkok yang isinya soto betawi jatuh ke lantai. Kuah sotonya yang panas menyiram bahu sampai telapak tangan kanannya Irene.
"Auwww panas!" Teriak Irene spontan ketika dirinya kesiram air panas.
"Sorry Madam, I am so sorry. " kata salah satu pelayan perempuan memelas.
Sontak Reza langsung menurut telapak tangan kanannya Irene untuk melihat kondisinya.
"Jangan sentuh istriku!" bentak Peter saat melihat Reza sedang memegang telapak tangan kanannya Irene dengan tatapan mata yang tajam, lalu ia merebut telapak tangan kanannya Irene.
"Don't you have eyes? The soup sauce spilled on my wife! bentak Peter ke pelayan itu sambil menatap kesal.
" I - am so sorry sir, I did it on purpose." kata pelayan itu sedikit ketakutan.
"Saya minta maaf atas kelalaian karyawan saya. " kata Reza yang merasa bersalah. "You come with me to the office!" perintah Reza ke pelayan itu, pelayan itu menganggukkan kepalanya, lalu Reza berjalan cepat ke kantornya.
"Excuse me, this soto Betawinya only four servings. Sorry for what happened earlier. One will be replaced from this restaurant later." kata pelayan itu, lalu ia menaruh empat mangkok soto betawi di atas meja.
"It's ok. " ucap Irene.
"Telapak kanan kamu merah, harus dikasih salep honey." ujar Peter sambil memegang dan memperhatikan telapak tangan kanannya Irene.
"Madam, I am so sorry." kata pelayan itu dengan tatapan sendu.
"Yes, it's ok." ujar Irene lembut.
"Excuse me." pamit pelayan itu.
"Kayaknya kamu harus pulang dulu sebelum kita lanjut pergi ke istana ratu. " ujar mamanya Irene.
"Aku telepon aja ke rumah Mah, minta tolong bawain pakaian Irene ke sini sama salah satu maid di rumah." kata Peter sambil merogoh saku celananya untuk mengambil handphone miliknya.
"Tidak usah telepon, saya ada pakaian busana muslim untuk Irene. Sebagai ganti rugi, saya kasih busana muslim untuk Irene. " kata Reza sambil menyodorkan satu paper bag.
"Terima kasih Reza." kata Irene sambil mengambil paper bag dari Reza.
"Tidak usah diterima Irene!" kata Peter kesal.
"Ini kan sebagai tanda ganti rugi. " ujar Irene.
"Tetap tidak boleh!" bentak Peter yang membuat semua orang ketakutan, lalu Peter berjalan cepat menuju pintu keluar restoran itu.
"Serem juga Peter jika sedang cemburu." kata hati Irene.
"Maaf Za, aku nggak bisa Terima ini. " kata Irene lembut sambil menyodorkan paper bag itu.
"Tapi baju kamu basah. " elak Reza.
"Za ambil aja, aku nggak bisa Terima busana ini karena aku tidak mau durhaka terhadap suamiku. "
"Baiklah." Kata Reza sedikit kecewa sambil menerima paper bag dari Irene. "Maafkan atas semua kejadian ini. " kata Reza merasa bersalah.
"Iya nggak apa - apa Za. "
"Aku ke kantorku dulu ya. "
"Iya Za." ucap Irene, lalu Reza berjalan lemas menuju ke ruang kerjanya. "Mah, aku nyusul Peter dulu ya buat ngademin hatinya." lanjut Irene.
"Iya Nak, tapi kamu tahu dia pergi ke mana? "
"Mungkin ke kantornya. Aku ke sana dulu ya." kata Irene sambil beranjak berdiri dari kursinya, kemudian Irene berjalan cepat keluar dari restoran.