YOU AND ME

YOU AND ME
Teman - temanku



Sejak kemarin Irene pingsan di teras belakang rumah, dia langsung dilarikan ke UGD rumah sakit dan sampai hari ini dia harus diopname di rumah sakit karena sakit tipes.


Irene menghela nafas panjang untuk mengusir rasa bosan. Dia melirik tangan kanannya yang dipasang oleh selang infus Dia menoleh sosok pamannya, mang Ujang yang sedang tertidur pulas di atas sofa depan Irene.


Tok... tok... tok... bunyi ketukan pintu kamar rawat inap Irene.


"Mang Ujang bangun, ada tamu." kata Irene sedikit kencang.


"Hoaammmm... Iya ada apa?" sambil beranjak dari posisi tidur ke posisi duduk.


"Ada tamu Mang. Malu ada tamu kalau Mang Ujang tidur. " jawab Irene lembut.


"Boleh saya masuk?" tanya Ale yang hendak menjenguk Irene.


"Iya silahkan masuk." kata Irene.


ceklek


Irene menoleh ke arah pintu yang mulai terbuka. Dia melihat sosok tegap yang dimiliki Rogen setelah Rogen membuka lebar pintu kamar rawat inap Irene. Rogen menutup pintu kamar dan berjalan pelan menghampiri Irene sambil tersenyum.


"Sore Irene. " sapa Rogen lembut sambil menatap sendu ke Irene.


"Sore juga Gen. " balas Irene sopan.


"Gimana kondisi kamu hari ini? " sambil menduduki badannya di atas kursi samping kanan tempat tidur rawat inap.


"Alhamdulillah, udah lebih baik dari kemarin."


"Kamu sakit apa?" tanya Rogen sambil duduk menyilangkan kakinya dan mengaitkan kedua telapak tangannya untuk membuang rasa grogi saat berdekatan dengan Irene.


"Aku sakit tipes." kata Irene sambil menundukkan kepalanya.


"Sore Om. " tegur Rogen sambil menoleh ke mang Ujang.


"Sore juga." balas mang Ujang yang masih merasa ngantuk.


Tok... tok... tok...


"Assalamu'alaikum." salam Mega, Anis, Lily, Siti, dan Dita serempak.


"Wa'alaikumsalam. Masuklah. " balas Irene sambil menoleh ke pintu kamar rawat inap Irene, lalu mereka membuka lebar pintu dan satu per satu mereka masuk ke dalam kamar rawat inap Irene.


"Eh, ada tamu juga. " kata Siti spontan ketika melihat Rogen dari belakang sambil berjalan pelan menghampiri Irene.


"Siapa Ren? Calon laki elo? " tanya Lily sambil mengikuti Siti dari belakang.


"Bukan." jawab Irene tegas.


"Aku Rogen. " ujar Rogen sambil menoleh ke belakang yang membuat Lily dan Siti terkejut.


"Hah Rogen!! Apa kabar elo? " ucap Siti sambil menepuk punggung.kanan Rogen.


"Baik, elo gimana kabarnya? Udah merried?" tanya Rogen.


"Udahlah, bahkan gw sekarang udah punya tiga anak." jawab Siti.


"Kalau elo gimana kabarnya? Udah merried belum elo? " tanya Lily sambil menoleh ke Rogen yang berada di sebelah kanannya.


"Eh, elo Ly. Gw baik, gw belum merried. " jawab Rogen.


"Masih cinta mati sama Irene? " tanya Siti yang membuat Iren merasa tak enak hati terhadap Rogen, spontan Irene menundukkan kembali kepalanya.


"Ehmmm... maybe. " jawab Rogen.


"Itu mah cinta sejati. " celetuk Lily yang membuat Rogen tersenyum.


"Gimana kabar elo Ren?" tanya Siti sambil melihat Irene yang masih nunduk.


"Iya Ren, gimana kabarnya elo? " samber Lily.


"Alhamdulillah, udah baikan."


"Ibu Irene emangnya sakit apa?" tanya Dita yang berdiri di samping kanan Siti.


"Sakit tipes. "


"Itu pasti karena elo kecapekan. "samber Lily.


" Dari kapan Bu Irene dirawat? " tanya Mega.


"Dari kemarin Ga." jawab Irene sambil melihat sekelilingnya. "Susi ke mana? " tanya Irene.


"Susi nggak bisa ikut karena ibunya lagi sakit juga. Dia nitip salam buat Bu Irene. " kata Anis yang berdiri di samping kiri Lily.


"Oh ya, nich buat elo Ren." kata Lily sambil mengangkat parcel buah - buahan.


"Terima kasih. Tolong taruh di atas meja depan sofa." ujar Irene.


"Ok." ucap Lily, lalu dia berjalan menuju meja di depan sofa.


"Calon elo udah jenguk? " tanya Siti.


"Ehmmm... gw nggak tahu apakah Peter masih calon gw atau udah nggak. " jawab Irene sedih.


"Oh my God, aku nggak tega dia bersedih seperti ini. Aku harus menanyakan ke Boby tentang kelanjutan penyelidikan untuk membuktikan apakah benar Peter dijebak atau tidak. Biar masalah Irene clear." gumam Rogen di dalam hati.


"Kenapa bisa begitu? " tanya Lily sambil berjalan menghampiri Irene lagi.


"Maaf gw nggak mau cerita." jawab Irene dengan sorotan mata nanar, lalu dia menundukkan kepalanya kembali.


"Pasti dia buat ulah." kata Siti yakin.


"Udah Ren, ceritain aj ke kita, nggak elo pendam, biar hati elo plong." samber Lily.


"Iya benar kata Lily, curhat aja ke kita. Daripada elo pendam terus sampai sakit kayak gini. " celetuk Siti.


"Maaf banget, gw nggak mau cerita, soalnya ini aib orang. " kata Irene yang masih sedih sambil menundukkan kepalanya.


Ceklek


Pintu langsung terbuka lebar. Di ambang pintu ada sosok wanita mungil yang cantik. Dia adalah Michelle, adiknya Rogen alias Ale. Dia berjalan dilemah lembutin sambil tersenyum manis menghampiri Irene.


"Hallo everybody! Hallo calon kakak ipar nggak jadi. " sapa Michelle ketika berdiri di depan Irene.


"Hallo juga Michelle. " balas Irene sambil menoleh ke Michelle.


"Gimana kabar elo? "


"Alhamdulillah, udah lebih baik."


"Oh ya ini ada buah - buahan buat elo dari abang dan gw. Abang tadi nitip ke gw soalnya dia nggak sempat beliin elo apa - apa." kata Michelle sambil mengangkat dua kantong kresek.


"Terima kasih. Tolong di taruh di meja belakang elo. " pintar Irene.


"Oklah kalau begitu. " kata Michelle, lalu dia menaruh dua kantong kresek itu di atas meja.


"Michelle, elo sendiri ke sininya?" tanya Rogen sambil menengok kepalanya ke sosok Michelle.


"Iya Bang. " kata Irene sambil membalikkan badannya.


" Mana Joshua? "


"Dia nggak bisa ikut, karena ada rapat dadakan. " kata Michelle sambil berjalan pelan menghampiri Irene lagi.


"Ooo... begitu. "


"Elo sakit apa? " tanya Michelle sambil berdiri di hadapan Irene.


"Tipes."


"Elo kenapa? Kok tampang elo sedih banget? "


"Nggak kenapa - napa. "


"Yakin elo? "


" Iya, gw yakin."


"By the way, kalian teman kerjanya Irene?" tanya Michelle.


"Iya." jawab Dita, Anis, Mega, Lily dan Siti kompak.


"Hai, perkenalkan, nama saya Michelle. Saya teman gaulnya Irene sekaligus calon adik ipar nggak jadi. " kata Michelle sambil melambai - lambaikan tangannya.


"Apakah kamu adiknya Rogen?" tanya Siti.


"Yup. Elo kenal Abang gw? "


"Iya, gw ama Lily cukup kenal lama ama Abang elo. "


"Wah, berarti Abang gw populer juga ya. " ujar Michelle. "Oh ya, gw hampir lupa. Gw bawa kartu undangan nikahan gw buat elo. " kata Michelle sambil mengambil kartu undangan dari dalam tas selempangnya. "Nich kartu undangannya. " kata Michelle sambil memegang kartu undangan itu.


"Terima kasih, tolong taruh di atas meja lagi ya. " pintar Irene, kemudian Michelle menaruh kartu undangan nikahannya di atas meja.


"Bro, elo kapan nikahnya? Adik elo aja, udah mau nikah? Nanti elo keburu karatan." ledek Siti


"Iya benar tuch Bang, kapan elo nikah? bukan karatan lagi, tapi udah usang." samber Michelle setelah menaruh kartu undangan nikahannya.


"Iya nanti juga nikah, sekarang belum ketemu jodohnya. "


"Udah nikah aja ama Irene. " celetuk Lily.


"Hahahha, nggak bakal diterima." kata Michelle sedikit ngeledek.


"Kan belom dicoba. " ujar Lily.


"Udah tiga kali Abang gw ajak nikah Irene, tapi nasib Abang gw sial, semua usahanya ditolak. " jawab Michelle.


"Yah, kasihan banget ya. " sahut Anis.


"Kasihan banget." samber Michelle. "By the way, si vampire nggak ke sini? "


"Ehmmm... . Dia nggak bakal ke sini." jawab Irene yang menatap sendu kepada Michelle.


"Lah kenapa? " tanya Michelle.


"Gw nggak tahu. " jawab Irene.


"Pasti dia selingkuh sampai elo sakit begini." kata Michelle.


"Gw nggak mau membicarakan hal tentang Peter." kata Irene yang masih sedih.


"Wah elo main rahasia - rahasiaan ama gw. "


"Maaf gw nggak mau membicarakan tentang aib seseorang."


"Apa alamat rumahnya? Pengen gw pakuin." ucap Michelle.


"Ngapain elo pakuin? emangnya dia kuntilanak?


"Biar nggak keganjenan. " jawab asal Michelle.


"Udah nggak usah bahas itu lagi. " pinta Irene.


" Ya udah buang aja sekalian ke laut, biar elo nggak stres. " ujar Michelle.


"Apa aku harus menceritakan tentang masalah itu ke teman - temanku biar pikiran dan hatiku jadi plong? Aku bimbang Ya Allah, ehmmmm... sebaiknya biar aku pendam aja masalah ini. " gumam Irene dalam hati.