
Cahaya mentari di langit biru sudah masuk ke dalam kamar Irene. Udara pagi menyejukkan berlalu lalang melalui jendela kamar Irene yang terbuka lebar. Cuitan suara merdu beberapa burung. Itu semua membuat Irene sangat menikmati suasana pagi yang menyegarkan dirinya sambil memandang taman di halaman depan kamarnya.
Tok... tok... tok...
"Ummi, ini Zayn, boleh Zayn masuk ke dalam Ummi? " tanya Zayn di balik pintu yang masih tertutup rapat.
"Masuklah sayang. " kata Irene sambil menoleh ke pintu, lalu berjalan menghampiri pintu tersebut.
Ceklek
Pintu terbuka lebar yang memperlihatkan sosok Zayn dan Ira. Mereka saling menghampiri. Irene berjongkok dan merentangkan tangannya untuk menangkap tubuhnya Zayn.
"Ummi... " ujar Zayn sambil memeluk tubuhnya Irene.
"Iya sayang." bisik Irene lembut sambil mendekap erat badannya Zayn.
"Ummi, kok Zayn nggak tidur sama Ummi dan Daddy Pete? " tanya polos Zayn sambil melepaskan pelukannya.
"Ummi dan Daddy Peter semalam tidurnya larut malam sayang. InsyaAllah mulai nanti malam dan seterusnya, Zayn,Ummi dan Daddy Peter tidur bersama ya, " kata Irene halus sambil menatap hangat ke manik mata Zayn setelah melepaskan pelukannya.
"Ummi, lehenya Ummi kok merah - merah?" tanya Zayn bingung.
Kemudian dengan sigap, Irene berdiri dan berjalan menuju ke cermin meja hias. Dia meraba - raba dan melihat beberapa kissmark yang membekas di leher jenjang putih nanti mulus miliknya.
"Aduhhhh... Peter kenapa kamu meninggalkan jejak sich. " kata Irene dalam hati.
"Lehe Ummi kenapa?" ucap Zayn sambil menghampiri Irene.
"Digigit ulat bulu." celetuk Ira yang mengikuti langkah Zayn.
"Ih... pasti gatal banget. " ujar Zayn.
"Iya. Gatalnya sampai ke hati. " samber Ira.
"Ulat bulu apa sampai gatalnya ke hati?" tanya polos Zayn.
"Ulat bulu keket." jawab Ira sambil menahan ketawa.
"Ira! " ucap Irene sedikit membentak sambil menoleh ke mereka.
"Ummi kenapa mayah ke Aunty Ia? " kata Zayn sambil mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah umminya.
Irene membalikkan badannya dan berjongkok untuk mensejajarkan matanya dengan matanya Zayn. Lalu tersenyum lembut ke Zayn.
"Ummi tidak marah sayang." jawab lembut Irene.
"Tadi Ummi membentak Aunty." ucap Zayn.
"Itu karena omongan Aunty berlebihan." samber Ira sambil berjongkok dan mengelus rambutnya Zayn.
"Maksudnya apa Aunty?" tanya Zayn sambil menoleh ke Ira.
"Ehmmm... seharusnya Aunty tidak usah ngomong gatalnya sampai hati, cukup ngomong gatalnya aja." penjelasan Ira sambil menatap serius ke Zayn.
"Ooo... Ummi kata Aunty kita mau mau pegi ke Gyandpa Supeman?" tanya Zayn.
"Grandpa Superman? " tanya Irene bingung sambil melirik Ira.
"Ayahnya Kakak Peter Teh, Pak William Pattinson." jawab Ira.
"Iya ayahnya Daddy Pete." kata Zayn yakin.
"Kok disebut Grandpa Superman?" tanya Irene yang masih bingung.
"Wajahnya mirip pemain Superman Teh. Makanya aku bilang ke Zayn untuk memanggil ayahnya Daddy Peter dengan sebutan Grandpa Superman." jawab Ira.
"Ooo... panggil aja Grandpa tidak udah Grandpa Superman. Iya hari ini kita akan pergi ke apartment Grandpa, ke rumahnya nenek kakek dan ke rumahnya jad dan jid sekalian kita ke rumahnya enin Azizah."
"Wah asyik dong, kita pegi ke umah - umah." ujar Zayn senang.
"Kamu senang pergi keliling?"
"Iya Ummi, kayak lebayan, keliling umah, besilatuyahmi dan makan makanan enak." jawab Zayn antusias.
"Hahaha... kamu pikirannya makanan melulu." samber Ira.
"Nggak itu aja Aunty. Kalau di rumah enin Imas Zayn bisa bantuin masukin makanan ke box untuk bagiin ke anak - anak yang ada di jalanan." ucap Zayn.
"Ooo... " kata Ira menanggapi ocehan Zayn.
"Alhamdulillah sekarang anaknya Ummi udah pintar ngomong ya. " ujar Irene senang.
"Iya dong, anaknya Ummi, keponakan Aunty yah pasti pintay. " sahut Zayn congak.
"Tapi Zayn tidak boleh sombong ya. " ujar Irene lembut.
" Zayn nggak sombong kok Ummi. Zayn beymain sama siapa saja." ucap Zayn.
"Maksud Ummi, kalau pintar bilang alhamdulillah aja tidak usah ngomong anaknya Ummi, keponakannya Aunty."
"Waktu itu Ummi ngomong, Zayn tidak boleh sombong, hayus beyteman sama siapa aja. Kok sekayang bilang nggak boleh sombong juga." protes Zayn.
"Ooo... " jawab Zayn.
Ceklek
Zayn, Ira dan Irene langsung menoleh ke pintu kamar mandi. Peter tersenyum kepada mereka sambil melangkah kaki keluar dari kamar mandi. Peter saat itu memakai celana jins dan kaos hitam berkerah dan berlengan pendek.
"Zayn udah rapih?" tanya Peter ramah sambil berjalan menghampiri mereka bertiga.
"Udah Daddy Pete. " jawab Zayn.
"Ayo kita berangkat! ajak Peter.
" Kata Oma, kita sayapan dulu Daddy Pete. " kata Zayn.
"Ok, kita pergi setelah sarapan." ujar Peter sembari menurunkan badannya untuk berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan yang lainnya. "Mulai hari ini, Zayn panggil Daddy Peter, Daddy aja ya, nggak usah panggil Daddy Peter. Ok my son." ucap Peter ramah sambil berjongkok.
"Kok Daddy aja?" tanya Zayn sedikit bingung.
"Karena Daddy udah nikah sama Umminya Zayn. Kita udah jadi satu keluarga yang terdiri dari Daddy, Ummi, Zayn, dan nanti ada adik - adiknya Zayn." jawab Peter.
"Wah asyik dong, nanti ada adik Zayn, pasti adik Zayn lucu kayak adik Zia." ujar Zayn senang.
"Zayn senang punya adik? " tanya Peter sambil menatap lembut ke matanya Zayn.
"Senang banget Daddy." jawab Zayn dengan mata yang berbinar - binar.
"Daddy juga senang banget bahkan bahagia banget kalau Zayn punya adik. Ayo kita toss untuk Zayn yang bahagia banget punya adik." kata Peter, lalu Peter mengangkat tangan kanannya dan melebarkan telapak tangannya.
"Ayo toss Daddy. " sahut Zayn sambil menirukan gerakan Peter untuk melakukan toss.
Plak
Suara pertemuan dari telapak tangan Zayn yang mungil dan telapak tangan Peter yang kekar.
"Ayo kita sarapan sekarang, biar nggak kesiangan." kata Irene sambil beranjak berdiri.
"Ayo." sahut Ira sambil berdiri.
"Come on. " kata Zayn semangat.
"Kalian duluan aja sarapannya. Aku pakai jilbab dulu." kata Irene sambil berjalan ke meja hias.
"Ok." jawab Ira.
"Ayo Daddy kita sayapan dulu!" ajak Zayn sambil memegang telapak tangan kirinya Peter.
"Zayn sama Aunty Ira aja duluan ke ruang makan. Daddy sama Ummi mau bicara sebentar."
"Ok Daddy. Ayo Aunty kita duluan aja ke uang makannya." ajak Zayn.
"Ok, let's go!" ucap Ira semangat.
Kemudian Zayn dan Ira membalikkan badan mereka dan berjalan keluar kamar meninggalkan Irene dan Peter.
"Sayang, maaf sebelumnya jika aku belum bilang sesuatu ke kamu mengenai Daddy." kata Peter sambil menghampiri Irene yang berada di depan cermin meja rias.
"Kamu mau bilang apa sayang?" tanya Irene sambil merapihkan jilbabnya.
"Ehmm... Daddy sebenarnya selain pengusaha sukses adalah seorang ketua mafia di Inggris." jawab Peter sambil memeluk pinggangnya Irene.
"Oh, berarti benar apa yang dikatakan Ale." ujar Irene sambil memegang tangannya Peter yang melingkar di pinggangnya dan menatap lembut ke Peter lewat cermin meja hias yang berada di depannya.
"Pantesan kamu nggak kaget. Emangnya Ale ngomong apa aja ke kamu tentang Daddy."
"Dia bilang bahwa Daddy adalah seorang ketua mafia dan dia rekan bisnis Daddy."
"Kamu nggak apa - apa kalau Daddy aku seorang ketua mafia? "
"Iya, it's ok baby. Seburuk apapun orang tua, tetap orang tua kita yang harus kita hormati. Daddy juga orang tuaku dan juga beliau adalah keluargaku. Menikah bukan hanya menyatukan dua orang tapi juga menyatukan dua keluarga. Tapi... kamu tidak akan meneruskan jejak Daddy jadi ketua mafia?"
"Tentu tidak sayang, kamu tenang aja, aku akan meneruskan dan mengembangkan usaha Daddy aja. Terima kasih sayang, kamu udah terima Daddyku apa adanya." kata Peter senang, lalu dia mendekati wajahnya ke pipinya Irene
Cup
"I love you soon much. " bisik Peter di telinganya Irene setelah mencium pipinya Irene yang membuat Irene tersipu malu.
"I love you too." balas Irene malu - malu sambil tersenyum malu.
"Pipi kamu kamu kenapa seperti kepiting rebus? " ledek Peter. "Pasti karena dicium orang ganteng ya?" goda Peter sambil menaik turunkan bulu alisnya.
"Ihhh, ge er banget." elakkan Irene.
"Emang aku ganteng kan?" goda Peter.
"Au ah gelap. Ayo kita sarapan yuk! " kata Irene sambil melepaskan pelukan Peter dari pinggangnya.
"Ayo. Lagipula aku udah lapar." kata Peter sambil mengambil telapak tangannya Irene, lalu mereka saling menggenggam erat tangannya Irene dengan mengaitkan jemari mereka satu sama yang lainnya dan mereka berjalan santai ke ruang makan.