YOU AND ME

YOU AND ME
Di Dalam ruang kerja



Bibir Peter masih terus menjamah setiap inci lekuk tubuh indahnya Irene dengan peluh yang bercucuran di sekujur tubuh mereka. Jiwa mereka sudah dikuasai oleh gairah yang membuncah sehingga membuat mereka merasa sulit sekali untuk menolak kenikmatan surgawi.


Suara decitan sofa panjang dan besar di dalam ruang kerja Peter menggema sangat merdu bagi mereka berdua. Erangan mendesah dengan syahdunya dari bibir mereka menandakan pencapaian yang sangat nikmat dengan sesuatu yang hangat mengalir di sana.


Tubuh kekarnya Peter menindih tubuh biolanya Irene dengan menggunakan kedua tangannya yang menekuk sebagai penyanggah. Helaan nafas mereka terengah - engah saling balapan. Ketika mereka sedang mengatur nafas yang belum stabil, pintu ruang kerjanya Peter berbunyi lagi.


"Sir, there is Mr. Roberto who wants to meet with you to discuss something very important." kata Pak Hendrick, asisten pribadinya Peter.


"Honey, kita lanjutkan lagi nanti setelah aku bertemu dengan Roberto." kata Peter sambil melepas penyatuan tubuh mereka, lalu bangun dari atas tubuhnya Irene dan mengambil semua pakaiannya yang berceceran di atas lantai.


"Aku langsung ke kamar mandi dulu." kata Irene sambil bangkit dari sofa kemudian menyaut pakaian dan jilbabnya yang tergeletak asal di atas lantai.


Irene langsung lari masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa pakaian dan jilbabnya. Sedangkan Peter langsung memakai pakaian dalam, celana panjangnya dan kemejanya.


"Yes, come in." sahut Peter sambil mengancingkan kemejanya.


Ceklek


"Hello Roberto. How are you today? " tanya Peter ramah.


"I am fine. What have you done with Irene?" tanya Roberto heran melihat penampilan Peter yang sedikit berantakan.


"Sit down please." kata Peter yang enggan menjawab pertanyaan Roberto sambil menurunkan tubuhnya untuk duduk di atas sofa yang tadi sebagai tempat peraduan dia dengan Irene. "What do you want to talk about?"


" We have something to talk about."


"About what?" tanya Peter sambil duduk di sofa panjang dan besar.


"Our weapons shipments to the French government were sabotaged. All our weapons are taken."


"Who do you think is the culprit?" tanya Peter.


"Mister Hendrix Smith, maybe. "


"The eagle eye mafia gang leader?"


"Yup."


"We have to report this to the police."


"It's useless to report to the police, we won't be able to solve this problem."


"Because he can't be touched by the police. "


"We still report this to the police. Later we send their orders again with strict care."


"Then we have quite a lot of losses. I thing we better return their money."


"It's ok. I thing it's better than losing our clients. Or I'll ask for advice with Daddy to overcome this problem."


"We are given a delivery time of about three days to one week."


"I know. "


"My advice, it's best to make the decision to resolve this problem the longest is tonight."


"Ok. Thanks for all. "


"You're welcome. Oh yeah, this is a private jet product file from the Boeing Company that you should read." kata Roberto Perez, president direktur perusahaan Peter sekaligus saudara sepupunya Peter sambil menaruh file itu di atas meja. "I returned to my workspace." lanjut Roberto sambil beranjak berdiri dari sofa.


"See you tomorrow at my wedding party. Don't forget, tomorrow bring your wife and your son. " kata Peter semangat sambil bangkit dari sofa.


"Ok." kata Roberto, lalu dia berjalan menuju pintu ruang kerjanya Peter, menekan handle pintu dan menariknya sehingga pintu terbuka.


Ceklek


Pintu terbuka lebar dan dibalik daun pintu itu terlihat sosok Andre yang sedang tersenyum ke Roberto dan Roberto membalas senyuman itu sambil melepaskan handle pintu itu.


"Good afternoon." sapa Andre ramah sambil melangkah kakinya kedalam ruangan sambil menatap hangat ke Roberto.


"Good afternoon. " balas Roberto datar sambil melangkah kakinya keluar dari ruangan tanpa menoleh ke Andre.


"See you at Peter and Irene's wedding party." kata Andre saat mereka beradu melangkah di tengah pintu ruangan itu.


"Yeah." jawab Roberto datar, lalu dia mempercepat langkahnya keluar dari ruang kerjanya Peter.


"Why does he always behave like that to me? batin Andre sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan.


" Hai Andre. What a coincidence that you came. I have something to talk about. Sit down please." kata Peter sambil mendudukkan tubuhnya di atas sofa itu lagi.


"Making love. " jawab Peter santai.


"Peter... Peter... Peter... You still like the old days, make love anywhere." ledek Andre.


"Hahaha, that problem will never change." timpal Peter bercanda yang membuat Andre berkali - kali menggelengkan kepalanya.


"I also want to talk to you about something." kata Andre.


"What do you want to talk about?" tanya Peter sambil duduk dengan menyilangkan kakinya.


"The issue of sabotage of the company's weapons product shipments to the French government." jawab Andre sambil duduk dengan menyilangkan kakinya.


"How do you know that problem?" tanya Peter.


"From someone of my faith who lives in Paris. Do you need my help to deal with this problem?" tanya Andre.


"Thank you for your offer. Sorry I don't need your help. I will ask my God for instructions and will ask for advice to Daddy."


"Oh, it's ok. What do you want to talk about?" tanya Andre.


"Are all the preparations for my marriage to Irene here and the party preparations done?" tanya Peter.


"Take it easy, everything is finished."


"Ok, thank you so much bro." kata Peter senang.


"What is that?" tanya Andre sambil melirik dua sejadah dan satu mukena yang tergeletak di atas lantai.


"It is sejadah and mukena." jawab Peter sambil beranjak berdiri dari sofa, lalu berjalan ke tempat sejadah dan mukena yang tergeletak di atas lantai.


"What for sejadah and mukena? "


"For sholat." kata Peter sambil melipat sejadah miliknya.


"What is sholat? " tanya Andre penasaran.


"Praying." kata Peter sambil melipat sejadah mukenanya Irene, lalu berjalan ke lemari kecil sambil membawa dua sejadah dan satu mukena.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka. Irene berjalan pelan keluar dari kamar mandi. Dia tersenyum manis ke Peter dan ke Andre.


"Good afternoon Irene! " sapa Andre ramah.


"Good afternoon Andre! balas Irene ramah, lalu berjalan ke sofa panjang dan besar.


" How are you today Irene? "


"I am fine. And you?" tanya Irene sambil mendudukkan tubuhnya di atas sofa panjang dan besar.


"I am fine too."


"What are you doing here?" tanya


"We only talk about business. I said goodbye to my office."


"Why are you returning so fast?" tanya Irene.


"Afraid to disturb both of you and Peter. " ledek Andre sambil melirik Peter yang sedang berjalan menghampirinya setelah menaruh dua sejadah dan satu mukena ke dalam lemari kecil.


"Yes, you go to my office. We can continue that again here." candaan Peter yang membuat Irene tersipu malu sambil berdiri di depan Andre.


"Ok, see you Bro. " kata Andre sambil menepuk bahu kanannya Peter, lalu berjalan cepat keluar dari ruangan itu.


Ceklek


Pintu ruangan itu terbuka lebar. Di balik daun pintu itu, nampak Hendrick berjalan masuk ke dalam. Sedangkan Peter berjalan keluar dari ruangan.


"Sir, now your schedule for a meeting with our business partners from Japan." kata Hendrick serius sambil berdiri dihadapan Peter.


"Iya. Have they come here?" tanya Peter yang tidak rela karena tidak bisa dilanjutkan lagi untuk melakukan itu dengan Irene.


"Yes Sir."


"Oh shittt!! Aku benar - benar tidak bisa melanjutkan itu lagi bersama Irene di dalam ruang kerja ini. " batin Peter.