
"Sir, someone wants to meet you. " ujar Pak Hendrick, asisten pribadi Peter.
"Who is?" tanya Peter sambil merapihkan meja kerjanya.
"Miss Jessica Lincoln. " jawab Pak Hendrick.
"Tell her to come in here."
"Ok Sir. " kata Pak Hendrick sambil menganggukkan kepalanya, lalu berjalan ke pintu ruang kerjanya Peter di kantor perusahaannya.
"Untuk apa dia datang ke sini?" tanya Peter di dalam hati sambil melihat jam yang terpasang di dinding ruangannya. "Udah jam sebelas lebih empat puluh delapan menit. Masih ada waktu senggang sebelum jam makan siang." gumam Peter dalam hati.
Ceklek
Pintu ruang kerja Peter terbuka lebar, menampilkan seseorang yang sempat menghilang dari kehidupan Peter. Dia cinta dan wanita pertama bagi kehidupan Peter.
Perempuan itu menggunakan mini dress merah maroon bercorak garis - garis hitam yang ketat sehingga menonjolkan lekuk tubuh profesionalnya. Sepatu high heels merah maroon mempercantik kaki jenjangnya. Tas branded ternama berwarna hitam yang ditentengnya.
Kalung berlian yang melingkar indah si leher panjangnya. Rambutnya yang blonde bergelombang indah terurai dengan indahnya. Penampilan dari seorang Jessica saat ini membuat semua orang terpesona melihatnya, kecuali Peter.
"Please inside miss. " kata asisten pribadi Peter sambil memegang handle pintu ruang kerjanya Peter.
Jessica berjalan lenggang legok seperti di catwalk. Memang sudah biasa bagi dia berjalan seperti itu karena dia merupakan salah satu supermodel papan atas di dunia sekaligus seorang aktris terkenal di Inggris.
"More handsome. I still love him. " gumam Jessi di dalam hati sambil menatap ramah ke Peter sambil berjalan menghampiri Peter.
"Hello Peter! How are you? " kata Jessica menggoda sambil mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman, namun ditolak secara halus oleh Peter dengan mengatupkan kedua telapak tangannya sebagai gantinya berjabat tangan.
"Sit down please." kata Peter ramah. I am fine thank you. How about you? "
" I am fine. Now you have changed a lot, Peter." ujar Jessi lembut sambil duduk di depan Peter.
"Well ... this is what I am now. Why did you come here?"
"I want to take you to lunch while chatting."
"Sorry, I can not Jessi. Because I always have lunch with my wife."
"Oh... it is ok. Yesterday I got your wedding invitation card."
"So? "
"I didn't know you were married. I guess you won't get married since I went to America."
"For what I hope for a woman who has left me." ujar Peter sambil menatap dingin ke Jessica.
"Do you still love me? " tanya Jessi lembut
"Have not." jawab tegas. "Forget our love story in the past." lanjut Peter dengan tatapan dingin dan tajam.
"Why?"
"Because I don't love you anymore and it's all gone."
"Can we still be friends?"
"Ehmmm... Yes."
"After lunch we meet again in the meeting room." ujar Jessi.
"Why did you attend the meeting?"
"Because I'm the main model in your company's milk product advertisement."
Ceklek
Pintu ruang kerja Peter terbuka lebar. Dibalik pintu itu terlihat Irene, Zayn dan Ira. Mereka berjalan masuk ke dalam ruangan menghampiri Peter.
"Assalamu'alaikum." salam Irene, Zayn dan Ira kompak setelah berada di samping kanan Peter.
"Wa'alaikumsalam." balas Peter ramah, kemudian mereka menyalim tangan kanannya Peter secara bergantian.
"Siapa dia Pe?" tanya Irene sambil melirik Jessi.
"Dia Jessica Lincoln. " jawab Peter. "Jessi introduce yourself." lanjut Jessi, lalu Jessi berdiri dan mengulurkan tangan kanannya ke Irene.
"Jessica Lincoln. I'm Peter's friend and business partner." kata Jessi.
'Irene Serafina Herdian. I am his wife. nice to meet you Jessi. " kata Irene ramah sambil membalas uluran tangan kanannya Jessi untuk bersalaman.
"Oh, she is Irene Serafina Herdian. He who changed Peter. His appearance is very simple. Is she a low profile?" gumam Jessi dalam hati sambil memandang Irene dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan tajam yang membuat Irene risih.
"Ini orang kenapa lihat aku begitu banget? " kata Irene membatin di hati yang risih dilihati oleh Jessi.
"Peter, see you at the meeting later." kata Jessi setelah melepaskan tangan kanannya dari genggaman Irene.
"Sayang ada urusan apa dia datang ke sini?" kata Irene cemburu sambil memanyunkan bibirnya.
"Ciyeeee... cemburu nich, dia hanya say hello aja honey. Kamu tambah cantik aja kalau lagi cemburu." kata Peter sedikit menggoda.
"Emang dia siapanya Kak Peter?" tanya Ira polos.
"Mantan pacarnya Kak Peter. " jawab Irene sedikit bete.
"Kalau nggak salah ingat, dia itu.... artis Hollywood dan supermodel dunia papan atas ya?"
"Yup betul sekali. " jawab singkat Peter.
"Wah, keren dong Kak Peter punya mantan pacar seperti dia." ujar Ira iseng yang sengaja untuk membuat Irene cemburu.
"Apanya yang keren. Terus dia ikut rapat apaan sama kamu?" kata Irene yang masih cemburu.
"Rapat pemasangan iklan media elektronik dan media cetak untuk produk susu perusahaan ini, dia jadi model utamanya." jawab Peter sambil memandang usil ke Irene beranjak berdiri dari kursi kerjanya, dan menghampiri tubuhnya Irene.
Cup
Peter mendaratkan bibirnya ke pipinya Irene sambil memeluk pinggang Irene secara tiba - tiba.
"Huss... kamu tuch nggak tahu tempat. Di sini kan ada Ira dan Zayn! " ujar Irene sedikit membentak.
"Iya nich kakak, gimana sich. Masa mesra - mesraan di depan aku, bikin jiwa jombloku meronta - ronta." samber Ira.
" Hehehe... Kakak seperti ini untuk kasih tahu sikap suami yang sangat mencintai dan menyayangi istrinya." ucap Peter usil.
"Yah... nggak begini jugalah, lepasin, malu ah! "
"Biayin aja Ummi, Zayn suka lihat Daddy peluk Ummi, kayak Ummi peluk Zayn." celoteh Zayn polos.
"Yes, I agree with you my son. " ucap Peter senang yang semakin erat memeluk pinggangnya Irene.
"Kamu tuch tambah menjadi aja, mentang - mentang Zayn mendukung kamu. Lepasin nggak!"
"Nggak, aku pengen gini dulu, lima menit aja. " bisik Peter sambil membenamkan wajahnya di tengkuk leher jenjangnya Irene.
"Auwww... " ujar Peter sedikit kesakitan setelah Irene mencubit pinggangnya Peter, kemudian Peter melepaskan pelukannya.
"Kalau begitu terus, kapan kita makan siangnya. " kata Irene sedikit kesal.
"Ira dan Zayn, tolong kalian duluan aja ke restorannya dan tolong bilangin ke para bodyguard, saya tidak mau diganggu sama siapapun." pinta Peter lembut.
"Ehmmm... pasti mau berduaan dulu ya? " tanya usil Ira.
"Udahlah, kita perginya bareng aja. " ucap Irene sedikit malu.
"Nggak. Ini perintah suami. Ira tolong bawa Zayn ke restoran dulu ya, nanti kami nyusul ke sana." kata Peter tegas.
"Iya Kak. Ayo Zayn kita duluan. " kata Ira sambil menggandeng Zayn.
"Kenapa kita duluan Aunty? "
"Ehmmm... Ummi dan Daddy mau bikin adik dulu buat Zayn. " jawab asal Ira.
"Wah asyik dong, aku punya dede, bisa diajak main. " ucap Zayn senang.
"Makanya cepatan kita pergi dari sini, biar cepat jadi dedenya."
"Do'ain aja ya Zayn. " sahut Peter.
"Ok, Daddy. Ayo Aunty kita pergi dari sini." kata Zayn sambil menggoyangkan tangannya yang sedang digandeng sama Ira.
Kemudian Ira dan Zayn berjalan menuju pintu ruang kerjanya Peter. Ira memegang handle pintu, lalu menekannya ke bawah kebawah dan menariknya sehingga pintu terbuka lebar secara perlahan.
Ira dan Zayn melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerjanya Peter. Ditarik lagi daun pintunya untuk menutup pintu itu sehingga mereka menghilang dari penglihatan Irene dan Peter.
"Sekarang kamu mau apa? " tanya Irene.
"Aku mau berduaan dulu sama kamu." goda Peter sambil menaik turunkan alisnya, lalu memeluk pinggangnya Irene.
"Kan di kamar bisa. " ujar Irene.
Tanpa basa basi lagi, Peter menarik tubuhnya Irene. Tangan kanannya, menarik tengkuk lehernya Irene. Menjamah bibir ranumnya Irene dengan kelembutan.
"Peter... stop it! " kata Irene sambil mendorong tubuhnya Peter sehingga ada jarak sekitar sepuluh centimeter. "Apakah kamu mau melakukan itu lagi? " tanya Irene sambil menatap lembut ke matanya Peter.
"Tidak, aku hanya ingin berciuman saja denganmu." jawab Peter.
Kemudian Peter mendaratkan lagi bibirnya ke bibirnya Irene dengan lembut, dan ******* pelan. Tak kalah dengan ciuman yang diberikan oleh Peter, Irene membalas ciuman itu dengan gerakan syahdu sehingga memanas.