YOU AND ME

YOU AND ME
Peristiwa



"Later when I am done talking with Jessica, I will call you Rivaldo." kata Peter sambil membuka pintu mobilnya ketika berada di seberang pintu lobby sebuah hotel.


"Yes sir."


Tak lama kemudian Peter menutup mobilnya, lalu berjalan santai dengan menggunakan setelan jas biru dongker, kemeja biru muda dan dasi berwarna gradasi biru. Tak lupa Peter menggunakan kacamata hitam. Peter melewati pintu otomatis hotel itu.


Di sebuah lobby hotel yang tidak begitu mewah terdapat beberapa wartawan dan banyak sekali orang. Peter langsung menuju ke meja resepsionis untuk mengetahui keberadaan Jessica. Namun ketika dia hendak mau melangkahkan kakinya ke meja resepsionis, tiba - tiba manajer Jessica menyapanya.


"Hallo Peter, how are today? " sapa Rio sang manajer.


"I am fine. Where is Jessica?" tanya Peter Tosh the point.


"Jessica was in her room. If you want to meet him, you should go straight there." jawab manajernya Jessica.


"Why should I go there? Can you ask him to go down to the lobby?" tanya Peter datar.


" He did not want to meet with reporters. And he asked me to tell you that he wants to talk to you in his room."


"OK. Which room is the floor and which room is the room number?" tanya Peter yangasih menatap tajam ke manajernya Jessica.


"On the sixth floor, number six hundred twenty." jawab sang manajer.


Kemudian Peter berjalan cepat menuju ke kamarnya Jessica dengan menggunakan sebuah lift di hotel itu. Dia memencet tombol angka enam pada dinding di sebelah kiri lift.


Ting


Pintu lift terbuka lebar. Peter masuk ke dalam lift yang kosong, lalu dia menekan tombol angka enam di dinding lift sebelah kanan. Pintu lift otomatis tertutup. Jalannya Lift begitu sangat cepat, sehingga dalam hitungan detik lift itu berhenti dan otomatis pintu lift terbuka lebar.


Peter melangkahkan kakinya ke depan untuk memperhatikan arahan panah yang menunjukkan letak nomor - nomor kamar yang terletak di lantai itu.


Ddrrrrtttt... ddrrrrtttt... ddrrrrtttt...


Handphonenya Peter yang berada di saku dalam jasnya bergetar. Diambilnya ponsel itu dari dalam saku jasnya. Di layar handphonenya terlihat nama My Wife yang sedang menelponnya, lalu Peter menerima panggilan dari istrinya.


"Assalamu'alaikum." sapa Irene.


"Wa'alaikumsalam. Ada apa sayang? "


"Honey, kamu kirim bucket bunga lagi ke aku?" tanya Irene yang merasa heran dengan Peter karena hari ini Peter mengirim karangan bunga sudah dua kali, biasanya sehari sekali.


"Iya sayang. "


"Kenapa kamu mengirim bucket bunga lagi? "


"Tadi ketika aku melewati sebuah toko bunga, aku tertarik dengan bucket bunga itu yang terpampang di bagian luar depan toko bunga itu. Dan aku membelinya."


"Tapi kan jadi mubazir, mau taruh di mana bucket bunga itu? Sedangkan semua vas bunga sudah terisi."


"Taruh saja di atas tempat tidur, di samping kamu. Anggap saja bucket bunga itu diriku yang tidak berada di samping kamu." kata Peter spontan.


"Kamu sudah merindukan diriku?" tanya Peter menggoda.


"Nggak, aku hanya khawatir aja." jawab Irene datar.


"Masa sich? " tanya Peter usil menggoda Irene.


"Ihhh.... ini orang ditanya serius, malah bercanda bikin bete aja. "


"Aku sedang berada di lokasi syuting tempat Jessica bekerja sekarang. Letaknya di pinggiran kota London."


"Untuk apa kamu ke sana? "


"Untuk meminta penjelasan dari Jessica perihal berita gosip yang tidak benar itu, dan rencananya aku akan mengajak Jessica untuk menemui kamu dan menjelaskan semuanya."


"Memang tidak ada bukti lain dari penjelasan Jessica? "


"Ada seorang paparazzi, tapi sampai sekarang aku belum sempat menemuinya. Dan perihal peristiwa yang digosipkan itu adalah hal tidak benar. Waktu foto itu diambil, saat aku sedang mabuk di salah satu club milik Andre dan waktu itu aku, Andre, Hendrick dan Jessica sedang berencana untuk membawa kamu kabur dari rumahnya Julius. Sedang yang tahu letak setiap ruangan di dalam rumah itu adalah Jessica. Andre atau Hendrick yang meminta Jessica untuk membawa aku ke dalam kamar. Dia menggandeng tanganku. Makanya aku meminta Jessica untuk menjelaskan semuanya kepadamu. Tadi aku sudah menghubungi Jessica, dia meminta aku untuk datang ke lokasi syutingnya, setelah itu aku dan Jessica akan ke mansion kita. "


"Ok. Aku tunggu kedatangan kalian. Apakah Andre ikut bersamamu? "


"Tidak, tapi nanti dia akan langsung datang ke mansion kita. "


"Kalau Hendrick ikut denganmu?"


"Iya, dia ikut denganku."


"Ok, nanti datangnya jangan terlalu malam ya sayang. "


"Ok Honey, love you so much.... mmmmuuuaaahhh.... "


"Love you too. " kata Irene, lalu dia mematikan panggilannya itu.


"Aku harus bergerak cepat. " kata Peter sambil memasukkan ponselnya ke saku dalam sebelah kiri jasnya.


Peter dalam sekejap memperhatikan tanda panah yang menunjukkan arah ke nomor kamarnya Jessica. Kemudian Peter bergegas menuju ke kamarnya Jessica. Dia melangkah cepat ke kamarnya Jessica menelusuri setiap lorong hotel itu sehingga dia menemukan kamarnya Jessica.


"Kok pintunya sedikit terbuka?" tanya Peter sedikit bingung di dalam hati. "Apa aku salah kamar?" tanya Peter sambil melihat nomor yang ada di sebelah kiri tembok. "Benar nomor kamarnya. " kata Peter lagi.


Kemudian Peter membuka lebar pintu kamar itu. Dia memasuki kamar itu. Dia melihat pintu kamar mandi di dalam kamar itu terbuka sedikit, dan dia mendengar gemercik suara air dari kran pancuran.


"Jessica? Jessica? Jessica apakah kamu di dalam kamar mandi? " tanya Peter, namun tidak ada sahutan dari Jessica yang membuat Peter bingung.


Kemudian dia melangkah masuk ke dalam kamarnya Jessica. Dia berhenti di depan perbatasan tembok kamar mandi. Di sana terlihat sebuah dua sofa kecil, satu meja kecil, satu lemari kecil dan tempat tidur ukuran king size.


Dorrrr...


Bunyi pelan tembakan yang berasal dari pistol bertehnik canggih sehingga tidak menimbulkan suara yang keras. Peluru itu menembus sampai ke samping kiri kepalanya Peter. Otomatis membuat Peter tersungkur lunglai di atas lantai.