YOU AND ME

YOU AND ME
Di dalam Kamar



Rifky, Angga, Agus, dan Oxy menjenguk Irene yang sedang dirawat di rumah sakit. Mereka berempat adalah sahabat Irene sejak sekolah menengah pertama.


Selain menjalin persahabatan, mereka juga menjalin bisnis kontruksi residential atau sering disebut borongan selama hampir dua tahun belakangan ini. Klien pertama mereka adalah perusahaan milik mertua Irgi dan perusahaan milik orang tuannya Oxy.


Tok... tok... tok... Ira dan Irene menoleh ke arah pintu.


"Assalamu'alaikum." salam mereka berempat kompak.


"Wa'alaikumsalam." balas Irene dan Ire barengan. "Masuk." ujar Ira dengan suara kencang sambil duduk di samping kanan Irene.


Ceklek... pintu terbuka lebar yang memperlihatkan mereka berempat. Satu per satu mereka masuk dan melangkah kaki mereka menghampiri Irene.


"Hallo boyband Teh Irene. " sapa Ira yang selalu menyebutkan mereka boyband teh Irene ketika bertemu.


Mereka berempat hanya tersenyum sebagai jawabannya. Mereka berempat berjalan beriringan ke sofa panjang yang berada di depan ranjang Irene dan duduk di atas sofa itu.


"Ini ada roti dan buah - buahan untuk elo Ren. " kata Rifky sambil mengangkat dua kresek.


"Terima kasih, tolong taruh di atas meja aj Ky." ujar Irene, lalu Rifky menaruh dua kresek itu di atas meja.


"Kalian kalau mau minum atau mau ngemil tinggal ambil aj di kulkas ya." ucap Irene.


"Santai aja Ren." ujar Oxy.


"Gimana kabar perusahaan kita men? "


"Baik. Tapi kemarin Kakak elo telepon. Kakak elo minta pembangunan proyek perumahan garden paradise dipercepat. " kata Rifki sambil melihat Irene yang masih terbaring lemas di atas tempat tidur.


"Ya dah dipercepat aj." kata Irene serius sambil memandang Rifky yang sedang duduk di atas sofa.


"Sumber daya manusianya kita kurang Ren." samber Oxy yang sedang duduk di sebelah kanan Rifky.


"Bukan itu hanya itu aja, uang untuk mempercepat pembangunan proyek itu kurang Ren." sahut Agus sambil duduk di samping kiri Rifky.


"Bahan bangunan yang kemarin kita beli juga kurang Ren." celetuk Angga sambil duduk di sebelah kanan Oxy.


"Gimana Ren? Apa kita minta dana tambahan dari kakak elo untuk menutupi kekurangan kita. " tanya Rifky.


"Ehmmm... boleh juga, sekarang elo hubungi aja kakak gw, ajak dia rapat soal ini. Dan tolong kalian bikin proposal soal perencanaan itu untuk sebagai bahan pembicaraan di dalam rapat besok, biar jelas perinciannya." saran Irene.


"Ok. Dan gw maunya elo juga ikut rapat juga Ren. Biar transparan. " kata Rifky.


"Ya udah besok kita adain rapat di dalam kamar ini.


"Kakak nggak boleh banyak mikir, nanti lama sembuhnya." ucap Ira.


"Tenang aja adikku sayang, besok itu hanya rapat kecil tidak terlalu banyak menggunakan pikiran. " ucap Irene santai sambil duduk bersandar di headbed.


"Terserah kakak aja dech. "


"Selamat siang." sapa Rogen dari balik pintu yang terbuka sedikit.


"Selamat siang juga. Masuk Gen! " kata Irene, lalu Rogen mendorong pelan pintu itu sampai terbuka lebar dan dia berjalan menghampiri Rifky, Oxy, Angga dan Agus.


"Hallo Jeon Jung Kook! " sapa Ire saat melihat Rogen.


"Hallo juga nona cantik. Hai! Apa kabar kalian semua?" sapa Rogen ramah sambil berjalan pelan ke mereka.


"Alhamdulillah gw baik." balas Rifky.


"Gw baik." sahut Angga.


"Gw juga baik. " jawab Agus


"Gw juga baik." jawab Oxy.


" Gimana kabar elo Ren? Udah lebih enakan? " tanya Rogen sambil menduduki badannya di atas sofa tunggal samping sofa panjang.


"Alhamdulillah udah lebih baik. Kata dokter lusa gw udah boleh pulang."


"Baguslah." ujar Ale sambil menatap lembut ke Irene.


"Gimana kabar elo Le? Udah lama banget ya kita nggak bertemu." kata Rifky sambil menoleh ke Ale.


"Iya. Udah hampir tujuh tahun ya." kata Ale sambil menoleh ke Rifky.


"Elo Ale mantannya Irene ya? " tanya Agus. sambil menengok ke wajahnya Ale.


"Iya, kenapa? kangen ya? " kata Ale bercanda.


"Hahaha, iya, gw kangen ditraktir sama elo Le. " kata Agus bercanda.


"Ya dah habis jenguk kita makan - makan. " kata Ale menimpali candaan Agus.


"Nggak usah nanti, sekarang aja traktir kita, makan pizza. " sahut Ira semangat.


"Husss Ira! Ga usah nyamber." kata Irene yang merasa tidak enak hati.


"Ih kakak, nggak cihuy nich, bikin bete aja." kata Ira mendengus kesal.


"Biarin aja Ren, nggak usah sungkan. Udah kamu pesan aja pizzanya. Pesan empat loyang ukuran besar sama lemon tea beli 10 porsi."


"Banyak amat Bang Jeon Jung Kook. Oh ya, variasi pizzanya apa aja Bang?"


"kan kita orangnya juga banyak, kalau variasi terserah nona cantik aja dech. " kata Ale.


"Ok." ujar Ira, lalu Ira mengambil handphonenya yang berada di atas nakas samping kanan ranjang Irene lalu dia menyentuh beberapa ikon di layar handphonenya untuk memesan makanan di aplikasi gofood.


"Assalamu'alaikum." sapa Irgi sambil berjalan masuk ke dalam kamar rawat inap.


"Wa'alaikumsalam." sapa mereka kecuali Ale.


"Lagi pada ngumpul nich? " tanya Irgi sambil melihat sekeliling dan berjalan menghampiri Irene.


"Iya." jawab Irene.


"Gimana kabar kamu Irene? " tanya Irgi sambil berdiri di samping kanan ranjang di dalam kamar rawat inap Irene.


"Alhamdulillah baik A'a. " jawab Irene.


"Ini ada makanan buat kamu dari Kak Sisca. " kata Irgi sambil mengangkat rantang.


"Terima kasih A'a, Ra tolong taruh rantang itu ke atas nakas." kata Irene sambil melirik Ira.


"Iya teh." kata Ira sambil mengambil rantang dari Irgi lalu dia menaruhnya di atas nakas di sampit kanan ranjang.


"Ada sich, besok jadwal A'a padat, emang kenapa Ren? "


"Besok kita mau adaain rapat soal percepatan pembangunan proyek perumahan garden paradise." jawab Irene.


"Kalau gitu lusa aja."


"Kenapa minta dipercepat Kak?"


"Kurang tahu juga, mertua kakak buang minta dipercepat."


"Kalian punya usaha kontruksi residential? " tanya Ale.


"Iya. Aku, Rifky, Agus, Angga dan Oxy sedang bangun bisnis kontruksi residential."


"Kebetulan dong, perusahaan property gw ingin bangun hotel di Lombok dan lagi cari perusahaan kontruksi residential." ucap Ale.


"Kita kerjasama aj Le." kata Oxyopes semangat.


"Ayo, kalian tinggal bikin aja proposalnya mengenai hotel itu. Konsep, arsitektur, desain interior, desain eksterior dan yang lainnya kalian yang buat. Bikin aja beberapa konsep mengenai hotel itu." ujar Ale.


"Baiklah Le. Nanti kalau udah bikin proposal, kasih ke siapa? " tanya Irene.


"Ke aku aja. "


"Deadlinenya kapan?" tanya Rifky.


"Lebih cepat lebih baik, paling telat hari rabu minggu depan." ucap Ale.


"Ok. InsyaAllah lusa jadi proposalnya. " kata Oxy yakin.


"Gw tunggu ya." ujar Ale.


"Permisi." kata salah satu perawat sambil membawa sebuah nampan merah yang berisi obat - obatan dan berjalan menghampiri Irene dan menaruh nampan itu di atas nakas sebelah kiri ranjang.


"Ini obatnya ya Bu Irene, kalau bisa di dalam kamar tidak boleh berisik dan banyak orang ya, takut ganggu ketenangan pasien." kata perawat itu sambil melihat sekeliling kamar.


"Tenang aja perawat yang baik hati, kita tidak akan menggangu ketenangan pasien. Kita di dalam kamar ini hanya mengobrol biasa dan sebentar lagi kita pulang kok." kata Ale ramah, lalu tersenyum manis ke perawat itu.


"Baiklah kalau begitu. " ujar perawat itu, kemudian perawat itu pergi keluar ruangan.


"Ada - ada saja tuch perawat, sekarang kan jam jenguk pasien, masa para tamu yang jenguk di suruh pergi sich. " ucap Ira kesal.


"Biarin aj Ra, lagi PMS kali jadinya dia pusing lihat orang banyak di dalam kamar pasien. " kata Irgi.


"Assalamu'alaikum." salam Peter yang sedang berdiri di ambang pintu kamar pasien.


"Wa'alaikumsalam." balas mereka kecuali Ale sambil menoleh ke Peter.


"Ngapain elo ke sini! Mau bikin adik gw sakit lagi!" amarah Irgi.


"A'a nggak boleh marah." kata Irene lembut.


"Aku ke sini mau menjenguk Irene dan ingin bicara sama Irene. " kata Peter sopan.


"Tidak semudah itu Ferguson. " ujar Ira sambil berjalan menghampiri Peter.


"Aku ingin bicara sesuatu ke Irene. "


"Mau bicara apa hah!? kata Ira sedikit kesal sambil berdiri di depan Peter.


"Biarkan dia bicara Ra. " ujar Ale sambil menoleh ke Ira dan Peter.


" Masuk aja Peter. " ujar Irene, lalu Peter berjalan menghampiri Irene.


"Kamu mau bicara apa? " tanya Irgi sambil melirik sinis ke Peter yang sudah berdiri di sebelah kanan Irgi.


"Aku punya bukti bahwa aku telah dijebak oleh Claudia. " ucap Peter.


"Mana buktinya?" tanya Irgi.


"Ini buktinya." kata Peter sambil mengangkat sebuah flashdisk ditangan kanannya. "Kamu bisa mendengarkan percakapan Claudia dengan seseorang yang telah membantu dia untuk ngejebak aku dan beberapa teks chattingan Claudia." lanjut Peter semangat.


"Ini kamu pegang aja, aku punya yang aslinya." kata Peter sambil memberikan flashdisk itu ke Irene.


"Nanti aku lihat isi flashdisk ini." kata Irene, lalu dia menaruh flashdisk itu ke dalam laci nakas sebelah kirinya.


"Bagaimana keadaan kamu Irene? Apa kamu sudah baikan? Kamu sakit apa? Kamu kapan pulang ke rumahnya? rentetan pertanyaan Peter yang khawatir akan kondisi Irene.


"Alhamdulillah aku sudah baik. Aku sakit tipes. InsyaAllah lusa aku pulang ke rumah." jawab Irene.


"Aku jemput kamu ya kalau kamu sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. " pintar Peter memelas.


"Lihat aja nanti. " jawab Irene datar.


"Irene apakah kita masih bisa melanjutkan hubungan kita ke jenjang pernikahan? "


"Lihat saja nanti setelah kulihat isi flashdisk itu."


"Kalau begitu lihat aja isi flashdisk itu. " ujar Peter.


"Aku nggak bawa laptop. " ujar Irene.


"Pakai iPad aku aja Ren." saran Ale.


"Iya, gw pinjam dulu ya." kata Peter sambil menatap ramah ke Ale.


"Permisi, ada Bu Iranya? " tanya tukang ojol sambil membawa pesanan Ira di ambang pintu.


"Oh ya itu saya. Jadinya berapa Pak?" tanya Irene.


"Tiga ratus delapan puluh." jawab tukang ojol itu.


"Bang Ale uangnya mana?" tanya Ira.


Lalu Ale beranjak berdiri dari sofa. Kemudian berjalan menghampiri Ira. Ale mengambil dompetnya dari saku belakang celana jinsnya. Dia memberikan empat lembar uang ratusan.


"Ini uangnya, kembaliannya buat Bapak aj. " kata Ale sambil memberikan uang tersebut ke tukang ojol itu.


"Terima kasih ya Pak." kata tukang ojol itu, lalu tukang ojol itu pergi


"Kita makan dulu yuk! ajak Ale setelah membalikkan badannya sambil menenteng empat bungkus pizza dan satu bungkus plastik besar.


" Terima kasih Ya Allah. Sekarang ini aku sangat senang berada di dalam kamar ini karena aku merasa tidak bosan dan bete walaupun Peter menjenguk diriku." kata Irene dalam hati.