YOU AND ME

YOU AND ME
Anak Kita



"Huek ... huek ... huek ... huek ... huek ... ." muntahan Irene di westafel kamar mandi sambil memegang perutnya dan kran air untuk membukanya supaya air mengalir membersihkan muntahan nya.


"Honey, kamu kenapa?" tanya Peter khawatir melihat Irene sedang muntah sambil memijat pelan tengkuk lehernya Irene dan memegang rambut Irene agar tidak kena muntahan dari mulutnya Irene.


Irene menyelesaikan rasa mualnya itu dengan membasuh bibirnya menggunakan air dari kran wastafel. Kemudian Irene menegakkan tubuhnya dan mengeringkan bibirnya dengan tissue yang berada di dinding samping kiri westafel. Peter pun segera mengusap lembut punggung Irene dan mendekap tubuh ideal itu dari belakang.


"Sayang perutku mual, dari kemarin pagi seperti ini." kata Irene lemas.


"Muka kamu pucat. Apa aku panggil dokter aja untuk memeriksa kesehatan kamu?" tanya Peter yang mengkhawatirkan keadaan Irene.


"Terserah kamu sayang." kata Irene sambil melepaskan kedua tangan Peter dari tubuhnya. "Aku mau tiduran dulu, badanku dari kemarin pegal." lanjut Irene, lalu dia berjalan gontai keluar dari kamar mandi.


"Aku akan telepon dokter keluarga untuk datang ke sini, memeriksa kesehatan kamu." ujar Peter sambil mengekor Irene dari belakang.


"Aku rasa tidak perlu sayang, menurutku sekarang aku sedang hamil." ujar Irene sambil menaiki badannya ke tempat tidur.


"Alhamdulillah kalau kamu hamil, tapi sebaiknya kamu diperiksa dulu sama dokter untuk memeriksa kondisi kesehatan kamu honey." ucap Peter sambil berjalan menghampiri Irene.


"Ya udah terserah kamu aja sayang." kata Irene sambil tiduran.


Tok ... tok ... tok ...


"Sir, there is a doctor Roy wants to meet with you." kata salah satu maid di rumah itu.


"Wah kebetulan sekali, dokter Roy datang ke sini. Kamu periksa sekarang aja ya honey?"


"Iya sayang." kata Irene pasrah. "Oh sayang, tolong bilangin ke bibi Molly untuk buatin kue keju seperti yang kemarin, aku ingin sarapan kue itu."


"Iya sayang." kata Peter, lalu dia berjalan lagi ke pintu kamarnya dan menekan handle pintu kamar untuk menariknya.


Ceklek


Pintu kamar berbuka lebar.


"Please tell the doctor, tell him to come to this room, I'll wait here. And please tell Aunt Molly,


cook cheese cake."


"Yes sir." kata maid itu sambil menganggukkan kepalanya.


"Thank you."


Kemudian Peter menutup pintu kamarnya, mengambil jilbab instan milik Irene yang berada di belakang pintu kamar dan menghampiri Irene yang sedang meringkuk.


"Honey, apakah kamu sudah tidur?" tanya Peter sambil mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur.


"Belum sayang. Aku hanya ingin hilangin rasa mual diperutku."


"Honey, apakah gejala hamil seperti ini?" tanya khawatir Peter sambil memandang Irene dengan tatapan kasihan.


"Iya sayang, gejala ini sering disebut morning sickness."


"Apakah kamu sangat bahagia jika kamu hamil lagi?"


"Ya iyalah sayang. Aku sangat bahagia."


"Tapi kenapa kamu seperti ini, seperti tidak bahagia dan kesakitan."


"Memang seperti ini sayang kondisi orang yang sedang hamil, hal seperti ini sudah lumrah."


"Kenapa seperti itu kalau wanita sedang hamil?"


"Coba kamu tanyakan saja pada dokter Roy, mungkin dia bisa menjelaskannya." ucap Irene yang masih meringkuk.


Tok ... tok ... tok


"Sir, mister doktor Roy is here." kata salah satu maid.


"Honey, pakai jilbabmu." kata Peter sambil memberikan jilbab instan ke Irene.


"Thank you sayang." kata Irene sambil beranjak duduk dan mengambil jilbab itu, lalu memakainya.


Kemudian Peter bangkit berdiri dari pinggir ranjang dan berjalan menghampiri pintu kamar untuk membuka pintu kamar.


Ceklek


Pintu kamar terbuka lebar.


"How are you today Peter?" tanya basa - basi Pak dokter Roy sambil berjalan masuk ke dalam kamar.


"I am fine, thank you. How about you Uncle?" tanya balik Peter ke Pak dokter Roy sambil menutup pintu.


"I am fine too, thank you." kata pak dokter Roy sambil berdiri di depan Peter.


"Uncle please check my wife. From yesterday, every morning he throws up and his body feels tired all the time. "


"Ok." kata Pak dokter, lalu dia berbalik badan dan menghampiri Irene yang sedang duduk berselonjoran di atas ranjang.


"Good morning Miss Irene. How are you today?" sapa Pak dokter Roy sambil berjalan menghampiri Irene.


"Good morning Uncle doktor Roy." kata Irene ramah.


"What do you feel, Irene?" tanya Pak dokter Roy sambil membuka tas kerjanya untuk mengambil stetoskop.


"From yesterday, every morning I always vomited and my body ached all. In my opinion, it was because of the symptoms of someone who was pregnant. But my husband wanted to make sure that I was pregnant or I'm sick."


"I will check for a moment, okay?" tanya Pak dokter Roy sambil memegang ujung stetoskop.


"Ok." kata Irene sambil membuka beberapa kancing piyamanya.


Kemudian dokter itu memeriksa badannya Irene. Lalu dia mengambil pulpen dan buku resep obat dari dalam tas kerjanya dan menulis sesuatu di atas salah satu dari buku resep obat itu.


"Uncle is my wife pregnant or sick?" tanya Peter sedikit panik.


"Your wife is now pregnant. Her pregnancy is two weeks. Here is a vitamin recipe for pregnant women." kata Pak dokter itu sambil memberikan resep vitamin itu.


"Alhamdulillah. My wife is pregnant. Thank you Mister doktor." kata Peter bahagia sambil menerima resep itu, lalu menaruhnya di atas nakas.


"Alhamdulillah." ucap Irene bahagia. "Thank you Uncle.'


"You're welcome. Oh ya Peter, I want to provide an archive of the budget for the construction of the mosque around your hospital." kata Pak dokter itu sambil mengambil satu map berwarna biru langit dan memberikan map itu kepada Peter yang sedang berdiri di sampingnya.


"Thank you Uncle." kata Peter sambil menerima map itu.


"You're welcome. Goodbye Peter. See you again in your hospital." kata Pak dokter Roy sambil berbalik badan.


"Goodbye Uncle, be careful Uncle. " kata Peter sambil membalikkan badannya.


Pak dokter Roy dan Peter berjalan menghampiri pintu kamar. Peter memegang dan menarik handle pintu kamar.


Ceklek


Pintu kamar terbuka lebar. Pak dokter Roy berjalan keluar dari kamar. Setelah itu menutup pintu kamar itu.Kemudian Peter berjalan menghampiri Irene dan naik ke atas ranjang agar bisa duduk di samping istrinya.


"Hari ini aku sangat bahagia bahwa kamu sedang mengandung anak kita." kata Peter senang dengan mata yang berbinar - binar sambil duduk di samping Irene.


"Aku juga sangat bahagia dengan adanya anak kita di dalam perutku. " kata Irene sambil mengelus lembut perutnya.


Cup


Sebuah ciuman yang mendarat di keningnya Irene. Lalu Mendekap erat tubuh idealnya Irene.


"Aku ingin sekali berada di sampingmu sepanjang hari." kata Peter lembut.


"Tapi kan kamu harus pergi ke Amerika Serikat, jadi nggak bisa nemenin aku." kata Irene sedikit sedih.


"Honey, apa aku harus membatalkannya? "


"Ehmmmm... tidak usah sayang. Itu juga sangat penting untuk kehidupan kita."


"Kamu harus jaga dirimu dan anak kita selama aku tidak ada di sampingmu. Jangan lupa makan makanan yang bergizi sesuai takarannya, minum vitamin dan istirahat yang banyak agar anak kita sehat selalu selama ada di dalam perutmu. "


"Iya sayang, tanpa kamu minta, aku juga akan melakukan itu semua untuk kebaikan anak kita ini. Kamu berapa hari di Amerika ya? "


" Paling lama tujuh hari, tapi aku usahain agar lebih cepat mengurusi semua bisnis yang ada di sana." kata Peter sambil melepaskan tangannya dari tubuhnya Irene. "Aku beli vitamin buat kamu. " kata Peter sambil menggeserkan badannya ke pinggir ranjang dan bangkit dari tempat tidur.


"Iya, hati - hatinya sayang. "


"Kamu tunggu aku di sini aja, jangan kemana - mana. " kata Peter sambil mengambil resep vitamin yang berada di atas nakas.


"Iya sayangku. "


Kemudian Peter berjalan ke pintu kamar untuk pergi membeli vitamin buat Irene.