YOU AND ME

YOU AND ME
Obrolan Kita



"Alhamdulillahidzdzii khalaqa minal maa i basyaraa. " doa Irene dan Peter dalam hati.


Setelah pelepasan pencapaian yang nikmat dengan sesuatu yang hangat mengalir di sana. Tubuh Peter sudah jatuh di samping tubuh profesionalnya Irene. Nafas keduanya terengah - engah.


Mereka sedang mengatur nafas yang berantakan. Badan mereka masih berkeringat peluh yang bercucuran di seluruh tubuh mereka. Malam ini mereka menghabiskan tiga ronde dalam kenikmatan surgawi yang diridhoi oleh Allah dan yang dibenci oleh setan.


Dari punggung atas sampai bahu Irene dan Peter tak tertutup dengan selimut memperlihatkan kulit yang mengkilat akibat banyaknya bulir keringat yang menetes saat mereka sedang melaksanakan akan kewajiban dan tugas sebagai pasangan suami istri untuk kesekian kali di malam ini.


"Honey, apakah kamu lelah?" tanya Peter, lalu dia memiringkan badannya menghadap Irene.


"Iyalah pasti, habisnya kamu minta terus." jawab Irene sambil menatap lembut.


"Terima kasih karena kamu telah menyempurnakan agamaku dan telah bersedia untuk menjadi istriku. " ujar Peter lembut sambil menyeka keringat di kening Irene.


"Sama - sama. Sayang, kenapa kamu tadi lebih bersemangat dari sebelumnya?" tanya Irene sambil membenamkan wajahnya di dada kekar Peter yang masih belum memakai baju.


"Karena aku ingin punya anak dari kamu secepatnya." jawab Peter lembut sambil berulang kali menyelipkan anak - anak rambut Irene ke belakang telinganya.


"Memangnya kamu sudah siap punya anak dalam kurun waktu yang cepat?


" Iya. Sudah siap segalanya. Bahkan aku sudah mempersiapkan tiga kamar khusus anak - anak kita di rumah baru kita."


"Sayang... Daddy sudah tahu ya tentang hubungan aku dengan Ale?"


"Ehm... waktu itu Daddy menanyakan ke aku bahwa kamu adalah mantan kekasihnya Ale, sekarang kalian temanan dan kalian sempat berhubungan bisnis. Aku menjawab iya."


"Pantesan Daddy tidak kaget lihat aku dan Zayn lumayan dekat." ujar Irene.


"Honey, bisnis kamu sekarang jadi dialihkan ke Kak Irgi?"


"Iya sayang."


"Honey, apakah nanti kamu akan pergi meninggalkan aku?" tanya Peter halus sambil menatap hangat ke Irene.


"Tidak mungkin aku pergi meninggalkan kamu. Walaupun kamu bukan orang pertama di hatiku, tapi tidak akan ada yang menggantikan posisi dirimu di hatiku yang paling dalam.


"Kamu sekarang sudah pintar menggombal." ujar Peter senang dengan jawaban Irene.


"Aku tidak menggombal kamu, itu memang kenyataannya." ucap Irene. "Sayang, apakah kamu kelak selalu mencintaiku dan selalu menemaniku selamanya?"


"I love you forever darling. Aku selalu menemani kamu, selalu ada di sampingmu selamanya karena kamu adalah sukma jiwaku yang selamanya memenuhi ruang hatiku."


"Apakah kamu akan mengundang semua mantan pacar kamu di acara pernikahan kita nanti?"


"Aku sudah meminta tolong ke Andre untuk mengundang semua mantanku.


" Kalau boleh tahu, siapa wanita pertama yang melakukan itu bersama kamu?" tanya Irene kepo.


"Ada - ada aja pertanyaan kamu honey. Kamu bertanya seperti itu, apakah akan menyakitkan dirimu sendiri?"


"Tidak menyakitkan diriku sayang. Aku hanya ingin mengetahuinya karena kamu sudah tahu orang pertama yang melakukan itu bersamaku. Jadi aku pengen tahu aja."


"Kalau aku jawab, kamu sakit hati nggak?"


"Enggak."


"Ehmmm.... namanya Jessica, biasanya aku panggil dia Jessi."


"Apakah kamu orang pertama baginya untuk melakukan itu?"


"Sekarang kamu seperti wartawan saja Ren, banyak tanya." ujar Peter sedikit kesal.


"Aku kan sudah jadi istri kamu, jadi berhak dong untuk mengetahui semuanya mengenai dirimu. Kamu kan juga tahu semua tentang aku. Kejujuran adalah salah satu pondasi Bahtera rumah tangga." ucap Irene sedikit sewot.


"Kamu kan sudah tahu aku luar dalam untuk apa kamu mempertanyakan hal itu kepadaku." kata Peter lembut.


"Ihhh... kamu mah ditanya serius malah begitu, bikin jengkel aja." gerutu Irene sambil mengerucutkan bibir ranumnya dengan ekspresi yang menggemaskan.


Cup


Peter mencium singkat bibirnya Irene. Dipandangnya wajah Irene yang mirip dengan supermodel Gigi Hadid. Dibelai rambut panjang hitam legam milik Irene dengan lembut. Peter menarik kedua sudut bibirnya sehingga terbentuk senyuman usil yang menghiasi di wajah gantengnya Peter.


"Kenapa kamu tersenyum seperti itu? "


"Karena aku ingin menelanmu lagi." jawaban Peter yang usil sambil menaikan salah satu alisnya.


"Hah? Nggak salah tuch? Kamu mau melakukan itu lagi? "


"Hehehe iya." kata Peter sambil nyengir kuda. "Emangnya kenapa kalau mau melakukan itu lagi? " lanjutnya.


"Ehmmm... maaf kalau sekarang aku sangat lelah untuk melakukan itu lagi sayang. " kata Irene dengan tatapan sendu.


Flashback On


"Daddy ini pesawat ini bagus banget, kayak di umah aja. Kita bisa tinggal di dalam pesawat. " ujar Zayn polos. "Ini nama pesawatnya apa Daddy? " tanya polos Zayn.


"Namanya pesawat jet."


"Hah? Pesawat jet? Jet tempur? Kayak film peyang - peyang gitu? kita mau peyang ama siapa Daddy?"


"Ehmmm... peyang ama monster jahat. "


"Kita jadi man in black dong Daddy?"


"Iya. Ayo kita peyang sekarang! "


"Senjatanya mana? Minta sama oyang - oyang itu? " tanya Zayn polos sambil menunjuk dua orang bodyguard yang ada dihadapannya.


"Zayn perangnya nanti aja kalau kita sudah sampai di rumah, ok anak pintar. " ujar Irene lembut memangkas maksudnya Zayn.


"Tapi tadi kata Daddy peyangnya sekayang." kata Zayn sedih.


"Ehmmmm... nanti aja ya my son kalau kita sampai di rumah baru kita."


"Benay loh Daddy, Daddy nggak boleh bohong! " kata Zayn sedikit kesal.


"Daddy tidak berbohong. Nanti sekalian Daddy ajarin kamu menggunakan senjata api dengan benar."


"Ngaco kamu mau ajarin Zayn menggunakan pistol, lagipula untuk apa kamu mengajari Zayn menggunakan Pistol? Emangnya kamu bisa menggunakan pistol?" rentetan ucapan Irene yang tegas.


"Aku mengajarkan Zayn untuk menggunakan pistol untuk dia bisa menggunakan pistol dengan baik dan benar dan agar dia bisa menjaga dirinya, bukan untuk hal yang macam - macam. Aku sudah biasa menggunakan pistol."


"Wah Daddy hebat udah biasa menggunakan pistol, aku mau dong diajayin ama Daddy biay bisa kembali monstey - monstey jahat kayak di man in black. Kata Aunty Ia, tembakanku sering melenceng dari monstey. Nanti pistol nya diisi air cabe biay matanya buta." kata Zayn nyerocos.


"Hahaha, iya nanti kita isi pistolnya dengan air cabe." ujar Peter sedikit tertawa.


"Nanti beli pistolnya di toy us Daddy, banyak macamnya."


"Iya nanti kita beli pistolnya di sana. "


"Beli sepuluh ya Daddy, soalnya monsteynya ada sepuluh Dad. " ujar Zayn.


"Iya, nanti kita beli sepuluh. "


"Emangnya monsternya ada di mana?" tanya Peter usil


"Ada di kamay Zayn yang bayu. "


"Kok kamar Zayn yang baru. "


"Daddy peynah bilang kalau kamay Zayn yang bayu sepeyti di lua angkasa. Monsteynya berada di lua angkasa. Nanti kita naik pesawat jet tempuy ini."


"Iya." jawab Peter sambil menahan ketawa.


"Zayn, ini bukan pesawat jet tempur sayang, ini namanya pesawat jet pribadi." ujar Irene lembut.


"Ooo... ini pesawat jet pyibadi. Pantesan beda sama kayak di film."


"Film apa my son? "


"Film peyang."


Flashback Off


"Yah ... begitulah sosok si Zayn. Terima kasih kamu telah menyayanginya seperti anak kamu sendiri. " ujar Irene yang menyadarkan Peter dari lamunannya.


"Sama - sama."


"Honey, sepertinya obrolan kita berhenti dulu karena aku lagi lapar. Kamu lapar nggak? "


"Iya sayang, kamu mau makan apa?"


"Omelet."


"Ya dah kamu tunggu disini aja, aku buatkan omelet. Setelah makan kita mandi ya? " ucap Irene sambil beranjak berdiri dari tempat tidur.


"Ok, banyakin keju, iya habis makan kita mandi."


"Sip." kata Irene sambil mengacungkan ibu jarinya, lalu dia berjalan ke dapur yang ada di dalam pesawat jet pribadi milik suaminya.