
"Assalamu'alaikum." salam Peter dengan suara keras supaya kedengaran sampai dalam kamar.
"Wa'alaikumsalam. Masuk aja, pintunya tidak dikunci." balas Irene dengan teriak agar terdengar sampai luar.
Peter memegang handle pintu, lalu menekannya kebawah dan mendorong daun pintu ke dalam kamar.
Ceklek
Pintu kamar terbuka, Peter melangkah masuk ke dalam kamar. Dia melihat Irene sedang menyisir rambut panjangnya yang membuat nya tersenyum usil. Ditaruhnya tas kerja di meja kerjanya yang jaraknya tidak jauh dari pintu kamar. Kemudian dia menghampiri Irene.
"Honey, apakah besok malam kamu mau ikut ke acara peluncuran film yang diproduksi oleh PH ku? " tanya Peter sambil merangkul bahunya Irene.
"Berarti benar apa yang Jessi bicarakan. " ucap Irene yang membuat Peter terkesiap dan kaget.
"Jessica? Kamu bertemu dengannya? Dia bicara apa ke kamu?" rentetan pertanyaan Peter yang kepo.
"Iya Jessica mantan kamu. Aku bertemu dengannya di supermarket setelah nemanin Daddy check up dan terapi di rumah sakit. Ngomong apa aja." jawab Irene sambil melepaskan kedua tangannya Peter, lalu beranjak berdiri dari kursi meja rias dan berjalan pelan ke tempat tidur.
"Ayolah ceritakan apa yang telah dibicarakan oleh Jessi kepada kamu? Aku mau kita setiap hari berkomunikasi dengan intens supaya tidak ada kesalahpahaman diantara kita." kata Peter sambil berjalan pelan ke tempat tidur.
"Aku ingin kamu jujur." ujar Irene sambil duduk selonjoran di atas tempat tidur.
"Iya aku jujur supaya kamu tidak salah paham." kata Peter sambil mendudukkan tubuhnya di pinggir ranjang dan menghadap ke Irene.
"Apa benar dia wanita pertama yang melakukan itu bersamamu?"
"Iya."
"Apa benar kamu pria pertama yang melakukan itu bersamanya?
" Iya."
"Benarkah kalian melakukan itu yang pertama kali waktu masa sekolah menengah atas?"
"Ehmmmm... aku lupa.
"Benarkah kalian melakukan itu pertama kalinya dikelas kalian saat semua siswa sudah pulang?"
"Aku lupa. "
"Yang pertama kali mengajak melakukan itu adalah kamu?
" Iya. "
"Benarkah kalian pernah hidup bersama tanpa pernikahan?"
"Ehmmmm... iya."
"Benarkah kalian setiap hari melakukan itu?"
"Ehmmmm... iya."
"Benarkah kamu yang meninggalkan dirinya?"
"Tidak. Bahkan dia yang meninggalkan diriku."
"Katanya dia pergi ke Amerika Serikat untuk mengasah bakat actingnya bukan untuk meninggalkan kamu."
"Itu alasannya saja. "
"Benarkah kalian dulu sering liburan bareng?"
"Iya."
"Apa kamu masih mencintainya?" tanya Irene yang menyesakan hati.
"Tidak."
"Tapi dia masih mencintaimu? Apa kamu memberikan harapan manis ke dia perihal untuk cinta lama bersemi kembali?"
"Dia memang masih mencintaiku sampai sekarang dia mengejar - ngejar aku padahal udah kutolak. Aku sama sekali tidak memberikan harapan tentang itu kepadanya."
"Apa benar besok dia diundang ke acara peluncuran film itu olehmu?"
"Yang mengundang dia bukan aku, tapi perusahaan."
"Kenapa dia diundang?"
"Mungkin karena dia salah satu pameran di dalam film itu. Sudahlah tidak usah kamu masukin ke dalam hati omongan dia, dia itu wanita yang ingin menghancurkan rumah tangga kita. Believe me please. I am not liar." ucap Peter yang sejujurnya. "Aku tidak mau kamu jadi salah paham karena termakan omongan dia. Dia itu masa laluku, kamu adalah masa sekarang dan masa depanku. Kamu cinta dan sayangku si dunia dan di akhirat." lanjut Peter dengan sorotan mata kejujuran.
"Aku perhatikan dari tadi, dari sorot matanya, dia mengatakan yang sejujurnya. Ya Allah maafkan aku buang telah berfikiran buruk tentang suamiku karena aku termakan omongan Jessica." kata hati Irene sambil menatap teduh ke suaminya.
"Kenapa kamu diam aja? Kamu masih curiga sama aku?" tanya Peter yang masih heran dengan sikap Irene seperti ini.
"I am so sorry my husband." ucap Irene yang membuat Peter tersenyum manis.
"Oh ya, gimana nich? Kamu mau ikut nggak besok?"
"Enggak, aku di sini aja jagain Zayn dan Daddy. Lagipula besok kan kita udah sepakat, setiap Daddy pergi ke gereja, yang antar jemput Daddy adalah kita."
"Ya udah, kalau aku nggak bisa, kamu sendiri aja."
"Paling nanti diantarnya sama supir juga selain aku, Zayn dan beberapa pengawal."
"Nggak apa - apa selama itu positif dan tidak melanggar aturan agama."
"Sip."
"Bahas tentang apa di dalam rapat itu? "
"Tentang produk baru mereka."
"Produk pesawat apa?"
"Pesawat jet pribadi Boeing 777 X."
"Memangnya kamu punya saham di perusahaan itu? "
"Tidak, yang punya saham di perusahaan itu adalah perusahaan Daddy yang aku urus sekarang. "
"Berapa persen sahamnya? "
"Tiga puluh persen. "
"Apa sudah selesai mengurus masalah tentang sabotase pengiriman senjata ke pemerintah Perancis?"
"Sudah. Aku sudah mengirim ulang lagi ke pemerintah Perancis dan sudah melaporkan masalah itu ke polisi."
"Bagus. Walaupun kamu rugi, asalkan tidak kehilangan salah satu client kamu. Siapa pelakunya?" tanya Irene kepo.
"Dari pihak polisi belum ada kabar siapa pelakunya, tapi ada laporan dari Andre bahwa pelakunya adalah The eagle eyes yang dipimpin oleh Hendrix Smith."
"Kenapa dia melakukan itu kepadamu? Sedangkan kamu kan bukan musuhnya dia."
"Seperti biasa, persaingan bisnis Honey."
"Sungguh jahat sekali orang itu. Biar Allah yang membalas semua perbuatannya, kamu jangan membalas dendam kepadanya ya." ucap Irene tegas.
"Waduh, kok dia bisa tahu kalau aku mau membalas dendam kepadanya? Aku harus bagaimana ini ya Allah?" batin Peter.
"Sayang, kamu setuju kan dengan permintaanku yang tadi?" tanya Irene lembut namun memaksa Peter untuk menyetujui permintaannya.
"Iya Honey, kamu jadi orang baik banget sich. Orang jahat kepada kita, kamu memaafkan nya. Itulah salah satu sifatmu yang paling aku sukai."
"Mempunyai dendam itu tidak diperbolehkan sayang, dan membalas dendam itu perbuatan dosa sayang."
"Iya Honey. Oh ya bagaimana perkembangan kesehatan dan kakinya Daddy?" tanya Peter untuk mengalihkan pembicaraan.
"Alhamdulillah, kesehatan Daddy udah lebih baik dan perkembangan kakinya sudah lebih baik dari sebelumnya, jika Daddy rajin melatih kakinya untuk bergerak dan berjalan, InsyaAllah Daddy sebentar lagi sudah bisa berjalan normal."
"Alhamdulillah."
"Sayang, kamu sudah merubah peraturan perusahaan mengenai bertambahnya jam istirahat pada setiap hari Jum'at dan cuti melahirkan diperpanjang?"
"Sudah sayang, tinggal hasil rapat direksi untuk membahas aturan tersebut."
"Semoga disetujui ya sayang."
"Aku yakin disetujui. Secara dewan direksi dan pemegang sahamnya hanya Daddy, aku dan Roberto." kata Peter yakin.
"Aamiin, semoga Daddy dan Roberto setuju dengan perubahan aturan itu."
"Aku yakin mereka juga pasti setuju dengan perubahan aturan tersebut."
"Aamiin Ya Robbal'alamiin."
"Honey, Aku mau itu?"
"Mau apa?" tanya Irene polos
"Making love with you." ucap Peter sambil menarik ke atas salah satu alisnya, lalu tersenyum manis.
"Kamu habis pulang kerja, pasti capek."
"Untuk melakukan itu tidak ada kata capek Honey. Lagipula aku sudah makan telur ayam kampung setengah matang." kata Peter semangat.
"Pantesan kamu semangat untuk melakukan itu, sudah didopping dengan telur ayam kampung."
"Kamu mau kan melakukan itu sekarang?"
"Iya sayang, tapi kamu mandi dulu, setelah itu kamu sholat isya dan kita sholat sunnah baru melakukan itu. "
"Kita tidak usah sholat sunnah ya, kita berdoa aja di dalam."
"Kamu kan sudah hafal bacaan sholat sunnah itu. Dan padahal udah lima hari belakangan ini sebelum kita melakukan itu, kita sholat sunnah dulu. Kenapa hari ini kamu tidak mau melakukan sholat sunnah?"
"Yah ribet aja."
"Mau beribadah jangan bikin ribet sayang."
"Iya dech, sebelum melakukan itu, kita sholat sunnah dulu."
"Kamu ikhlas kan niat sholat sunnahnya? "
"Iya Honey, aku ihklas kok niatnya." kata Peter yakin, lalu dia beranjak berdiri dari pinggir tempat tidur dan berjalan pelan ke kamar mandi.