
Sebuah kamar yang luas dengan dekorasi ruangan yang klasik. Terdapat sofa - sofa, meja hias, lemari pakaian, tempat tidur yang unik menghiasi ruang kamar tamu di kediaman rumah Julius Smith. Tempat tidur yang berukuran king size itu terlihat sosok Irene yang terbaring pulas.
"Hoammm.... " Irene menguap sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya. "Bismillahirrohmanirrohim Alhamdullillahilladzi ahyaanaa ba'da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur." Irene berdoa sambil mengangkat kedua telapak tangannya.
"Aku di mana sekarang? Bukannya semalam aku diculik dan disandera, kenapa sekarang aku berada di kamar yang sangat bagus. Seharusnya, jika aku disandera, tempatnya tidak sebagus kamar ini. " Irene bergumam bingung di dalam hati sambil melihat langit - langit kamar yang dilukis dengan sebuah lukisan langit, awan dan peri - peri kecil yang sedang bertebaran.
"Ekhem." deheman seseorang yang membuat Irene kaget dan sontak lansung beringsut duduk bersandar di heardboard dan meraba kepalanya untuk memastikan bsia memakai hijabnya, ternyata dia masih menggunakan hijabnya.
"Who are you?" tanya Irene sambil menatap tajam ke seseorang yang menggunakan topeng di bagian matanya.
"I am Junior. Hallo cantik!" sapa Junior sambil duduk di depan Irene dengan menggunakan sofa.
"Do you speak Indonesia? "
"Iya, saya sudah fasih menggunakan bahasa Indonesia. Apakah kamu bingung berada di dalam kamar ini?"
"Iya."
"Kenapa bingung?"
"Setahu saya, tempat untuk orang yang disandera tidak sebagus kamar ini. Biasanya di gudang atau tempat yang tidak layak. Kenapa kamu menyandera saya di tempat yang bagus seperti ini? "
"Karena kamu sangat berharga. "
"Maksud kamu apa?" tanya Irene tambah bingung.
"Karena kamu, aku meminta uang tebusan sebesar dua ratus juta euro."
"What dua ratus juta euro? Tinggi banget minta bayarannya. " batin Irene kaget. " Kasihan Peter harus menebus Aku dengan uang sebanyak itu. Aku harus melarikan diri sebelum aku ditebus oleh Peter." lanjut Irene di dalam hati.
"Sekarang jam berapa? "
"Jam tiga pagi. Kenapa kamu menanyakan jam? "
"Aku mau sholat di masjid. "
"Kapan kamu sholat di masjid?"
"Sekarang saya berada di mana?"
"Rahasia. Memangnya kenapa?"
"Waktu sholat tergantung tempatnya. "
"Di Liverpool. "
"Saya harus sholat subuh dulu."
"Nanti kamu di antar sama supir dan para pengawal ke masjid daerah sini.
" Tapi waktu sholat subuhnya mulai sekarang sampai jam empat lebih tiga puluh menit." kata Irene polos.
"Waduh, aku keceplosan soal waktu akhir subuh di sini. " kata Irene dalam hati.
"Waktunya masih lama, lagipula letak masjidnya tidak jauh dari sini. Sekarang aku mau bermain - main dulu sama kamu sebentar. Jika kamu tidak mau bermain sebentar dengan ku, nyawa anak kamu akan melayang."
"Hah? Dia tahu dari mana aku sedang hamil? " tanya Irene di dalam hati.
"Baiklah, tapi waktu bermainnya hanya tiga puluh menit dari sekarang. Kamu mau bermain apa? " tanya Irene kesal.
"Bermain sesuka hatiku " kata Junior sambil menyeringai licik.
"Kamu jangan licik, ingat perjanjian kita bermain halus, jangan sampai kamu melakukan pelecehan kepada saya."
"Ck, aku tidak sudi menyentuh kamu."
"Terima kasih jika kamu tidak sudi menyentuhku. Terus, kamu mau main apa denganku? Tapi ingat hanya tiga puluh menit dari sekarang!"
"Iya. Aku dengar kamu adalah dulu seorang ratu pocker, aku penasaran dengan kamu dalam bermain pocker."
"Itu hoax. " Irene membantah, padahal dia dulu jago bermain pocker.
"Masa hoax? "
"Iya, itu hoax. " jawab Irene menyakinkan Junior.
"Bagaimana bermain qiu - qiu? Kamu tidak usah membantah lagi, mau tidak mau kamu harus mau untuk bermain permainan kartu itu." kata Junior tegas.
"Baiklah, tapi dengan syarat."
"Apa itu syaratnya?"
"Jika aku menang dalam permainan itu, aku bisa bebas dan pulang ke rumahku. Jika aku kalah, aku bisa pulang dengan uang tebusan itu. " kata Irene pura - pura bodoh.
"Hahaha, kamu tidak usah pura - pura bodoh. Tidak ada istilah seperti itu dalam dunia mafia. Aku yakin kamu pasti masih ingat dengan dunia mafia. Kita tetap bermain tanpa persyaratan itu. "
"Kalau begitu kita tidak usah bermain. "
"Ehmmmm... Kenapa kamu mau bermain seperti itu kepadaku?" tanya Irene bingung.
"Kamu kenapa bingung?"
"Setahu aku orang yang disandera, tidak diperlakukan seperti ini. "
"Aku berbeda dengan penculik yang lain. Seperti inilah seni penculikan yang aku terapkan. Aku tidak akan melukai orang yang yang akan membawa uang untukku."
"Hahaha, aku baru dengar, ada istilah seni penculikan. Istilah itu sangat unik didengar oleh telingaku.
" Yah memang seperti inilah aku menyikapi para sandera yang aku bawa ke sini. Tapi jika ada orang yang sedang aku sandera, melarikan diri, tidak ada kata ampun walaupun itu seorang wanita."
Deg
"Apa dia tahu jika aku ingin melarikan diri? Perasaanku jadi tidak enak begini. Tapi bagaimana pun juga aku harus melarikan diri. Ya Allah, lancarkanlah aku untuk melarikan diri dari genggaman Junior. Aamiin." batin Irene takut akan omongan Julius tadi.
"Kamu kenapa seperti orang ketakutan? "
"Aku tidak takut. " kata Irene menenangkan diri.
"Sepertinya kamu berbohong?"
"Aku tidak berbohong. " kata Irene yang tidak mengakui kebenarannya. "Sepertinya orang ini suka ngobrol, sebaiknya aku ajak aja dia ngobrol sebentar, siapa tahu dia keceplosan siapa dalang dari penculikan ini." kata Irene di dalam hati. " Kamu tahu aku dulu ratu pocker dari mana? " tanya Irene pura - pura polos.
"Di dunia mafia itu jaringannya luas. Info seperti itu sudah hal umum di dunia mafia. Kamu tidak usah pura - pura polos untuk menanyakan hal seperti itu. "
Deg
"Kok dia tahu apa yang aku rasakan? Jangan -- jangan intuisinya setajam silet." batin Irene yang kaget setelah dengar omongan dari Junior, aku harus tenang agar tidak ketahuan berbohong. "Iya, memang jaringan mafia itu sangat luas. Aku juga tahu siapa kamu sebenarnya." kata Irene tenang sambil mengingat - ingat masa lalunya ketika masih menjadi kekasihnya Ale dan berfikir keras untuk mencari tahu identitas asli Junior.
Flashback On
"Hah, berarti Junior itu adalah Julius Smith anaknya Hendrix Smith?" tanya Ale ke Roni.
"Iya Bos. Dan parahnya lagi, yang aku dengar big bos dari the eagle eyes adalah Roberto Perez keponakan dari William Pattinson. Tapi soal big bos mereka belum pasti benar, itu hanya dugaan para mafia yang berada di Inggris."
"Oh... apakah William tahu info itu?" tanya Ale.
"Saya belum tahu soal itu bos. "
Flashback Off
"Memangnya siapa aku? " tanya Junior dengan nada memancing.
"Ehmmmm... kamu sebenarnya Julius Smith anaknya Hendrix Smith.
Deg
" Kenapa dia bisa mengetahui siapa diriku yang sebenarnya? " batin Junior.
"Benar, kamu itu Julius." kata Irene yakin.
"Hahaha, percaya diri sekali kamu mengatakan bahwa saya adalah Julius Smith. Itu salah besar." Junior mengelak pernyataan Irene dengan perilaku dan nada suara yang sedang berbohong tanpa berani menatap Irene.
"Kamu tidak usah membantahnya. Aku tahu juga tahu siapa dalang penculikan ini, dia adalah Roberto Perez, keponakan dari William Pattinson, sepupunya Peter." kata Irene yakin dan tegas.
Suara tepuk tangan dari Junior menggema di dalam kamar tidur tamu itu. Junior bangkit dari sofa, lalu dia tersenyum menyeringai yang menakutkan sambil bettolak pinggang.
"Wah! Pernyataan kamu sangat benar. Aku tidak akan membantah lagi. Jika kamu tahu semua, kamu mau apa? Mau melaporkan ke polisi supaya bisa menangkap aku dan Roberto? Itu tidak akan terjadi." kata Junior serius dengan tatapan tajam.
"Aku juga tahu akan hal itu."
"Terus kamu mau berbuat apa untuk kami? "
"Aku hanya meminta kepada Tuhan agar kalian dapat balasan dari Tuhan, entah itu apa, aku serahkan kepada Tuhan. "
"Aku baru tahu, seorang mantan mafia mempunyai jiwa yang sangat lembut, seakan orang itu tidak pernah terjun ke dunia mafia."
"Aku bukan mantan mafia, tapi aku mantan kekasihnya ketua mafia!"
"Oh ya benar mantan kekasih sang ketua mafia yang sangat ditakutin se-Asia dan pernah tinggal bersama empat tahun dengan sang ketua bernama Ale. Secara otomatis kamu tahu betul secara rinci tentang dunia mafia. Karena aku juga tahu, kamu sering ikut sama Ale untuk beraksi, merencanakan strategi maupun dalam rapat tertutup, yang hanya diperbolehkan masuk ke dalam rapat itu adalah anggota inti. Jadi aku tahu siapa kamu yang dulu. Jika kamu berani kabur dari genggamanku, aku tak akan membuat kamu tenang dan bahagia, cam kan itu! "kata Junior tegas.
Deg
"Tenang Irene, itu hanya gertakannya saja." batin Irene menenangkan lagi dirinya sendiri. "Tapi, itu benar juga semuanya. Jika aku tidak kabur, Peter pasti bangkrut, tapi dalam ajaran agama Islam kita berhak untuk mempertahankan harta kita jika diambil paksa oleh orang lain. Tenang Irene, aku harus mencari celah untuk bisa melarikan diri dari genggaman Junior." Irene membatin.
Tiba - tiba suasana hening, cangguh dan sedikit tegang. Junior menatap tajam dan dingin ke Irene yang membuat Irene sedikit ketakutan.
"Junior aku mau ke kamar mandi dulu. " lanjut Irene yang lagi kebelet pipis karena sedikit ketakutan.
"Silahkan, kamar mandinya yang itu. " kata Junior lembut sambil menunjuk sebuah pintu kayu yang berada di sebelah kiri tembok kamar itu. "Setelah kamu dari kamar mandi, kita bermain qiu - qiu sebentar, setelah itu kamu sholat di masjid." lanjut Junior ramah.
"Nich orang sungguh membingungkan, orangnya berubah - ubah, sebentar ramah, sebentar menakutkan, dan sebentar lembut." keluh Irene di dalam hatinya. "Siap bos besar. " kata Irene sedikit bercanda sambil beranjak dari tempat tidur.