YOU AND ME

YOU AND ME
Lokasi Syuting



"Komestik halal yang terbaik dan yang teraman untuk kita semua." kata Irene lembut dengan ekspresi senang yang sangat dijiwai perannya sambil bergaya yang sudah diarahkan oleh sang sutradara.


"Ok. Goodjob Ren." puji Pak Widodo sambil mengacungkan kedua jempolnya.


"Hari ini kau sangat cantik Irene, dan aku bangga padamu membesarkan buah hati kamu dengan semangat. " puji pak Ryan dalam hati sambil tersenyum manis ke Irene.


"Alhamdulillah, syutingnya selesai." gumam Irene dalam hati.


Sedari tadi mulai syuting Pak Ryan sampai syuting selesai selalu ada di dekat Irene. Dia merasakan sesuatu desiran lembut di setiap relung hatinya ketika berada di dekat Irene, dia tahu perasaan itu adalah rasa cinta dia ke Irene.


Tiba - tiba kepala Irene pusing lagi. Hari ini kepalanya pusing dua kali, tadi pagi sama sekarang. Badannya gemetaran, perutnya terasa mual. Tanpa Irene sadari, pak Ryan tahu bahwa Irene sedang tidak enak badan. Dia tahu dari gerak - gerik Irene walaupun Irene berusaha menutupinya. Maka itu, pak Ryan langsung menghampiri Irene.


"Astaghfirullah, ya Allah... " kata Irene sambil memijat pelan dahinya.


Badannya Irene sempoyongan sehingga kakinya tidak kuat untuk berdiri. Untung ada pak Ryan yang langsung menggendong Irene yang setengah tidak menyadarkan diri, lalu pak Ryan berjalan ke ruang ganti untuk meletakkan tubuhnya Irene ke sofa panjang.


"Kepalaku sakit sekali. " gumam Irene pelan saat digendong sama pak Ryan.


"Kamu harus makan dan minum obat dulu, kalau perlu ke dokter. " kata pak Ryan sambil menurunkan badannya Irene ke sofa panjang, lalu dia duduk di samping Irene.


"Untung di sini ada Mba Rini, Siska, Reni, dan Wulan, jadi tidak bisa menimbulkan fitnah." kata Irene dalam hati.


"Aku tidak perlu ke dokter, yang hanya aku perlukan istirahat, dan minum obat. Aku hanya kecapekan." kata Irene lemas.


"Kepala kamu nggak panas. " kata pak Ryan sambil menyentuh dahi Irene. "Kamu mau makan apa?" tanya pak Ryan lembut.


"Bubur ayam Pak, jangan pakai sambal Pak. "


"Sebentar ya." kata pak Ryan, lalu dia mengambil handphonenya di kantong celana sebelah kanan dan menyentuh layar handphonenya untuk menelpon seseorang.


"Hallo, Hengky tolong belikan bubur ayam jangan pakai sambal. " pinta pak Ryan, lalu ia mematikan panggilan di handphonenya dan menyimpan handphonenya di saku celana sebelah kanan.


"Nanti pulang, aku anterin ya." kata pak Ryan sambil menatap lembut ke Irene.


"Tidak usah Pak, nanti aku dijemput sama kakakku. Dari tadi pagi dia khawatir sama aku, soalnya tadi pagi, aku juga pusing sampai disuruh tunda dulu syutingnya sama kakakku, aku menolak sarannya. Untung tadi pagi aku minum obat, jadi agak mendingan sakitnya. Tapi karena aku kecapekan, pusingnya kambuh lagi. " kata Irene lemas.


"Kakak kamu baik banget ya, terus perhatian lagi sama kamu."


"Namanya juga sama saudara kandung harus baiklah."


"Kamu punya kakak berapa?"


"Dua, satu perempuan dan yang satunya lagi laki - laki."


"Kalau adik ada berapa? "


"Ada dua, dua - duanya perempuan, tapi yang satu adik tiri Pak."


"Ooo... Anakmu namanya siapa?"


"Muhammad Zayn, panggilannya Zayn.


"Umurnya berapa tahun? "


"Dua tahun mau ketiga tahun."


"Kalau boleh tahu, kamu sama ayahnya Zayn cerai? "


"Ehmmm... ayahnya Zayn sudah meninggal dunia. "


"Oh, kenapa? "


"Meninggalnya udah lama? "


"Udah ... waktu umur Zayn lima bulan di perut saya. " kata Irene lirih.


"Ya Allah, kasihan sekali Zayn, belum sempat melihat wajah ayahnya dan belum pernah merasakan rasa kasih sayang dari seorang ayah." kata hati pak Ryan yang terharu.


"Maaf ya Irene, kalau pertanyaan aku tadi membuat kamu sedih. "


"Tidak apa - apa Pak. Kalau Bapak punya saudara kandung berapa?"


"Saya anak tunggal."


"Pasti Bapak anak manja ya? "


"Boro - boro manja, dari kecil aku dididik keras sama orang tuaku sampai aku berhasil mengembangkan perusahaan Papa."


"Iya, aku juga merasakan perkembangan perusahaan ini sejak tiga tahun lalu kamu mengambil ahli perusahaan Pak Bagas yang telah meninggal dunia. "


"Dulu waktu tujuh tahun yang lalu, Papa sempat membicarakan soal perjodohanku. Papa ingin menjodohkan aku dengan salah satu karyawannya. Tapi waktu itu aku menolak, karena aku ingin fokus kuliah S2ku."


"Siapa karyawan itu Pak?"


"Kamu."


"Apa? Aku nggak salah dengar? "


"Tidak. Apakah kamu sudah berniat mau.... " kata pak Ryan menggantung.


Drrrtttt... drrrtttt... drrrtttt... bunyi getaran handphonenya pak Ryan. Dia mengambil handphonenya dari dalam kantong celananya lalu menggeser tombol hijau di layar handphonenya.


"Hallo Mah, ada apa? " kata pak Ryan, kemudian wajahnya menjadi panik.


"Iya Mah, aku segera ke sana sekarang." kata pak Ryan, lalu ia memutuskan panggilan handphonenya dan menyimpan handphonenya lagi di kantong celananya.


"Maaf ya Irene, aku harus ke rumah sakit karena Mamaku baru diopname, tadi dia terjatuh di kamar mandi." kata pak Ryan sambil beranjak dari sofa panjang.


"Iya, nggak apa - apa Pak. "


"Kamu harus segera istirahat ya. " kata pak Ryan khawatir.


" Iya Pak."


"Aku pamit pulang, assalamu'alaikum. " kata pak Ryan, lalu dia berjalan cepat keluar ruangan.


"Wa'alaikumsalam." balas Irene sambil beranjak dari posisi tidur.


"Ciyeee... yang lagi diperhatiin sama bos. Benar kan kataku yang kemarin." ledek mba Rini, Irene hanya bisa tersenyum simpul sebagai jawabannya.


"Permisi, maaf ini bubur ayamnya." kata pak Hengky sambil menenteng kantong plastik putih, kemudian dia berjalan masuk ke dalam ruang ganti dan menghampiri Irene dan memberikan bubur ayam itu ke Irene.


"Terima kasih ya Pak Hengky." kata Irene sambil menerima bubur ayam itu.


"Saya pamit pulang dulu." kata pak Hengky sambil menganggukkan kepalanya dan Irene membalas anggukkan pak Hengky.


Kemudian pak Hengky pergi keluar dari ruang ganti. Irene menaruh bungkusan plastik itu di atas meja depan sofa dan membuka ikatan plastik itu. Kemudian Irene mengambil bungkusan bubur dan membuka bungkusan bubur.


"Makan yuk! " kata Irene setelah membuka bungkusan bubur.


"Iya, kita udah makan. " kata mba Rini.