
Irene berbaring lemas di atas tempat tidurnya karena merasa tubuhnya sedang tidak sehat. Dari punggung sampai pinggangnya terasa pegal hingga mengharuskan tubuhnya untuk tidur meringkuk dan mencari posisi yang nyaman.
Seperti yang dia rasakan selama beberapa hari ini ternyata tidak nyaman dikarenakan tahap penyesuaian akan kehamilannya. Saat mengetahui dirinya sedang hamil, Irene setiap pagi hari jadi lebih sering keluar masuk untuk memuntahkan apa yang ada di dalam perutnya ketika dia merasakan mual karena benar - benar tidak bisa menahannya.
Irene terpaksa memilih untuk mengistirahatkan badannya di dalam kamar seharian tanpa melakukan kegiatan apapun kecuali menunaikan kewajiban sholat lima waktu.
"Dasar pembohong! Janji mau telepon setiap hari, tapi nyatanya dari kemarin sampai hari ini belum telepon ataupun kasih kabar. Nak Daddy kamu sungguh menyebalkan! " ujar Irene kecewa sambil berulang kali membuka tutup handphonenya hanya untuk melihat notifikasi pesan atau panggilan dari Peter, namun sampai sekarang tidak ada satupun pesan atau panggilan dari suaminya.
"Atau aku yang telepon dia aja ya?" tanya Irene dalam hati yang masih memegang ponselnya, lalu menyentuh beberapa ikon untuk menelpon sangat suami.
Tut ... tut ... tut ... nada sambung panggilan yang belum terjawab membuat Irene kecewa. Sampai berkali - kali telepon tidak diangkat.
"Kok nggak diangkat - angkat sich? " tanya Irene membantin sambil memutuskan hubungan telepon yang tidak dijawab berkali - kali oleh Peter.
Tok... tok... tok...
"Ummi ini Zayn ama Gyandpa mau masuk ke dalam. " ucap Zayn dengan volume tinggi.
"Masuk sayang. "
Ceklek
Pintu kamar terbuka lebar, tak lama kemudian muncul sosok sangat mertua Irene buang sedang berada di kursi roda dan Zayn yang sedang mendorong kursi roda Pak William masuk ke dalam kamar dan membelokkan kursi roda sehingga berhadapan dengan Irene. Disusul salah satu maid sambil membawa satu gelas susu hamil. Irene langsung beringsut dari posisi tidur ke posisi duduk bersandar di headboard.
"Ummi, tadi Zayn udah nemenin Gyandpa makan dan minum obat." kata Zayn senang karena dia melakukannya dengan tulus.
Memang sebenarnya, Irene meminta tolong Zayn untuk menemani sangat mertua saat makan siang maupun malam dan menemani sangat mertua untuk meminum obat selama Irene hamil muda. Dengan hati yang tulus, Zayn melakukan itu semua.
"Good job my son. " kata Irene lembut sambil melihat Zayn dan Pak William yang sedang tersenyum bahagia karena sangat diperhatikan oleh menantu dan cucu sambungnya. Sudah hampir sebulan, Pak William terkena serangan stroke sehingga dia tidak bisa berjalan dan berbicara, sejak itu Pak William tinggal bersama anak, menantu dan anak sambungnya.
"Terima kasih Ummi. " ujar Zayn sambil memasang rem pada kursi roda.
"Gyandpa udah buatin susu untuk Ummi." ucap Zayn.
"This is milk for madam." ujar maid itu.
"Please put it on that nightstand." kata Irene sambil menunjuk sebuah nakas yang berada di sebelah kanan tempat tidur, lalu maid itu berjalan dan menaruh gelas itu di atas nakas tersebut.
"Thank you." kata Irene ramah sambil menatap maid itu yang sedang berjalan menghampiri Zayn dan Pak William.
"You're welcome. " kata maid itu sopan sambil berdiri di samping kanan Zayn.
"Ummi diminum ya susunya, biar dede bayi selalu sehat." kaya Zayn riang.
"Iya sayangku."
"Ummi sudah makan malam?"
"Sudah sayang. "
"Ya udah Ummi, Sekarang hari sudah malam, Zayn sama Gyandpa pergi ke kamar tidur dulu ya Ummi."
"Iya sayang."
Kemudian Zayn, Pak William, dan maid itu berjalan keluar dari kamar meninggalkan Irene sendirian di dalam kamarnya dan menutup pelan pintu kamar itu.
Ddrrrrtttt... ddrrrrtttt... ddrrrrtttt... ponselnya Irene bergetar di atas ranjang. Irene lansung menoleh ke ponselnya. Di layar handphonenya muncul nama My Heart. Tanpa menunggu lama lagi, Irene langsung mengangkat ponselnya.
"Assalamu'alaikum my husband." kata Irene senang.
'Wa' alaikumsalam my wife." balas Peter senang.
"Maaf tadi aku sedang rapat jadi belum bisa angkat telepon dari kamu honey."
"Kemarin kenapa kamu tidak menelponku? Kamu kan udah janji selama di Amerika kamu setiap hari hubungi aku." ucap Irene sedikit kesal.
"Maaf honey, kemarin aku kecapekan karena penerbangan dari Chicago ke New York dan pekerjaanku yang banyak harus diselesaikan."
"Sekarang rapatnya sudah selesai? "
"Belum Honey. "
"Kok kamu bisa telepon aku padahal rapat belum selesai? "
"Lagi break time snack. Kamu sudah minum susu yang aku bellin buat kamu? "
"Udah sayang. "
"Kamu udah makan?"
" Udah."
"Bagaimana kabarnya Daddy dan Zayn? "
"Alhamdulillah, mereka baik semua. Kamu sudah makan?"
"Sudah honey. Bagaimana kabar dede bayi?"
"Alhamdulillah baik juga sayang."
"Hari ini kamu ngidam apaan Honey? Masih pengen kue keju atau salad?
" Kue keju dan salad udah nggak nafsu lagi. Hari ini dede lagi pengen kue cokelat. "
"Kue cokelatnya udah dimakan? "
"Kamu kangen sama aku ya honey? "
"Nggak tuch. "
"Masa sich nggak kangen? " ledek Peter.
"Iya. Ih.... nich orang di tanya serius, malah ledekin aku, jadi sebal." ujar Irene dengan logat manjanya.
"Suara kamu mengobati rasa rinduku padamu yang membuncah."
"Aihhhh.... sekarang suami aku sudah pintar ngegombal. "
"Nggak apa - apa suami ngegombal pada istrinya sendiri, daripada aku ngegombal wanita lain, bisa runyam dan dosa, hehehhe. "
"Awas aja kalau kamu ngegombalin wanita lain, tak pites kamu." kata Irene sedikit bercanda.
"Honey, I miss you so muchhhh..... " rayu Peter.
"I miss you too."
"Honey, nanti setelah aku pulang dari Amerika Serikat kita liburan yuk! sekalian kita bulan madu."
"Ayo. Tapi... Zayn sama Daddy gimana? Masa kita tinggal di sini sama para maid dan bodyguard?"
"Enggaklah Honey, mereka kita ajak juga liburan."
"Benar ya setelah kamu dari Amerika kita liburan?"
"Iya Honey, I promise. "
"Okey sayang."
"Tolong dekati ponsel kamu ke perut kamu, aku mau bicara sama dede bayi kita. " pinta Peter, lalu Irene mendekati handphone yang dia pegang ke perutnya.
"Assalamu'alaikum, dede bayi yang Daddy cintai dan yang Daddy sayangi, jadilah anak yang sholeh sholehah, cerdas, jadilah seorang yang hafiz hafizah dan jadilah anak yang sehat selalu. InsyaAllah lusa Daddy pulang malaikatku, setelah Daddy pulang, kita liburan."
"Liburan ke mana Daddy?" tanya Irene dengan nada suara anak kecil.
"Kita akan liburan ke pulau pribadi kita sayang. "
"Di mana pulau pribadi kita Daddy?"
"Rahasia, nanti kamu juga tahu sayang. Jagalah kesehatan dede ya, jangan sering ganggu Ummi kamu ya."
"Iya Daddy. Bukannya yang sering ganggu Ummi adalah Daddy?" ucap Irene yang masih dengan suara anak kecil membuat Peter tambah gemes.
"Hahaha, dede sekarang sudah pintar ngomong ya?" ledek Peter.
"Alhamdulillah aku sekarang sudah pintar ngomong, nanti setelah aku lahir, aku sudah pintar jalan." kata Irene yang masih dengan suara anak kecilnya.
"Wah, dede bayi anak Daddy jadi yang super jenius ya. Nanti kalau Daddy sudah pulang, Daddy kasih hadiah. "
"Hadiah apa Daddy? "
"Cium dan peluk kasih sayang. "
"Kalau Ummi dikasih hadiah juga Daddy?"
"Iya juga sayang. "
"Kalau Ummi dikasih hadiah apa Daddy?"
"Ihh ... anak Daddy sekarang jadi anak yang kepo ya.
" Bukan kepo Daddy, tapi rasa ingin tahuku sangat besar."
"Hahaha. Iya benar, rasa ingin tahu anak Daddy sungguh sangat besar, karena itu kamu harus jadi yang jenius ya sayang.
" Aamiin. Do'a in aja Daddy, supaya aku jadi anak yang jenius, sholeh sholehah, hafiz hafizah dan sehat selalu."
"Aamiin, pasti Daddy do'ain. Daddy sangat senang ngobrol sama dede karena rasa rindu Daddy ke dede telah terobati, tapi udah dulu ya kita ngobrolnya. Daddy harus ikut rapat lagi ya sayang. "
"Ok Daddy. See you again Daddy. I miss you so muchhh..... "
"I miss you too mmmuuuaaahhh... Bye malaikatku."
"Mmmuuuaaahhh... "
Kemudian Irene mendekatkan ponselnya ke telinganya lagi.
"Oh ya, nanti sebelum kita liburan, aku ingin memeriksa kehamilan kamu di dokter ahli kandungan."
"Ok sayang. "
"Udah dulu ya Honey, aku mau masuk ke dalam lagi. I love you. "
"I love you too."
"Bye Honey. "
"Bye Sayang." ucap Irene yang mengakhiri percakapan mereka, lalu panggilan terputus.